Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
23
Malam sebelum keberangkatan ke kota, waktu terasa lebih panjang dari biasanya. Suara jangkrik di luar rumah terdengar seperti detak jam raksasa yang menghitung mundur keberanian mereka. Di dapur yang temaram, Anjeli sedang menata jahe merah pilihan ke dalam sebuah kantong kain blacu. Jahe-jahe itu sudah dibersihkan dari tanah, menyisakan kulit merah yang mengkilap dan aroma yang menenangkan.
"Anjeli..." suara Ayah memanggil dari ruang tengah.
Anjeli menyeka tangannya yang lembap dan melangkah keluar. Ia melihat Ayah duduk di kursi kayu, menatap kemeja batik satu-satunya yang sudah disetrika rapi dan digantung di pintu kamar. Di wajah Pak Burhan, ada guratan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Iya, Ayah? Ada apa ayah?"
Pak Burhan menoleh ke arah Anjeli, matanya terlihat sedikit lelah namun dalam. "Ayah hanya berpikir... sudah hampir dua tahun lebih Ayah tidak menginjakkan kaki di kota. Terakhir kali kita ke sana, Ayah pulang dengan kursi roda dan hati yang hancur karena kepergian ibumu bersama pria lain, Nak. Besok, Ayah kembali ke sana untuk menghadapi orang yang sama. Rasanya, jantung Ayah tidak tenang."
Anjeli duduk di lantai, tepat di depan lutut Ayahnya. Ia memegang kedua tangan Pak Burhan yang kini sudah mulai berisi, tidak lagi sekadar tulang berbalut kulit. "Ayah, dulu kita ke kota dalam keadaan kalah. Tapi besok, kita datang sebagai pemenang. Ayah sudah bisa jalan sekrang, kebun kita juga sudah menghasilkan, dan kita punya Mas Gani serta Pak Hendra yang siap mendukung kita. Ayah tidak sendirian."
Pak Burhan menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme napasnya. "Bukan soal menang atau kalah yang Ayah takutkan, Sayang. Ayah hanya takut kalau melihat wajah Ibumu nanti, Ayah akan kembali merasa lemah. Ayah takut amarah Ayah meluap di depan hakim dan itu justru merugikan kita."
Anjeli meremas tangan Ayahnya, memberikan kekuatan. "Ingatlah wajah Aris, Yah. Disaat Ayah merasa marah, bayangkan wajah Aris yang sedang tertawa di kebun, di rumah ini, In Syaa Allah, Yah. Itu akan membuat Ayah tenang."
Tiba-tiba, Aris muncul dari balik tirai kamar, mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia memeluk guling kecilnya dan mendekat ke arah mereka berdua.
"Kenapa belum tidur, dek?" tanya Anjeli lembut.
Aris naik ke pangkuan Pak Burhan, membuat sang Ayah sedikit meringis namun tetap mendekapnya erat. "Aris takut kalau bangun besok, Ayah dan Kak Anjeli sudah pergi. Aris mau ikut ke kota saja. Aris nggk mau ditinggal kak, Yah.”
"Sayang, dengarin Kakak," Anjeli membelai pipi adiknya. "Kota itu bising dan membosankan. Aris di sini saja ya sama Mak Odah? Mak Odah sudah janji mau buatkan donat gula buat Aris. Lagipula, kalau Aris ikut, siapa yang akan menyiram tanaman jahe, buncis, selada dan mawar kita, hmm? Tanaman itu bisa sedih kalau tidak ada Aris."
Aris menunduk, bibirnya sedikit mengerucut. "Tapi, kalau Ibu paksa Aris ikut ke kota bagaimana? Aris takut orang-orang di mobil hitam itu datang lagi."
Pak Burhan memegang dagu Aris, mengangkatnya agar mata mereka bertemu. "Dengarkan Ayah, Jagoan. Ayah pergi ke kota justru untuk memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengambil Aris tanpa izin Aris. Ayah akan jadi benteng buat Aris. Percaya sama Ayah, ya?"
Aris menatap mata Ayahnya cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Percaya, Ayah. Ayah kan sekarang sudah kuat jalannya."
Malam itu, mereka bertiga tidur di ruang tengah di atas tikar pandan yang digelar, saling berdekatan. Anjeli merasa detak jantung keluarganya adalah irama paling indah yang harus ia jaga, apa pun taruhannya di pengadilan besok.
\~\~\~\~
Fajar baru saja menyingsing saat Anjeli sudah siap dengan kebaya sederhana berwarna cokelat tanah dan kain jarik yang rapi. Ayah sudah berdiri di depan cermin, merapikan kerah batinya berkali-kali. Tangannya masih sedikit gemetar saat mengancingkan bagian paling atas.
"Sini yah, Anjeli bantuin, Ayah," ucap Anjeli. Jemarinya yang tangkas menyelesaikan kancing itu. "Udah selesai, Ayahku gagah sekali. Seperti Pak Mandor waktu dulu."
Pak Burhan tersenyum getir. "Hanya luarnya saja, Nak. Di dalam sini, Ayah masih merasa seperti tanah kering yang mudah pecah."menunjuk dada kirinya.
Mereka berangkat menuju jalan raya untuk menunggu bus antar kota. Aris sudah dititipkan di rumah Mak Odah yang berada tepat di samping jalan desa. Mak Odah keluar dengan celemeknya, memegang bahu Aris.
"Jangan khawatir, Burhan, Njel. Bocah ini aman sama Mak. Kalau ada mobil hitam itu macem-macem lewat sini, Mak siram pakai air cucian ikan!" seru Mak Odah berusaha menghibur dengan banyolannya yang khas.
“Hahaha…Emak bisa aja.” Anjeli tertawa kecil, namun matanya tetap menatap Aris sampai bus datang. Saat kaki Pak Burhan menginjak tangga bus, ia berhenti sejenak, memegang besi pegangan dengan kuat, lalu mengangkat tubuhnya. Langkah itu terlihat berat, namun ia berhasil masuk tanpa bantuan orang lain. Anjeli mengikuti dari belakang, merasakan tatapan beberapa warga desa yang lewat di pinggir jalan.
Dua jam perjalanan dihabiskan dengan keheningan. Pak Burhan lebih banyak menatap keluar jendela, sementara Anjeli terus meraba kantong kain berisi jahe merah di pangkuannya. Ia berniat memberikan jahe itu kepada Pak Hendra yang berjanji akan menjemput mereka di terminal.
Sesampainya di gedung Pengadilan Agama yang megah dan kaku dengan pilar-pilar putihnya, langkah Pak Burhan sempat terhenti di depan gerbang.
"Njel, kaki Ayah mendadak rasanya dingin," bisik Pak Burhan.
"Tarik napas, Ayah. Bissmillah, Injak tanah ini dengan mantap. Tanah kota ini tidak ada bedanya dengan tanah kebun kita," Anjeli menguatkan.
Di depan pintu masuk, mereka sudah ditunggu oleh Pak Hendra dan seorang pria berkacamata dengan tas kerja hitam. "Anjeli! Pak Burhan! Kenalkan, ini Pak Surya. Dia pengacara yang saya ceritakan. Dia sangat ahli dalam kasus keluarga dan dia sudah membaca artikel Mas Gani tentang kalian," ujar Pak Hendra.
Pak Surya menjabat tangan Pak Burhan dengan erat. "Pak Burhan, saya tidak butuh banyak bicara di dalam nanti. Saya hanya butuh Anda berdiri tegak dan bicara jujur tentang apa yang Anda rasakan sebagai ayah. Biarkan bukti ekonomi dan kesehatan yang Anjeli bangun yang bicara."
Saat mereka melangkah masuk ke lorong gedung yang berbau pembersih lantai yang tajam, Anjeli melihat sosok yang sudah lama tidak ia lihat. Di ujung lorong, berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian sutra mewah, kacamata hitam, dan rambut yang tertata rapi. Di sampingnya ada pengacara pria yang tempo hari datang ke desa.
Itu Anita. Ibu Anjeli.
Dunia seolah melambat bagi Anjeli. Ia merasakan tubuh Ayahnya menegang di sampingnya. Anita melepaskan kacamata hitamnya, menatap Pak Burhan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ada kilatan keterkejutan di matanya saat melihat suaminya berdiri tanpa kursi roda.
"Burhan? Kamu, sudah bisa jalan rupanya?" suara Anita terdengar asing, tidak seperti suara ibu yang dulu sering menyanyi di dapur.
Pak Burhan tidak menjawab dengan amarah. Ia mengatur napasnya, berdiri setegak mungkin, dan menatap langsung ke mata wanita yang pernah meninggalkannya itu. "Berkat anak-anakku, Anita. Tanah yang kamu benci itu ternyata menyembuhkanku."
Anita membuang muka, tampak sedikit gelisah. "Kita lihat saja nanti di dalam. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Aris. Dia tidak pantas tinggal di desa terpencil dan kotor seperti itu."
Anjeli melangkah maju satu langkah, berdiri di depan Ayahnya. "Tempat yang Ibu bilang kotor itu adalah tempat yang memberi kami makan saat Ibu pergi meninggalkan kami. Dan asal ibu tau, tempat itu tidak pernah membuang kami."
Ruang sidang terasa sangat dingin. Hakim ketua, seorang pria tua dengan wajah bijaksana namun tegas, mulai membuka persidangan. Anjeli duduk di barisan penonton, sementara Ayah duduk di kursi penggugat bersama Pak Surya.
Pengacara Anita mulai bicara, suaranya lantang memenuhi ruangan. "Yang Mulia, klien kami, Ibu Anita, memiliki kapasitas finansial yang sangat memadai. Ia memiliki rumah di kawasan elit, tabungan yang menjamin pendidikan Aris hingga perguruan tinggi, sementara ayahnya, seperti yang kita tahu, baru saja pulih dari lumpuh dan hanya mengandalkan kebun kecil di belakang rumah yang pendapatannya tidak menentu."
Pak Surya berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, jika kita bicara soal stabilitas, mari kita bicara soal fakta. Saya membawa kontrak resmi dari jaringan restoran Hijau Sehat. Di sini tertulis bahwa kebun kecil milik Saudari Anjeli, putri Pak Burhan, telah dikontrak selama lima tahun dengan nilai yang sangat fantastis untuk ukuran desa. Dan soal kesehatan..."
Pak Surya menatap Pak Burhan. "Pak Burhan, silakan berdiri."
Pak Burhan berdiri dengan perlahan. Ia berjalan tiga langkah menuju meja hakim tanpa tongkat. Suasana hening.
"Kesehatan saya pulih karena kebahagiaan yang diberikan anak-anak saya, Yang Mulia," ujar Pak Burhan dengan suara bergetar namun jelas. "Saya mungkin tidak punya rumah mewah, tapi rumah saya punya cinta. Aris tidak pernah menangis karena lapar sejak kakaknya mulai berkebun. Dan saya, saya lebih suka mati daripada harus melihat Aris kehilangan akarnya di tanah kami."
Anjeli melihat Anita menunduk, tangannya gemetar memainkan ujung tas mahalnya. Ada momen emosional yang tercipta di ruangan itu. Anjeli menyadari, kemewahan ibunya terasa sangat hampa dibandingkan dengan keteguhan hati Ayahnya yang hanya mengenakan batik tua.
"Yang Mulia," lanjut Pak Surya, "Kami juga membawa kesaksian dari seorang jurnalis nasional, Mas Gani, yang meliput bagaimana Pak Burhan mendidik anaknya dengan nilai-nilai kerja keras. Apakah kita akan menjatuhkan hak asuh kepada orang yang memiliki uang namun meninggalkan anaknya saat susah, atau kepada orang yang tidak punya apa-apa namun berjuang bersama anaknya hingga pulih?"
Hakim terdiam, ia mengetuk-ngetuk pena di atas meja. Anjeli merasakan cincin di jarinya berdenyut hangat, seolah memberikan ketenangan pada seisi ruangan.
Saat hakim memutuskan untuk menunda sidang selama tiga puluh menit untuk bermusyawarah, Anita menghampiri Anjeli di lorong. Pengacaranya sudah menjauh.
"Njel... kamu sudah besar," suara Anita bergetar.
Anjeli menatap ibunya datar. "Ibu baru sadar sekarang? Setelah dua tahun kami hampir mati?, tentu aku sudah besar bu!”
"Ibu melakukan ini untuk masa depan Aris, Njel. Ibu ingin dia sekolah di tempat terbaik. Kamu juga, Ibu bisa bawa kamu ke kota kalau kamu mau..."
"Ibu pikir kebahagiaan bisa dibeli?" Anjeli memotong ucapan ibunya. "Ibu lihat jahe ini?" Anjeli menunjukkan kantong blacunya. "Ini tumbuh dari tanah yang Ibu bilang kotor. Tapi rasanya jauh lebih hangat daripada semua uang yang Ibu tawarkan. Aris butuh Ayah, Bu. Bukan butuh sekolah internasional yang di dalamnya tidak ada orang yang mencintainya. Kenapa buk, kenapa baru sekarang? Ibu ingat nggk waktu dulu ibu meninggalkan kami? Meninggalkan Aris yang waktu itu masih belum mengerti apa-apa? Hiks…hiks Aku nggk buruk kemewahan buk, terlebih lagi itu Aris. Jadi Aris nggk bakalan kemana-kemana.” Tangis Anjeli menahan amarah yang bergejolak di hati ke ibunya.
Anita terisak kecil, namun egonya sepertinya masih terlalu tinggi untuk meminta maaf. Ia berpaling dan berjalan menuju pengacaranya.
Anjeli kembali ke sisi Ayahnya yang sedang duduk di kursi tunggu, memijat kakinya yang lelah. "Ayah hebat tadi tadi di dalam. Ayah bicara singkat tapi sangat bagus."
"Ayah hanya bicara dari hati, Nak. Ternyata, benar katamu. Tanah kota ini tidak seseram yang Ayah bayangkan selama kita punya pegangan yang kuat."
Pertarungan hari ini belum selesai sepenuhnya, namun bagi Anjeli, melihat ibunya yang tampak kecil di depan kejujuran Ayahnya adalah kemenangan pertama yang sangat berharga. Ia tahu, langkah-langkah perlahan yang mereka ambil dari kebun sepetak itu kini tengah menuju gerbang kebebasan yang sesungguhnya.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄