Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog: Makan Malam
Jakarta dari lantai empat puluh lima tampak seperti hamparan perhiasan yang tumpah di atas beludru hitam. Cahaya lampu gedung pencakar langit di kawasan SCBD berkelip ritmis, bersaing dengan kemacetan yang merayap seperti aliran darah yang tersumbat di arteri kota. Di balik kaca tebal kedap suara Penthouse Wardhana, hiruk-pikuk itu hanyalah tontonan bisu. Di sini, di ruang makan yang didominasi marmer Italia dan aksen emas, udara terasa dingin, kering, dan berbau pewangi ruangan aroma *sandalwood* yang mahal.
Alana Wardhana meletakkan garpu peraknya di atas piring porselen. Bunyi 'denting' pelan itu menggema di ruangan yang terlalu luas untuk dihuni tiga orang. Ia tersenyum, senyum lebar yang tulus, menatap dua orang yang duduk mengapitnya di meja makan panjang itu.
"Aku masih nggak percaya Papa mau meluangkan waktu malam ini," kata Alana, matanya berbinar menatap pria paruh baya di ujung meja. "Biasanya Papa *meeting* sampai tengah malam kalau lagi urus proyek baru."
Hendra Wardhana, pria berusia lima puluh lima tahun dengan rambut yang mulai memutih di pelipis namun tetap tertata rapi dengan *pomade*, mengelap sudut bibirnya dengan serbet kain. Ia mengenakan kemeja putih sutra yang kancing teratasnya terbuka, menampilkan kesan santai namun tetap berkuasa. Wajahnya keras, tipikal wajah orang yang terbiasa memberi perintah dan tidak menerima penolakan.
"Ini hari spesialmu, Lana. Lulus *Cum Laude* dari Arsitektur bukan hal sepele," suara Hendra berat dan berwibawa. Ia mengangkat gelas anggurnya sedikit. "Papa bangga. Kamu penerus tunggal Wardhana Group. Ingat itu."
Alana merasakan dadanya hangat oleh pujian itu. Jarang sekali ayahnya memuji secara langsung. Namun, perhatian Alana segera beralih pada gadis di sisi kanannya. Siska.
Siska duduk dengan punggung tegak, sedikit kaku. Ia mengenakan *dress* selutut berwarna *navy*—pemberian Alana bulan lalu karena Siska bilang ia tidak punya baju layak untuk acara formal. Kain itu tampak sedikit longgar di tubuh Siska yang ramping, tapi wajahnya yang tirus dengan mata bulat besar membuatnya terlihat seperti boneka porselen yang rapuh. Berbeda dengan Alana yang memiliki kulit cerah terawat khas putri konglomerat, kulit Siska sawo matang eksotis, saksi bisu dari hidup yang lebih keras di pinggiran Jakarta.
"Dan makasih juga Papa bolehin Siska ikut," tambah Alana, meraih tangan Siska di atas meja. Tangan Siska terasa dingin dan sedikit berkeringat. "Dia sahabat terbaikku, Pa. Tanpa catatan kuliah Siska, aku mungkin udah DO semester tiga."
Siska tersenyum tipis, menunduk menatap steak *Wagyu* di piringnya yang baru dimakan separuh. "Alana terlalu baik, Om. Dia yang pintar, saya cuma bantu rapikan jadwalnya."
Hendra menatap Siska. Tatapan itu berlangsung dua detik lebih lama dari yang seharusnya dianggap sopan. Mata Hendra menyapu dari wajah Siska, turun ke leher jenjangnya, lalu kembali ke mata gadis itu. Tidak ada kehangatan seorang ayah dalam tatapan itu. Itu adalah tatapan seorang penaksir barang antik yang sedang menilai keaslian sebuah guci.
"Teman yang setia itu aset, Siska," kata Hendra lambat-lambat, suaranya memiliki getaran rendah yang membuat bulu kuduk berdiri jika didengar dengan seksama. "Di dunia bisnis, atau di dunia mana pun, loyalitas itu mata uang paling mahal."
"Saya setuju, Om," jawab Siska. Suaranya halus, namun ada ketegasan yang tersembunyi. Ia mengangkat wajahnya, membalas tatapan Hendra. Sesaat, udara di antara mereka terasa memadat, seolah ada percakapan tak terucap yang melintas di atas kepala Alana.
Alana, yang terlalu bahagia malam itu, tidak menangkap tegangan arus listrik di antara ayah dan sahabatnya. Ia hanya melihat dua orang yang paling ia sayangi akhirnya bisa duduk satu meja. Baginya, ini adalah pencapaian. Alana tahu latar belakang Siska yang sulit—ayah pemabuk yang sudah meninggal dan ibu yang sakit-sakitan di gang sempit daerah Tambora. Membawa Siska masuk ke dunianya adalah cara Alana menyelamatkan sahabatnya.
"Ngomong-ngomong soal aset," Alana memecah keheningan, memotong dagingnya lagi. "Siska lagi cari kerja, Pa. Firma arsitek sekarang lagi susah terima *fresh grad* kalau nggak ada orang dalam. Papa bisa kan masukin Siska ke divisi perencana?"
Siska tersentak pelan. "Lan, nggak usah. Aku bisa cari sendiri..."
"Jangan tolak rezeki," potong Alana cepat, lalu menatap ayahnya dengan pandangan memohon. "Bisa kan, Pa? Siska berbakat banget. Desainnya lebih bagus dari aku, serius."
Hendra meletakkan gelas anggurnya. Ia memutar-mutar batang gelas itu dengan jari-jarinya yang besar dan mengenakan cincin emas bermata rubi. Ia tidak langsung menjawab. Ia menikmati momen itu, menikmati kekuasaan yang ia miliki untuk menentukan nasib seseorang.
"Masuk ke Wardhana Group bukan soal bakat saja, Lana. Tapi soal kepercayaan," ujar Hendra. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Apa kamu bisa dipercaya, Siska?"
Pertanyaan itu terdengar wajar, tapi nada bicaranya menyiratkan intimidasi. Atau mungkin, godaan.
Siska meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi. Ia menatap lurus ke arah Hendra. Kali ini, Alana melihat sesuatu yang asing di mata sahabatnya. Bukan kerendahan hati yang biasa Siska tunjukkan di kampus. Itu adalah tatapan lapar. Tatapan seseorang yang telah lama berdiri di luar jendela toko roti, melihat orang lain makan kue, dan kini pintu toko itu terbuka.
"Saya akan lakukan apa saja untuk membuktikan loyalitas saya, Om," jawab Siska. Kata 'apa saja' ditekan dengan intonasi yang sedikit berbeda.
Hendra tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Bagus. Datanglah ke kantor saya besok siang. Langsung ke ruangan saya, jangan lewat HRD. Saya mau *interview* kamu secara pribadi."
"Pa!" seru Alana senang, hampir bertepuk tangan. "Makasih! Tuh kan, Sis, aku bilang juga apa. Papa itu luarnya aja galak."
"Terima kasih, Om. Saya tidak akan mengecewakan Bapak," kata Siska. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius.
Pelayan berseragam hitam-putih masuk tanpa suara, mengambil piring-piring kotor dan menggantinya dengan menu penutup—*chocolate fondant* dengan es krim vanila. Alana menyendok es krimnya dengan riang, bercerita tentang rencana liburannya ke Bali sebelum mulai bekerja.
"Aku ke toilet sebentar," kata Hendra, bangkit dari kursinya. Ia menepuk bahu Alana pelan saat lewat, lalu berjalan menuju lorong yang mengarah ke kamar mandi tamu dan ruang kerjanya.
Sepeninggal Hendra, suasana sedikit lebih cair. Alana mencondongkan tubuh ke arah Siska.
"Gila, kamu beruntung banget, Sis. Papa jarang banget mau *interview* staf junior langsung. Biasanya dia nggak peduli," bisik Alana antusias.
Siska mengaduk lelehan cokelat di piringnya, matanya menatap pusaran hitam pekat itu. "Iya, Lan. Beruntung banget. Kamu punya segalanya. Ayah yang hebat, rumah kayak istana, masa depan yang udah digelar kayak karpet merah."
"Hey, kita bakal sukses bareng-bareng," Alana menggenggam tangan Siska lagi. "Rumah ini juga rumah kamu. Kapan pun kamu butuh kabur dari... yah, kamu tahu, dari rumahmu, kamu bisa ke sini."
"Aku tahu," jawab Siska pelan. Ia mengangkat wajahnya, menatap sekeliling ruangan mewah itu. Matanya menyapu lukisan abstrak mahal di dinding, lampu gantung kristal, hingga lantai marmer yang mengilap. "Tempat ini indah banget. Rasanya sayang kalau cuma dinikmati sendirian."
"Makanya kamu sering-sering main sini," Alana tertawa renyah. "Eh, aku ambil hp dulu di kamar ya, mau foto kita bertiga nanti pas Papa balik."
Alana bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di sayap kiri *penthouse*. Langkah kakinya teredam karpet tebal koridor. Ia mengambil ponselnya dari nakas, mengecek riasan wajahnya sebentar di cermin, memastikan lipstiknya masih sempurna. Ia merasa hidupnya sempurna malam ini.
Saat Alana berjalan kembali menuju ruang makan, ia melewati lorong dekat ruang kerja ayahnya. Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, menyisakan celah vertikal yang memancarkan cahaya kuning redup.
Langkah Alana terhenti. Bukan karena ia ingin menguping, tapi karena ia mendengar suara tawa. Tawa ayahnya. Bukan tawa berat dan berwibawa yang biasa didengar Alana, melainkan tawa rendah, serak, dan intim.
"...anak itu terlalu polos," suara Hendra terdengar samar, namun jelas. "Dia pikir dunia ini taman bermain."
Jantung Alana berdegup. Siapa yang diajak bicara ayahnya? Apakah Siska? Kapan Siska menyusul ke sana?
Lalu terdengar suara perempuan. Suara Siska, tapi nadanya berbeda seratus delapan puluh derajat dari nada sopan di meja makan tadi. Suara itu manja, merajuk, dan penuh percaya diri.
"Jangan jahat sama Alana, Mas. Dia tiket masuk aku ke sini, kan?"
*Mas?*
Darah Alana serasa berhenti mengalir. Ia terpaku di tempat. Logikanya berusaha menyangkal. Mungkin ia salah dengar. Mungkin Siska memanggil 'Mas' pada asisten ayahnya? Tapi tidak ada orang lain di sana.
"Tiket masuk..." Hendra terkekeh. Ada bunyi gesekan kain, seperti seseorang sedang ditarik mendekat. "Kamu memang cerdik. Saya suka wanita yang tahu apa yang dia mau. Besok di kantor... pastikan kamu pakai rok yang lebih pendek dari ini."
"Tergantung," jawab Siska, suaranya kini terdengar seperti berbisik tepat di telinga lawan bicaranya. "Apa imbalannya sepadan?"
"Segalanya, Sayang. Segalanya."
Suara itu diikuti oleh hening yang panjang. Hening yang basah dan menjijikkan. Alana mundur selangkah, kakinya gemetar. Sepatunya membuat sedikit bunyi gesekan pada lantai marmer di luar karpet.
"Siapa di sana?" suara Hendra terdengar tajam dan waspada seketika.
Kepanikan meledak di dada Alana. Ia tidak siap. Ia tidak sanggup menghadapi konfrontasi ini sekarang. Otaknya memerintahkan untuk lari, tapi tubuhnya memilih untuk berpura-pura. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Alana justru melangkah maju dengan hentakan kaki yang sengaja dikeraskan, seolah-olah ia baru saja datang dari arah kamarnya sambil bersenandung.
"Pa? Siska? Kalian di mana?" panggil Alana dengan suara yang sedikit bergetar, namun ia samarkan sebagai nada riang.
Pintu ruang kerja terbuka lebar. Hendra berdiri di sana, wajahnya kembali datar dan berwibawa. Siska berdiri dua meter di belakangnya, sedang memegang sebuah buku dari rak, seolah-olah sedang mengagumi koleksi buku Hendra.
"Ah, Lana," kata Hendra tenang. Terlalu tenang. "Siska tadi tersesat cari toilet, malah masuk ke ruang kerja Papa. Dia kagum sama koleksi buku arsitektur kuno Papa."
Siska menoleh, tersenyum manis. Wajah polosnya kembali terpasang sempurna tanpa cela. "Iya, Lan. Maaf ya, aku lancang masuk. Bukunya bagus-bagus banget."
Alana menatap mereka berdua. Ia melihat kancing kemeja ayahnya yang sedikit lebih berantakan dari sebelumnya. Ia melihat leher Siska yang sedikit memerah. Namun, di atas segalanya, ia melihat betapa sempurnanya mereka berbohong. Tidak ada rasa bersalah. Hanya akting kelas wahid.
Alana mencengkeram ponsel di tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Realitas di kepalanya retak, namun ia belum siap untuk menghancurkannya malam ini. Ia belum punya kekuatan. Ia sendirian di sarang pemangsa.
"Oh, gitu," Alana memaksakan senyum. Senyum yang terasa sakit di wajahnya. "Yuk, *dessert*-nya keburu leleh. Habis itu kita foto bareng."
"Ayo," Siska berjalan melewati Hendra, bahu mereka bersentuhan sekilas—begitu tipis, namun penuh makna yang kini dipahami Alana dengan rasa mual di perutnya.
Malam itu, mereka kembali duduk di meja makan. Alana mengambil foto *selfie* bertiga. Di layar ponsel, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Hendra sang pelindung, Alana sang putri, dan Siska sang sahabat.
Namun Alana tahu, saat ia menekan tombol *shutter*, ia tidak sedang mengabadikan kenangan. Ia sedang mendokumentasikan bukti pertama dari kejatuhannya sendiri. Di balik sutra mewah kemeja ayahnya dan senyum manis sahabatnya, ada pisau yang sudah diasah tajam, menunggu saat yang tepat untuk menusuk punggungnya.
Di luar jendela, Jakarta tetap berkilau, dingin, dan tak peduli.