cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13 – HARGA KEMENANGAN
Mereka tidak langsung pergi.
Tubuh-tubuh yang masih bernapas membutuhkan waktu untuk kembali menjadi tubuh. Butuh istirahat untuk melanjutkan langkah. Luka tidak serta-merta terasa sakit; justru datang belakangan, ketika adrenalin surut dan pikiran mulai sadar bahwa semuanya benar-benar terjadi.
Api dinyalakan kecil. Cukup untuk menghangatkan dan memberi ruang pandang untuk bergerak.
Raka duduk memeluk lutut. Tangannya kotor oleh tanah dan bercak darah yang entah milik siapa. Ia tidak ingat kapan darah itu menempel. Ia hanya ingat bunyi—bunyi tulang, bunyi napas patah, bunyi sesuatu yang jatuh dan tidak bangun lagi.
Di dekat api, seorang lelaki terbaring. Bahunya dibalut kain kasar yang sudah berubah warna. Darah merembes pelan, seperti tidak ingin berhenti.
“Hey kang, jangan keburu tidur, jaga-jaga bila ada yang lewat” kata perempuan yang kemarin melempar batu. Suaranya datar, tapi matanya merah.
“Kalau ketiduran, berarti kau pergi.”
Lelaki itu tersenyum tipis. “ya, kalau pergi… ya, titipkan sandal saya Yu. Masih baru ini”
Tidak ada yang tertawa.
Nenek tua berjongkok di sisi lain. Ia membuka ikatan kainnya lagi, lebih lambat dari biasanya. Tangannya masih mantap, tapi napasnya terdengar lebih berat. Ia menempelkan ramuan ke luka lelaki itu, menekan pelan.
“Pelan-pelan, ini terasa panas dan sakit” kata si lelaki dengan sedikit mengeluh sakit.
“Kalau ndak terasa, berarti bongko awakmu, tahan masak laki-laki cengeng” jawab nenek itu.
Raka memalingkan wajah. Ia merasa mual. Bau darah bercampur tanah dan ramuan pahit menusuk hidungnya. Ia teringat halaman istana—bersih, wangi kemenyan—dan mendadak dunia itu terasa seperti mimpi yang sudah lama berakhir.
Di sudut lain, tubuh yang tidak bergerak ditutupi kain. Tidak ada doa keras. Hanya seorang lelaki tua yang duduk di sampingnya, berbisik entah apa.
Raka tahu: seseorang telah mati.
Ia ingin bertanya siapa. Tapi lidahnya kelu.
Malam turun lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin waktu saja yang terasa aneh.
Api mengecil. Obrolan tidak ada. Orang-orang duduk berjauhan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Malam semakin sepi dengan terdengar suara-suara yang teratur dan sedikit dengkuran.
Raka mendengar isakan tertahan. Bukan tangis keras—lebih seperti napas yang patah-patah, ditelan sendiri. Ia tidak tahu siapa yang menangis. Ia hanya tahu suara itu membuat dadanya sesak.
Ia memejamkan mata.
Tapi bayangan kembali.
Tongkat menghantam tulang dengan keras, presisi dan efisen. Pisau terlepas. Mata dingin nenek tua. Tubuh jatuh.
“Aku tidak mau, ayah ibu apa yang harus aku lakukan....” bisiknya tanpa suara.
Namun tubuhnya tetap di sana.
Pagi datang tanpa upacara.
Kabut masih menggantung, menutupi jejak darah di tanah. Tapi bau itu belum hilang. Bau besi dan tanah basah masih terasa.
Lelaki yang terluka semalam tidak bangun.
Perempuan itu memeriksa napasnya, lalu berhenti. Tangannya jatuh lemas. Ia tidak berteriak. Ia hanya menutup wajahnya dengan kain, lalu duduk bersila, punggungnya membungkuk.
Nenek tua berdiri agak jauh. Ia menancapkan tongkatnya ke tanah, menunduk sebentar. Tidak lama.
“Kalau kita terlalu lama di sini,” katanya akhirnya, “yang hidup bisa ikut mati.”
Tidak ada yang membantah.
Mereka menggali lubang kecil. Tanahnya keras, berbatu. Butuh waktu. Raka diminta menjauh, tapi ia tetap melihat dari balik punggung orang dewasa.
Tubuh itu dimasukkan perlahan. Tidak ada peti. Tidak ada tanda. Hanya tanah dan doa yang tidak diucapkan keras.
Saat lubang ditutup, Raka merasa ada sesuatu di dadanya yang ikut terkubur.
Mereka berjalan lagi.
Langkah lebih lambat. Jumlah lebih sedikit.
Raka menghitung diam-diam. Ada yang tidak ada. Ada yang kosong.
Di tengah perjalanan, Raka melihat tangannya sendiri gemetar. Ia menggenggamnya, mencoba menenangkan. Tapi gemetar itu tidak berhenti.
Nenek tua berjalan di depan. Punggungnya terlihat lebih kecil hari ini. Tongkatnya menancap lebih sering, seolah tanah juga sedang diuji.
Raka memberanikan diri mendekat. “Mbok…”
Nenek itu berhenti, tapi tidak menoleh.
“Orang-orang yang mati…” Raka menelan ludah. “Apa… apa mereka tahu akan begini?”
Nenek itu diam lama sekali. Angin menggerakkan daun kering di tanah.
“Mereka tahu,” jawabnya akhirnya. “Tapi tidak semua kematian bisa dipilih.”
“Kenapa tetap jalan?” suara Raka bergetar. “Kalau tahu bisa mati…”
Nenek itu menoleh. Matanya tidak marah. Tidak lembut. Hanya lelah.
“Karena berhenti juga bisa mati,” katanya. “Bedanya, mati sambil menunggu lebih menyakitkan.”
Raka tidak tahu harus menjawab apa.
Siang itu, seorang lelaki lain jatuh pingsan. Bukan karena luka, tapi karena kelelahan dan kehilangan darah. Mereka berhenti lagi. Air disiramkan ke wajahnya. Ia siuman, tapi matanya kosong.
“Aku tidak lihat apa-apa,” katanya berulang-ulang. “Aku tidak lihat apa-apa.”
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menenangkan.
Raka mulai mengerti: semua orang di sini membawa hantu masing-masing.
Sore menjelang, hujan turun tipis. Tanah menjadi licin. Jejak kaki bercampur lumpur.
Raka terpeleset. Lututnya terbentur batu. Rasa sakit menyengat, tajam, nyata. Ia meringis, air mata keluar tanpa izin.
Nenek tua ada di sana lagi, entah dari mana. Ia membantu Raka berdiri, memeriksa luka.
“Luka kecil,” katanya. “Tapi ingat rasanya.”
“Kenapa?” tanya Raka, suaranya serak.
“Supaya kau tahu kau masih hidup,” jawabnya.
Malam itu, mereka berhenti lebih awal. Tidak ada api besar. Hanya bara kecil, cukup untuk melihat wajah.
Raka duduk sendiri, agak menjauh. Ia tidak lagi ingin dekat. Setiap orang kini terasa seperti pisau tersembunyi—bisa melindungi, bisa melukai.
Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba tidur.
Tapi ketika mata terpejam, yang datang bukan mimpi—melainkan bayangan yang sama, berulang, tanpa ampun.
Ia sadar sesuatu: ketakutannya bukan hanya pada musuh di luar.
Ia mulai takut pada orang-orang yang menyelamatkannya. Ia tidak mengetahui sama sekali siapa saja orang disekelilingnya semua terasa asing.
Dan itu, bagi seorang anak, adalah luka yang lebih dalam dari darah.