Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Benci Laki-laki Itu
Jaka mengalihkan pandangannya dan melihat Sulastri yang sedang duduk anteng di pojok bale.
Tanpa aba-aba, pria bertubuh kekar itu menyambar tubuh kecil Lastri, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Lastri! Nduk! Pakdhe mau punya anak! Kamu bakal punya adik sepupu!" seru Jaka sambil memutar-mutar tubuh kecil itu.
Awalnya Lastri kaget, tapi sensasi melayang di udara membuatnya tertawa renyah.
"Hihihi... terbang! Lastri terbang!"
Saat tawa Lastri pecah, tanpa ada yang menyadari, kuncup bunga melati di pagar pekarangan yang sudah lama kering tiba-tiba mekar serentak, menyebarkan wangi semerbak yang anehnya menenangkan hati siapa saja yang menciumnya.
"Heh! Jaka! Sudah tua kelakuan kayak bocah! Turunkan! Nanti anak orang pusing!"
Suara bariton Abah Kosasih menggelegar dari pintu depan.
Lelaki tua itu melotot, tapi sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan senyum.
Jaka menurunkan Lastri dengan hati-hati, lalu cengengesan.
"Inggih, Bah. Seneng banget rasanya."
"Mbah Kung... terbang itu asyik," celoteh Lastri dengan mata berbinar.
Abah Kosasih mengelus rambut tipis cucunya itu.
"Ya sudah, Lastri main lagi sana."
Lastri mengangguk.
Dia bisa merasakan gelombang kebahagiaan yang hangat menyelimuti rumah kayu sederhana itu.
Energi itu terasa seperti air sejuk yang menyiram jiwanya yang gersang.
Kabar kehamilan Mira membuat suasana pembangunan pondasi rumah baru semakin meriah.
Warga desa yang membantu bergotong-royong semakin yakin bahwa kedatangan Kinar dan Lastri membawa berkah tersendiri.
Bayangkan, lima tahun Mira dan Jaka menikah tanpa hasil, baru sebulan Kinar dan Lastri tinggal di sini, Mira langsung "isi". Belum lagi kejadian Mang Udin yang selamat dari kecelakaan karena celetukan polos Lastri.
Di mata warga desa yang masih percaya hal-hal klenik, Lastri dianggap pembawa hoki.
Hari itu, gotong royong pengecoran pondasi selesai dengan lancar.
Para ibu-ibu desa yang membantu di dapur umum mulai membereskan piring seng dan gelas belimbing.
Malam harinya, diterangi cahaya lampu patromak yang mendesis pelan, keluarga itu berkumpul untuk makan malam.
Lauknya sederhana, ikan asin, sambal terasi, dan sayur lodeh, tapi rasanya nikmat luar biasa.
"Istrimu lagi nyidam, Jak. Mulai sekarang kerjamu jangan grusa-grusu. Jaga omongan, jaga kelakuan," nasihat Abah Kosasih sambil menyeruput kopi jagung.
"Inggih, Bah. Saya bakal jagain Mira kayak jagain telur emas. Pelan-pelan," jawab Jaka mantap.
Mak Sari menimpali, "Tiga bulan pertama itu rawan, le. Biar urusan panen nanti Bapakmu sama kuli harian yang urus. Kamu fokus bantu-bantu yang ringan saja."
Mira menunduk haru.
"Mbak Kinar kan sudah pengalaman, nanti kalau Mira bingung, Mira tanya Mbak Kinar ya?"
Kinar tersenyum lembut, menyuapi Lastri yang matanya sudah tinggal lima watt.
"Tanya saja, Dik. Mbak bakal bantu sebisa mungkin."
Lastri yang setengah tertidur tiba-tiba bergumam, "Makasih ya, dedek bayi..."
Semua orang terdiam.
Mereka pikir Lastri mengigau.
Tapi Mira menatap bocah itu dengan mata berkaca-kaca.
"Mbak," bisik Mira pada Kinar.
"Mungkin kedengarannya aneh. Tapi aku rasa anak ini memang rezeki dari Lastri. Ingat nggak waktu Lastri elus perutku minggu lalu? Rasanya hangat... Beda."
Jaka menepuk dadanya.
"Pokoknya, selama ada aku, nggak ada yang boleh nyakitin Kinar sama Lastri. Siapapun itu."
"Halah, gaya-gayamu," celetuk Mak Sari.
"Selama Abah sama Emak masih napas, kamu antre dulu kalau mau jadi pahlawan."
Gelak tawa pecah di ruang tengah yang berdinding anyaman bambu itu.
Malam makin larut.
Jaka menuntun Mira masuk ke kamar.
"Dik, mau digendong?"
Plak!
Mira menepuk punggung tangan suaminya.
"Malu dilihat Emak! Ingat umur!"
Jaka hanya nyengir kuda garuk-garuk kepala.
Sementara itu, Kinar membopong Lastri masuk ke kamar.
Di luar, suara jangkrik bersahutan. Lastri tidur dengan pulas, dan di dalam tidurnya, dia bermimpi tentang sawah yang menguning dan lumbung yang penuh. Tanpa sadar, di bawah kolong tempat tidurnya, rumput liar yang tumbuh di tanah menyembul hijau segar, menembus celah lantai tanah yang keras.
Pagi menyapa Desa dengan kabut tipis.
Lastri bangun dan menggeliat.
Badannya terasa enteng, seolah ada energi baru yang mengalir di darahnya.
Saat Mira menyisir rambut Lastri di teras, Lastri menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang retak sedikit di ujungnya.
"Budhe... kenapa Budhe sayang sama Lastri?" tanya Lastri polos.
Pertanyaan itu sederhana, tapi dalam bagi Lastri.
Dia bisa merasakan ada benang merah halus yang menghubungkan hatinya dengan hati Mira.
Sebuah aliran energi kasih sayang yang membuatnya merasa "penuh".
Mira tersenyum, mengikat rambut Lastri jadi dua kuncir air mancur.
"Ya karena Lastri anak baik. Lihat Lastri, Budhe rasanya adem, seneng. Maturnuwun ya, Nduk, sudah jadi anak pinter."
Lastri merenung.
Aneh. Dulu di rumah Ayah di Kota, aku sudah bikin bisnis Ayah sukses, bikin tanaman Nenek subur, tapi mereka malah benci aku.
Di sini, aku cuma diam, tapi Budhe Mira sayang banget.
Lastri menyimpulkan satu hal: Kekuatannya hanya akan mekar sempurna jika disiram oleh air ketulusan.
Dia berjanji dalam hati, hanya akan memberikan "berkahnya" pada orang yang tulus.
Selesai didandani, Lastri berlari ke belakang rumah sambil membawa sebutir telur rebus hangat.
Dia menuju kandang si Blorok, anjing kampung penjaga kebun milik Abah.
Si Blorok sedang menyusui anak-anaknya.
"Blorok, aku janji bakal jagain anakmu. Kemarin aku kasih lihat semut, terus aku kasih sisa tulang ayam kan? Enak to?" celoteh Lastri.
"Guk... Wuuu..." (Makasih ya, Anak Manis).
Lastri terbelalak.
Dia mengorek kupingnya.
Dia menatap si Blorok horor. "Blorok? Kamu ngomong?"
Si Blorok menatap Lastri dengan mata sayunya, ekornya bergoyang pelan.
"Wuuu..." (Iya, makasih, kamu majikan baik).
Telur di tangan Lastri jatuh menggelinding ke tanah.
Lastri berbisik gemetar, "Kamu... kamu demit ya? Atau utusan Nyi Roro Kidul? Kok bisa ngomong bahasa manusia di kepalaku?"
Si Blorok tampak bingung, lalu menatap telur yang jatuh dengan air liur menetes.
"Wuuu..." (Boleh buat aku nggak? Sayang kalau dibuang).
Lastri menghela napas lega, ternyata bukan demit, cuma anjing lapar.
"Ambil aja. Aku udah kenyang."
Si Blorok dengan sigap melahap telur itu dan memuntahkan sedikit untuk anaknya.
Lastri berlari kencang ke dapur.
"Ibu! Budhe! Gawat!"
Kinar yang sedang mengulek sambal kaget.
"Ada apa, Nduk? Jatuh?"
"Bu, Lastri bisa ngerti omongan Si Blorok! Dia bilang makasih dikasih telur!"
Kinar dan Mira saling pandang.
Jika ini dikatakan anak lain, mereka akan tertawa.
Tapi ini Lastri. Anak yang ucapannya sering jadi kenyataan.
Kinar berjongkok, memegang bahu anaknya erat.
"Lastri, dengerin Ibu. Ini rahasia kita ya? Jangan bilang orang lain. Pamali. Nanti dikira orang kamu... kamu..." Kinar tak tega menyebut 'kerasukan' atau 'aneh'.
Mira buru-buru menimpali, "Iya Nduk. Budhe janji demi Allah, rahasia ini bakal Budhe bawa mati. Kalau Budhe bocor mulut, biar disambar petir."
"Hush! Jangan sumpah sembarangan lagi hamil!" tegur Kinar.
Sore harinya, Lastri sudah lupa soal kejadian itu.
Dia diajak Wati, anak tetangga, main ke pinggir hutan jati di perbatasan desa.
"Lastri, pernah makan ciplukan nggak?" tanya Wati.
Lastri menggeleng.
Mereka menelusuri jalan setapak berbatu.
Di pinggir tebing, tumbuh tanaman liar dengan buah kecil terbungkus kelopak.
Wati memetik satu yang kuning, membukanya, dan menyuapkan ke Lastri.
"Manis... ada asemnya dikit!" Lastri tertawa, matanya menyipit senang.
Angin sore berhembus sejuk, membuat ilalang bergoyang seolah menari mengikuti tawa Lastri.
Tiba-tiba, suara deru mesin kasar memecah kedamaian.
Brum! Brum!
Sebuah mobil gagah berwarna hitam melibas jalanan desa yang berbatu.
Mobil mahal itu berhenti tak jauh dari tempat Lastri bermain.
Pintu mobil terbuka, dan turunlah seorang pria necis dengan kemeja safari dan kacamata hitam.
Suryo Wibowo.
Darah Lastri berdesir dingin.
Tanpa sadar, tanaman ciplukan di dekat kakinya langsung layu seketika, daunnya mengkerut cokelat.
"Lastri! Mau kemana kamu!"
Suryo melihat anaknya itu dan berteriak.
Bukannya menjawab, Lastri langsung putar balik, berlari sekencang-kencangnya menjauh.
Dia benci laki-laki itu. Dia takut.
Suryo mendengus kesal.
"Dasar anak kurang ajar! Pasti diajari ibunya!"
Pria itu melangkah lebar, kakinya yang panjang dengan mudah mengejar langkah kecil Lastri.
Dengan kasar, tangan besar Suryo mencengkeram kerah baju belakang Lastri, mengangkatnya seperti mengangkat anak kucing, lalu menyeretnya paksa ke arah kap mobil yang panas.
"Lepasin! Lepasin Lastri!" jerit bocah itu, wajahnya memerah menahan tangis dan sesak.
Suryo menekan bahu Lastri ke bodi mobil yang keras.
"Siapa yang ngajarin kamu lari dari Bapak kandung hah?! Jadi anak liar kamu di sini?!"
Wati dan teman-temannya yang ketakutan langsung lari terbirit-birit ke arah desa.
"Tolong! Tolong! Lastri diculik Om-om jahat naik mobil!!" teriak Wati.
Warga desa yang sedang kerja bakti tersentak.
Kang Jaka yang mendengar nama keponakannya disebut, langsung melempar cangkulnya.
Matanya nyalang. Dia berlari paling depan, urat-urat lehernya menegang.
Sesampainya di lokasi, Jaka melihat Suryo Wibowo dengan angkuh menekan tubuh kecil Lastri di sisi mobil mewahnya.
Darah Jaka mendidih sampai ke ubun-ubun.
"Woy! Lepasin anak itu, Bajingan!"