NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu Kambing Etawa

Kael harus mengakui Maggie, karena perempuan itu punya stamina yang luar biasa.

Mereka berbelanja, melakukan tur singkat ke Malioboro, naik candi Borobudur, lalu mampir ke Museum. Semuanya dalam satu hari.

Maggie dan bayi itu tumbang di tempat tidur kamarnya. Kael berdiri di ambang pintu cukup lama, memastikan mereka baik-baik saja, sebelum diam-diam meminta jamuan hidangan khas Jogjakarta untuk diantar ke suite.

Hari itu menyenangkan. Kael belum pernah punya kesempatan menunjukkan Jogjakarta pada pendatang baru.

HPnya bergetar, ada pesan dari asisten pribadinya tentang makanan pesanan sudah datang.

Kael tidak ingin layanan kamar membangunkan Maggie dengan ketukan pintu. Jadi ia bergegas melintasi suite dan dengan hati-hati membiarkan pesanan itu masuk, ia meringis mendengar bunyi roda troli saat didorong mendekati meja makan.

Kael mengangguk pada pria itu. "Biar aku yang urus dari sini."

Begitu pria itu pergi, Kael menuju bar dan menuang beberapa teguk Bir. Pikirannya kembali pada percakapan telepon siang tadi. Ia sedang dijauhkan dari sebuah kesepakatan. Kael ingin berkonsultasi dengan Joann, tetapi pria itu sedang di pesawat.

Untungnya, Maggie dan Biann menjadi pengalih perhatiannya. Hampir saja ia melupakan semua kekacauan ketika mereka ada di dekatnya. Ia bisa memahami mengapa Joann mengatur ulang prioritasnya. Mungkin sudah saatnya ia melakukan hal yang sama.

Kael memutar cairan itu di gelasnya. Joann dua belas tahun lebih tua darinya.

Berapa lama lagi ia akan terus bepergian seperti ini?

Lima tahun?

Sepuluh tahun?

"Kamu kelihatan lagi melamun."

Kael menoleh dan melihat Maggie di ambang pintu. Ia sudah mengganti gaun yang dikenakannya seharian dengan gaun yang longgar. Tali tipis di bahu telanjangnya menandakan ia tidak mengenakan bra.

Selangkangan Kael pun menegang.

Rambut Maggie terurai, jatuh berderai dalam helaian keemasan di sepanjang lengannya. Ia bertelanjang kaki.

"Biann tidur?"

Maggie mengangguk. "Kayaknya bakal tidur lama." Jari-jari Kael mengerut di sekitar gelas. Pandangan Maggie jatuh pada cairan itu. "Boleh minta seteguk?"

"Oh, biar aku ambilin gelas."

Maggie menggeleng. "Aku gak bisa minum sebanyak itu. Aku cuma pingin mencicipi."

Maggie mengambil gelas Kael dan memiringkannya, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan indah. Kael ingin menekan bibirnya di sana, tetapi ia malah memilih tarik napas.

"Enak." Maggie meletakkan gelas itu kembali di hadapan Kael. "Aku gak bisa sembarangan minum, aku lagi menyusui Biann."

Tangannya bergerak ke payudaranya dan membelai di balik katun itu. Meski ia merujuk pada caranya menyusui Biann dan hanya bermaksud menyebut bagian tubuh itu sebagai alat peraga, tapi mulut Kael tetap saja terasa kering.

"Kamu sempat pakai pemompa?" Kael tidak tahu apa sebutannya, hanya tahu Maggie tadi mengeluarkan mesin kecil dari tasnya.

"Iya. Aku harus minum air dan mengisi ulang persediaan ASI ini. Aku pingin memompanya sedikit lagi malam ini, biar cukup untuk perjalanan besok."

Pandangan Kael kembali meluncur ke gaunnya. "Aku bakal ambilin air buat kamu."

"Kamu pesan makanan?" Maggie mengangkat salah satu tudung perak dan menghirup aromanya. "Oh, baunya enak sekali."

"Lihat aja. Pilih yang kamu suka."

"Punyamu yang mana?"

"Gampang. Aku bisa ambil sisanya."

Maggie dengan antusias memilah berbagai hidangan, membuat Kael tersenyum. Ada kejutan di sana. Ia menemukan nampan dingin dan mengangkat penutupnya. "Kael Brawangsa, kamu pesan susu kambing?"

Kael tidak bisa menahan tawa. "Coba dulu." Iya meletakkan gelas kristal berisi air di hadapannya.

Bibir Maggie mengerut. "Lebih baik kamu cari di Google dulu, deh. Aku enggak mau minum ini kalau nanti susuku jadi bau kambing."

Kael membuka HPnya dan menyodorkannya, berusaha menahan tawa.

Maggie mengambilnya dan berlari ke sisi lain ruangan. "Yey! Aku pegang HP Kael Brawangsa! Aku bisa menguasai dunia dengan benda ini!" Maggie mengangkatnya ke udara.

"Kamu emang bisa," kata Kael. Maggie tampak menakjubkan, berdiri di kamar indah itu seperti dewi. Gaun ringannya pun terperosok dari belakang, memperlihatkan siluet tubuhnya.

Kael ingin merayunya, melanggarnya, tetapi situasinya tidak tepat. Seorang mama muda ada dalam tanggung jawabnya. Ia tidak bisa melakukan itu. Itu tidak pantas. Ia harus menunggu waktu yang tepat.

Maggie tertawa dan duduk di sofa, kaki panjangnya terjulur di atas bantalan. "Oke, biar kulihat."

Maggie mengetuk dan menggulir layar, sementara Kael menata semua hidangan di meja. "Asparagus bisa bikin rasa ASI jadi enggak enak. Bawang putih juga. Makanan pedas juga."

Maggie terus mencari. "Tapi sebenarnya itu bagus buat menambahkan rasa ke ASI."

Ia menatap ke atas. "Itu menyiapkan anak-anak untuk MPASI. Gak ada ruginya."

"Jadi Biann bisa ngerasain sedikit masakan khas Jogjakarta, ya kan?"

Maggie kembali ke meja dan meletakkan HP itu di depan Kael. "Oke. Aku bakal coba." Ia meluncur ke kursi dan mengambil secangkir susu kambing etawa.

Lalu ia menyeruputnya. Ada kepulan asap di mulutnya. Alisnya terangkat. "Oh! Ini enak! Rasanya gak seperti baunya!"

Kael meneguk Bir, menikmati rasanya sekaligus menikmati bibir Maggie yang basah. Ia harus benar-benar mengendalikan diri.

Maggie meneguk lagi, lalu menarik salah satu hidangan mendekat. "Gimana kalau kita bagi semuanya?"

"Aku setuju."

Maggie membuka serbet kain dan membentangkannya di pangkuan.

Mereka makan dalam keheningan selama beberapa menit, sesekali terputus ketika Maggie menanyakan nama sebuah hidangan atau berseru dengan gembira atau ragu.

Akhirnya, semua piring ditumpuk kembali ke atas troli dan Maggie bersandar santai. Kaki telanjangnya bertumpu pada kursi kosong. Ia menengadahkan kepala, membiarkan rambut keemasannya jatuh ke belakang. Kael menuang Bir lagi.

Kael bertanya-tanya apakah ia seharusnya menyarankan menonton film atau acara lain untuk menghabiskan waktu, tetapi Maggie lebih dulu berkata, "Enak ya, duduk santai begini."

"Emang."

Ia benar.

Kael tidak punya rapat, tidak ada yang menunggu kabarnya setelah hari ini. Ini saatnya melepaskan penat dan segala acara di sekitarnya. Ia puas bisa menghabiskan momen ini bersama Maggie.

Maggie menatap langit-langit. "Jadi apa rencananya?"

"Habis sarapan kita naik limusin ke Kera—"

"Bukan itu," potong Maggie sambil menurunkan kaki ke lantai dan duduk menghadap wajah Kael. "Maksudku, untuk kita."

Mata biru itu mengunci tatapan Kael.

"Aku rasa gak ada rencana."

Maggie menyandarkan siku di meja dan menopang dagu dengan tangan. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada wajah Kael. "Lalu kamu beliin aku pakaian dan perhiasan mahal ini, tanpa maksud apa-apa?"

Kael tidak bisa menahan senyum miringnya. "Hemm ... Aku rasa kita udah bahas soal ini sebelumnya."

Pandangan Maggie beralih ke langit-langit. Maggie sepenuhnya sadar.

Di sisi lain, selangkangan Kael bereaksi. Ia bahkan tidak tahu apa yang mungkin akan dilakukan perempuan ini selanjutnya.

"Biar aku kasih tahu," kata Maggie, matanya kembali menatap Kael, bulu matanya yang panjang menegaskan warna biru itu. "Kamu mungkin mengira kalau aku cewek memprihatinkan atau sedang putus asa."

Kael duduk lebih tegak. "Enggak sama sekali."

Maggie mengangkat tangan. "Oke, bagus."

"Aku hormatin Kamu. Kamu berhasil menempatkan Biann di atas segalanya. Kamu itu Mama yang luar biasa."

Ia menggeleng. "Kita lihat aja nanti."

Kael tidak sepenuhnya paham maksud itu. "Hidup dengan anak kecil itu sulit."

"Tentu. Tapi aku gak butuh bantuan kamu."

Ucapan itu menghentikannya. Mungkin ia memang melangkah ke arah itu. Kael meneguk Birnya, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

"Kamu bahkan gak kenal siapa aku, bahkan sebelum aku hamil."

"Terus ... seperti apa dirimu sebelum hamil itu?"

"Aku liar. Aku maniak."

Kael meletakkan gelas kristalnya, "Dalam hal apa?"

Maggie menggigit bibirnya dan memejamkan mata, ujung jarinya pun mengetuk meja. "Udahlah, gak penting. Aku mau memompa susu dulu."

Lalu ia menghilang ke ruangan sebelah.

Malam ini Kael jelas butuh lebih banyak Bir.

...𓂃✍︎...

...Tidak semua manusia di bumi baik, maka baik lah kepada dirimu sendiri....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!