Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5_DIPERLAKUKAN SEPERTI TIDAK ADA
Hari-hari setelah pernikahan itu berjalan seperti rutinitas biasa, setidaknya di mata orang lain. Bagi Nayla, setiap pagi terasa seperti ujian mental.
Ia bangun lebih awal, bersiap dengan tenang, lalu turun ke meja makan dengan langkah hati-hati. Azka selalu sudah ada di sana, atau justru sudah pergi lebih dulu. Kalau pun mereka bertemu, interaksinya sebatas formalitas kaku yang bahkan terasa lebih dingin dari orang asing.
Dan di sekolah, semuanya jauh lebih menyakitkan.
Pagi itu, Nayla berjalan menyusuri koridor kelas sambil membawa beberapa buku. Ia baru saja diminta guru untuk mengantar lembar tugas ke ruang OSIS. Koridor cukup ramai. Beberapa siswa berlalu-lalang, suara tawa terdengar di mana-mana.
Azka berdiri tak jauh dari sana, bersandar di loker bersama Devan, Raka, dan Dion. Aura dominannya selalu mudah dikenali. Beberapa siswi sengaja memperlambat langkah hanya untuk bisa lewat di dekatnya.
Nayla menunduk, berniat lewat begitu saja. Namun saat ia melangkah, tanpa sengaja bahunya menyenggol lengan Azka.
Buku-buku di tangannya jatuh berserakan ke lantai.
“Ah, maaf—” Nayla refleks menunduk, buru-buru memunguti buku-bukunya.
Azka menatapnya datar, lalu menghela napas pelan, seolah kejadian itu sangat merepotkan.
“Kalau jalan pakai mata,” ucap Azka keras, cukup untuk didengar orang sekitar.
Koridor mendadak hening.
Nayla membeku. Beberapa siswa berhenti melangkah. Tatapan mulai tertuju pada mereka.
“A-aku sudah minta maaf,” ucap Nayla pelan, tetap menunduk.
Azka mendengus. “Maaf saja nggak cukup kalau memang ceroboh.”
Raka melirik Azka, agak ragu. “Ka—”
“Diam,” potong Azka tanpa menoleh.
Nayla menggenggam buku terakhir yang ia ambil. Tangannya gemetar, tapi ia memaksa berdiri tegak.
“Aku nggak sengaja,” katanya, mencoba terdengar tenang.
Azka tertawa kecil. “Orang seperti kamu memang biasanya nggak sengaja bikin masalah.” Kalimat itu seperti pisau.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Kasihan…”
“Azka kejam banget…”
“Dia kan Nayla yang pinter itu…”
Nayla merasa wajahnya panas. Dadanya sesak, tapi ia menelan semuanya dalam-dalam.
“Aku permisi,” ucapnya singkat, lalu melangkah pergi.
Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin mereka melihat matanya berkaca-kaca.
***
Di kelas, Nayla duduk dengan tubuh kaku. Dani langsung mendekat begitu pelajaran belum dimulai. “Nay, lo kenapa? Muka lo pucat.”
“Enggak papa,” jawab Nayla cepat.
Sena ikut menoleh. “Itu Azka lagi?”
Nayla tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, Azka masuk kelas. Seperti biasa, aura dinginnya membuat suasana kelas sedikit berubah. Ia duduk di bangku depan, menyandarkan tubuh santai.
Guru mulai mengajar. Saat guru meminta siswa berdiskusi kelompok, kelas mendadak ramai. Beberapa siswa berpindah tempat.
“Nayla,” panggil guru, “kamu gabung kelompok Azka.”
Kelas hening seketika.
Dani refleks menoleh ke Nayla. Sena menggigit bibir.
Azka mendongak perlahan, ekspresinya jelas tidak senang.
Nayla berdiri ragu, lalu berjalan ke depan membawa kursinya. Ia duduk di sisi meja, menjaga jarak.
Diskusi dimulai.
Nayla membuka buku dan mulai menjelaskan pendapatnya dengan tenang. “Kalau menurut aku, jawaban nomor tiga lebih tepat karena—”
“Nggak perlu,” potong Azka datar. “Aku sudah mengerjakannya.”
Nayla terdiam. “Tapi mungkin bisa dipertimbangkan—”
“Aku bilang nggak perlu,” ulang Azka, lebih keras.
Beberapa siswa menoleh.
Nayla mengepalkan tangan di bawah meja. “Ini tugas kelompok.”
Azka menyeringai tipis. “Kelompok bukan berarti semua orang harus bicara.”
Raka menggeser duduknya, terlihat tidak nyaman. “Ka, santai—”
“Kalau kamu mau nilai bagus,” Azka menatap Nayla tajam, “lebih baik diam dan ikut saja.”
Kata-kata itu membuat Nayla kehilangan suara.
Ia menunduk, mencatat seadanya, meski kepalanya penuh dengan rasa perih yang tidak bisa ia jelaskan.
***
Jam istirahat tiba.
Nayla duduk di bangkunya, tidak ke kantin. Dani dan Sena menemaninya.
“Azka keterlaluan,” geram Dani. “lo nggak salah apa-apa.”
Nayla tersenyum tipis. “Biasa.”
“Tapi dia kayak sengaja,” tambah Sena pelan.
Nayla tahu itu. Dan yang paling menyakitkan, ia tahu alasannya.
***
Sore hari, di rumah Mahendra, Nayla baru saja selesai mengganti baju ketika Azka masuk ke ruang keluarga. Wajahnya lelah, jas sekolah dilempar sembarangan ke sofa.
“Kita perlu bicara,” ucap Azka.
Nayla berdiri kaku. “Tentang apa?”
“Jangan pernah berani cari perhatian di sekolah,” kata Azka dingin.
Nayla menatapnya. “Aku nggak—”
“Kamu tahu maksudku,” potong Azka. “Aku sudah bilang, jangan bertingkah seolah punya hubungan denganku.”
“Aku bahkan nggak bicara denganmu,” balas Nayla, suaranya mulai bergetar.
Azka melangkah mendekat. “Justru itu. Jangan sampai orang lain berpikir kita ada hubungan.”
Nayla menahan napas. “Kamu nggak perlu menghina aku di depan umum.”
Azka terdiam sesaat.
Namun wajahnya kembali keras. “Kalau kamu nggak kuat, itu bukan urusanku.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Nayla.
Ia mengangguk pelan. “Baik.”
Azka menatapnya beberapa detik, lalu berbalik pergi.
***
Di kamar, Nayla duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Sakit itu tidak terlihat. Tidak berdarah. Tapi rasanya menyesakkan.
Ia tertawa kecil, pahit.
“Kamu kuat, Nayla.”