“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 15
Seharian penuh Miranda menyusuri jalanan, memungut gelas plastik dan botol bekas. Karung di pundaknya semakin berat, tetapi langkahnya tetap ringan. Ia tidak lagi menghitung lelah, yang ia pikirkan hanya bertahan hidup hari ini.
Keberuntungan kecil menghampirinya. Di sebuah rumah, orang-orang sedang beres-beres bekas hajatan. Miranda ikut membantu tanpa diminta. Ia mengangkat kursi, menyapu halaman, dan mengumpulkan sampah tanpa memilih.
Pemilik hajat memperhatikan Miranda dengan senyum puas. Miranda tidak hanya mengambil barang bernilai, tetapi juga membersihkan halaman dengan sungguh-sungguh. Sebagai gantinya, ia dipersilakan makan bersama.
Nasi hangat dan lauk sederhana terasa begitu nikmat. Miranda makan dengan perlahan, menahan haru. Sudah lama ia tidak makan tanpa rasa cemas memikirkan esok hari.
Tangannya penuh kapalan dan goresan kecil. Punggungnya pegal, kakinya nyeri. Namun hatinya justru ringan. Ia tersenyum kecil, merasa hidupnya hari ini berarti.
Menjelang sore, Miranda melangkah menuju lapak Cak Roni. Karung di pundaknya kini terasa sangat berat, tetapi senyumnya tidak pudar.
Pria bersarung itu langsung menyambutnya dengan ramah.
“Kayaknya dapat banyak, nih,” ucap Cak Roni sambil tersenyum.
“Iya, Cak. Alhamdulillah,” jawab Miranda sambil meletakkan karung di timbangan.
Cak Roni menimbang karung itu dengan teliti.
“Dua puluh lima kilo,” ucapnya mantap.
Miranda tersenyum lebar. Itu berarti ia akan mendapatkan tiga puluh tujuh ribu lima ratus rupiah. Jumlah yang besar baginya.
Cak Roni mengambil uang, lalu menyerahkannya.
“Ini uangnya,” katanya sambil menyodorkan empat lembar sepuluh ribuan.
Miranda terkejut.
“Kebanyakan, Mas,” ucapnya pelan sambil mendorong tangan itu sedikit.
“Sudahlah. Saya lagi baik hari ini,” jawab Cak Roni ringan.
“Makasih, Mas,” ucap Miranda lirih.
Ia mencium uang itu dengan mata berkaca-kaca. Cak Roni tersenyum melihat tingkahnya, lalu mengangguk pelan.
Jam menunjukkan pukul 17.00 saat Miranda tiba kembali di mushola. Langit mulai meredup. Udara terasa lebih sejuk setelah panas seharian.
Miranda menuju bagian belakang mushola. Ia mengambil mukena dan baju yang telah ia cuci. Pakaian itu dilipat rapi dan dimasukkan ke plastik bersih.
Setelah itu, ia menuju kamar mandi dan melaksanakan salat Asar yang sudah terlambat. Ia berdiri lama dalam doa, menahan getar di dadanya.
Menjelang Magrib, Miranda duduk membaca Al-Qur’an. Hal yang jarang ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Mengurus rumah dan melayani keluarga Raka yang tak pernah puas sering membuatnya kehabisan napas.
Magrib tiba. Miranda salat berjamaah. Berbeda dengan kemarin, kali ini ada beberapa perempuan. Hatinya terasa hangat. Ia tidak lagi merasa sendirian.
Selesai salat, seorang pria paruh baya memanggilnya. Miranda mendekat dengan ragu. Di hadapannya ada tiga pria dan seorang perempuan yang tadi salat bersamanya.
“Maaf, ya, Mbak,” ucap pria itu dengan nada hati-hati. “Mulai malam ini dan seterusnya, Mbak tidak boleh menginap lagi di mushola.”
Miranda menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Baru semalam ia menginap, dan malam ini ia sudah tidak diperkenankan tinggal. Padahal di kepalanya sudah tersusun banyak rencana untuk membersihkan mushola.
Pak Halim tampak tidak terima.
“Pak Ruslan, dia baik, lho, Pak,” ucapnya dengan nada kecewa. “Lihat kamar mandi dan tempat wudu. Bersih semua karena Mbak Miranda.”
Pak Ruslan menjawab datar.
“Mushola ini tempat ibadah, Pak Halim. Bukan tempat tidur. Kita harus menjaga fungsinya.”
“Njenengan kira ibadah hanya salat?” suara Pak Halim meninggi. “Menolong musafir yang tidak punya tempat tinggal juga ibadah.”
Pak Ruslan tetap tenang.
“Kalau logika itu dipakai, Pak, nanti semua mushola jadi penginapan,” katanya. “Tempat ibadah harus bersih dan suci.”
Perempuan yang duduk di samping Miranda ikut bicara.
“Tadi saya lihat ada baju dijemur di belakang,” ucapnya sopan. “Itu mengotori lingkungan ibadah. Kita harus menjaga fungsi mushola.”
Kata-katanya lembut, tetapi terasa perih di telinga Miranda. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam erat.
Pak Halim hendak bicara lagi.
Namun Miranda mengangkat tangannya perlahan.
“Tidak apa-apa, Pak,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”
Ia tidak ingin Pak Halim mendapat masalah karena dirinya. Lelaki tua itu sudah terlalu baik. Miranda memilih mengalah, meski dadanya terasa nyeri dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Dengan sekuat tenaga menahan air mata, Miranda akhirnya angkat bicara.
“Baik, Pak. Kalau memang saya tidak diizinkan, saya akan keluar dan tidak lagi menginap di mushola ini,” ucap Miranda dengan suara berat, bergetar menahan emosi.
Tidak ada amarah dalam kalimat itu. Hanya kelelahan yang menumpuk dan rasa kalah yang ia telan bulat-bulat.
Miranda lalu membereskan barang-barangnya. Mukena, baju, dan plastik sederhana ia susun rapi. Ia tidak ingin meninggalkan kesan buruk, meski hatinya sedang remuk.
Sebelum pergi, Miranda menyalami Pak Halim. Lelaki tua itu menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. Walau pertemuan mereka singkat, Pak Halim menyimpan kesan mendalam pada perempuan itu.
“Semoga kamu jadi orang sukses, Nak,” ucap Pak Halim dengan suara bergetar.
Miranda menunduk dalam-dalam.
“Amin, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak,” jawabnya lirih.
Saat ia mengulurkan tangan kepada perempuan paruh baya yang tadi bicara, perempuan itu tampak enggan. Wajahnya masam, tangannya menyambut sekadarnya tanpa menatap Miranda.
Miranda tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengambil plastik berisi pakaian.
“Assalamualaikum,” ucap Miranda pelan.
Tidak ada jawaban. Miranda melangkah meninggalkan mushola. Langkahnya perlahan, seolah setiap meter terasa berat.
“Baru saja hidupku tenang, aku sudah terusir,” batinnya getir.
Beberapa langkah menjauh, barulah air mata itu jatuh. Dadanya terasa sesak, seakan ditekan sesuatu yang tidak terlihat. Hujan turun rintik-rintik, membasahi wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
Miranda berhenti sejenak dan menoleh ke arah mushola. Bangunan kecil itu tampak tenang, berdiri kokoh, seolah tidak peduli pada perasaannya.
Tangannya mengepal. Dadanya bergemuruh.
“Aku tidak bisa seperti ini,” gumamnya dengan napas terengah. “Aku tidak bisa hidup hanya seperti ini.”
Air mata terus mengalir, bukan lagi karena sedih, melainkan karena sesuatu yang mengeras di dalam dadanya.
“Aku harus jadi orang kaya,” ucap Miranda lantang, memecah sunyi.
Ia menatap jalan di depannya dengan mata menyala.
“Akan kubangun masjid besar,” katanya penuh tekad. “Masjid yang punya penginapan untuk musafir. Masjid yang menyediakan air minum, dapur umum, tempat cuci baju, dan klinik.”
Langkahnya semakin cepat.
“Masjid yang buka dua puluh empat jam,” lanjutnya. “Masjid yang melayani semua manusia. Bahkan kalau dia beda agama, masjid itu tetap memberinya makan.”
Miranda menelan ludah. Dadanya naik turun. Hujan semakin deras, tetapi semangatnya menyala.
Ia kembali berjalan menyusuri jalanan. Karung rongsokan kembali ia pikul. Satu per satu barang ia ambil. Bukan hanya gelas plastik, tetapi juga kardus dan besi bekas.
“Aku harus jadi orang kaya,” gumamnya berulang-ulang, seperti mantra.
Tak sengaja, kakinya menyentuh sesuatu. Sebuah pisau dapur, masih mengilap meski tergeletak di tanah. Miranda memungutnya, menatap pantulan wajahnya sendiri.
“Dunia begitu keras,” bisiknya. “Dan aku harus lebih keras.”
Ia menyimpan pisau itu, lalu melangkah maju, membawa tekad yang kini jauh lebih tajam daripada luka di hatinya.
gemes bgt baca ceeitanya