NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Pelarian Dini Hari dan Peta Politik

​Jam 03.00 WIB. Kontrakan Fatih.

​Hening yang mencekam menyelimuti gang sempit itu. Di dalam rumah kontrakan yang gelap gulita—karena listriknya diputus paksa—Fatih dan Zalina bergerak dalam diam, hanya diterangi cahaya senter ponsel yang redup.

​"Mas, buku nikah sama ijazah udah masuk tas?" bisik Zalina, suaranya bergetar menahan dingin dan takut.

​"Udah. Laptop juga udah. Baju ambil seperlunya aja, Zal. Masukin ke tas ransel," jawab Fatih cepat sambil mengintip ke balik gorden jendela.

​Di luar sana, suasana gang tampak sepi. Namun, tulisan cat merah di tembok luar yang berbunyi "PULANG ATAU HILANG" seolah memancarkan aura jahat yang menembus dinding. Fatih tahu, ancaman dari mafia tanah atau preman berdasi tidak pernah main-main. Mereka bisa membakar rumah ini kapan saja, sama seperti yang hampir dilakukan Erlangga dulu.

​Fatih merasa gagal. Ia membawa Zalina keluar dari istana ayahnya dengan janji akan melindunginya, tapi malam ini mereka harus mengendap-endap keluar dari rumah sendiri seperti maling.

​"Mas, aku siap," Zalina sudah menggendong ranselnya. Ia mengenakan jaket tebal dan kerudung instan. Wajahnya pucat, tapi matanya menyiratkan keberanian.

​"Kita keluar lewat pintu belakang," instruksi Fatih. "Pintu depan terlalu terekspos jalan utama. Kita lewat jemuran tetangga, tembus ke jalan raya, baru kita pesan taksi online di sana. Jangan nyalain HP dulu sebelum sampai jalan raya biar lokasi kita nggak kelacak."

​Mereka berdua keluar lewat pintu dapur yang berdecit pelan. Angin malam menusuk tulang. Mereka melompati pagar pendek pembatas kontrakan, melewati jemuran tetangga, dan berjalan cepat menyusuri lorong-lorong gelap.

​Setiap gonggongan anjing membuat jantung mereka mau copot. Setiap suara motor lewat membuat Fatih refleks menarik Zalina ke balik bayangan tembok.

​Setelah sepuluh menit berjalan kaki yang terasa seperti sepuluh tahun, mereka sampai di jalan raya Dago yang mulai ramai oleh truk sayur.

​Fatih segera menyalakan ponselnya, memesan taksi online. Tujuannya: Kedai Kopi "Tuang". Itu satu-satunya tempat yang memiliki satpam 24 jam dan CCTV.

​Saat masuk ke dalam taksi, Fatih akhirnya bisa menghembuskan napas panjang. Ia menggenggam tangan Zalina yang sedingin es.

​"Maafin Mas ya, Zal," bisik Fatih lirih, menatap istrinya dengan pandangan bersalah. "Harusnya kamu tidur nyenyak di kasur empuk, bukan jadi pelarian gini."

​Zalina menggeleng, menyandarkan kepalanya di bahu Fatih. "Mas Fatih inget janji pernikahan kita? Dalam suka dan duka. Ini bagian dukanya, Mas. Dan aku nggak nyesel. Aku justru bangga Mas Fatih berani ngelawan arus, makanya kita dimusuhin orang jahat. Itu tandanya kita di jalan yang bener."

​Fatih mengecup puncak kepala istrinya. Ya Allah, kuatkan hamba untuk melindungi wanita ini.

​Jam 06.00 WIB. Kedai Kopi "Tuang".

​Pak Burhan baru saja datang untuk membuka kedai. Ia kaget setengah mati melihat Fatih dan Zalina sedang tidur di sofa ruang VIP (yang merangkap ruang meeting), beralaskan jaket.

​"Masya Allah, Mas Fatih? Mbak Zalina?" Pak Burhan membangunkan mereka. "Kenapa tidur di sini? Ada masalah apa?"

​Fatih terbangun, matanya merah kurang tidur. Ia menceritakan semuanya. Tentang ancaman di lokasi proyek, negosiasi dengan Bang Baron, hingga teror kabel putus dan tulisan merah di kontrakan semalam.

​Wajah Pak Burhan berubah dari kaget menjadi merah padam karena marah, lalu menjadi serius dan penuh perhitungan.

​"Bajingan," umpat Pak Burhan pelan. "Itu bukan kerjaan preman pasar, Mas. Preman pasar kalau ngancem itu langsung dateng orangnya, teriak-teriak minta duit. Kalau mainnya potong kabel diem-diem terus ninggalin pesan sandi kayak gitu... itu gayanya orang bayaran. Profesional."

​"Bapak tau siapa kira-kira?" tanya Fatih sambil menyesap kopi panas yang dibuatkan barista.

​Pak Burhan duduk, menatap Fatih tajam. "Mas Fatih tahu lahan di sebelah proyek Grand Horizon itu punya siapa?"

​Fatih menggeleng. "Lahan kosong juga kan, Pak? Isinya ilalang."

​"Itu lahan milik PT. Bumi Sentosa," ungkap Pak Burhan. "Pemiliknya namanya Handoko. Dia anggota DPRD yang lagi naik daun, dan dia punya bisnis properti gede. Denger-denger, dia udah ngincar lahan sengketa yang Mas Fatih kerjain itu buat perluasan proyek apartemen mewahnya."

​Fatih tertegun. Potongan puzzle mulai terpasang.

​"Jadi... Grand Horizon berhasil dapet lahan itu duluan, dan Handoko nggak terima?"

​"Betul," Pak Burhan mengangguk. "Grand Horizon itu pemain nasional dari Jakarta, Handoko itu raja lokal sini. Handoko pasti panas lahannya diserobot. Dia nggak bisa nyerang Grand Horizon secara hukum karena kalah tender legal, jadi dia main kotor. Dia mau bikin proyek itu gagal dengan cara bikin arsitek dan kontraktornya ketakutan."

​Zalina yang sedang memegang tablet (mulai riset data), tiba-tiba bersuara.

​"Mas, Pak Burhan bener," kata Zalina, menunjukkan layar tabletnya. "Aku cek di berita online lokal. Tiga tahun lalu, ada proyek perumahan lain di daerah situ yang mangkrak (berhenti) karena arsiteknya tiba-tiba mundur setelah diteror. Kantornya dilempar bom molotov. Dan tebak siapa yang akhirnya beli lahan mangkrak itu murah-murah?"

​"Handoko?" tebak Fatih.

​"PT. Bumi Sentosa," koreksi Zalina. "Sama aja."

​Darah Fatih berdesir. Jadi ini polanya. Handoko menggunakan teror untuk mengusir pengembang lain, membuat harga tanah jatuh, lalu membelinya dengan harga murah. Dan Fatih sekarang berdiri tepat di tengah-tengah garis tembak itu.

​"Kita lawan siapa ini, Mas?" suara Zalina terdengar khawatir. "Ini mafia tanah level kakap."

​Fatih berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Otaknya berputar cepat.

​Jika dia mundur, Handoko menang. Grand Horizon akan rugi, proyek batal, dan Fatih akan kehilangan kontrak yang nilainya bisa mengubah hidupnya. Lebih parah lagi, ratusan warga MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) gagal dapat rumah murah.

​Tapi jika dia maju, nyawanya dan Zalina taruhannya.

​"Kita nggak bisa lawan pake otot," gumam Fatih. "Handoko punya duit dan kekuasaan politik. Kalau kita lapor polisi, belum tentu diproses cepet karena dia orang kuat."

​"Terus gimana, Mas?"

​Fatih berhenti mondar-mandir. Matanya menatap tajam ke arah Pak Burhan dan Zalina.

​"Kita pake strategi 'Perisai Manusia'," ucap Fatih misterius.

​"Maksudnya?"

​"Handoko itu politisi kan? Dia anggota DPRD. Kelemahan terbesar politisi apa?" tanya Fatih.

​"Korupsi?" tebak Pak Burhan.

​"Bukan. Citra Publik," jawab Zalina cerdas. "Politisi takut kelihatan jahat di depan pemilihnya."

​"Tepat," Fatih jentikkan jarinya. "Selama ini dia main kotor di belakang layar, sembunyi-sembunyi. Kalau kita mau selamat, kita harus tarik dia keluar ke tempat terang. Kita harus bikin proyek ini jadi Proyek Rakyat. Kalau dia ganggu proyek ini, berarti dia ganggu rakyat."

​Fatih mengambil spidol, menulis di papan tulis whiteboard yang ada di ruangan itu.

​RENCANA PERTAHANAN:

​Negosiasi dengan Grand Horizon: Yakinkan Pak Gunawan untuk menyetujui konsep "Pasar Rakyat" secepatnya.

​Aliansi Bang Baron: Jadikan preman lokal sebagai keamanan resmi (Satpam Proyek) agar mereka punya kepentingan menjaga lahan.

​Media Massa: (Ini ide Zalina nanti).

​"Zal, jam 10 nanti kita harus ketemu Pak Gunawan di kantornya buat tanda tangan kontrak. Aku bakal ubah sedikit isi presentasinya. Bukan cuma soal desain, tapi soal keamanan politis."

​Jam 10.00 WIB. Kantor Grand Horizon.

​Suasana ruang rapat kali ini berbeda. Fatih dan Zalina sudah duduk berhadapan dengan Gunawan. Di atas meja, kontrak kerja setebal bantal sudah siap ditandatangani.

​Namun, Fatih belum memegang pulpennya.

​"Pak Gunawan," Fatih membuka pembicaraan dengan nada serius. "Sebelum saya tanda tangan, saya perlu Bapak tahu kondisi lapangan yang sebenarnya. Kemarin saya diteror. Listrik rumah saya diputus, ada ancaman pembunuhan."

​Gunawan tidak kaget. Wajahnya tetap datar, seolah sudah menduga. "Saya sudah peringatkan kamu di email. Itu 'Tanah Merah'. Risiko ditanggung pemenang."

​"Ini bukan sekadar risiko preman pasar, Pak. Ini Handoko. PT. Bumi Sentosa," Fatih menyebut nama itu dengan lugas.

​Alis Gunawan terangkat sedikit. "Kamu tahu dari mana?"

​"Riset lapangan. Dan polanya sama dengan proyek Bapak tiga tahun lalu yang gagal di Cimahi, kan?" tembak Fatih.

​Gunawan terdiam. Ia meletakkan pulpen mahalnya. Ia mulai memandang Fatih bukan sebagai arsitek muda polos, tapi sebagai pemain yang cerdas.

​"Oke. Kamu pintar," aku Gunawan. "Handoko memang duri dalam daging kami. Dia mau lahan itu. Jadi, kamu mau mundur? Kalau kamu mundur sekarang, saya panggil Megabuild lagi. Mereka punya backing militer, mungkin lebih berani dari kamu."

​"Saya tidak akan mundur," jawab Fatih tegas. "Justru karena lawannya politisi, Megabuild yang pendekatannya arogan nggak akan berhasil. Mereka bakal dibenturkan sama warga, terus jadi isu HAM, proyek Bapak disegel."

​"Lalu apa tawaranmu?"

​"Pasar Rakyat," Fatih menyodorkan lembar revisi desain yang ia buat bersama Bang Baron (secara lisan) kemarin.

​"Pak Gunawan, setujui pembangunan pasar seluas 500 meter di depan komplek ini. Berikan hak kelolanya kepada koperasi warga lokal yang dipimpin oleh Baron (kepala preman setempat). Dengan begitu, Baron dan 100 anak buahnya akan jadi 'anjing penjaga' Bapak yang paling setia. Gratis. Bapak nggak perlu bayar jasa pengamanan mahal."

​Gunawan melihat denah itu. Matanya berbinar melihat efisiensi biaya.

​"Dan satu lagi," tambah Zalina, melengkapi strategi suaminya. "Kita namakan pasar ini 'Pasar Rakyat Madani'. Kita undang Walikota untuk peletakan batu pertama minggu depan. Kita bikin acara besar, liput di media. Kalau Walikota sudah meresmikan, Handoko nggak akan berani nyentuh proyek ini secara kasar, karena sama saja dia nampar muka Walikota."

​Hening di ruang rapat.

​Gunawan menatap pasangan suami istri di depannya. Arsitek dan Desainer yang datang naik motor butut, tapi punya strategi politik sekelas konsultan senior.

​Perlahan, senyum tipis terukir di bibir Gunawan.

​"Saya suka cara berpikir kalian. Licik. Tapi legal," puji Gunawan.

​Ia mengambil pulpennya, menandatangani persetujuan desain revisi itu.

​"Deal. Pasar dibangun. Anggaran saya tambah 10% untuk biaya event peresmian dengan Walikota. Tapi ingat, Fatih..." Gunawan menatap tajam. "Kamu yang harus handle Baron. Kalau preman-preman itu malah jadi senjata makan tuan, kontrak kamu saya putus dan kamu saya blacklist dari industri ini selamanya."

​"Siap, Pak. Saya pertaruhkan nama saya," jawab Fatih mantap.

​Mereka pun menandatangani kontrak utama. Nilai kontraknya... fantastis. Cukup untuk membuat Fatih dan Zalina hidup layak, bahkan menabung untuk rumah impian. Tapi uang itu baru akan cair bertahap sesuai progres.

​Saat keluar dari gedung Grand Horizon, Fatih merasa lututnya lemas. Ia baru saja menjual jiwanya sedikit ke dunia politik demi bertahan hidup.

​"Kita berhasil, Mas?" tanya Zalina di lift.

​"Secara teori, iya. Tapi praktiknya..." Fatih menghela napas. "Sekarang kita harus temuin Bang Baron lagi. Kita harus ubah preman jadi satpam resmi."

​Sore harinya. Markas Bang Baron (Sebuah gudang tua di pinggir lahan sengketa).

​Fatih datang sendirian (Zalina disuruh menunggu di warung yang agak jauh demi keamanan). Baron sedang asyik main karambol dengan anak buahnya.

​"Woy! Pak Arsitek!" sapa Baron ramah, tapi matanya waspada. "Gimana? Bos lu setuju?"

​"Setuju, Bang," Fatih meletakkan dokumen di meja karambol. "Ini surat penunjukan resmi. Koperasi warga sini dikasih hak kelola pasar. Dan Abang ditunjuk jadi Kepala Keamanan Proyek. Gajinya UMR plus tunjangan, resmi dari Grand Horizon."

​Mata anak-anak buah Baron terbelalak. Gaji resmi? Tunjangan? Itu kemewahan yang tak pernah mereka bayangkan.

​"Tapi ada syaratnya, Bang," Fatih menatap Baron serius.

​"Apaan?"

​"Mulai besok, nggak ada lagi yang pake kaos kutang sama celana sobek di lokasi. Semua pake seragam satpam. Rambut rapi. Nggak ada minum-minum di pos. Dan yang paling penting... Abang harus siap hadepin orang-orangnya Handoko."

​Mendengar nama Handoko, wajah Baron berubah keruh. Ia meludah ke lantai.

​"Si Handoko uler itu? Cih. Dulu waktu kampanye dia janjiin lapangan kerja buat anak buah gue, pas kepilih dia lupa ingatan. Malah mau gusur lapak kami."

​Baron berdiri, menepuk meja hingga bidak karambol berantakan.

​"Oke! Gue terima! Daripada jadi kacung Handoko yang abis manis sepah dibuang, mending gue ikut lu. Lu jelas, hitam di atas putih."

​Baron menjabat tangan Fatih. Cengkeramannya kuat.

​"Mulai hari ini, lu sodara gue, Tih. Kalau ada orang Handoko yang nyolek lu, bilang gue. Gue jadiin perkedel."

​Fatih tersenyum lega. Satu benteng pertahanan berhasil dibangun. Aliansi dengan "Penguasa Tanah" sudah diamankan.

​Namun, Fatih tahu Handoko tidak akan tinggal diam. Politisi busuk biasanya punya 1001 cara. Jika kekerasan gagal, mereka akan main hukum.

​Malam harinya. Kedai Kopi "Tuang".

​Fatih dan Zalina memutuskan untuk sementara tinggal di ruang kantor lantai 2 kedai kopi itu atas izin Pak Burhan, sampai mereka menemukan kontrakan baru yang lebih aman.

​Zalina sedang membuka laptop, mengecek rekening bank. Uang muka termin pertama dari Grand Horizon sudah masuk sore tadi. Angkanya membuat mata Zalina berkaca-kaca.

​"Mas..." panggil Zalina.

​"Kenapa?"

​"Kita kaya," bisik Zalina, setengah tak percaya.

​Fatih mendekat, melihat angka di layar. Rp 150.000.000. (Seratus lima puluh juta rupiah). Itu baru 20% dari total kontrak.

​Fatih lemas. Ia duduk di kursi kerja. Seumur hidup, ia belum pernah memegang uang sebanyak itu.

​"Ini bukan uang foya-foya, Zal," Fatih mengingatkan dirinya sendiri. "Ini uang operasional. Kita butuh beli laptop spek dewa buat rendering, sewa printer A0, gaji drafter tambahan karena aku nggak mungkin kerjain semua gambar teknis sendirian."

​"Iya, Mas. Aku tau," Zalina tersenyum, lalu memeluk Fatih dari samping. "Tapi setidaknya... kita bisa beli kasur beneran kan? Punggungku sakit banget tidur di busa."

​Fatih tertawa, mencium pipi istrinya. "Besok kita beli kasur paling empuk di toko. Springbed hotel bintang lima kalau perlu."

​Kebahagiaan sederhana itu membuncah. Mereka merasa baru saja mendaki satu anak tangga kehidupan.

​Namun, di tengah tawa mereka, ponsel Fatih berdering. Nomor tidak dikenal.

​Fatih mengangkatnya.

​"Halo?"

​"Selamat malam, Bapak Arsitek Fatih," suara di seberang sana terdengar berat, sopan, tapi berwibawa. Sangat halus.

​"Siapa ini?"

​"Saya asisten Bapak Handoko. Bapak mengagumi keberanian Anda di lapangan tadi siang. Beliau ingin mengundang Anda makan malam besok di Restoran The Peak. Hanya bincang-bincang santai sesama pecinta seni bangunan."

​Darah Fatih membeku.

​Handoko.

​Orang yang kemarin mengirim teror cat merah, sekarang mengajak makan malam? Ini jebakan atau tawaran damai?

​"Jangan ditolak, Pak Fatih," lanjut suara itu, seolah membaca pikiran Fatih. "Bapak Handoko tidak suka penolakan. Dan beliau punya penawaran yang mungkin... jauh lebih menarik daripada recehan yang dikasih Gunawan."

​Klik. Sambungan terputus.

​Fatih menatap ponselnya yang mati. Zalina menatapnya cemas.

​"Siapa Mas?"

​"Handoko," jawab Fatih pelan. "Dia ngajak makan malam."

​"Mas bakal dateng?"

​Fatih berjalan ke jendela, menatap lampu-lampu kota Bandung dari ketinggian Dago.

​"Aku harus dateng, Zal. Kalau aku nolak, dia bakal ngerasa diremehkan dan nyerang lebih keras. Aku harus tau apa maunya. Aku harus masuk ke kandang singa."

​"Aku ikut," kata Zalina tegas.

​"Jangan. Ini terlalu bahaya."

​"Mas, inget strategi kita? Perisai Manusia. Kalau Mas dateng sendirian, Mas bisa dijebak, direkam, difitnah nerima suap. Kalau aku ikut, aku jadi saksi. Dan... aku bakal nyalain perekam suara di tasku."

​Fatih menatap istrinya. Zalina bukan lagi gadis manja yang takut kompor. Dia telah berevolusi menjadi wanita besi.

​"Oke. Kita hadapi Handoko bareng-bareng."

​(Bersambung ke Bab 14... Makan Malam dengan Iblis)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!