Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi di Mata Publik
Kabut pagi masih menyelimuti kawasan industri di tepi kota ketika taksi yang ditumpangi Amara berhenti di depan gerbang pagar besi tinggi.
Sebuah plakat besar, masih baru dan mengkilap, terpampang:
NOVAE CREATIVE HUB - DIVISI HOME & LIFESTYLE.
Di bawahnya, tulisan lebih kecil: "Di mana Seni Bertemu Kehidupan Sehari-hari." Amara merasa mual membaca slogan itu.
Dia mengenakan pakaian pelindung: jeans hitam longgar, sweater turtleneck abu-abu tebal yang menutupi sampai leher, dan sepatu boots kulit usang.
Rambutnya diikat kencang menjadi sanggul rendah, tanpa perhiasan selain jam tangan lama pemberian almarhum ayahnya. Ini adalah pakaian zirah, bukan busana. Dia ingin menyamarkan diri, menjadi tak terlihat, seorang pengintip di tanah bekas kerajaannya sendiri.
Satpam di pos jaga mengangguk dengan sopan setelah memeriksa identitasnya.
"Ibu Amara? Ditunggu ya, Bu. Mas Rendi dari bagian QC yang akan menemani."
Rendi, pria muda berkacamata dengan wajah ramah dan agak gugup, sudah menunggu di lobi yang dingin dan minimalist.
"Selamat pagi, Ibu. Senang akhirnya bisa bertemu. Karya-karya Ibu sangat inspiratif," katanya dengan semangat yang terasa seperti skrip.
"Terima kasih," jawab Amara pendek. "Aku hanya ingin melihat prosesnya."
"Tentu, silakan ikuti saya."
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang dindingnya dicat putih bersih, diterangi lampu neon. Suara mesin mulai terdengar, menderu rendah seperti nafas sebuah makhluk besar. Bau tinta, kain, dan plastik baru memenuhi udara.
Rendi membuka pintu geser besar. Suara mesin mendadak membelah telinga. Di dalam ruangan seluas gudang, beberapa mesin printer raksasa sedang bergemuruh, memuntahkan pola-pola berwarna ke atas gulungan kain putih. Amara mendekat, langkahnya tiba-tiba terpaku.
Di atas salah satu kain yang bergerak di conveyor belt, terbentang motif yang ia kenal lebih baik dari garis tangannya sendiri:
"FRAGMENT NO. 7 - THE CRACKED HEART WITH GOLDEN LIGHT". Itu adalah karya dari fase paling gelapnya setelah perceraian, lahir dari malam-malam menangis sendirian sambil memeluk bantal bekas Rafa.
Goresan kuasnya yang dulu kasar, penuh tekstur dan lapisan cat akrilik yang menumpuk-numpuk untuk menciptakan ilusi retakan yang dalam, kini telah diratakan, didigitalisasi, dan dicetak dalam resolusi yang justru terlalu sempurna dan steril.
Warna emas yang dulu ia campur dengan serbuk tembaga asli agar berkilau lembut di bawah cahaya tertentu, kini hanyalah warna kuning metalik standar dari cartridge tinta.
"Ini untuk koleksi cushion premium," teriak Rendi di samping telinganya, menyaingi deru mesin.
"Kami pakai kain velvet microfiber. Hasilnya sangat mewah!"
Amara tidak bisa menjawab. Matanya membuntuti kain yang bergerak, melihat 'jantungnya' yang retak itu dicetak ulang, lagi dan lagi, dengan presisi mesin yang tak bernyawa. Setiap cetakan identik sempurna.
Tidak ada kejutan, tidak ada 'kecelakaan' kreatif yang justru sering melahirkan keindahan tak terduga. Ini adalah produksi, bukan penciptaan.
"Bisa kita lihat ruang finishing?" tanya Amara, suaranya serak.
Suara di sini lebih beragam: desingan mesin jahit, gunting memotong kain, obrolan pekerja yang terfokus pada tugas. Di atas meja panjang, puluhan 'jantung retak' yang telah dicetak sedang dipotong, dijahit menjadi sarung bantal, lalu diisi dengan dakron.
Seorang pekerja wanita muda, tanpa ekspresi, mengambil selembar kain bermotif fragmen hati, menempatkannya di bawah pola, dan mengguntingnya.
Gerakannya cepat, efisien, akurat. Potongan-potongan kain sisa yang masih memiliki bagian dari gambar Amara—sebuah sapuan emas, sebuah garis retak—dibuang begitu saja ke keranjang sampah di lantai.
Amara berjalan mendekati keranjang itu. Dia membungkuk, mengambil sepotong kecil kain velvet. Di atasnya, ada bagian dari 'cahaya emas' yang dulu ia lukis dengan penuh pengharapan, keyakinan naif bahwa dari retakan bisa terpancar terang. Kini, ia hanya sampah produksi.
"Bu, itu sampah sisa cutting," kata Rendi, sedikit bingung.
"Aku tahu," bisik Amara. Dia meremas potongan kain itu di tangannya. Velvetnya terasa murah, plastik. Tidak seperti kanvas kasar yang dulu ia sentuh.
Di ujung ruangan, dia melihat tumpukan kotak kardus yang sudah siap dikirim. Stiker pada kotak itu bertuliskan:
"NOVAE ARTISAN COLLECTION - FRAGMENTS OF LIGHT by AMARA. Elevate Your Living Space."
Elevate Your Living Space. Amara memejamkan mata. Karya yang lahir dari lorong kegelapan jiwa, dari teriakan sunyi atas kehancuran sebuah keluarga, kini menjadi aksesori untuk 'meninggikan ruang hidup'.
"Apakah... apakah ada yang melihat karya aslinya? Sebelum didigitalisasi?" tanya Amara pada Rendi.
Rendi mengernyit. "Maksud Ibu? Ah, kami dapat file digital beresolusi tinggi langsung dari tim akuisisi. Sangat praktis. Karya fisik asli Ibu, kalau tidak salah, akan dipajang di galeri kepala NOVAE di Singapura sebagai investasi."
Jadi, anak-anaknya—karya-karya asli itu—telah dikurung di ruang berpendingin di negeri orang, sementara kloningan massal mereka dijual ke seluruh dunia. Amara merasa seperti seorang ibu yang anak-anaknya diculik dan dipaksa menjadi budak pabrik.
Sebelum pergi, Rendi mengajaknya ke sebuah ruang pamer kecil di dekat lobi.
"Ini jadi favorit customer, nih," katanya bangga.
Ruangan itu dirancang seperti ruang keluarga modern yang sempurna namun dingin. Di sofa abu-abu, berserakan bantal-bantal bermotif karyanya.
Di rak, mug dan gantungan kunci dengan detail fragmen yang mengecil. Di dinding, poster karya "The Wholeness No. 1" dibingkai tipis.
Yang paling membuat Amara tersedak adalah sebuah throw blanket besar, terlipat rapi di atas sebuah bangku. Motifnya adalah adaptasi dari diptych (dua panel) yang dia buat tentang dirinya dan Rafa—dua kanvas yang saling melengkapi namun terpisah.
Di atas selimut mewah itu, kedua panel itu disatukan secara paksa menjadi satu gambar yang utuh dan harmonis, seolah-olah tidak pernah ada pecahan.
"Ini laris sekali," kata Rendi sambil mengelus permukaan selimut itu. "Banyak yang beli sebagai kado pernikahan. Simbol penyatuan, katanya."
Simbol penyatuan. Amara ingin tertawa terbahak-bahak, atau mungkin menjerit. Karyanya telah dibajak, maknanya dipelintir. Retakan yang ia hormati, ia akui keindahannya yang getir, justru diplester dan dihaluskan hingga menjadi hiasan yang menenangkan untuk ruang tamu.
"Terima kasih atas waktunya, Rendi," ucap Amara tiba-tiba, berbalik badan. Dia tidak tahan lagi.
"Ah, sama-sama, Ibu. Ada feedback untuk proses kita?"
Amara menatapnya. Pria muda itu hanya melihat angka, efisiensi, dan produk. Dia tidak melihat jiwa yang tergantung di setiap cetakan.
"Tidak," jawab Amara akhirnya. "Tidak ada."
Sementara Amara tenggelam dalam krisis di pabrik cangkangnya, Rafa duduk di restoran Perancis yang terlalu mewah, merasa seperti penipu di balik setelan barunya yang mahal. Val yang memilih tempat ini.
Val hadir dengan aura kemenangan. Dia memakai dress sheath warna burgundy yang pas di badan, rambutnya disanggul rendah tetapi dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan terlepas dengan sempurna.
Anting mutiara, clutch kulit buaya. Dia terlihat seperti versi Amara yang diambil semua sisi keras dan kesedihannya, lalu diganti dengan lapisan chrome yang berkilau. Ekspresinya hangat, penuh perhatian, tetapi matanya seperti kamera yang sedang mengkalkulasi sudut terbaik.
"Rafa, sayang, kau terlihat tegang," ucap Val, menyentuh lengan baju Rafa dengan ringan.
"Masih memikirkan postingan sahabat Amara itu?"
"Sedikit," akui Rafa, menyesap air putihnya. Dia memesan air, Val memesan champagne.
"Ini... rumit. Untuk Luna."
"Selalu untuk Luna," senyum Val lembut. "Kau adalah ayah yang luar biasa. Itu yang harus dilihat dunia." Dia membuka clutch-nya, mengeluarkan tablet.
"Aku sudah bicara dengan tim public relation L'Éclat. Mereka sangat tertarik dengan narrative-nya. Kisah ayah yang bangkit dari kesalahan, berjuang untuk putri tercinta. Mereka ingin memasukkan Luna dalam kampanye, tentu saja dengan kompensasi yang sangat baik untuk dana pengobatannya."
Rafa merasa perutnya mulas. "Memasukkan Luna? Seperti... memotretnya?"
"Tentu. Wajah polosnya, keberaniannya melawan penyakit. Itu akan menyentuh banyak hati. Dan yang terpenting," Val mencondongkan badan, suaranya berbisik penuh daya persuasi, "itu akan mengunci posisimu, Rafa.
Di mata publik, kau dan Luna adalah paket. Ayah dan putri yang tak terpisahkan. Siapa pun yang melihat, akan melihat ikatan itu. Itu akan menjadi... asuransi alami."
"Asuransi?" Rafa mengulangi, tidak yakin.
"Terhadap intervensi pihak lain," Val menjelaskan dengan halus, seolah-olah mengajari anak.
"Jika publik sudah mengidentifikasikan Luna denganmu, dengan kisah perjuanganmu, akan sangat sulit bagi siapa pun untuk mencoba memisahkan kalian. Galanya akan dihadiri media besar. Foto-foto itu akan ada di mana-mana. Itu akan menjadi cerita resmi: Rafa dan Luna, melawan dunia."
Godaan itu hampir sempurna. Ini adalah segala yang dia takuti—kehilangan Luna—dan segala yang dia butuhkan—pengakuan sebagai ayah yang baik—dibungkus dalam satu paket mewah bernama 'amal'.
"Bagaimana dengan Amara?" tanya Rafa. "Dia harus setuju."
"Amara akan setuju," kata Val dengan keyakinan yang membuat Rafa merinding.
"Karena ini untuk dana Luna. Dan karena, antara kita, Amara sedang sibuk dengan krisis dirinya sendiri dan... koneksi barunya di Yogyakarta. Dia mungkin akan lega jika kau mengambil peran lebih besar di sini."
Saat Val menyebut 'Yogyakarta', rahang Rafa mengeras. Edo. Selalu Edo.
"Kau tahu tentang Edo?" tanya Rafa, mencoba terdengar tidak terganggu.
Val mengangkat bahu, elegan.
"Dunia seni itu kecil, sayang. Aku dengar dia sering berhubungan dengan Amara, membicarakan proyek seni partisipatif mereka. Sangat... intens." Dia memandang Rafa.
"Tapi fokuslah pada apa yang bisa kau kendalikan, Rafa. Hubungan Amara dengan orang lain bukan urusanmu lagi. Yang menjadi urusanmu adalah hakmu sebagai ayah. Dan hak itu perlu dilindungi, dengan cara apa pun."
Makanan datang, tetapi Rafa sudah kehilangan selera. Val terus berbicara, merencanakan: jadwal pemotretan, wawancara media, bahkan kemungkinan buku mini tentang perjuangan mereka.
"Dan untuk membuat Luna nyaman," kata Val di akhir makan, "aku punya ide. Bagaimana jika weekend ini kita ajak Luna ke theme park baru di BSD? Aku bisa mengatur area VIP, jadi dia tidak kelelahan. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Sebagai... teman ayahnya."
Ini melangkah lebih jauh. Memperkenalkan Val pada Luna. Menciptakan ikatan. Rafa tahu ini berbahaya, tapi Val berkata-kata dengan sangat masuk akal.
Luna perlu melihat ayahnya bahagia, stabil, dikelilingi orang-orang yang bisa membantu. Luna perlu melihat bahwa ada alternatif lain dari kenangan rumah tangga yang rusak dan kehidupan ibunya yang kini penuh dengan seniman dan proyek-proyek abstrak.
"Luna mungkin belum siap," bantah Rafa lemah.
"Kau akan terkejut melihat betapa cepatnya anak-anak beradaptasi," sahut Val, tersenyum.
"Terutama jika mereka merasakan ketulusan. Dan aku tulus, Rafa. Aku ingin membantumu. Membantu Luna."
Rafa menatap gelas champagnenya yang penuh gelembung kecil yang naik dan pecah di permukaan. Dia merasa seperti salah satu gelembung itu: rapuh, dipenuhi udara kosong, dan akan segera lenyap.
"Aku akan tanyakan pada Amara tentang weekend itu," kata Rafa akhirnya, kompromi terakhir.
"Tentu," ujar Val, senyumnya tidak pernah sirna.
"Tapi ingat, kau juga punya hak sebagai ayah untuk memperkenalkan orang baru pada anakmu, selama itu baik untuknya. Dan semuanya ini."
Dia menggerakkan tangannya yang anggun, merujuk pada rencana gala, pemotretan, theme park, "semuanya baik untuk Luna. Memberikan dia keamanan finansial, jaringan sosial yang kuat, dan citra keluarga yang kokoh."
Kata 'keluarga' itu menggantung di udara. Rafa memandang Val, wanita yang menawarkan peta jalan menuju segala yang ia takuti kehilangan. Dia tahu ada tebing di ujung jalan itu, tetapi saat ini, dia terlalu buta oleh kabut ketakutan untuk melihatnya.
"Sekarang," Val mengangkat gelasnya, "untuk masa depan. Dan untuk Luna."
Rafa, dengan tangan yang hampir tidak gemetar, mengangkat gelas airnya. Dentingan gelas terdengar tipis, hampa, seperti bunyi patahnya sesuatu yang sudah retak. Dia tidak tahu apakah itu sisa harga dirinya, atau tembok terakhir yang memisahkannya dari lubang kelinci di mana anaknya menjadi alat transaksi.
Di taksi yang membawanya pulang, Rafa melihat ponselnya. Tidak ada pesan dari Amara. Dia membuka galeri foto, melihat gambar-gambar Luna yang masih kecil, tertawa di pelukannya. Air matanya, yang sudah lama tertahan, akhirnya menetes. Dia mengetik pesan untuk Luna, lalu menghapusnya.
Dia ingin menelepon Amara, mendengar suaranya, bertanya apakah dia baik-baik saja setelah kunjungan ke studio NOVAE, tapi dia takut. Takut mendengar kedinginan dalam suaranya. Takut mengakui bahwa dia, Rafa, sedang merencanakan aliansi dengan Val sementara Amara berjuang sendirian melawan monster yang mereka ciptakan bersama.
Dia menatap keluar jendela, kota yang berkilauan terlihat seperti lautan perangkap cahaya. Dia telah kehilangan arah. Dan satu-satunya penuntun yang ditawarkan adalah seorang wanita yang matanya berkilau seperti koin emas, menjanjikan surga dengan harga yang mungkin tak akan mampu ia bayar—jiwa putri satu-satunya.
karena kan jarak umur mereka jauh..
nanya aja koq 🫰
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....
cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
aku sampe ngga bisa berkata2
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...
kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...