NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Gudang Abu

Li Wei melesat maju menembus keheningan gudang yang remang. Ujung pedang Bailong yang patah itu tidak lagi memancarkan cahaya biru murni dari kejayaannya di masa lalu, melainkan denyutan ungu gelap yang tidak stabil. Kapten Ray tidak bergeming. Ia hanya menggeser kaki kirinya sedikit, menciptakan kuda-kuda rendah yang sangat dikenal oleh Li Wei—variasi dari teknik Garda Langit yang seharusnya hanya dikuasai oleh elit militer klan Li.

"Terlalu lambat untuk ukuran seorang perwira tinggi," gumam Ray.

Suara denting logam yang memekakkan telinga bergema saat kedua bilah pedang itu bertemu. Percikan bunga api menerangi bayangan peti kemas di sekitar mereka, menciptakan siluet raksasa yang menari di dinding gudang yang berlumut. Li Wei merasakan saraf di lengannya berdenyut panas. Sinkronisasi sarafnya terganggu oleh residu energi void yang masih membara di sumsum tulang belakangnya sejak pelarian dari lereng gunung yang membeku.

"Kau mengenal teknik ini? Dari mana kau mempelajarinya?" desis Li Wei sambil menekan pedangnya.

"Ayahmu selalu berkata bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari seberapa keras kau memukul, tapi seberapa baik kau mengenal lawanmu," Ray memutar bilah pedang hitamnya, membiarkan pedang Li Wei meluncur sia-sia ke samping. "Kau memiliki kemarahannya, Li Wei, tapi kau tidak memiliki ketenangannya."

"Jangan berani-berani menyebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu!"

Li Wei memicu Neural Overclock. Dalam pandangannya, tetesan air hujan yang merembes dari atap seng seolah membeku di udara. Ia melihat celah kecil di sisi kanan pertahanan Ray. Dengan satu hentakan kaki yang membuat lantai beton retak, ia menerjang. Gelombang energi void meledak dari telapak tangannya, menciptakan distorsi ruang kecil yang mengisap debu dan uap oli di sekitar mereka.

"Li, berhenti! Sarafmu bisa hangus!" teriak Chen Xi dari kejauhan.

Ia sudah berdiri dengan pistol bio di kedua tangannya, matanya bergerak liar antara Li Wei dan pria asing di hadapannya. Di sudut ruangan, Xiao Hu meringkuk di balik peti kayu, tangannya gemetar hebat sambil mendekap tas peralatannya. Namun, Li Wei tidak mendengar. Fokusnya terkunci sepenuhnya pada musuh yang seolah bisa membaca setiap gerakannya.

"Kau ingin tahu siapa aku?" Ray melompat mundur dengan kelincahan yang tidak manusiawi, menghindari tebasan horizontal Li Wei. "Aku adalah bayangan yang seharusnya tidak pernah kau lihat. Aku adalah sisa-sisa dari unit yang dihapus oleh Zhao Kun sepuluh tahun lalu."

"Unit yang dihapus?" Li Wei berhenti sejenak, napasnya tersengal parah. "Maksudmu... kau bagian dari operasi pembersihan di Sektor Sembilan?"

"Kami adalah mereka yang melakukan pekerjaan kotor agar martabat klanmu tetap terlihat suci di hadapan publik," Ray menurunkan pedangnya, membiarkan ujungnya menyentuh lantai beton dengan bunyi gesekan yang tajam. "Aku adalah murid terakhir ayahmu sebelum ia dikhianati oleh sistem yang kau bela dengan begitu buta."

Li Wei tertegun. Ujung pedang Bailong-nya perlahan meredup. Rasa sakit di kepalanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es, sebuah konsekuensi dari penggunaan energi tingkat tinggi dalam kondisi fisik yang lemah. Martabatnya sebagai komandan terasa hancur saat menyadari bahwa orang yang ia anggap musuh justru memegang kunci masa lalu yang selama ini disembunyikan darinya.

"Kenapa kau berada di pihak Teratai Hitam?" tanya Li Wei dengan suara parau.

"Karena di kota yang busuk ini, hanya mereka yang bersembunyi di lumpur yang bisa melihat cahaya yang sebenarnya," Ray berjalan mendekati meja kerja tua yang dipenuhi tumpahan oli. Ia menyalakan sebuah kompor portabel kecil yang mengeluarkan desis biru redup. "Duduklah. Kau butuh menstabilkan suhumu sebelum sarafmu permanen rusak."

Chen Xi mendekat perlahan, senjatanya masih terangkat namun tidak lagi mengarah langsung ke jantung Ray. "Kau mengaku sebagai murid Jenderal Li? Jika itu benar, kau seharusnya memiliki tanda identifikasi saraf klan."

"Kau sangat teliti, Nona Chen dari Naga Laut," Ray terkekeh tanpa nada humor. "Cek frekuensi sarafmu pada saluran 404. Aku telah membuka enkripsi pribadiku."

Chen Xi segera mengaktifkan pemindai di pergelangan tangannya. Matanya melebar saat melihat grafik yang muncul di layar hologram kecilnya. "Ini... ini benar-benar protokol klan Li. Kode sandi 'Hening di Puncak Salju'."

"Dunia ini memang sempit, bukan?" Ray menuangkan air ke dalam panci kecil. Aroma kopi pahit yang murah mulai memenuhi ruangan, sedikit menetralkan bau menyengat dari bensin dan besi tua. "Li Wei, kau datang ke sini bukan karena kebetulan. Kau datang karena Zhao Kun ingin kau melihat apa yang tersisa dari warisan ayahmu sebelum ia memusnahkan kita semua."

Li Wei menyarungkan pedang patahnya dengan tangan yang masih gemetar. Ia duduk di atas peti kayu terdekat, merasakan martabatnya beradu dengan kenyataan pahit. "Zhao Kun telah mencapku sebagai teroris. Ia menggunakan media untuk menghapus setiap pengabdian yang pernah kuberikan pada Kekaisaran."

"Itu adalah keahliannya," Ray menyodorkan sebuah cangkir logam berisi cairan hitam pekat. "Dia tidak hanya membunuh orang, dia membunuh sejarah. Dia ingin kau menjadi monster di mata rakyat agar tidak ada yang bertanya saat ia menarik pelatuknya nanti."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Li Wei setelah menyesap kopi pahit yang membakar tenggorokannya.

"Bertahan hidup adalah rencana pertama," sahut Ray. Ia menoleh ke arah pintu gudang yang tertutup rapat. "Tapi rencana kedua adalah mengungkap apa yang mereka sembunyikan di laboratorium bawah tanah pusat kota. Sesuatu yang disebut Project Zero."

Xiao Hu memberanikan diri keluar dari persembunyiannya, mendekati meja dengan langkah ragu. "Paman Ray, apakah Project Zero itu yang membuat Kak Li selalu kesakitan?"

Ray menatap bocah itu dengan tatapan yang sedikit melunak. "Itu adalah bagian dari itu, Nak. Dan bagian lainnya adalah alasan mengapa ayah Li Wei harus mati."

Keheningan jatuh di antara mereka, hanya dipecahkan oleh suara rintik hujan yang semakin deras menghantam atap seng. Li Wei menatap bayangan dirinya di permukaan kopi yang hitam, menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam labirin yang lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

"Kita tidak bisa tinggal lama di sini," ujar Ray tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah sensor perimeter yang berkedip merah di pojok ruangan. "Unit razia polisi sedang melakukan penyisiran besar-besaran di zona industri. Seseorang telah membocorkan keberadaan truk Ben."

Lampu neon yang berkedip di langit-langit gudang mendadak mati, meninggalkan ruangan dalam dekapan bayangan biru dari sisa bara kompor portabel. Ray bergerak secepat kilat, menekan panel kontrol di balik tumpukan peti. "Ben, matikan semua sistem pendingin truk! Jangan biarkan ada emisi uap yang keluar!"

"Sudah dilakukan, Kapten! Tapi pemindai termal mereka sedang menyisir area ini dalam radius lima ratus meter," suara Ben terdengar panik dari balik kegelapan.

Li Wei berdiri, rasa pahit kopi masih tertinggal di lidahnya, namun kewaspadaannya telah kembali ke puncak. "Chen Xi, amankan Xiao Hu di belakang tangki air. Gunakan selimut termal sisa dari lereng gunung untuk menutupi deteksi biologis kalian."

"Lalu bagaimana denganmu?" Chen Xi bertanya sambil menarik tangan Xiao Hu yang gemetar. "Sarafmu baru saja mengalami lonjakan. Jika kau bertarung lagi sekarang, sinkronisasi sarafmu bisa putus permanen."

"Aku akan menjadi umpan termal di sisi barat gudang," Li Wei memeriksa sisa energi pada bilah pedang Bailong-nya. "Ray, kau punya jalur keluar yang tidak terpantau oleh drone?"

Ray menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak dingin di bawah cahaya biru redup. "Kau pikir aku bertahan hidup sepuluh tahun di zona ini hanya dengan keberuntungan? Ada saluran pembuangan limbah di bawah lantai peti kemas nomor empat puluh. Tapi itu akan membawamu ke distrik pasar malam, tempat paling bising dan paling kotor di kota ini."

"Bagus. Kebisingan adalah kawan terbaik untuk menyembunyikan frekuensi void," sahut Li Wei.

Tiba-tiba, suara deru baling-baling drone patroli terdengar tepat di atas atap seng gudang. Sinar laser merah mulai menyapu celah-celah dinding, mencari tanda-tanda kehidupan. Li Wei bisa merasakan tekanan udara di dalam gudang berubah; polisi tidak sekadar melakukan razia, mereka sedang bersiap untuk melakukan pembakaran area.

"Mereka tidak akan menunggu kita keluar," bisik Ray sambil menghunuskan kembali pedang hitamnya. "Li Wei, ingat latihan dasarmu. Jangan melawan arus energi mereka, tapi biarkan mereka tenggelam dalam resonansimu sendiri."

"Aku bukan lagi murid yang butuh instruksi, Ray," balas Li Wei datar, meski dalam hati ia menghargai pengingat itu.

Pintu depan gudang hantam hingga jebol oleh unit penghancur mekanis. Dua robot polisi tipe Cyborg-Sentry masuk dengan senjata stun yang sudah terisi penuh. Cahaya senter mereka membelah kegelapan, menyapu lantai yang penuh oli. Li Wei melesat, bukan ke arah pintu, melainkan ke arah tumpukan pipa besi di langit-langit.

"Di sana! Subjek L5 terdeteksi!" teriak salah satu unit mekanis dengan suara sintetis yang dingin.

Li Wei melepaskan Void-Pulse kecil ke arah pipa uap. Ledakan uap panas seketika menyelimuti ruangan, mengacaukan sensor optik robot-robot itu. Dalam kekacauan tersebut, Ray bergerak seperti bayangan, menebas kaki-kaki logam robot tersebut dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seorang ahli pedang kelas atas.

"Cepat! Masuk ke saluran!" perintah Ray pada Chen Xi dan Xiao Hu.

Chen Xi menatap Li Wei sejenak, sebuah tatapan yang penuh dengan kekhawatiran yang tidak terucapkan. "Jangan mati di sini, Li. Kita masih harus menemukan ibumu."

"Pergilah!" Li Wei membalas tanpa menoleh, fokusnya kini tertuju pada skuadron polisi yang mulai mengepung gedung.

Saat Chen Xi, Xiao Hu, dan Ben menghilang ke dalam lubang gelap di bawah lantai, Li Wei berdiri di tengah kepulan uap. Ia menatap Ray yang masih berdiri di sampingnya. "Kau tidak ikut dengan mereka?"

"Seseorang harus memastikan pintu ini tertutup dari luar agar mereka tidak mengejar ke saluran limbah," Ray mengangkat bahu. "Dan lagi, aku sudah lama tidak menari dengan anjing-anjing Zhao Kun."

"Dunia ini kecil, Ray," ujar Li Wei sambil mengangkat pedang patahnya ke posisi siaga.

"Tapi kuburan bagi para pengkhianat jauh lebih sempit, Li Wei," Ray menyahut dengan kalimat yang sama dengan yang pernah diucapkan ayah Li Wei bertahun-tahun lalu.

Suara sirine polisi menderu semakin dekat, memecah kesunyian malam di zona industri. Li Wei merasakan jantungnya berdegup kencang, sebuah debaran yang bukan berasal dari ketakutan, melainkan dari kesadaran bahwa ia kini telah menemukan sekutu di tempat yang paling tidak terduga. Ia melompat keluar melalui jendela atas tepat saat ledakan granat cahaya pertama menghantam lantai gudang.

Di bawah guyuran hujan yang bercampur jelaga industri, Li Wei berlari di atas atap-atap pabrik yang licin. Di kejauhan, lampu-lampu neon pasar malam mulai terlihat, menjanjikan persembunyian sekaligus bahaya baru. Martabatnya sebagai perwira mungkin telah hilang, namun untuk pertama kalinya sejak kawah itu meledak, Li Wei merasa memiliki tujuan yang jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!