Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah adalah Aset
Ini keberuntungan atau bukan, bagi Shahinaz hadirnya Dreven di dalam hidupnya itu sudah seperti sebuah kutukan. Mungkin Dreven datang dari segala keluh kesahnya kenapa dia hidup sendirian, dia mendapatkan karma karena selalu merundung takdirnya juga.
"Gini, mending kita bikin kesepakatan. Oke, kalau kamu meng-klaim aku sebagai milik kamu. Tapi, aku juga punya hak untuk diriku sendiri." kata Shahinaz berusaha untuk melakukan negoisasi, "Kita baru kenal, kita juga mungkin baru dekat. Jadi Dreven Veir Kingsley yang terhormat, tolong pelan-pelan aja. Jangan terlalu memaksa sebuah hubungan yang dulunya nggak pernah ada."
Di ruang tamu rumah Shahinaz, mereka duduk berhadap-hadapan di atas sofa yang nyaman. Shahinaz mencoba melakukan diskusi serius, ini demi ketenangan hidup dia dalam menikmati hidup ke depannya. Sedari tadi Selana terus mengatur napasnya, berusaha untuk tetap tenang dan mengendalikan emosinya. Sementara Dreven duduk di hadapannya dengan ekspresi tajam dan tak terimanya.
Shahinaz kembali melanjutkan, "Begini, aku biarin hubungan ini ada, tapi tetaplah berjalan perlahan-lahan Dreven. Harus dari pendekatan awal, perkenalan, pertemanan, persahabatan. Karena apa? Untuk langsung ke tahap cinta itu, rasanya mustahil. Bukannya cinta sepihak sama-sama akan menyakiti diri kita masing-masing?"
"Setidaknya dari tahap kita bisa akrab dulu, itu yang paling utama Dreven. Apalagi selama ini aku hidup dalam kesendirian, dengan hadirnya kamu di sisiku, itu sama saja membuat aku risih dan nggak tenang. Tolong ngertiin maksud aku."
Dreven mendengarkan setiap kata Shahinaz dengan seksama, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang mencerna dan mempertimbangkan perkataan Shahinaz. Ia tidak segera merespons, seolah ingin memastikan bahwa dia benar-benar memahami apa yang disampaikan.
"Aku mengerti," kata Dreven akhirnya, suaranya tenang namun tegas. "Aku tidak bermaksud memaksakan apapun padamu. Apa yang kamu katakan masuk akal. Aku tau kita belum lama saling mengenal dan bahwa kita perlu waktu untuk memahami satu sama lain dengan lebih baik."
Shahinaz merasa sedikit lega, meski masih ada kekhawatiran yang menggelayuti pikirannya, "Aku hanya ingin kita memiliki dasar yang kuat Dreven, bukan hanya untuk hubungan kita, tapi juga untuk masa depan kita. Jangan sampai kita terjebak dalam situasi di mana salah satu dari kita merasa tertekan atau tidak bahagia."
Dreven mengangguk, menunjukkan bahwa dia setuju dengan pernyataan Shahinaz, "Aku menghargai kejujuranmu dan ingin memastikan bahwa kita bisa membangun sesuatu yang positif. Aku akan memberikan ruang yang kamu butuhkan dan berusaha untuk lebih memahami keinginan dan kebutuhanmu."
Shahinaz menatap Dreven dengan penuh harapan, "Terimakasih, Dreven. Aku berharap kita bisa saling mendukung dan berbagi tanpa merasa terpaksa.
Aku ingin hubungan ini berkembang dengan cara yang alami dan penuh pengertian."
Dreven tersenyum lembut, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka, "Oke, aku mengerti."
Shahinaz menggaruk rambutnya yang tak gatal, dia jadi bingung dan canggung dengan laki-laki itu sekarang. Bagaimana caranya mengusir Dreven dari rumahnya? Bagaimanapun dia adalah Shahinaz Wijaya, dia punya prinsip, dia punya agenda jadwal rutinan yang harus dia kerjakan. Tapi sebelum itu, masalah diantara mereka harus bener-bener tuntas.
"Ekhmm, karena hubungan kita harus berawal dari pertemanan, nggak masalah kan kalau aku pakai lo-gue lagi? Persis seperti yang dikatakan di awal tadi." kata Shahinaz melanjutkan.
"Nggak bisa." jawab Dreven singkat.
"Aishhh, bener-bener menyebalkan!" kata Shahinaz sambil menghela nafas panjang.
Dreven tersenyum miring. Meski mereka harus memulai dari tahap awal, bukan berarti dia tidak bisa melakukan apapun yang dia mau, "Karena meski kita memulai dari awal, bagiku kamu tetep milik aku. Jadi jangan harap kamu bisa dekat dengan laki-laki lain selain aku."
Shahinaz mengangkat alisnya, tidak terkejut dengan pernyataan Dreven yang masih menunjukkan sikap kepemilikan yang dominan. Meskipun dia sudah mengungkapkan keinginannya untuk memulai hubungan mereka dengan perlahan, Dreven tampaknya belum sepenuhnya mengubah cara pandangnya.
"Dreven, bukannya kita udah sepakat untuk berjalan perlahan ya? Tapi terserah lah, capek, pusing." Shahinaz menegaskan dengan nada lembut namun tegas. "Kenapa nasib gue makin jelek aja sih, makin jelek karena harus berurusan sama lo. Kan bangke banget hidup gue, makin tambah pahit aja perasaan."
Dreven tersenyum miring. Dia bangkit dari duduknya, telinganya sepertinya mendengar sesuatu yang harusnya tidak Shahinaz katakan.
Shahinaz yang sadar apa yang akan terjadi selanjutnya, langsung menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya, "Oke, maaf-maaf, bukan maksud aku ngomong gitu. Anggap aja pernyataan ingin memulai hubungan dari perkenalan tadi nggak ada, aku benar-benar milik kamu. Beneran, nggak bohong."
Dreven terlalu menyeramkan. Bangkitnya laki-laki itu dari duduknya dan mendekatinya saja sudah bisa dikatakan peringatan keras untuk segera lari. Dia menyerah, Dreven benar-benar bukan tandingannya untuk dilawan. Dari segi kekuasaan saja dia kalah jauh. Bisa-bisa dia mati dua kali sebelum menikmati hidup enaknya.
"Suwer deh, tadi cuma belajar drama doang kok. Ini mulut emang kadang ngeselin, kami pasti tau kan? Please, Jangan aneh-aneh ya." lanjut Shahinaz sambil memejamkan matanya, dia benar-benar tidak ingin mendapatkan serangan mendadak
Dreven berhenti sejenak, menatap Shahinaz dengan campuran rasa puas berkat pengakuan dari mulut Shahinaz. Dia membelai pipi Shahinaz dengan lembut, sekarang Shahinaz resmi menjadi miliknya kan?
"Nice, baby girl." balas Dreven yang akhirnya duduk disebelah Shahinaz, merengkuh pinggang gadis itu agar lebih dekat dengan dirinya.
Shahinaz mendumel dalam hati, efek mulut pedasnya ketika emosi memang tidak main-main.
Selain menyakiti, terkadang bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, salah satunya dalam keadaan genting seperti ini. Shahinaz tidak mau mendapat ciuman paksa atau apapun yang merugikannya, untuk itu dia memilih mengalah saja.
"Aku ada jadwal, karena aku nggak sekolah kayaknya aku mau jaga toko bunga ana, kamu nggak kerja?" tanya Shahinaz memecahkan keheningan. Ya daripada dia terjebak diruangan hanya bersama Dreven saja, lebih baik dia menjaga toko bunga.
"Nggak, kamu masih sakit. Istirahat aja." balas Dreven sambil mengelus rambut Shahinaz dengan penuh kasih sayang.
"Mana ada sakit, orang udah nggak sakit."
Dreven hendak membalas perdebatan itu, tapi ponselnya bergetar dari dalam saku celananya. Membuat dia dengan segera membuka ponsel pintarnya dan menjawab panggilan.
"Hmmm." Balas Dreven dengan singkatnya.
Shahinaz mengangkat alisnya. Dia pikir laki-laki di sampingnya sudah berubah, karena bisa melontarkan banyak kata ketika bersama dengannya. Tapi mendengar jawaban singkat padat dan jelas Dreven untuk orang lain, dia jadi memiringkan kepalanya heran.
"Oke, tiga puluh menit." jawab Dreven kemudian mematikan ponselnya secara sepihak.
Dreven menutup ponselnya dan menoleh kembali ke Shahinaz, terlihat lebih serius dari sebelumnya. "Maaf, aku harus pergi. Ada urusan mendesak yang harus kuurus."
Shahinaz mendengar informasi itu dengan tatapan berbinar, dia akhirnya beri ruang untuk sendiri. Tapi Dreven yang paham dengan jalan pikir Shahinaz, tidak akan membuat Shahinaz keluyuran begitu aja.
"Istirahat, atau aku tempat ini beberapa bodyguard di samping kamu." lanjut Dreven yang membuat senyum Shahinaz luntur begitu saja.
"Iya, istirahat. Jangan nempatin siapapun untuk menjagaku, aku nggak suka. Janji, aku nggak pergi kemana-mana." balas Shahinaz pasrah.
Dreven mengangguk, tampak puas dengan respons Shahinaz, meskipun dia tetap tidak sepenuhnya yakin untuk meninggalkan Shahinaz tanpa pengawasan.
"Kali ini aku percaya." ujar Dreven yang berusaha memberikan kepercayaannya untuk Shahinaz. Meskipun mereka baru dekat, Shahinaz sudah segala-galanya untuknya itu.
Shahinaz menggangguk pasrah. Sedangkan Dreven tersenyum dan memberikan satu tatapan terakhir yang penuh arti kepada Shahinaz, mencium pipi Shahinaz juga sebelum beranjak pergi untuk meninggalkan gadis itu.
Shahinaz jelas saja ingin mendumel dengan serangan mendadak yang selalu dilakukan oleh Dreven. Namun apa boleh buat, daripada Dreven tidak jadi pergi. Lebih baik dia diam saja kan?
"Huahhhh, akhirnya bebas juga dari manusia gila satu itu." kata Shahinaz menghembuskan nafasnya lega, "Dia nggak bisa ditebak, sekalinya ditentang juga bertingkah di luar nalar."
Shahinaz langsung menutup pintu utama dan menguncinya. Tidak akan dibiarkan Dreven bisa masuk ke rumahnya lagi dengan begitu mudahnya. Berjalan menuju kamarnya berada, Shahinaz langsung mencari tau hal yang harusnya ia tau. Barangkali dia bisa menemukan sesuatu yang bisa mengetahui jati diri dari pemilik tubuh sebelumnya.
"Kayaknya gue belum baca buku diary dia sepenuhnya." kata Shahinaz ketika tatapan matanya jatuh kepada buku diary sang pemilik tubuh.
Shahinaz mengambilnya, berniat membacanya secara keseluruhan untuk mengetahui isi hati pemilik tubuh yang sebenarnya. Sebagian kisah yang dia baca dari diary, tidak ada yang terlalu mencurigakan. Bagaimana dengan sebagian kisahnya yang lain?
Membuka buku diary setelah menekan beberapa kata sandi, Shahinaz langsung membacanya dengan hati-hati dan sedetail mungkin. Karena ingatannya tidak sepenuhnya ada, harusnya dia bisa mengingat keseluruhannya dari sepenggal kisah diary miliknya bukan?
Waktuku seolah berhenti ketika aku berumur 14 tahun. Orang tuaku meninggal dan tidak memiliki sanak saudara, hanya ada Auretheil dan keluarganya yang menjagaku.
Auretheil cukup baik, tidak ada celah dari gadis itu setelah diet dan melangsingkan badannya untuk jangka waktu yang lama. Perjuangan dia membuahkan hasil, dia menjadi perempuan yang cantik, dia juga memiliki banyak teman seolah dia terlahir kembali dengan wajah dan tubuh yang baru.
Shahinaz membacanya dengan cukup takjub, "Perjuangan Auretheil pasti nggak main-main. Bayangan dia ditindas dan diperlakukan buruk oleh orang lain, pasti itu menjadi motivasi hidupnya buat bangkit."
Disaat Auretheil mulai mengenal banyak orang, kenapa aku jadi tersisihkan dari kehidupan sosial? Banyak orang yang menatapku tajam, mereka seolah ingin mengulitiku hidup-hidup. Teman-temanku beralih pada Auretheil semua. Kesimpulannya, apa karena aku kalah cantik dibandingkan Auretheil atau ada sesuatu yang membuat mereka membenciku?
Di umur 15 tahunku, hidupku jadi dikucilkan dari dunia. Meski mereka tidak menindas ku, aku merasa sedang diasingkan dari dunia. Kepercayaan diriku mendadak pudar, aku merasa seperti monster buruk rupa yang sedang menyamar menjadi manusia.
Shahinaz terdiam cukup lama, otaknya mendadak buntu, "Kenapa aneh banget? Karena Auretheil cantik, Shahinaz jadi terasingkan, tapi kenapa? Harusnya Shahinaz mencari tau ketidak beresan itu kan?"
Memasuki masa SMA, Auretheil mengajakku untuk bersekolah di tempat yang sama. Karena dia satu-satunya sahabat dan orang yang selalu bersamaku, jadi aku menurutinya. Hanya saja, aku tidak ingin terlihat oleh mereka lagi. Para manusia itu menyeramkan.
Andai Papah dan Mamah masih ada, mereka pasti mencari tau apa yang terjadi denganku. Hanya saja mereka sudah tidak ada. Aku sendirian, hidupku dipenuhi oleh relung hampa.
Shahinaz terus membaca buku diary itu, mencoba mengurai lebih dalam tentang pengalaman hidup dan perasaan pemilik tubuh sebelumnya. Dia baru sadar, semakin dia membaca lebih dalam buku diary itu, semakin dalam juga rasa terasingkan pemilik tubuh itu dari dunianya sendiri. Sebab dan akibat, pasti akan ada di buku diary ini kan?
Auretheil yang dulu selalu ada untukku, kini semakin menjauh karena dia sibuk dengan teman-temannya dan berbagai kegiatan sosialnya. Aku mulai merasa bahwa aku adalah beban bagi hidupnya. Di sekolah, aku merasa seperti sudah seperti hantu yang tidak terlihat.
Aku tidak punya teman dan sulit untuk beradaptasi. Mereka semua tampaknya sudah memiliki kelompok mereka sendiri, dan aku hanya bisa menyaksikan dari jauh. Setiap hari adalah perjuangan untuk menjaga diriku dari perasaan rendah diri yang terus menghantuiku.
Sedangkan Auretheil, di sisi lain, dia semakin populer. Dia menjadi pusat perhatian, dan aku hanya bisa menontonnya dari jauh. Sekarang, aku seperti sedang menjadi figuran di dalam sebuah cerita.
Shahinaz menganggukkan kepalanya, "Sebab dan akibat Shahinaz meminum obat anti-depresan, mungkin karena merasa hidupnya terasingkan. Dia merasa rendah diri, dan nggak ada siapapun lagi yang mendukungnya."
Ada kotak aneh di dalam kamarku, aku merasa tidak sedang berulang tahun sekarang. Apa mungkin dari Auretheil? Hanya dia satu-satunya yang sering ke rumahku setelah aku terkucilkan dari dunia. Karena penasaran, aku membukanya.
Ada bangkai tikus yang dibunuh secara brutal. Di sana ada tulisan yang sudah dilumuri oleh darah, aku membacanya dengan dengan tangan gemetar.
"Akhirnya aku mengalahkanmu, aku menang." itu yang tertulis dari surat itu. Apa benar ini dari Auretheil? Tapi aku tidak akan percaya begitu saja.
Auretheil adalah sahabatku, dia tidak mungkin melakukannya bukan?
Shahinaz mengepalkan tangannya secara tak sadar. Bukannya dari situ sang pemilik tubuh sudah mendapatkan jawaban yang pasti? Dia jadi terasingkan dan rendah diri karena Auretheil, kenapa gadis itu tidak segera menjauhinya. Apa karena dia hidup sendirian, makanya dia menopangkan sebagian hidupnya kepada Auretheil?
Teror semakin banyak berdatangan. Tapi dari banyaknya tulisan yang dikirim, dia memintaku untuk merusak wajahku. Tapi apa salahnya? Wajahku bukannya seperti seorang monster buruk rupa?
Karena sudah lelah, aku menceritakan semua teror itu kepada Auretheil dengan wajah ketakutan. Dan entah apa yang Auretheil berikan kepadaku, sehingga aku bisa hidup tenang lagi. Setidaknya teror itu perlahan hilang, hidup aku mulai aman terkendali sekarang.
Shahinaz membanting buku diary itu secara kasar. Bukannya sudah jelas siapa pelakunya di sini, tapi kenapa pemilik tubuh sebelumnya telalu bodoh! Apa karena dia tidak mau ditinggalkan oleh satu-satunya penopang hidupnya!
Tindakan Auretheil yang merusak hidup Shahinaz, bahkan sampai mengancamnya, jelas menunjukkan bahwa hubungan mereka jauh dari kata sehat, namun pemilik tubuh sendiri tidak sadar dengan hubungan toxic itu. Beruntung saja, pemilik tubuhnya tidak merusak wajahnya sendiri dan membuatnya semakin hancur. Jika iya, Shahinaz akan mengutuknya sepanjang dia menggantikan pemilik tubuh yang terlibat dalam sebuah cerita.
Karena bagi Shahinaz, wajah adalah aset yang paling utama!