Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara yang Tak Diundang
Pagi menyingsing di Karangwangi dengan warna kelabu yang tak biasa. Langit masih mendung tebal, seolah laut belum puas melepaskan amarah malam tadi. Ombak masih bergulung lebih tinggi dari biasanya, menghantam tiang-tiang dermaga hingga kayu-kayu tua itu berderit seperti orang tua yang mengeluh.
Banda duduk di beranda rumah panggung kecilnya, punggung bersandar pada tiang kayu yang sudah lapuk. Matanya menatap laut tanpa benar-benar melihat. Di tangannya, selembar kain pembalut basah yang ia gunakan semalam untuk mengeringkan rambut—tapi sekarang kain itu masih terasa hangat, seolah menyimpan sisa panas dari sesuatu yang bukan miliknya.
Ibu Sari keluar dari dalam rumah, membawa semangkuk nasi liwet sederhana dengan ikan asin dan sambal terasi. Wanita tua itu berjalan pelan, kakinya sedikit terseret karena rematik yang sudah bertahun-tahun.
“Kau belum tidur, ya?” tanyanya sambil meletakkan mangkuk di depan Banda.
Banda menggeleng pelan. “Tidak bisa.”
Ibu Sari duduk di sampingnya, matanya yang bijak menatap wajah anak angkatnya. “Malam tadi… Kakang bilang ada binatang besar. Dan perempuan aneh. Kau baik-baik saja?”
Banda menarik napas dalam. Ia ingin bilang semuanya baik-baik saja, tapi kata-kata itu terasa bohong di lidahnya. “Aku… tidak tahu, Bu. Ada sesuatu di dalam aku yang bergerak tadi malam. Saat aku masuk ke air, rasanya seperti… pulang.”
Ibu Sari diam sejenak. Lalu ia mengulurkan tangan, menyentuh dahi Banda seperti dulu saat ia kecil dan demam.
“Mata birumu itu,” katanya pelan, “dari kecil sudah begitu. Ayahmu pernah bilang, ‘Ini mata leluhur. Jangan ditutup-tutupi.’ Tapi dia tidak pernah cerita lebih dari itu.”
Banda menatap ibunya. “Ayah tahu sesuatu?”
“Mungkin. Tapi dia pergi sebelum sempat cerita.” Ibu Sari tersenyum tipis, tapi ada kesedihan di situ. “Makan dulu. Tubuhmu butuh tenaga. Laut tidak akan menunggu kau kuat.”
Banda mengangguk, tapi sendoknya baru menyentuh nasi ketika suara langkah kaki terdengar dari bawah rumah. Kakang Bayu muncul, wajahnya pucat, rambut masih acak-acakan.
“Banda!” serunya sambil naik tangga dengan tergesa. “Ada orang di pasar. Mereka bicara tentang perempuan tadi malam. Katanya dia bukan manusia biasa. Matanya… seperti api.”
Banda meletakkan mangkuknya. “Di mana dia sekarang?”
“Tidak tahu. Tapi ada yang bilang dia ke arah gua kecil di ujung pantai selatan. Tempat yang jarang orang lewat.”
Ibu Sari memandang keduanya bergantian. “Jangan ikut campur kalau bahaya, Nak.”
Tapi Banda sudah berdiri. “Aku harus tahu kenapa dia datang ke sini. Dan kenapa dia tidak membunuhku padahal bisa.”
Bayu mengangguk tegas. “Aku ikut.”
Ibu Sari menghela napas panjang. “Hati-hati. Laut sedang marah akhir-akhir ini.”
Mereka berdua berjalan menyusuri pantai. Pasir masih basah, jejak ombak malam tadi terlihat jelas. Angin membawa bau belerang samar—bau yang seharusnya tidak ada di pantai ini.
Saat mendekati gua kecil yang tersembunyi di balik tebing karang, Banda merasakan lagi: denyut di dadanya. Seperti ada tali tak terlihat yang menariknya ke depan.
Bayu berhenti di mulut gua. “Kau yakin mau masuk? Gelap sekali.”
Banda tidak menjawab. Ia melangkah masuk.
Di dalam, cahaya matahari pagi hanya menyusup sedikit melalui celah-celah batu. Tapi ada cahaya lain: bara kecil yang melayang di udara, seperti kunang-kunang berwarna merah.
Dan di tengah gua, duduk Jatayu.
Ia bersandar pada dinding batu, goloknya tergeletak di samping. Matanya tertutup, napasnya pelan. Di bahunya, luka baru—goresan dalam yang masih berdarah, tapi darahnya bukan merah biasa. Warnanya kehitaman, seperti tinta yang dicampur api.
Banda berhenti beberapa langkah darinya.
Jatayu membuka mata perlahan. Kuning keemasannya langsung menangkap cahaya samar.
“Kau datang sendiri,” katanya, suaranya lelah tapi tetap dingin. “Bodoh.”
“Kenapa kau tidak pergi?” tanya Banda. “Kau bilang akan kembali untuk membunuhku. Tapi kau masih di sini.”
Jatayu tertawa kecil, tapi suaranya pahit. “Karena kutukan itu. Werewolf tadi malam… bukan pemburu biasa. Itu alpha kecil yang mengincar ramalan yang sama. Mereka ingin kau mati sebelum kau bangkit sepenuhnya. Dan aku… aku terjebak di antara dua perintah.”
Banda mendekat satu langkah. “Perintah siapa?”
“Klan Phoenix. Dan alpha werewolf yang lebih besar.” Jatayu memandang luka di bahunya. “Aku seharusnya sudah membunuhmu semalam. Tapi saat aku melihatmu keluar dari air… sesuatu di dalamku berhenti.”
Banda berlutut di depannya, memeriksa luka itu. “Kau terluka karena melindungiku?”
Jatayu menepis tangannya pelan. “Jangan sok peduli. Ini bukan urusanmu.”
Tapi saat jari Banda menyentuh kulitnya lagi—hanya sekilas—api kecil di udara tiba-tiba menyala lebih terang. Bara-bara itu berputar di sekitar mereka berdua, seperti kupu-kupu api yang penasaran.
Jatayu tersentak. Matanya melebar. “Apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Banda, tapi suaranya ragu. Ia merasakan panas yang sama seperti semalam—bukan panas biasa, tapi panas yang hidup, yang meresap ke tulang.
Jatayu menarik napas tajam. “Ini… ikatan. Darah Phoenix dan darah Naga Laut. Kau tidak boleh menyentuhku lagi.”
“Kenapa?”
“Karena kalau ikatan ini semakin kuat, kutukan akan aktif lebih cepat. Dan salah satu dari kita harus mati.”
Banda menatapnya lama. Di mata Jatayu, untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya dingin pembunuh—tapi juga ketakutan. Ketakutan yang sama yang ia rasakan di dadanya sendiri.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Banda pelan. “Bukan nama. Bukan tugas. Siapa kau yang sebenarnya?”
Jatayu menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. “Aku adalah api yang sudah terlalu lama menyala sendirian. Dan kau… kau adalah air yang seharusnya memadamkanku. Tapi entah kenapa, kau malah membuatku ingin terbakar lebih terang.”
Di luar gua, ombak Laut Banda bergemuruh lebih keras, seolah menyetujui.
Bayu berteriak dari mulut gua. “Banda! Ada suara aneh dari hutan lagi!”
Jatayu bangkit pelan, mengambil goloknya. “Mereka datang lagi. Kali ini lebih banyak.”
Banda berdiri juga. “Kau ikut aku?”
Jatayu memandangnya, lalu mengangguk kecil. “Untuk sekarang. Sampai aku memutuskan apakah kau pantas hidup… atau pantas kubunuh.”
Mereka keluar dari gua bersama. Di kejauhan, bayangan-bayangan besar bergerak di antara pepohonan. Raungan samar terdengar, disusul bau darah dan bulu basah.
Banda menoleh ke Jatayu. “Kalau kita mati hari ini, setidaknya aku tahu namamu.”
Jatayu tersenyum tipis—senyum pertama yang Banda lihat darinya.
“Dan aku tahu kau bukan manusia biasa.”
Ombak di belakang mereka naik tinggi, seolah siap melindungi—atau menenggelamkan—keduanya.