NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deklarasi Perang

Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu tampak lebih megah dari biasanya. Mobil-mobil mewah berderet di lobi, menurunkan para penguasa ekonomi dan politik negeri ini. Namun, ketika Rolls-Royce hitam milik Aristhide Malik berhenti tepat di depan karpet merah, suasana seolah membeku sejenak. Para fotografer yang tadinya sibuk memotret selebritas segera mengalihkan lensa mereka.

Aristhide turun lebih dulu. Ia berdiri tegak, membetulkan kancing tuksedonya dengan gerakan yang sangat berwibawa, lalu berputar untuk membukakan pintu bagi Aira.

Saat tangan Aira menyentuh lengan Aristhide, ia bisa merasakan kekuatan dan ketenangan pria itu. Aira melangkah keluar dengan dagu terangkat. Gaun merah marunnya berkilau di bawah lampu sorot, memberikan kontras yang dramatis pada kulitnya yang pucat. Ia tidak lagi tampak seperti gadis yang meringkuk di sudut ruang tamu yang kusam; ia tampak seperti seorang dewi yang turun dari singgasana kaca.

"Tetaplah di sampingku," bisik Aristhide sangat rendah. "Jangan lepaskan lenganku kecuali aku yang memintanya."

Mereka memasuki ballroom yang dipenuhi aroma parfum mahal dan denting gelas sampanye. Di tengah ruangan, keluarga Bramantyo sudah hadir. Mereka sedang bercengkerama dengan beberapa rekan bisnis, mencoba mempertahankan citra bahwa mereka masih memiliki taji di dunia bisnis. Bramantyo tampak tertawa dipaksakan, sementara Ratna sibuk memamerkan kalung berliannya—yang mungkin adalah barang terakhir yang belum disita bank.

Aina berdiri di samping mereka, mengenakan gaun berwarna baby pink yang sangat feminin, kontras dengan citra Aira yang lebih berani malam ini. Saat mata Aina menangkap sosok Aristhide, ia segera memasang senyum terbaiknya, namun senyum itu membeku saat ia melihat siapa yang berada di lengan pria itu.

"Aira?" Suara Ratna terdengar lirih namun penuh keterkejutan, menarik perhatian Bramantyo.

Langkah Aristhide dan Aira berhenti tepat di hadapan mereka. Aristhide tidak memberikan salam formal. Ia hanya berdiri di sana dengan tatapan yang bisa membuat seorang pemberani sekalipun merasa gemetar.

"Tuan Bramantyo," suara Aristhide terdengar berat dan memenuhi ruang di antara mereka. "Terima kasih atas 'kerja sama' yang kita sepakati kemarin. Sepertinya investasi saya membuahkan hasil yang sangat memuaskan."

Bramantyo berdehem, mencoba menenangkan diri. "Ah, Aristhide. Senang melihatmu. Dan Aira... kau tampak... berbeda."

"Berbeda karena sekarang aku punya harga diri, Yah," sahut Aira tenang. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Ia menatap ibunya yang tampak gelisah.

"Halo, Ibu. Bagaimana kabarmu? Aku lihat kalung itu masih melingkar di lehermu. Aku berharap itu bisa membantumu tidur nyenyak malam ini."

Ratna mendesis, "Jaga bicaramu, Aira! Di mana sopan santunmu?"

"Sopan santun adalah untuk keluarga yang mencintai anaknya, bukan untuk pedagang yang menjual darah dagingnya sendiri," balas Aira tajam.

Aina mencoba menengahi dengan suara manja yang biasanya berhasil meluluhkan siapa pun. "Aira, jangan begitu. Ayah dan Ibu melakukannya untuk menyelamatkan kita semua. Oh, Tuan Malik, terima kasih sudah menjaga saudari saya. Saya harap dia tidak merepotkan Anda." Aina mengulurkan tangannya ke arah Aristhide, matanya mengerling penuh godaan.

Aristhide menatap tangan Aina seolah itu adalah benda kotor. Ia tidak menyambutnya. Sebaliknya, ia justru merangkul pinggang Aira, menariknya lebih dekat ke tubuhnya dalam gestur posesif yang sangat jelas.

"Nona Aina," ujar Aristhide dingin. "Aira tidak pernah merepotkan. Sebaliknya, kehadirannya adalah hal terbaik yang pernah terjadi di rumah saya. Dia memiliki kecerdasan yang jarang saya temui pada orang lain yang hanya mengandalkan riasan wajah untuk bertahan hidup."

Wajah Aina memerah karena malu. Beberapa tamu di sekitar mereka mulai berbisik-bisik. Reputasi Aina sebagai "si kembar yang sempurna" mulai tergores.

"Kami ke sini bukan untuk berbasa-basi," lanjut Aristhide, kini fokus pada Bramantyo. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa besok pagi, tim auditor saya akan masuk ke kantormu. Aku menemukan beberapa 'ketidakkonsistenan' dalam laporan jaminan yang kau berikan. Aku harap kau punya penjelasan yang bagus sebelum masalah ini sampai ke tangan pihak berwenang."

Bramantyo tersedak minumannya. "Apa? Tapi kita sudah sepakat! Utang itu lunas!"

"Utang yang lama memang lunas," Aristhide tersenyum miring, senyum yang mengirimkan rasa dingin ke tulang belakang Bramantyo.

"Tapi kejahatan finansial adalah bab baru. Dan Aira di sini... dia sangat membantu dalam memberikan perspektif tentang bagaimana kau menjalankan operasional harianmu."

Aira menatap ayahnya yang kini tampak gemetar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kekuatan yang luar biasa. Selama ini ia merasa tidak berdaya, namun di bawah naungan Aristhide, ia menjadi badai yang siap menghantam mereka.

"Kau berkhianat, Aira!" bisik Ratna penuh kebencian. "Kami membesarkanmu, memberimu makan, dan ini balasanmu?"

Aira mendekat ke telinga ibunya. "Ibu tidak membesarkanku. Ibu hanya membiarkanku hidup agar bisa Ibu jual saat Ibu butuh uang. Sekarang, nikmatilah sisa pesta ini. Karena setelah malam ini, tidak akan ada lagi pesta untuk keluarga Bramantyo."

Aristhide mengajak Aira berbalik, meninggalkan keluarga itu dalam kehancuran yang mulai merayap. Mereka berjalan menuju balkon luar untuk mencari udara segar.

Di balkon yang sepi, angin malam bertiup kencang. Aira melepaskan pegangannya dari lengan Aristhide dan bersandar di pagar pembatas. Jantungnya masih berdegup kencang.

"Kau melakukannya dengan baik," ujar Aristhide. Ia berdiri di sampingnya, memandang ke arah jalanan Jakarta yang macet.

"Aku merasa seperti monster," aku Aira jujur.

"Melihat ayahku gemetar seperti itu... ada bagian dariku yang merasa kasihan, tapi bagian yang lain merasa puas. Apakah itu artinya aku sudah menjadi sepertimu, Aristhide?"

Aristhide menoleh. Di bawah remang lampu balkon, matanya tampak lebih lembut.

"Kasihan adalah kemewahan yang tidak bisa kita miliki jika ingin selamat, Aira. Kau bukan monster. Kau hanya sedang mengambil kembali apa yang mereka curi darimu: kedaulatanmu."

Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan memberikan secarik kertas kecil kepada Aristhide. Aristhide membacanya, dan raut wajahnya berubah menjadi sangat gelap.

"Ada apa?" tanya Aira cemas.

"Musuh kita bukan hanya ayahmu," gumam Aristhide. Ia meremas kertas itu. "Sepertinya Aina baru saja melakukan langkah yang sangat bodoh. Dia menemui seseorang di lantai bawah—seseorang yang berasal dari masa lalu ibuku."

Aira merasakan firasat buruk. "Siapa?"

"Orang yang dulu membantu ayahmu menjebak ibuku. Sepertinya Aina mencoba menawarkan informasi tentang 'kelemahanku' untuk menyelamatkan dirinya sendiri."

Aristhide menatap Aira dengan tajam. "Mulai sekarang, kau tidak boleh lepas dari pengawasanku, Aira. Perang ini baru saja berubah menjadi jauh lebih personal."

Aira menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang mempermalukan orang tuanya. Ini adalah awal dari jaring labirin yang lebih besar, di mana Aina bersedia bekerja sama dengan iblis mana pun asalkan Aira jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!