NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sepuluh

Alia berjalan terburu-buru, matanya melirik arloji yang tersemat di tangan kanannya, setiap hari ia harus berlomba dengan waktu.

 Drama setiap pagi yang harus alia lakoni, menjadi ibu-ibu rempong yang menyiapkan semua perlengkapan sekolah putranya.

Setengah berlari alia mengejar lift yang hampir tertutup, namun malangnya  pintu lift sudah tertutup tepat ketika alia sampai di depan pintu lift tersebut.

"Hhhhhhhh.." keluh alia kesal, seandainya saja tadi luka tidak bertingkah, alia tidak akan terlambat.

Alia memutuskan untuk naik tangga, namun urung, kantornya berada di lantai 8, tidak dapat ia bayangkan ke atas menaiki tangga manual.

Akhirnya alia pasrah ia menunggu lift sebelah sedang menuju ke lantai bawah, omelan bu wirda yang pasti akan terjadi, harus bisa alia terima dengan lapang dada.

"Alia.." sapaan seseorang dari belakang mengagetkan alia.

Ia membalikkan tubuhnya, terlihat bara dan asistennya berdiri di belakang alia. Alia menganggukan kepalanya hormat, tampilan bara yang resmi lengkap dengan jas dan atribut lainnya, membuat alia sedikit segan.

Aura pria ini terlihat sangat berbeda, kemarin tampilannya terlihat sedikit manusiawi, namun hari ini bosnya itu terlihat sangat berwibawa dengan rambut yang tersisir klimis ke belakang, sungguh aura kepemimpinannya sangat terasa.

"Selamat pagi pak..!" Sapa alia hormat, matanya mengerling ke arah asisten bara yang berdiri tegap layaknya seorang robot, matanya menatap lurus, tidak ada senyuman.

"Selamat pagi.." sahut bara wibawa, tidak ada senyum, namun tatapannya sungguh dalam menatap alia yang sedang menekan tombol lift.

Terlihat lift terbuka, beberapa orang keluar, dengan cekatan alia menahan tombol dan mempersilahkan bara untuk masuk terlebih dahulu, baru kemudian ia menyusul.

Tangan sang asisten terlihat menekan angka 8, alia berdiri diam di belakang bara, aroma maskulin keluar dari tubuh pria itu. Alia mengamati bara, namun tanpa alia sadari, bosnya itu juga mengamati alia lewat pantulan bayangan dari cermin di dalam lift.

 Mata mereka bersirobok, alia tersentak, dengan cepat ia menundukkan pandangannya. Terlihat bara tersenyum melihat reaksi alia, tingkah bara tidak luput dari pengamatan edo, asistennya. Selama bekerja 5 tahun  dengan bara, Edo jarang melihat bosnya tersenyum seperti ini.

Memang bara bukanlah bos yang kejam dan otoriter, namun ia juga bukanlah pria yang hangat dan ramah. Bara cenderung to the point dan jarang tersenyum, edo melirik ke arah wanita sumber senyuman di wajah bara itu.

Matanya memindai alia dengan cepat, wanita mungil berkulit putih, berwajah sedikit oriental dengan lesung pipi ketika tersenyum, dengan garis mata yang terlihat tajam.

 Senyumannya yang indah dengan kedua lesung pipinya, satu kata untuk perempuan itu 'cantik' namun tidak wow. Edo mengingat karakter wanita ini, hatinya meyakini bahwa wanita ini adalah tipe ideal bosnya, edo mencatatnya dalam hati.

Lift terbuka lebar, sebelum alia berlari terdengar wanita itu pamit penuh hormat, yang dijawab senyuman oleh bara. Alia tiba di kursinya dengan nafas terengah-engah, matanya mengamati sekeliling mencari sosok managernya. Alia bernafas lega, sepertinya bu wirda, managernya itu belum tiba.

"Tumben kamu terlambat.." tegur fandi teman satu timnya, lelaki yang sedikit bersikap feminim itu menatap alia penasaran, alia yang masih terengah kelelahan hanya mengangguk.

" bu Wirda mana?" Tanya alia menarik kursi dan meletakkan tasnya di atas meja kerja.

"Belum datang, sepertinya" sahut fandi seraya mengedikkan bahunya,

"aku juga baru sampai kok" sahutnya dan pergi meninggalkan alia.

Alia duduk tenang di kursi, ia mengatur nafasnya yang masih terasa sesak.

"Alia.." seru seseorang menyentuh bahunya.

Alia yang terkejut menoleh, "ah kamu bikin kaget aja" keluh alia sedikit protes menatap sania yang cengengesan.

"Ketahuan, pasti kamu terlambat deh" ledek sania tertawa,

"makanya kagetkan?"

Alia yang masih kaget hanya mengangguk, "aku pikir tadi bu wirda!"

"Hahahahha" tawa sania terdengar cempreng,

 Alia reflek meletakkan jari telunjuknya ke bibir, meminta sania memelankan suara tawanya yang menarik perhatian orang-orang.

"Kamu kalau ketawa gak pakai perasaan deh, tuh orang-orang pada ngelihatin"

Sania menutup mulutnya dengan kedua tangan, suara tawanya tertahan di mulut.

"Tapi bu wirda memintaku memanggilmu" ujar sania setengah berbisik.

"dia sekarang di ruangan pak bara"

"Hhhhhhh.." helaan nafas alia terasa berat,

"Sekarang?" Tanyanya sedikit malas,

"Besok.." teriak sania yang sudah berjalan ke arah mejanya.

"Yah sekaranglah, kecuali kamu mau di amuk bu wirda nanti"

Dengan malas alia bangkit dari duduknya, menyeret langkahnya menuju ruangan pimpinan utama. Ia mengetuk pintu ruangan bara, setelah melapor kepada sekretaris, bahwa ia di panggil ke ruangan ini.

"Masuk.."

Terdengar perintah dari dalam, suara bariton bosnya itu terdengar berat. Alia melihat bu wirda sedang duduk di sofa, sementara pak bara masih duduk di meja kerjanya, terlihat sedang menerima panggilan, karena alia melihatnya sedang berbicara di ponselnya.

Alia menganggukkan kepalanya sopan ke arah bara yang meliriknya sekilas, ia mengambil posisi duduk di sisi bu wirda yang duduk dengan anggunnya.

"Ada apa bu?" Tanya alia setengah berbisik, bu wirda hanya menggeleng dan memberi kode pada alia untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuknya pada bibir.

Alia pun menurut, ia juga diam menatap ke arah pak bara yang melangkah ke arah mereka. Pria itu duduk dengan tenang, menatap alia dan bu wirda bergantian.

"Selamat bu wirda, anda akan menggantikan pak Rangga yang di mutasikan ke malang"

Pak bara mengulurkan tangan kanannya, senyum khas seorang pemimpin terlihat mengembang di wajah maskulinnya itu.

"Terima kasih, pak bara" sahut bu wirda menyambut uluran tangan bara, wajah bu wirda terlihat sumringah, alia juga ikut mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat.

"Untuk pengganti ibu, silahkan bu wirda merekomendasikan kepada saya siapa kira-kira yang layak" perintah pria itu lagi,

"Saya hanya merekomendasikan alia pak, karena hanya alia yang memiliki ketekunan dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya menurut saya. Hanya satu kekurangan alia pak bara, masa kerjanya masih setahun." 

Alia terperanjat, ia sedikit keberatan namanya di rekomendasikan untuk menggantikan bu wirda, managernya.

"Bu wirda.." sela alia cepat,

"masih ada fandi dan sania yang lebih senior dari saya bu"

Bu wirda, managernya itu menatap alia tak berkedip, tidak ambisius itulah sikap alia yang wirda suka darinya, hal itu yang membuat wanita ini yakin untuk merekomendasikan alia menjadi penggantinya.

"Bagaimana menurut pak bara?" Tanya bu wirda meminta pendapat bara, wanita itu menatap bosnya serius.

"Itu terserah bu wirda, karena anda yang tahu siapa yang layak menggantikan anda, masa kerja bukan jadi patokan di perusahaan kita, tapi hasil, ketekunan dan dedikasi adalah hal yang terpenting, namun 1 hal, untuk menunjuk pengganti bu wirda, tidaklah segampang menunjuk wakil manager yang merupakan hak dari manager. Menurut saya, ada baiknya bu wirda merekomendasikan 2 orang atau lebih dan akan kita biarkan tim anda memilihnya, bagaimana?" Usul pak bara, yang dijawab anggukan puas dari bu wirda.

"Saya rasa hanya itu, untuk saat ini, bu wirda silahkan bereskan barang-barang anda, dan silahkan pindah ke ruangan baru anda, ruangan direktur pemasaran"

"Baik pak, terima kasih" ucap bu wirda dengan sopan, berdiri dan menganggukan kepalanya. Alia yang duduk di sisinya dengan cepat ikut berdiri dan menganggukan kepalanya ke arah bara yang menatapnya seraya tersenyum manis, kemudian setengah berlari mengejar bu wirda yang sudah keluar terlebih dahulu.

Benak alia bertanya-tanya, untuk apa senyum indah pak bara tadi, apakah untuk rekomendasian bu wirda tadi atau apa, alia benar-benar tidak tahu. alia pun tak lagi ambil pusing, ia hanya mempercepat langkahnya mengejar langkah panjang managernya itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!