NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Besar

Suasana di ruang makan yang masih dipenuhi gema pertengkaran—suara Roland yang santai namun menusuk, dan Calona yang dingin serta penuh bisa—perlahan tertelan jarak ketika Calix melangkah menjauh. Pintu kayu mahoni tebal itu tertutup di belakangnya dengan bunyi duk berat, seolah memisahkan dua dunia.

Cloudet.

Makhluk kecil itu sejak tadi berusaha mengikuti percakapan orang-orang dewasa dengan mata kuningnya yang bergerak ke sana kemari. Namun sekarang, tubuhnya menyerah. Kepalanya terkulai di pelukan Calix, napasnya mulai tidak teratur, pendek-pendek. Telinga hellhound-nya—hitam jatuh lemas ke samping. Aura kecil yang biasanya berkilau pucat kini redup, hampir tak terasa.

“Ck… habis total,” gumam Calix pelan.

Ia tahu tanda-tanda itu. Hellhound kecil seperti Cloudet kelelahan secara fisik seperti manusia, Dan Calix—meski enggan mengaku dia tidak berniat membiarkan itu terjadi.

Langkahnya otomatis membawa mereka ke sayap belakang mansion, bagian mansion tempat para pelayan tinggal. Lorong-lorong di bagian ini lebih sunyi, lampu kristal redup memantulkan cahaya kekuningan di ruang terbuka.

Ia membuka pintu kamarnya.

Tempat singgel bed berseprai putih, tampak kontras dengan tubuh kecil Cloudet yang pucat.

Calix merebahkan diri di atas ranjang, masih memeluk Cloudet yang menempel di dadanya seperti anak kucing. Tangannya refleks melingkar protektif, meski wajahnya menunjukkan kebingungan nyata.

Dan di sinilah masalahnya dimulai.

Calix tidak pernah bahkan dalam mimpi terliarnya, dipersiapkan untuk merawat anak.

Baginya, membuat seseorang “tertidur” biasanya berarti menjatuhkan musuh dengan satu pukulan telak, atau membiarkan luka bekerja perlahan menjadi kematian. Kelembutan? Insting keibuan? Itu bukan keahliannya sama sekali.

Calix mendecak pelan, menunduk menatap Cloudet.

“Ayo… tidur,” gumamnya, berusaha lembut meski suaranya tetap serak.

“Kau sudah seperti zombi kecil kehabisan tenaga.”

Tidak ada reaksi.

Ia menghela napas, lalu mencoba mengingat apa yang pernah ia lihat. Para manusia. Irina. atau para ibu manusia atau makhluk astral sesekali.

“Oh.” Calix mengangguk kecil, seolah baru menemukan solusi jenius.

“Digendong dan diayun, kan.”

Ia mendudukkan Cloudet di pangkuannya, menopang punggung kecil itu dengan satu tangan. Lalu ia mulai mengayun.

Masalahnya: ayunan versi Calix sama sekali tidak manusiawi.

Gerakannya kaku, ritmenya tidak konsisten—kadang terlalu cepat, kadang berhenti mendadak. Otot punggungnya tegang, bahunya tegak, dan setiap gerakan terasa seperti persiapan menyerang musuh.

Cloudet yang tadinya hampir terlelap justru membuka mata lebar-lebar.

Ia menatap Calix dengan ekspresi bingung tulus.

Perasaannya sekarang bukan “aman” atau “tenang”. Lebih seperti berada di atas kapal kecil yang dihantam badai laut.

“…?” suara kecil keluar dari tenggorokannya.

Calix menyipitkan mata.

“Kenapa kau masih terjaga?”

Ia mendecak kesal, lalu beralih ke metode berikutnya yang pernah ia lihat: menepuk-nepuk dada agar anak-anak merasa aman.

“Ah. Ini.”

Tanpa memperhitungkan kekuatannya sendiri, tangan besar Calix mulai bergerak.

Plak.

Plak.

Plak.

Tepukannya terlalu cepat. Terlalu keras.

Setiap hentakan membuat tubuh Cloudet sedikit terpental ke belakang, napasnya tersengal. Bukannya terbuai, ia justru merasa seperti sedang dijadikan genderang perang.

Cloudet mengerutkan alis. Wajah polosnya menampilkan kebingungan yang perlahan berubah menjadi ketidaksenangan. Rasa kantuknya buyar, digantikan rasa tidak nyaman yang asing. Ia menggeliat, mengeluarkan rengekan kecil bernada tinggi—protes instingtual seorang anak yang merasa diperlakukan tidak adil.

“Hngh…”

“Diamlah, Cloudet,” desis Calix, mulai kehilangan kesabaran.

“Aku sedang berusaha membuatmu tertidur!”

Senyum muncul di wajah Calix—senyum tipis, tegang, dan berbahaya. Senyum seseorang yang sedang menahan diri agar tidak meledak.

Cloudet, tentu saja, tidak mengerti bahasa “ancaman halus” itu.

Dalam pemberontakan kecilnya, ia mulai menendang-nendangkan kaki pendeknya ke segala arah. Tumit mungil itu bergerak liar, tanpa arah, tanpa niat—hanya keinginan kuat untuk melepaskan diri.

Dan di tengah kekacauan itu…

Bugh!

Satu tendangan sempurna.

Tepat sasaran.

Waktu seolah berhenti.

Seluruh tubuh Calix menegang. Udara di paru-parunya terhempas keluar begitu saja. Matanya membelalak, lalu kehilangan fokus. Wajahnya yang semula merah karena frustrasi memucat, lalu berubah menjadi ungu keabu-abuan.

Ia melepaskan Cloudet dan jatuh terduduk di tepi ranjang dengan bunyi berat. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya mencengkeram bagian paling sensitif yang baru saja menerima serangan maut dari seorang anak bertubuh tujuh tahun.

“Khhh—!”

Suaranya pecah, naik beberapa oktaf, nyaris melengking.

“K-kau… keparat kecil—”

Cloudet, yang kini bebas, duduk di tengah ranjang sambil mengucek matanya. Ekspresinya benar-benar tanpa dosa. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membuat masalah besar.

Ia menatap Calix dengan kepala sedikit miring.

“…Calix?”

Beberapa detik berlalu. Sangat lama.

Calix akhirnya mengangkat kepala. Rambut hitamnya acak-acakan, napasnya masih berat. Mata kuningnya menyala terang, aura hitam berdesir liar memenuhi ruangan, membuat cloudet membelalak dengan mata besarnya.

Namun di wajahnya… ada senyum.

Senyum lebar. Terlalu lebar. Terlalu tenang.

Senyum malaikat maut.

“Oh…” bisiknya rendah, suaranya dingin namun bergetar.

“Begitu caramu berterima kasih, ya?”

Ia berdiri perlahan, aura hitam mengental di sekeliling tubuhnya.

“Kau benar-benar…”

“…minta dimandikan air es tengah malam ini, bocah.”

Cloudet membeku.

Insting hellhound nya menjerit keras. Seluruh bulu halus di tubuhnya berdiri. Rasa kantuk lenyap sepenuhnya, digantikan kesadaran penuh bahwa ia mungkin, hanya mungkin baru saja memicu kiamat kecil di dalam kamar kakaknya sendiri.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Diem Lu Move On Ege!
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!