Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Besar
Sepanjang hari Nayara duduk di sofa ruang tamu. Tidak makan. Tidak minum. Hanya duduk sambil memeluk bantal, menatap kosong ke pintu depan.
Ponsel Gilang masih di meja samping kamar. Nayara sudah screenshot semua chat penting antara Gilang dan Sandra. Foto-foto mesra mereka, pesan-pesan penuh pengkhianatan, semua bukti Nayara simpan di ponselnya sendiri.
Hari mulai gelap. Jam enam sore. Tujuh. Delapan.
Gilang belum pulang.
Nayara tahu kenapa. Pasti Gilang panik karena ponselnya tertinggal. Pasti dia takut Nayara buka. Tapi Nayara yakin Gilang tetap akan pulang. Dia butuh ponselnya. Ponsel itu seperti nyawanya.
Jam sembilan lebih, pintu rumah akhirnya terbuka. Gilang masuk dengan wajah tegang. Matanya langsung mencari ke arah sofa.
Nayara duduk di sana. Ponsel Gilang di pangkuannya.
"Nayara," panggil Gilang, suaranya hati-hati. "Kamu, kamu pegang HP aku?"
Nayara mengangkat ponsel itu. Menatap Gilang dengan mata kosong. "Iya. Aku pegang."
Gilang berjalan mendekat cepat. Tangan terentang mau merebut ponselnya. "Kasih sini!"
Tapi Nayara mundur, memeluk ponsel itu erat di dada. "Aku sudah baca semuanya."
Gilang terdiam. Wajahnya berubah pucat sedetik, lalu cepat berubah merah. "Baca apa?"
"Chat kamu sama Sandra. Semua." Suara Nayara pelan tapi jelas.
Hening sebentar. Gilang menatap Nayara dengan rahang mengeras. "Lo buka HP gua tanpa izin?"
"Iya. Aku buka. Dan aku tahu semuanya sekarang. Kamu selingkuh sama dia." Air mata Nayara mulai mengalir.
"SELINGKUH? LO BILANG GUA SELINGKUH?" Gilang berteriak tiba-tiba. Nayara tersentak.
"Iya! Kamu selingkuh! Aku lihat semua buktinya! Chat kalian! Foto kalian! Kamu bilang sayang sama dia!" Nayara berdiri, berteriak balik sambil menangis.
"ITU BUKAN SELINGKUH! ITU HUBUNGAN PROFESIONAL!" Gilang menunjuk Nayara dengan jari gemetar karena marah.
"Profesional? Profesional yang mana? Yang kamu tidur sama dia di hotel? Yang kamu bilang sayang ke dia? Yang kamu ajak dinner romantis?" Nayara mengambil ponselnya sendiri, menunjukkan screenshot chat. "Ini buktinya! Jelas-jelas kamu sama dia main belakang!"
Gilang merebut ponsel Nayara, melemparnya ke sofa. "LO TIDAK PUNYA HAK BACA CHAT PRIBADI GUA!"
"PRIBADI? KAMU SUAMI AKU! AKU PUNYA HAK TAHU!" Nayara berteriak histeris.
"HAK APAAN? LO TIDAK PERCAYA GUA! LO BUKA HP GUA TANPA IZIN! ITU NAMANYA MELANGGAR PRIVASI!" Gilang balik menyerang.
Nayara tertawa pahit. "Privasi? Kamu mau ngomong privasi? Setelah kamu bohongin aku berbulan-bulan? Setelah kamu tidur sama cewek lain?"
"GUA TIDAK TIDUR SAMA DIA!" Gilang membantah keras.
"BOHONG! ADA FOTONYA! KALIAN DI TEMPAT TIDUR HOTEL! PAKAI BAJU TIDUR! PELUKAN! ITU BUKAN TIDUR NAMANYA APA?" Nayara menangis makin keras, tangannya menunjuk-nunjuk Gilang.
"ITU CUMA FOTO! KITA TIDAK NGAPA-NGAPAIN!" Gilang masih membela diri.
"CUMA FOTO? TERUS KENAPA DIA BILANG TIDUR SAMA KAMU PALING ENAK? TERUS KENAPA KAMU BILANG MAU CERAIKAN AKU SETELAH AKU MELAHIRKAN? TERUS NIKAH SAMA DIA?" Nayara berteriak sekencang tenaganya, suaranya pecah.
Gilang terdiam. Wajahnya merah padam. Urat-urat di leher menegang. "Lo, lo baca sampai situ?"
"IYA! AKU BACA SEMUANYA! DARI AWAL SAMPAI AKHIR! AKU TAHU SEMUANYA SEKARANG!" Nayara memukul dada Gilang berkali-kali. Tidak kuat. Cuma pukulan lemah dari tangan gemetar. "KAMU JAHAT! KAMU PENGKHIANAT! KAMU BILANG CINTA SAMA AKU! TAPI KAMU BOHONG!"
Gilang menangkap tangan Nayara, mencengkeramnya kuat. "LO MAU TAHU KENAPA GUA SAMA SANDRA? KARENA DIA LEBIH BAIK DARI LO! DIA CANTIK! DIA MANDIRI! DIA TIDAK MANJA KAYAK LO!"
Kata-kata itu seperti peluru menembus jantung Nayara. "Aku, aku tidak cukup baik buat kamu?"
"ENGGAK! LO TIDAK PERNAH CUKUP!" Gilang melepas cengkeraman tangannya kasar. Nayara tersungkur ke belakang, pantatnya membentur sandaran sofa.
"Tapi, tapi aku hamil anak kamu! Aku istri sah kamu!" Nayara menangis terisak-isak.
"HAMIL BUKAN ALASAN BUAT GUA HARUS SETIA SAMA LO! GUA PUNYA HAK BAHAGIA!" Gilang berteriak tepat di depan wajah Nayara.
"Hak bahagia? Terus aku? Aku tidak punya hak bahagia? Aku harus terima kamu selingkuh? Aku harus diam aja lihat kamu sama cewek lain?" Nayara menatap Gilang dengan mata penuh air mata.
"LO BISA TERIMA ATAU ENGGAK, ITU URUSAN LO! GUA TIDAK PEDULI!" Gilang berbalik mau pergi.
Nayara menarik lengan baju Gilang. "JANGAN PERGI! KITA SELESAIKAN INI SEKARANG!"
Gilang menghempaskan tangan Nayara kasar. Nayara kehilangan keseimbangan, jatuh terduduk di lantai. Perutnya terbentur sedikit di ujung meja.
"AUH!" Nayara meringis kesakitan.
Gilang tidak peduli. Dia berjalan ke arah tangga, naik ke kamar untuk ambil ponselnya.
Nayara merangkak berdiri, memegangi perutnya yang terasa sakit. "GILANG! KAMU TIDAK BOLEH PERGI! KITA HARUS BICARA!"
Gilang turun lagi dengan ponselnya di tangan. Dia langsung menuju pintu keluar.
"GILANG!" Nayara berlari, menarik lengan Gilang lagi. "KUMOHON! JANGAN TINGGALIN AKU!"
PLAK!
Gilang menampar pipi Nayara. Keras. Lebih keras dari tamparan-tamparan sebelumnya.
Nayara jatuh ke lantai. Kepala terbentur pinggiran meja konsol. Pandangannya berkunang-kunang.
"JANGAN SENTUH GUA LAGI!" Gilang berteriak.
Nayara memegangi kepala yang berdenyut sakit. Rasanya seperti pecah. Darah hangat mengalir dari pelipis. Tapi dia tidak peduli. Yang dia peduli hanya Gilang.
"Mas, kumohon, jangan pergi. Kita bicarain baik-baik. Aku, aku bisa maafin kamu kalau kamu putus sama Sandra. Kumohon." Nayara memohon sambil menangis, darah mengalir di wajahnya.
Gilang menatap Nayara dengan tatapan jijik. "Maafin? Lo pikir gua butuh maaf lo? Lo pikir gua peduli?"
"Aku istri kamu! Aku hamil anak kamu! Kamu harus peduli!" Nayara berteriak putus asa.
"ANAK LO! ITU ANAK LO! BUKAN ANAK GUA!" Gilang berteriak balik.
Kata-kata itu menghancurkan Nayara total. "Apa, apa maksud kamu?"
"GUA TIDAK PERNAH MAU ANAK ITU! LO YANG MAKSA HAMIL! LO YANG MAKSA NIKAH!" Gilang menunjuk perut Nayara dengan jari penuh kebencian.
"Aku tidak maksa! Kita menikah karena cinta! Kamu yang bilang mau punya anak!" Nayara tidak percaya apa yang dia dengar.
"CINTA? CINTA APAAN? GUA NIKAH SAMA LO KARENA TEKANAN ORANG TUA GUA! MEREKA MAKSA GUA NIKAH CEPAT! LO KEBETULAN ADA! YA UDAH GUA NIKAH SAMA LO!" Gilang membuka semua kebohongannya.
Nayara merasakan dadanya seperti diremas kuat-kuat. Tidak bisa bernapas. "Bohong, kamu bohong."
"ENGGAK! INI KENYATAAN! LO YANG BODOH PERCAYA GOMBAL GUA!" Gilang tertawa sinis. "LO PIKIR GUA BENERAN CINTA SAMA LO? MIMPI AJA LO, NAYARA!"
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Nayara berteriak histeris, tangannya mencabuti rambutnya sendiri.
"GUA CINTA SAMA SANDRA! DARI DULU! TAPI GUA TIDAK BISA NIKAH SAMA DIA KARENA DIA BELUM SIAP! JADI GUA NIKAH SAMA LO DULU! BUAT TUTUP MULUT ORANG TUA!" Gilang terus menghancurkan Nayara dengan kata-kata.
Nayara menatap Gilang dengan mata kosong. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Jadi selama ini dia cuma boneka. Alat. Sesuatu yang dipakai Gilang untuk menutup mulut orang tuanya.
Pernikahan mereka bohong dari awal.
Cinta Gilang bohong dari awal.
Semuanya bohong.
Gilang meraih kunci mobilnya dari meja. "Gua pergi. Jangan ganggu gua lagi."
"Kamu, kamu mau kemana?" Nayara bertanya dengan suara serak.
"BUKAN URUSAN LO!" Gilang membuka pintu rumah.
"JANGAN PERGI KE SANDRA! KUMOHON!" Nayara merangkak ke arah Gilang.
"GUA MAU KE MANA AJA ITU HAK GUA! LO BUKAN SIAPA-SIAPA GUA!" Gilang melangkah keluar.
"AKU ISTRI KAMU!" Nayara berteriak dengan sisa tenaganya.
"ISTRI DI KERTAS DOANG!" Gilang membanting pintu.
BRAK!
Suara bantingan itu menggelegar.
Nayara terdiam di lantai. Darah masih mengalir dari pelipis. Kepala berdenyut sakit. Dada sesak. Napas terengah-engah.
Tiba-tiba semuanya berputar. Ruangan berputar cepat sekali. Nayara mencoba berdiri tapi kakinya lemas.
Pandangannya gelap. Telinga berdengung keras.
"Baby, baby Mama sayang," bisik Nayara sambil mengelus perutnya.
Dan semuanya menjadi hitam.
Nayara pingsan di lantai ruang tamu. Sendirian. Darah mengalir dari kepalanya, membentuk genangan kecil di marmer putih.
Tidak ada yang menolong.
Tidak ada yang peduli.
Hanya kegelapan yang memeluknya.
Dan bayi di perutnya yang mungkin merasakan kepanikan ibunya.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭