NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VION REYNALD

Namanya VION REYNALD, cowok berwajah ganteng yang saat ini sedang menikmati masa santai. Tepat tiga bulan lalu, umurnya telah ada di angka 22 tahun.

Walau umurnya telah menginjak kepala dua, itu sama sekali tidak membuat cara berpikir seorang Vion jadi dewasa. Bahkan, seusai lulus kuliah tiga tahun yang lalu, dia tetap jadi pengangguran, sampai detik ini.

Kerjaannya sehari-hari hanya main game, makan, dan nongkrong sama teman-teman seusianya yang juga memiliki hobi sama seperti dirinya.

Vion sering menghabiskan waktu di kafe atau di rumah teman-temannya, sambil bermain game online atau menonton film. Dia tidak memiliki rencana apa-apa untuk masa depannya.

Dia bukan anak dari orang berada. Justru, Ibu dan Bapaknya menjadi warga yang tercatat orang tak mampu. Makanya keluarganya selalu mendapatkan bantuan bahan pangan dan uang dari pemerintah.

Mangkuk berisi sayur asem yang tinggal sedikit itu sudah berantakan, menjadi banyak tumpahan. Taplak meja berwarna merah yang selalu menghiasi meja makan pun sudah kusut, terkena noda minuman.

"Astaga, vion! Kamu kenapa?" tanya Bu Lestari; ibu vion, sambil menggosok-gosok tangannya yang masih basah dengan kain lap.

Kedua tangannya terlihat busa sabun disana, tanda dia baru saja mencuci piring. Wajah vion yang putih dengan rambut yang acak-acakan, khas bangun tidur itu memberengut. Menjatuhkan tubuh yang hanya berbalut kaos tipis di sofa ruang tamu, membuat sofa itu berderit.

"Tiap hari tempe goreng sama sayur asem! Kali-kali tuh bakso atau sate ayam. Makan itu mulu, bosen!" vion mengeluh, sambil menginjak-injak lantai dengan kaki yang telanjang.

"Gak ada variasi lain, Bu? Gak ada yang spesial?"

Bu Lestari menghela nafas panjang, tangannya masih sibuk menyapu pecahan piring. Sudah sangat biasa, vion memang selalu begini.

"Kamu kan udah ada ijazah SMA. Coba kamu cari kerjaan di luar sana. Gaji sedikit juga tidak apa, asal kamu tidak nganggur. Biar bisa beli ayam, nanti ibuk masakin."Bu Lestari Menyahut omongan anaknya dengan sedikit berteriak.

"Bapak sama ibuk kan tiap hari kerja. Masa' beli ayam aja nggak sanggup? Duit hasil nyuci sama nukang, habis buat apa? ".ucap vion.

Tanggapan vion kembali membuat bu Lestari membuang nafas.

"Adikmu itu ada dua, vion. Reno masih SMP, sebentar lagi akan lulus, dan tentu butuh banyak uang untuk masuk ke SMA. Sementara Rina sebentar lagi mau masuk kuliah. Seharusnya, kamu itu kerja, bantuin bapak sama ibuk selesaikan pendidikan adikmu. Bukan malah jadi pengangguran. Kerjaannya tiap hari Cuma main game, nongkrong, sama ngutang di warung. Paling mentok, kamu cuma ngomongin hal yang nggak penting sama teman-temanmu. Itu juga bikin ibu tambah setres vion!".teriak bu Lestari.

Mendengar ocehan ibunya, vion bangun. Mengacak rambut yang sedikit berantakan itu. Kesal banget kalo di rumah, pasti diceramahi mulu. Akhirnya memilih balik lagi ke kamar.

Ngambil jaket dan menutup kaosnya dengan celana jeans panjang yang lusuh di bagian lutut. Menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar. Setelah dirasa cukup ganteng, ia keluar dengan tangan yang sibuk memasang kacamata hitam di mata.

Tak peduliin ibunya yang masih ngomel sambil nyapu di belakang, vion langsung menyalakan mesin motor. Membleyernya cukup kencang, membuat semua suara menjadi tak terdengar lagi. Karna kalah sama bunyi motor rongsokannya yang mirip seperti suara traktor .

"Yaampun, vion!" Bu Leni, tetangga yang tepat ada di samping rumah vion keluar dengan rambut yang diikat ke atas.

Wajah yang sudah berkerut lengkap dengan kedua tangan tertekuk di kedua pinggangnya.

"zaira baru saja aku tidurkan, sekarang jadi bangun lagi lho. Padahal aku ini dari pagi belum sarapan, karna zaira rewel. Matiin itu motor kamu! Lama-lama itu motor rongsokan kubakar juga ya!" kesalnya.

Motor butut vion berhenti di warung Bu ijah. Turun begitu mesin motor mati, vion langsung duduk di kursi yang masih kosong. Menatap Arman yang asik sama ponsel di sebelahnya.

Dia sendiri mengambil rokok sebatang dari saku jaket, lalu menyalakan rokok dan mulai menyesap batang itu dengan santai. Asap rokoknya ditiupkan ke udara, membuat Arman yang masih asik main game sedikit terganggu.

"Eh, vion, lo jadi nembak si Putri?" pertanyaan Arman membuat vion sedikit mengulas senyum.

"Jadi." Jawabnya singkat dengan senyuman tipis. "Udah di terima malah." Lalu terkekeh kecil.

Arman yang sedang minum kopi, hampir saja tersedak. "Wah, serius? Keren, bro! Kapan nembaknya?"

Rian nabok bahu vion dengan sangat antusias. "Waah, dapat Putri nih. Gila emang, cantik, bodynya aduhai gitu ."

Vion cuma tersenyum keren. Astaga, dia itu tampan lho ya. Inget, Vion itu lelaki tertampan di kampungnya, bahkan kalau ada pemilihan cowok tampan se-kecamatan, udah pasti si vion ini akan jadi pemenangnya.

Galih menyesap kopi. "Kita kalah ganteng, bro ."

Vion cuma tersenyum keren, "Haha, gak juga, bro. Kamu juga ganteng kok."

Galih menggelakkan tangan, "Gak bisa bohong, bro. Kamu yang paling tampan di sini."

Arman geleng kepala, padahal dia udah sejak lama naksir Putri. Dan tentu udah ditolak sampai tak terhitung berapa kali penolakan.

Vion mengepulkan asap melalui mulut dan hidung. Merogoh saku jaket, mengambil ponsel yang bahkan layar depannya telah pecah. Tersenyum tipis saat melihat ada chat masuk, dan itu chat dari Putri .

Vion membuka chat, matanya langsung berbinar. "Haha, bro, Putri kirim pesan."

Arman penasaran, "Apa pesan dia?"

Vion cuma tersenyum, "Gak bilang, bro. Rahasia."

Vion Kembali memasukkan ponsel ke saku jaket setelah membalas pesan singkat itu. Beranjak, nyomot roti yang tersedia di warung.

"Buk! Aku ambil rokok sebatang sama roti satu ya. Duitnya minta aja sama ibukku." Setelah berteriak, dia menatap beberapa temannya yang memang selalu nongkrong di warung ini untuk pakai wifi. "Duluan ya." Pamitnya.

"Kemana, vion?" tanya Arman dengan kening berlipat.

"Mau jemput Putri. Hari ini dia pulang pagi, katanya semua guru ada rapat dadakan." vion Menstater motor, melambaikan tangan sebelum meninggalkan warung itu.

Seperti biasa, dia akan selalu ugal-ugalan saat menggunakan kendaraan. Sampai pada akhirnya, laju terpaksa ia lambatkan, suara mesin ngadat yang bisaa dipastikan jika bensinnya telah habis.

"Aasshh, Sial!" ia memukul badan motor dengan wajah penuh kesal. Motornya benar-benar berhenti beberapa detik kemudian.

Terpaksa banget dia harus mendorong motor, dan entah akan sampai mana. Dia aja nggak pegang uang, gimana mau beli bensinnya coba? Masa' ngerampok? Utang? Ah, itu nggak mungkin! Senakalnya dia, setidak tau dirinya dia, dia hanya ngutang di warung buk ijah saja. Itu juga karna udah kenal, kalau belum kenal, dia beneran nggak berani.

Sedikit mengulas senyum saat menemukan ide. Dia mendorong motor menuju tempat kerja bapaknya; ahmad. Mendorong motor lumayan jauh, karna sekarang bapaknya sedang mengikuti proyek pembangunan SD di kelurahan sebelah. Kurang lebih setengah jam, vion menghentikan motor didepan gerbang SD yang masih ada beberapa siswanya .

Vion Tersenyum pada satpam yang berjaga disamping gerbang. "Saya mau cari bapak saya, pak. Dia ikut kerja proyek didalam."

Satpam itu memberi anggukan. "Silakan, mas. Masuk aja."

"Nitip motor ya." Ucapnya, lalu melangkah masuk dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku hoddie.

Vion melihat ke dalam, bapaknya sedang mengawasi beberapa pekerja yang masih sibuk. Dia berteriak, "Pak! Pak ahmad!"

Bapaknya menoleh, "Oh, vion! Ada apa?"

Vion mendekati, "Bensin habis, Pak. Bisa minta duit buat beli bensin?"

Kening tua yang warna kulitnya hitam itu makin berlipat. "Kenapa kamu bisa sampai kesini?"

"Cckk, Namanya juga mau minta uang buat beli bensin, gimana sih?"ujar vion.

pak ahmad mendesah berat sembari merogoh saku celananya yang kusam. Jemarinya yang kasar meraba-raba ke dalam, hingga akhirnya ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang terlipat lusuh.

Dengan tangan gemetar karena kelelahan, ia memisahkan selembar uang berwarna hijau dan mengulurkannya dengan penuh harap kepada anak laki-lakinya.

​"Ambillah ini, vion. Bapak cuma punya segini," ucapnya pelan, mencoba membujuk.

​Namun, vion justru membuang muka dengan tatapan penuh rasa tidak puas.

"Apa-apaan ini? Cuma dua puluh ribu? Mana cukup buat nongkrong sama teman-teman! Kasih yang lima puluh ribu itu, lah, Pak. Masa bapak pelit sekali sama anak sendiri?" tolaknya dengan nada suara yang meninggi dan penuh tuntutan.

​Pak ahmad menggelengkan kepala pelan, mencoba memberi pengertian meski dadanya terasa sesak. "Uang yang lima puluh ini nanti buat beli beras, vion. Tadi pagi ibumu sudah berpesan berkali-kali sama Bapak. Sepulang kerja dari sini, Bapak harus segera beli beras supaya besok pagi kita semua bisa makan. Tolonglah, mengerti sedikit saja," pintanya lagi sambil kembali menyodorkan lembaran dua puluh ribu yang kusam itu.

​Sayangnya, rasa iba seolah telah mati di hati vion. Alih-alih menerima pemberian ayahnya dengan tangan terbuka, ia justru bergerak lebih cepat. Dengan gerakan kasar, ia menyambar paksa lipatan uang yang hendak disimpan kembali oleh pak ahmad ke dalam saku celananya.

Vion langsung berlari setelah merebut uang itu dari tangan pak ahmad menuju motornya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!