NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Kontrak yang Mulai Dilupakan.

Haruka benar-benar membaik.

Bukan sembuh sepenuhnya—aku tahu itu. Tapi tubuhnya tidak lagi berperang setiap kali ia menarik napas. Ia sudah bisa bangun pagi tanpa batuk panjang. Sudah bisa berjalan tanpa harus berhenti setiap beberapa langkah. Dan yang paling membuatku lega—balkon lantai tiga kini hanya tempat melihat langit, bukan tempat melawan hidup.

Hari-hariku kembali diisi oleh jadwal kampus.

Pagi yang terburu-buru. Buku-buku tebal. Catatan yang penuh coretan. Kepala yang lelah oleh teori dan tenggat waktu. Dunia yang perlahan kembali terasa… normal.

Dan anehnya, Haruka ada di sana.

Bukan sebagai penguasa rumah. Bukan sebagai suami kontrak. Tapi sebagai seseorang yang duduk diam di seberang meja, membaca berkas sambil sesekali menatapku.

“Kamu salah menandai paragraf itu,” katanya suatu sore.

Aku mendongak dari laptop. “Hah?”

“Itu definisi, bukan kesimpulan,” lanjutnya datar, menunjuk layarku.

Aku mengerjap, lalu membaca ulang.

Ia benar.

“Kamu baca?” tanyaku heran.

Ia mengangkat bahu. “Aku terbiasa membaca dokumen membosankan.”

Aku terkekeh kecil. “Ini kuliah, bukan bisnis gelap.”

“Dunia tetap dunia,” balasnya. “Kata-kata menentukan hidup orang.”

Aku terdiam.

Ia kembali ke berkasnya, seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang begitu… Haruka.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang aneh tapi menenangkan.

Aku belajar di ruang makan. Ia duduk tidak jauh, memastikan aku makan tepat waktu. Kadang ia menyeduhkan teh tanpa diminta. Kadang ia hanya duduk diam—kehadirannya seperti bayangan yang tidak menakutkan.

Suatu malam, aku tertidur di meja belajar.

Aku terbangun dengan selimut tipis di bahuku dan lampu meja yang diredupkan. Laptopku sudah tertutup rapi. Buku-bukuku disusun ulang.

Haruka duduk di sofa, menatap ponselnya.

“Kamu yang—?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk singkat. “Kau kelelahan.”

Aku menatapnya lama. “Terima kasih.”

Ia tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Kontrak itu… tidak pernah dibicarakan lagi.

Tidak ada pengingat tentang batasan. Tidak ada pembagian peran. Tidak ada kalimat ini hanya sementara.

Dan justru karena itu, aku mulai menyadari sesuatu yang berbahaya.

Aku tidak lagi hidup sebagai perempuan yang menjalani pernikahan kontrak. Aku hidup sebagai Alya—mahasiswa biasa—yang pulang ke rumah dan menemukan seseorang menunggunya.

Suatu sore, hujan turun pelan.

Aku duduk di lantai ruang kerja, dikelilingi buku. Haruka duduk bersandar di dinding, kakinya lurus, laptop di pangkuannya.

“Kamu tidak bosan?” tanyaku.

“Dengan apa?”

“Dengan rutinitas ini. Kampusku. Tugasku.”

Ia menoleh. “Aku justru menyukainya.”

“Kenapa?”

“Karena ini hidup,” katanya sederhana. “Bukan pelarian.”

Aku menelan ludah.

Aku menutup buku, menatapnya. “Kamu sembuh… dan tetap di sini.”

Ia menatapku balik. Lama.

“Aku tidak sembuh untuk pergi,” katanya pelan.

Jantungku berdegup tidak teratur.

Untuk sesaat, aku ingin mengingatkannya—tentang kontrak, tentang batas, tentang akhir yang pasti. Tapi kata-kata itu terasa… tidak relevan.

Aku kembali membuka buku, pura-pura fokus.

Namun di dalam dadaku, aku tahu:

Kontrak itu masih ada di atas kertas. Tapi di antara kami— ia mulai kehilangan maknanya.

Dan mungkin, tanpa kami sadari, kami berdua sedang menulis kesepakatan baru— tanpa tanda tangan, tanpa durasi, tanpa jalan mundur.

Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya.

Aku duduk bersila di lantai, punggungku bersandar pada sofa, laptop terbuka dengan layar penuh rumus dan catatan yang terasa makin lama makin tidak masuk akal. Haruka duduk di depanku, satu lutut tertekuk, satu tangan menopang dagu.

“Coba lihat bagian ini,” katanya sambil menunjuk. “Kamu terlalu fokus menghafal, padahal logikanya sederhana.”

Aku mendesah pelan. “Kedengarannya sederhana karena kamu yang bilang.”

Ia mengambil pulpen dari tanganku, lalu menulis cepat di kertas kosong. Garis-garisnya tegas, penjelasannya rapi. Tidak bertele-tele. Seolah semua itu sudah lama hidup di kepalanya.

Aku menatap tulisannya. Lalu menatap wajahnya.

Dan untuk kesekian kalinya malam itu, pikiranku dipenuhi satu pertanyaan yang mengganggu.

“Haruka…” panggilku ragu.

“Hm?”

“Kamu… sebenarnya siapa?”

Ia berhenti menulis.

Aku melanjutkan, suara pelanku hampir tenggelam oleh hujan.

“Kamu terlalu cerdas. Terlalu tenang. Terlalu sempurna untuk sekadar… nyata.”

Ia menoleh perlahan.

“Pernah nggak,” tanyaku, “kamu kuliah?”

Untuk sesaat, aku pikir ia akan menghindar. Atau menjawab dengan setengah bercanda seperti biasa.

Tapi Haruka berdiri.

Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan ke rak dokumen di sudut ruangan. Tangannya meraih sebuah map hitam—tebal, rapi, tanpa label. Ia kembali ke hadapanku, lalu menyodorkannya.

“Buka,” katanya singkat.

Aku menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar.

Halaman pertama kubuka.

Dan jantungku langsung berhenti sejenak.

Nama Haruka Sakura

Universitas — Amerika Serikat

Gelar: Sarjana (S1)

Masa studi: 7 bulan

“…Apa?” bisikku.

Tanganku bergerak cepat ke halaman berikutnya.

Nama Haruka Sakura

university —Australia

Magister (S2)

Lulus dalam 4 bulan

Aku tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena otakku menolak percaya.

“Ini… ini palsu, kan?” tanyaku, suaraku bergetar.

Haruka tidak menjawab.

Aku membuka halaman berikutnya.

Dan di sanalah aku benar-benar kehilangan

kata-kata.

Nama Haruka Sakura

university—Germany

Doktor (S3)

Diselesaikan dalam 6 bulan

Map itu hampir terjatuh dari tanganku.

“Apa—” napasku tercekat. “Apa kamu bercanda?! Ini mustahil, Haruka. Ini—ini gila!”

Ia duduk kembali, menatapku dengan ekspresi datar yang anehnya terasa… lelah.

“Aku tidak pernah punya waktu,” katanya pelan. “Jadi aku belajar cepat.”

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Cepat?” ulangku. “Ini bukan cepat. Ini tidak manusiawi.”

Ia tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah menyentuh matanya.

“Mungkin,” katanya. “Aku memang tidak pernah hidup seperti manusia lain.”

Dadaku sesak.

Kini semuanya terasa masuk akal. Kecerdasannya. Cara berpikirnya. Ketajaman matanya setiap kali menilai dunia.

“Kamu… sendirian selama itu?” tanyaku lirih.

Ia tidak menjawab langsung. Pandangannya jatuh ke jendela, ke hujan yang terus turun.

“Ilmu,” katanya akhirnya, “adalah satu-satunya tempat aku bisa bernapas tanpa kehilangan siapa pun.”

Aku menutup map itu perlahan.

Tanganku gemetar saat aku meletakkannya di samping.

“Haruka,” bisikku, “kamu tidak sempurna.”

Ia menoleh.

“Kamu rusak,” lanjutku jujur. “Dan justru itu yang membuatmu… nyata.”

Ia menatapku lama. Sangat lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya— ia terlihat rapuh.

Ponsel Haruka bergetar di atas meja.

Satu getaran singkat. Lalu berhenti. Lalu bergetar lagi—lebih lama.

Ia melirik layar sekilas. Alisnya bergerak nyaris tak terlihat. Tangannya segera meraih ponsel itu, lalu berdiri dan melangkah menjauh beberapa langkah dariku sebelum mengangkatnya.

Aku tidak mendengar siapa di seberang sana. Hanya suara Haruka—pendek, tenang, terlalu terkontrol.

“…ya.”

“…aku mengerti.”

“…sekarang?”

Ada jeda. Kemudian, “Baik.”

Telepon ditutup.

Ia berbalik menatapku. Tatapan itu lembut, tapi ada sesuatu yang ditahannya.

“Aku harus keluar sebentar,” katanya. “Ada urusan.”

“Sekarang?” tanyaku refleks.

Ia mengangguk. “Tidak lama.”

Aku ingin bertanya. Ingin menahan. Tapi aku hanya mengangguk pelan.

“Jangan begadang,” tambahnya, seolah itu urusan paling penting di dunia. Ia mengambil jaketnya, lalu berhenti di ambang pintu.

“Jangan cari-cari hal yang tidak perlu,” katanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

Pintu tertutup sebelum aku sempat menjawab.

Rumah mendadak terasa terlalu sunyi.

Aku menatap laptopku—catatan kuliah yang kini tak lagi berarti apa-apa. Bayangan wajah Haruka, map hitam, dan angka-angka mustahil itu terus berputar di kepalaku.

Tanganku bergerak sendiri.

Ponsel. Mesin pencari. Namanya.

Haruka Sakura.

Aku menahan napas saat hasil pencarian muncul.

Satu artikel. Lalu dua. Lalu puluhan.

Semua sama. Semua nyata.

Universitas di Amerika. Australia. Germany.

Tanggal, nama profesor pembimbing, jurnal akademik—semuanya terdokumentasi rapi. Tidak ada celah untuk kebohongan.

Lalu aku menemukan satu artikel yang membuat jariku berhenti menggulir.

Judulnya membuat dadaku mengencang.

–manusia sempurna yang mencetak sejarah baru–

aku terdiam sejenak, lalu membuka artikel itu..

–Di umurnya yang belum genap dua puluh tahun, ia menyelesaikan seluruh studinya—sarjana, magister, hingga doktor—dalam waktu yang belum pernah tercatat sebelumnya.–

Aku membaca pelan, takut jika terlalu cepat, kenyataan itu akan menghilang.

–Tak hanya itu, Haruka Sakura juga sempat mengajar sebagai dosen tamu di salah satu universitas paling bergengsi di London.–

Aku menutup mulut dengan tangan.

Dosen. London. Belum genap dua puluh tahun.

–Ia dikenal jenius, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik kecemerlangannya, publik jarang mengetahui sisi lain dari hidupnya—sebuah kehidupan yang sejak kecil terus direnggut oleh kehilangan.–

Mataku panas.

Aku menurunkan ponsel perlahan.

“Kenapa…” bisikku pada ruang kosong, “kenapa orang sesempurna dia selalu disakiti dunia?”

Aku teringat batuknya di pagi hari. Tatapan kosongnya saat berkata napas ini hanya pinjaman. Caranya menulis seolah waktu selalu mengejarnya.

Ia bukan berlari menuju masa depan. Ia dikejar oleh kematian.

Dan dunia—alih-alih memeluk—terus menuntut lebih darinya.

Aku memeluk lututku sendiri.

Kontrak itu. Kesepakatan dingin yang seharusnya menjaga jarak.

Entah sejak kapan, aku lupa.

Aku lupa bahwa aku seharusnya tidak peduli sejauh ini. Aku lupa bahwa hidup Haruka bukan ruang aman.

Kontrak itu mungkin masih ada. Tapi malam itu, aku tahu satu hal:

Aku tidak jatuh cinta pada pria sempurna. Aku jatuh cinta pada seseorang yang dipaksa dunia menjadi luar biasa… hanya agar bisa bertahan hidup.

Dan di tengah tumpukan buku, hujan, dan berkas-berkas yang mustahil itu— aku sadar, aku sedang duduk di samping seseorang yang seharusnya sudah lama menyerah pada dunia, tapi memilih tetap hidup.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!