NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kemarahan Pelukis

Hujan gerimis mulai turun menyapu atap-atap kayu kediaman Yue di Puncak Terasing. Di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lentera tembaga, Xiaolian duduk mematung. Jari-jarinya meremas pinggiran cangkir teh yang sudah mendingin. Di hadapannya, Yue Chuntao memperhatikan dengan tenang, meski napasnya sendiri masih terdengar berat.

"Tenang saja, Xiaolian, kakakmu pasti akan kembali," lirih Yue, mencoba mengisi kesunyian yang mencekam.

Xiaolian menggeleng pelan. "Ada yang salah, Nona Yue. Aku merasakannya. Dada ini terasa sesak, seolah-olah Kakak sedang berada di tempat di mana udara pun enggan untuk masuk."

Yue Chuntao menggeser posisi duduknya, menahan nyeri di meridiannya. Ia mengulurkan tangan yang pucat, menangkup tangan Xiaolian yang gemetar. "Guiren bukan pria yang mudah dihancurkan. Sekte ini penuh dengan serigala, tapi kakakmu adalah seseorang yang mampu melukis malamnya sendiri. Dia tidak akan membiarkanmu sendirian di sini."

Xiaolian menatap mata Yue, mencari kepastian di sana. Di antara kelemahan fisik Yue dan kegelisahan Xiaolian, tumbuh sebuah ikatan persaudaraan dua jiwa yang sama-sama menggantungkan hidup pada seorang pelukis yang sedang bertaruh nyawa di kegelapan.

Jauh di bawah, di ceruk terdalam Lembah Roh, keheningan gua itu baru saja pecah oleh suara desis yang mengerikan.

Guiren berdiri tegak di tengah kegelapan mutlak. Di sekelilingnya, kaki-kaki berbulu laba-laba raksasa mengetuk lantai batu dengan irama lapar. Namun, yang lebih mengerikan daripada pemangsa itu adalah atmosfer yang dipancarkan oleh pria yang seharusnya menjadi mangsa.

Kemarahan Guiren tidak meledak seperti api. Ia membeku, mengkristal menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam. Pengkhianatan Lu Zhen dan timnya bukan sekadar upaya pembunuhan, itu adalah upaya untuk memisahkan dirinya dari Xiaolian. Baginya, itu adalah dosa yang tidak terampunkan.

Satu per satu, laba-laba bayangan itu melompat dari langit-langit. Guiren tidak menghindar. Tangannya menyambar tubuh laba-laba pertama yang menerjang, mematahkan capitnya dengan gerakan kasar, lalu membiarkan cairan tubuh binatang itu yang berbentuk darah berwarna ungu pekat membasahi jemarinya.

Ia tidak mengambil kuas. Ia mencelupkan jemarinya langsung ke dalam darah itu dan menggoreskan garis vertikal di udara.

Domain Kematian.

Begitu karakter itu terbentuk, suhu di dalam ceruk anjlok drastis. Tinta darah di udara menyebar, membentuk kabut hitam yang tidak memantulkan cahaya. Ruang di sekeliling Guiren mulai berdenyut, menyerap setiap sisa kehidupan yang ada.

Ini bukan teknik yang indah. Ini adalah pemandangan yang mencekam.

Laba-laba yang terjebak di dalam jangkauan "lukisan" udara itu mendadak berhenti bergerak. Kaki-kaki mereka bergetar. Bulu-bulu di tubuh mereka rontok seketika, mengering seperti tanaman yang mati dalam semalam. Mereka mencoba melarikan diri, namun ruang di sekitar mereka seolah membeku, menarik paksa esensi vitalitas dari tubuh mereka untuk memberi makan niat destruktif Guiren.

Guiren melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki hitam yang berasap. Wajahnya pucat pasi, namun bibirnya terkatup rapat dalam garis dingin. Dengan satu ayunan tangan, ia menarik garis horizontal lainnya.

Srett.

Tiga binatang roh yang berada di depannya hancur perlahan. Kulit mereka terkelupas, organ mereka mencair di bawah tekanan aura kematian yang menyesakkan. Tidak ada suara pekikan, hanya suara daging yang meluruh di atas batu. Guiren membantai mereka bukan karena butuh, tapi karena ia membiarkan sisi gelap dari jiwanya mengambil alih kemudi.

Kelelahan mulai menghantamnya. Penggunaan teknik yang lahir dari emosi mentah ini mulai menggerogoti dinding meridiannya sendiri. Ia merasakan harga yang harus dibayar seolah-olah ada tangan dingin yang meremas jantungnya dari dalam. Namun, ia tidak berhenti hingga laba-laba terakhir di dalam ceruk itu menjadi tumpukan debu kelabu yang tak bernyawa.

Guiren terengah-engah. Ia bersandar pada dinding gua yang kini terasa sedingin es akibat pengaruh tekniknya. Darah binatang roh masih menetes dari ujung jari-jarinya.

Ia selamat, namun kemenangan ini terasa pahit dan kotor. Di dalam batinnya, ia merasakan retakan kecil pada fondasi kultivasinya. Harga dari sebuah kemarahan yang tidak terkendali mulai menagih utang pada jiwanya.

Di kejauhan, di luar reruntuhan batu yang menutup jalan keluar, terdengar suara sayup-sayup langkah kaki manusia yang menjauh dengan terburu-buru. Lu Zhen dan timnya pasti sedang menuju sekte untuk melaporkan kematian "Si Pelukis Buta".

Guiren menyeka darah di tangannya ke jubahnya yang sudah koyak. Ia menegakkan punggung, menahan perih yang membakar meridiannya. Ia akan kembali ke atas nanti, bukan sebagai korban, melainkan sebagai hantu yang menuntut pembalasan.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!