"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 -Saling Menguntungkan
Aylin tidak terlalu menanggapi ucapan Kakek, padahal sesungguhnya, pria tua itu tahu segalanya.
Kakek Harsa sudah lama mendengar gosip tentang cucunya yang dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Namun, alih-alih langsung mempercayai kabar burung tersebut, ia memilih menyelidikinya sendiri. Hingga akhirnya ia tahu—lelaki itu hanya memanfaatkan Aksara.
Hal itu membuat hatinya mantap: cucunya layak mendapat pendamping yang tulus, bukan seseorang yang hanya datang karena pamrih.
Aylin memperhatikan Kakek yang masih asyik menaburkan pakan ke kolam koi di depannya. Gerakannya tenang, senyum lembutnya membuat suasana terasa damai.
Tak lama kemudian, Aksara muncul dengan wajah datar yang—sialnya—tetap saja tampan. Aylin menggeleng pelan. Lelaki setampan ini… masa iya bisa belok?
“Jangan melamun,” tegur Aksara tiba-tiba.
Kakek terkekeh kecil. “Dari tadi memang melamun, tuh.”
“Enggak kok,” sahut Aylin cepat, berusaha menahan senyum.
“Alasan aja. Ayo, aku antar pulang,” ucap Aksara tanpa basa-basi, membuat Aylin spontan mendengus kecil.
“Kenapa terburu-buru, Aksara? Kakek masih ingin ngobrol sama Aylin,” sela Kakek lembut.
“Kek, Aylin harus menjaga ibunya yang sedang sakit,” jawab Aksara, nadanya lembut tapi tegas.
“Sakit? Sakit apa? Dirawat di mana?” tanya Kakek cepat, wajahnya seketika terlihat khawatir.
“Patah kaki. Jatuh di kamar mandi,” jawab Aksara singkat.
“Ya ampun! Kakek harus menjenguk besan Kakek nanti,” seru Kakek spontan.
“Jangan dulu, Kek,” sela Aksara sambil mendekat dan menepuk lembut pundak Kakeknya.
“Kalau Kakek kecapekan, nanti malah kambuh lagi. Besok-besok aja, ya? Aku atur waktunya.”
Kakek Harsa menghela napas, lalu mengangguk pelan. “Ya sudah, antar Aylin baik-baik.”
“Siap, Kek. Ayo, sayang,” ujar Aksara sambil menggenggam tangan Aylin pelan.
Gadis itu langsung berdebar. Sentuhan kecil itu cukup membuat jantungnya terasa seperti hendak melompat keluar.
Mereka pun berpamitan. Aylin sempat menunduk sopan di hadapan Kakek Harsa, lalu berjalan mengikuti langkah Aksara menuju mobil. Sebelum benar-benar pergi, ia tak lupa berpamitan pada calon ibu mertuanya.
Wajah Kirana tetap datar—dingin dan tanpa senyum—berbeda dengan Abian yang tampak senang dan ramah sejak awal pertemuan.
Dan di balik semua itu, Aylin masih belum tahu… bahwa keluarga Aksara menyimpan lebih banyak rahasia dari yang ia kira.
*
*
Di dalam mobil, suasana sempat hening. Hanya suara AC dan alunan lagu mellow dari playlist Aksara yang terdengar. Aylin sesekali melirik pria di sebelahnya yang fokus menyetir tanpa banyak bicara.
“Maaf ya,” ujar Aksara tiba-tiba, masih menatap ke depan.
Aylin mengernyit. “Maaf, untuk apa?”
“Aku tahu ini semua terasa memaksa... dan aneh. Tapi aku cuma mau semuanya cepat selesai. Termasuk urusan warisan.”
Aylin memutar bola matanya. “Jadi aku ini cuma jembatan buat kamu dapat harta, gitu?”
Aksara melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan.
“Kita saling menguntungkan, Aylin. Aku butuh warisan Kakek, kamu butuh uang.”
Aylin mendengus pelan. Yah, dia memang butuh uang—untuk pengobatan ibunya.
“Oke, mungkin kita akan menikah secepatnya,” celetuk Aylin santai.
“Baiklah. Aku nggak suka basa-basi,” balas Aksara datar.
“Bagus. Aku juga,” jawab Aylin cepat. Dalam hatinya, ia sudah bertekad akan meminta Aksara membuat surat perjanjian sebelum menikah.
Beberapa menit kembali berlalu dalam diam, sebelum Aksara mengerem pelan di depan rumah susun Aylin. Ia mematikan mesin mobil, menoleh perlahan.
“Aylin.”
“Hm?”
“Apa kamu beneran nggak keberatan nikah sama aku?” tanyanya, suaranya kali ini terdengar lebih lembut—hampir seperti ragu.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Bahkan Aksara sendiri terkejut bisa melunak seperti itu.
Sementara Aylin hanya menatapnya tanpa senyum.
“Selama kamu nggak berkhianat, aku bisa pertimbangkan,” ujarnya ringan, lalu membuka pintu mobil.
Aksara nyaris tertawa, tapi ditahannya. Ia hanya menggeleng kecil melihat gadis itu berjalan pergi tanpa menoleh.
“Cewek aneh,” gumamnya, namun sudut bibirnya terangkat tipis.
“Semoga aku nggak jatuh cinta sama dia,” bisiknya pelan. Ada nada takut di sana—takut benar-benar jatuh pada pesona Aylin.
Karena nyatanya, Aksara sudah mulai luluh sejak melihat Aylin tampil anggun di depan keluarganya tadi.
*
*
Aylin menaiki tangga menuju lantai tiga rumah susun. Ada lift, tapi ia malas mengantri bersama penghuni lain.
“Aylin!” panggil seorang wanita dari bawah.
“Mbak Anisa,” sahut Aylin sambil menoleh.
“Gimana keadaan Tante Rosa?” tanya Anisa.
“Baik, Mbak. Ibu sudah dipindahkan ke tempat perawatan,” jawab Aylin.
“Oh, syukurlah. Aku sempat khawatir. Nanti malam aku sama suami mau nengok, ya.”
“Iya, Mbak. Kita sama-sama aja,” balas Aylin tersenyum. Setelah berbincang sebentar, ia masuk ke rumah.
Begitu pintu terbuka, udara dingin langsung menyergap wajahnya. Ia melepas heels yang membuatnya pegal karena tak biasa dan melemparkannya secara asal. Tubuhnya langsung jatuh ke dudukan empuk itu, menatap langit-langit yang mulai kusam.
“Huh…” Aylin menghela nafas panjang. Hari ini terasa panjang sekali.
Sementara Aksara, dia memutuskan untuk ke apartemen Arvano. Dia membawa banyak makanan untuk kekasihnya tersebut, berpuluh menit kemudian dia sudah sampai dan disambut ramah oleh penjaga.
"Mas." Sapa penjaga, Aksara pun membalas dengan senyum ramah.
Mereka tidak tahu, bahwa Aksara dan Arvano adalah pasangan mereka terlihat normal di luar. Bahkan, Arvano sering mengajak teman-temannya baik wanita maupun lelaki ke apartemen tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, Aksara sudah sampai di unit Arvano. Unit, yang dibeli untuk kekasihnya saat hari jadi yang ke satu tahun.
"Hai sayang." Sapa Arvano, yang duduk manis di sofa bahkan televisinya menyala.
"Bagaimana sekarang?" tanya Aksara.
"Yah, sudah lebih baik seperti yang kamu lihat." Balas Arvano, dijawab anggukan oleh Aksara.
"Aku sudah menemukan gadis itu," celetuk Aksara.
"Hah? Siapa?" tanya Arvano.
"Namanya Aylin, gadis biasa aku akan memintanya bekerja di cafe. Bagaimana?" tanya Aksara.
Arvano pun berpikir lalu menatap Aksara.
"Baiklah, tapi aku ingin bertemu dengan dia."
"Oke, besok aku akan membawanya padamu." Ucap Aksara ada nada ragu dalam ucapannya.
Arvano pun mengangguk, lalu menikmati makanan yang dibawa oleh Aksara dengan lahap. Diam-diam Aksara memperhatikan Arvano yang tampak biasanya saja menurutnya, malah sekarang wajah Aylin yang terlintas di kepalanya.
"Astaga, kenapa aku memikirkan gadis tomboy itu." Ucap Aksara dalam hati.
*
*
Malam hari di rumah sakit, Anisa berdecak dengan kagum dengan ruangan yang ditempati oleh Rosalind. Dia bertanya-tanya dari mana Aylin mendapatkan uang untuk biaya ruangan VIP?
"Aylin, kamu gak salah ini?" tanya Anisa.
"Engga kok, Mbak. Memang kenapa?" Aylin bingung dengan pertanyaan Anisa.
Membuat Rosalind tertawa.
"Kamu gak salah kok, Nis. Ini semua pemberian dari calon menantuku alias calon suaminya Aylin." Ujar Rosalind.
"Apa? Calon suami? Yang benar, Lin? Astaga, siapa orangnya kenalkan dong sama, Mbak." Seru Anisa dengan semangat.
"Ish, Mbak. Apaan sih heboh bener." Desis Aylin, padahal dia sangat malu beruntung suami Anisa menunggu di luar bersama kedua anaknya yang tak bisa masuk.
"Cie, merah tuh pipinya." Goda Anisa.
"Mbak, ihh.. udah ahh, aku mau beli makan dulu." Pamit Aylin.
Anisa tertawa saat melihat Aylin keluar, dia menatap Rosalind dan mengelus tangannya dengan lembut.
"Aylin, dia beruntung sekali mendapatkan calon suami kaya." Celetuk Anisa.
"Ya dia sangat beruntung, Nis. Tante bersyukur, ada yang mau menerima keadaan Aylin." Balas Rosalin tersenyum tipis, Anisa pun mengangguk setuju.
Bersambung ...
Duh, Aksara mulai labil nih! Di depan Arvano malah kepikiran Aylin. 😍 Tapi, teganya ya Aksara mau ngenalin Aylin ke kekasihnya, semoga gak ketemu ya 🤭
Kasih LIKE dan KOMENTAR ya kalau kalian pengen Aylin cepat-cepat bikin Aksara bertaubat! ❤️🔥
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣