"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - Sisi Lain Farhan
Pagi itu tidak ada yang istimewa. Langit cerah, matahari belum terlalu terik. Angin masuk lewat jendela kelas yang terbuka, membawa suara langkah kaki siswa di koridor dan obrolan kecil yang bersahutan. Kelas mulai terisi perlahan. Beberapa siswa masih menguap, sebagian sibuk bercerita tentang hal sepele, sisanya tenggelam di layar ponsel masing-masing.
Giselle sudah duduk di bangkunya. Rambutnya terikat rapi, tas tersandar di kaki meja. Wajahnya terlihat biasa saja—ceria, ringan, tidak menunjukkan apa pun. Libra duduk di sampingnya, mencondongkan badan sedikit, membisikkan sesuatu yang membuat Giselle tertawa pelan.
Tidak ada yang aneh. Setidaknya, begitu kelihatannya.
Bangku depan mereka masih kosong. Beberapa detik kemudian, seseorang masuk ke kelas sambil menjinjing tas di satu bahu.
“Pagi-pagi udah rame aja,” celetuk Farhan begitu melangkah masuk.
"Lo aja yang datengnya kesiangan," balas Libra.
Farhan mendengus. Ia meletakkan tas di bangkunya—bangku yang sejak lama tidak pernah ia tukar. Tepat di depan Giselle. Posisi yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tapi bagi Farhan, punya arti sendiri.
Ia menoleh sekilas ke belakang. Hanya sekilas, tetapi tatapan itu bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Giselle dan Libra masih mengobrol pelan. Jarak mereka dekat. Terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Terlalu akrab untuk sekadar teman baru. Giselle tersenyum, Libra mendengarkan dengan ekspresi yang tidak pernah berubah—tenang, perhatian, seolah dunia di sekitarnya tidak penting.
Tatapan Farhan turun pelan. Ia tersenyum kecil, lalu kembali menghadap ke depan. Tidak ada yang sadar, karena Farhan tetap Farhan seperti biasanya. Yang suka nyeletuk tanpa mikir panjang. Yang gampang nimbrung obrolan orang. Yang terlihat santai, seolah tidak pernah memikirkan apa pun terlalu dalam.
Padahal, ada satu hal yang sudah lama ia simpan sendiri.
Ia suka Giselle.
Bukan baru-baru ini. Bukan karena sering bersama, tetapi sejak mereka berada di kelas yang sama, yaitu kelas X. Sejak pertama kali melihat gadis itu duduk diam di kelas dengan wajah lelah setelah masa orientasi selesai.
Awalnya biasa saja. Lalu sedikit rasa kagum mulai muncul. Disusul rasa penasaran yang datang. Namun sejak awal Farhan sadar—di samping Giselle, selalu ada Libra.
Bukan hanya teman. Bukan hanya sahabat. Mereka terlalu dekat untuk sekadar itu. Dari cara Libra memperlakukan Giselle. Dari cara Giselle bersandar tanpa ragu. Dari kebiasaan kecil yang hanya dimiliki dua orang yang sudah saling mengenal terlalu lama.
Farhan mengerti, meskipun kedua orang itu selalu mengatakan bahwa mereka hanyalah sebatas sahabat, tetapi sebagai pengamat, Farhan jelas menyadari adanya perasaan yang lebih dalam dari sekadar sahabat.
Sejak saat itu, Farhan tahu satu hal, posisinya sudah jelas. Ia tidak pernah benar-benar masuk. Sejak awal, ia cuma berdiri di pinggir. Itulah kenapa Farhan memilih duduk di bangku depan Giselle. Bukan karena kebetulan. Bukan karena malas pindah, tetapi karena meski tidak bisa duduk di sampingnya, setidaknya ia masih dekat. Masih bisa mendengar suaranya. Masih bisa menoleh sedikit untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.
Itu cukup. Setidaknya untuk sementara.
Masalahnya, perasaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Semakin hari, bukannya memudar, malah semakin dalam. Dan Farhan sadar—kalau dibiarkan, ia hanya akan semakin terjebak di posisi yang sama.
Itulah kenapa ia mulai bertanya. Bukan sekadar iseng. Bukan sok penasaran, tetapi karena ia butuh kejelasan.
Ia bertanya pada Libra. Bagaimana kalau Giselle punya pacar? Ia bertanya pada Giselle. Bagaimana kalau Libra punya cewek?
Bukan untuk memancing drama, tetapi untuk memastikan satu hal yang paling ia takuti. Dan jawabannya… datang tanpa harus diucapkan. Keraguan di suara mereka. Diam yang terlalu lama. Reaksi yang tidak sesantai kata-katanya. Semua itu cukup.
Kalau saja Giselle benar-benar tidak punya perasaan pada Libra, Farhan tahu apa yang akan ia lakukan. Ia akan berjuang. Pelan-pelan, dengan caranya sendiri. Tidak memaksa. Tidak merebut. Tapi kenyataannya berbeda.
Ada perasaan di sana. Mungkin belum disadari sepenuhnya. Mungkin belum diakui. Tapi cukup nyata untuk membuat Farhan berhenti melangkah. Karena ia tidak mau menjadi orang yang masuk di tengah-tengah sesuatu yang sudah punya bentuk.
Hari itu, di rooftop, Farhan sempat berdiri cukup lama. Tidak berniat menguping. Tidak ingin ikut campur. Ia hanya ingin memastikan. Dan ketika ia melihat Libra memeluk Giselle yang menangis, dadanya terasa sesak dengan cara yang aneh.
Bukan marah. Bukan iri. Lebih ke perasaan kalah sebelum benar-benar bertanding.
Farhan tersenyum kecil. “Pantes aja,” gumamnya pelan.
Ia tahu, di cerita ini, dirinya bukan tokoh utama. Bukan juga orang yang dipilih. Ia hanya pengamat. Yang datang, melihat, memahami, lalu mundur dengan tenang. Tanpa pengakuan. Tanpa ada yang tahu. Tanpa meninggalkan jejak apa pun. Dan Farhan tidak keberatan. Karena kadang, mencintai tidak selalu tentang memiliki. Kadang, cukup dengan mengerti, lalu pergi.
...***...
20 Januari 2026