NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Di dalam ruangan mension itu, hanya ada dua lelaki yang duduk saling berhadapan...Gibran dan Rangga...dengan peta rencana terbentang di atas meja kaca.

Gibran berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Rangga. Bayangannya terpantul samar di kaca, sama seperti identitasnya saat ini...ada, tapi dianggap tak nyata oleh dunia.

Semua orang telah menguburnya, mengirim doa, bahkan menutup lembaran hidupnya dengan keyakinan penuh bahwa ia telah mati.

“Hari pengesahan,” ucap Gibran pelan, nyaris seperti gumaman untuk dirinya sendiri. “Hari itu yang paling aman sekaligus paling berbahaya.”

Rangga menyilangkan tangan di dada. Wajahnya serius, matanya tajam membaca setiap kemungkinan buruk yang bisa terjadi.“Semua orang penting akan ada di sana. Arya, para petinggi, media… dan orang-orang yang selama ini yakin jasad di sungai itu adalah kau.”

Gibran berbalik, menatap Rangga dengan senyum tipis yang tak menyentuh matanya.“Justru itu alasannya. Mereka tidak akan siap.”

Rangga menarik kursi dan duduk lebih tegak.“Kamu yakin dengan keputusan ini, Bran? Sekali kau muncul, tidak ada jalan kembali. Dunia akan tahu bahwa mereka telah dibohongi.”

“Bukan dibohongi,” potong Gibran, suaranya dingin. “Mereka terlalu cepat percaya.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seolah menghitung mundur menuju hari besar itu.

“Bagaimana dengan Arya?” tanya Rangga akhirnya. “Dia paling keras menyuarakan belasungkawa. Dia juga yang paling vokal menutup kasus ini.”

Sorot mata Gibran mengeras.“Arya harus melihatnya dengan mata kepala sendiri,” katanya mantap. “Dia harus tahu, aku berdiri tepat di hadapannya. Hidup. Bernapas. Dan tidak lagi bisa disingkirkan begitu saja.”

Rangga menghela napas panjang.

“Rencananya tetap sama. Kau masuk setelah pengesahan selesai. Saat semua orang merasa aman, saat tepuk tangan sudah menggema.”

Gibran mengangguk pelan.

“Aku akan muncul di lorong utama. Tidak bersembunyi. Tidak memakai nama lain.”

“Media akan heboh,” lanjut Rangga. “Kekacauan tak bisa dihindari.”

“Biarkan,” jawab Gibran singkat. “Kekacauan itu harga yang harus dibayar.”

Rangga menatap sahabatnya lama, lalu tersenyum tipis, penuh kekhawatiran sekaligus kepercayaan.“Kau tahu, sejak hari jasad itu ditemukan, aku menunggu momen ini.”

Gibran tersenyum kecil, kali ini lebih tulus.“Terima kasih sudah berdiri di sisiku, bahkan saat dunia menganggap aku sudah tidak ada.”

Rangga bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Gibran.“Kita tidak sedang membangkitkan orang mati,” katanya pelan. “Kita hanya mengembalikan kebenaran.”

Gibran menatap garis-garis benang merah di papan kaca itu untuk terakhir kalinya malam itu, karna besok lusa ia akan melancarkan aksinya. Di sana, satu tanggal dilingkari tebal dengan spidol hitam...hari pengesahan. Hari di mana Arya akan berdiri di hadapan para pemegang saham, mengklaim kemenangan, dan mengukuhkan kekuasaannya tanpa bayang-bayang sang adik.

“Biarkan dia merasa menang,” ucap Gibran pelan, namun penuh keyakinan. “Kemenangan semu selalu membuat orang lengah.”

Rangga tersenyum tipis. “Dan saat itu tiba…?”

“Aku akan datang,” potong Gibran. “Bukan sebagai bayangan. Bukan sebagai rumor. Tapi sebagai Gibran Pradikta...hidup, utuh, dan tak terbantahkan.”

Gibran dan Rangga sudah lebih dari siap untuk menghadapi Arya. Mereka yakin, rencana kali ini tidak akan gagal. Kejutan yang telah mereka rencanakan, sudah pasti membuat semua orang terkejut dan tidak percaya. Semua hal dan resiko sudah di pikirkan secara matang, jadi... sudah pasti aksi mereka berdua tidak akan gagal. Gibran maupun Gibran sudah yakin, bahwa keberhasilan sedang menunggu mereka.

********

Ruang kerja Arya malam itu terasa lebih terang dari biasanya. Bukan karena lampu kristal di langit-langit, melainkan karena senyum yang tak lepas dari wajah lelaki paruh baya itu. Berkas-berkas pengesahan perusahaan Pradikta tersusun rapi di atas meja kerjanya...dokumen yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia pandangi dari kejauhan, kini berada tepat dalam genggamannya.

Arya berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap kota dengan perasaan menang. Di belakangnya, Zane masuk dengan langkah ringan, membawa dua cangkir kopi hangat.

“Papa masih belum tidur?” tanya Zane sambil meletakkan salah satu cangkir di meja.

Arya tersenyum lebar.“Bagaimana mungkin Papa bisa tidur malam ini?” katanya bangga. “besok lusa… semuanya resmi.”

Zane ikut tersenyum, matanya berbinar.

“Hari pengesahan itu, ya? Nenek benar-benar menyerahkan semuanya."

Arya tertawa kecil, penuh kepuasan.

“Perusahaan Pradikta. Seluruhnya.” Ia menepuk map cokelat di meja. “Impianku sejak dulu. Dan lihat sekarang...perusahaan ini jatuh ke tanganku tanpa hambatan berarti.”

Zane duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan santai.

“Tanpa Gibran,” ucapnya pelan, seolah memastikan.

Wajah Arya berubah semakin puas.

“Ya. Tanpa dia,” katanya mantap. “Anak itu adalah satu-satunya penghalang. Selama dia ada, Pradikta tak akan pernah sepenuhnya bisa aku kuasai.”

Zane mengangguk.“Semua orang sudah percaya dia mati. Bahkan kasusnya sudah ditutup.”

Arya berbalik dari jendela, menatap putranya dengan sorot mata penuh kebanggaan.“Itulah mengapa aku bilang, waktu selalu berpihak pada orang yang sabar dan tahu kapan harus bergerak.”

Zane tersenyum lebar.“Papa memang pantas mendapatkannya.”

Arya melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kerjanya.“Dan sekarang, aku punya sesuatu untukmu.”

Zane mengernyit penasaran.“Apa itu, Pa?”

Arya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.“Setelah pengesahan besok lusa, aku ingin kau memimpin perusahaan Pradikta cabang satu.”

Mata Zane membesar, terkejut sekaligus antusias.“Aku?”

“Kau,” jawab Arya tegas. “Sudah waktunya kau belajar memegang kendali. Pradikta akan jadi kerajaan keluarga kita.”

Zane berdiri, wajahnya tak mampu menyembunyikan kegembiraan.

“Terima kasih, Pa. Aku tidak akan mengecewakan.”

Arya bangkit dan menepuk bahu putranya dengan bangga.“Kita menang, Zane. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi.”

"Tidak ada celah lagi," katanya mantap. "Semua sudah di kunci, dewan direksi berpihak padamu."

Arya terkekeh rendah. "Tidak ada lagi yang bisa menghalangi,"lanjutnya, suaranya penuh keyakinan. " Nama Pradikta sebentar lagi berada di bawah kendaliku."

"Besok lusa, "kata Zane menegaskan. "Kau akan resmi menjadi pemilik perusahaan Pradikta, Pa."

Arya tersenyum miring. Sorot matanya dingin, namun menyala oleh ambisi.

"Gibran audah di anggap mati. Tidak ada pewaris lain. Tidak ada bayangan masalalu yang tersisa," ujarnya lirih, seolah meyakinkan diri sendiri.

Zane mengangguk pelan. "Semua orang percaya pada cerita itu."

Arya tersenyum kembali. Senyum yang tajam dan berbahaya. "Bagus," katanya. "Karena kemenangan sejati adalah ketika semua orang yakin permainan telah berakhir, padahal kita baru saja menutup bab untuk membuka bab yang lebih besar."

Mereka tertawa kecil, puas, seolah dunia telah tunduk di bawah kaki mereka. Tak ada sedikit pun keraguan di benak keduanya. Tak ada bayangan ancaman, tak ada firasat buruk.

Padahal, di balik malam yang terasa sempurna itu, sebuah rencana sedang bergerak pelan...menunggu hari pengesahan tiba. Sebuah kejutan yang akan menghancurkan keyakinan mereka, dan membuktikan bahwa penghalang bernama Gibran belum benar-benar pergi.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!