Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Irama Waltz dan Amarah Telepon
Lantai dansa itu luas, licin, dan memantulkan cahaya lampu kristal di atasnya. Tapi bagi Sifa, dunia menyempit menjadi radius satu meter. Hanya ada dia, Adi, dan alunan musik Waltz No. 2 dari Shostakovich yang megah namun melankolis.
Tangan kanan Adi melingkar kokoh di pinggang Sifa, memberikan rasa aman yang belum pernah Sifa rasakan sebelumnya. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Sifa, mengangkatnya setinggi bahu.
"Rileks, Sifa," bisik Adi lembut di telinganya, napas hangatnya menggelitik leher Sifa. "Jangan kaku. Anggap saja kita lagi jalan santai di taman. Bedanya, kita jalannya muter-muter."
Sifa tertawa kecil, ketegangannya sedikit mencair. "Maaf, Mas. Saya takut nginjek sepatu mahal Mas Adi. Nanti gajinya dipotong."
Adi terkekeh. "Sepatu bisa dibeli lagi. Momen ini nggak bisa dibeli."
Mereka mulai bergerak. Satu langkah ke depan, satu ke samping, tutup. Satu ke belakang, satu ke samping, tutup.
Awalnya Sifa kaku seperti robot karatan. Tapi kemudian, Chrono mengambil alih peran sebagai instruktur tari pribadi.
"Kaki kanan mundur... one, two, three. Kaki kiri maju... one, two, three. Ikuti tempo detak jantung dia, Fa. 80 bpm. Sinkronisasi dimulai."
Perlahan tapi pasti, gerakan Sifa menjadi luwes. Kebaya batiknya berayun indah mengikuti putaran tubuhnya. Dia tidak lagi melihat kakinya sendiri, tapi mendongak menatap mata Adi.
Mata itu... mata cokelat tua yang dalam itu menatapnya dengan intensitas yang membuat lutut Sifa lemas. Tidak ada penghakiman di sana. Hanya ada kekaguman murni.
"Kamu tau, Sifa," ucap Adi pelan di tengah putaran dansa. "Saya sudah datang ke ratusan pesta seperti ini. Dansa dengan puluhan wanita hebat. Tapi malam ini... rasanya beda."
"Beda gimana, Mas?"
"Beda karena saya nggak merasa sendirian," jawab Adi jujur. "Biasanya saya dansa karena kewajiban. Karena harus nyenengin investor atau Mama. Tapi sama kamu... saya dansa karena saya mau."
Pipi Sifa merona semerah tomat. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Pujian itu terlalu tinggi untuknya.
"Mas Adi berlebihan," elak Sifa malu-malu. "Saya cuma staf gudang yang kebetulan dapet undangan nyasar."
Adi mengeratkan pegangannya di pinggang Sifa, menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat. Jarak di antara mereka menipis. Sifa bisa mencium aroma sandalwood dan mint dari kemeja Adi.
"Status itu nggak penting, Sifa," kata Adi serius. "Yang penting itu manusianya. Kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki orang-orang di ruangan ini. Kamu punya hati. Kamu tulus. Dan kamu... berani makan cimol di lift VIP."
Sifa tertawa renyah, kali ini tanpa ditahan. "Ah, Mas Adi masih inget cimol itu."
"Gimana bisa lupa? Itu cimol terenak yang pernah saya makan," Adi ikut tertawa.
Momen itu terasa magis. Ratusan pasang mata menatap mereka. Ada yang iri, ada yang bingung, ada yang berbisik. "Siapa gadis itu? Anak pejabat mana? Kok bisa deket banget sama Pak Adi?"
Tapi Sifa dan Adi tidak peduli. Mereka tenggelam dalam gelembung mereka sendiri.
Di sudut ruangan, Pak Rahmat dan Bu Sri menatap putranya dengan ekspresi campur aduk.
"Siapa perempuan itu, Ma?" tanya Pak Rahmat tajam, matanya menyipit tidak suka. "Bajunya tradisional sekali. Bukan selera kita."
"Mama nggak kenal, Pa," jawab Bu Sri cemas. "Tapi liat Adi. Dia... dia senyum lepas banget. Mama belum pernah liat Adi sebahagia itu sejak dia lulus kuliah."
"Bahagia nggak bikin saham naik," dengus Pak Rahmat. "Cari tau siapa dia. Kalau cuma perempuan nggak jelas, singkirkan pelan-pelan."
Sementara itu, di lantai dansa, musik mencapai klimaksnya. Adi memutar tubuh Sifa satu kali putaran penuh. Sifa berputar dengan anggun, selendangnya melambai, sebelum kembali jatuh ke pelukan Adi.
Lagu berakhir.
Adi tidak langsung melepaskan Sifa. Dia menahan pose itu beberapa detik lebih lama, menatap bibir Sifa, lalu beralih ke matanya. Ada dorongan kuat untuk menunduk dan...
"Terima kasih, Sifa," bisik Adi parau, menahan diri. "Kamu dansa yang hebat."
"Terima kasih juga, Mas," jawab Sifa, napasnya sedikit terengah karena dansa dan debaran jantung.
Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan. Sifa tersadar dari mimpi indahnya. Dia buru-buru melepaskan diri dari pelukan Adi, menunduk malu.
"Saya... saya permisi dulu ya, Mas. Mau ke toilet sebentar," Sifa beralasan, padahal dia cuma butuh oksigen karena terlalu baper.
"Oke. Jangan lama-lama. Saya tunggu di meja nomor 1," kata Adi enggan melepaskannya.
Sifa berjalan cepat meninggalkan lantai dansa, diiringi tatapan semua orang. Dia merasa seperti Cinderella yang baru saja berdansa dengan Pangeran, tapi bedanya, jam dua belas malam belum tiba.
Jauh dari sorotan lampu dan musik romantis, suasana di toilet wanita lantai 2 Hotel Kempinski terasa seperti kamar mayat yang dingin.
Rana dan Rani mengunci diri di salah satu bilik toilet difabel yang luas. Rana mondar-mandir dengan wajah kacau balau. Matanya merah, makeup-nya luntur di sekitar mata karena tadi sempat menangis frustrasi. Pergelangan tangannya bengkak merah dengan pola resleting tercetak jelas di kulit putihnya.
Rani duduk di atas kloset tertutup, menggigit kukunya dengan cemas.
"Gila! Gila! Gila!" teriak Rana tertahan, menendang tempat sampah stainless steel sampai penyok. Brak!
"Kak, pelan-pelan! Nanti kedengeran orang!" desis Rani panik.
"Bodo amat!" Rana berbalik, menatap adiknya dengan nyalang. "Lo liat tadi kan?! Liat?! Mereka dansa kayak pasangan pengantin baru! Mas Adi natap dia kayak natap dewi! Sementara gue? Gue dianggep pencuri kalung yang ceroboh!"
"Iya, Kak, gue liat..." cicit Rani. "Terus kita harus gimana sekarang? Rencana A gagal total. Tangan lo cacat, kalung udah dibalikin."
Rana merogoh tasnya dengan tangan kiri (karena tangan kanannya sakit), mengeluarkan HP-nya. Layarnya menyala menampilkan foto wallpaper dirinya sendiri yang sedang tersenyum sombong—sangat kontras dengan wajahnya sekarang.
"Kita nggak punya pilihan. Kita harus lapor Papa," kata Rana berat.
"Jangan, Kak! Papa bakal bunuh kita!" Rani membelalak ngeri. "Tadi aja di rumah udah ngamuk. Kalau tau kita gagal lagi..."
"Kalau kita diem aja dan Sifa makin deket sama Mas Adi, kita bakal lebih abis, Rani!" bentak Rana. "Kalau Sifa jadi pacar Adi, dia punya kuasa. Dia bisa aduin kelakuan kita selama ini. Papa bisa kehilangan posisi direkturnya. Kita bakal miskin! Lo mau jadi miskin?!"
Kata "miskin" adalah mantra paling ampuh untuk Rani. Dia menggeleng cepat.
"Ya udah. Telepon Papa."
Dengan jari gemetar, Rana menekan tombol speed dial "BOSS BIG DADDY".
Nada sambung berbunyi. Tuuut... Tuuut...
Setiap detik terasa seperti satu jam.
Klik. Telepon diangkat.
"Halo? Gimana? Sudah beres?" Suara Tuan Adiwangsa terdengar rendah dan penuh harap di ujung sana. Dia tidak ikut masuk ke ballroom karena sedang melobi politisi di lounge hotel.
Rana menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "Pa..."
"Rana? Kenapa suaramu begitu? Mana Sifa? Sudah diseret satpam?"
"Gagal, Pa," bisik Rana, air matanya menetes lagi. "Rencana gagal total."
Hening. Keheningan yang mematikan. Rana bisa mendengar suara napas ayahnya yang memberat.
"Apa maksudmu gagal?" suara Tuan Adiwangsa berubah dingin, menakutkan.
"Tasnya... tasnya aneh, Pa. Susah dibuka. Tangan Rana kejepit. Terus... terus Mas Adi dateng pas kalungnya jatoh. Mas Adi malah curiga sama Rana," jelas Rana terbata-bata, menghilangkan bagian di mana dia terlihat bodoh jatuh terjengkang.
"Bodoh!" bentak Tuan Adiwangsa. "Kalian benar-benar tidak berguna! Satu tugas sederhana saja tidak becus!"
"Bukan salah kita, Pa! Sifa itu licik! Dia pake guna-guna!" bela Rana putus asa. "Dan sekarang... sekarang dia lagi dansa sama Mas Adi. Mereka deket banget, Pa. Mas Adi kayaknya... suka sama dia."
"Suka?" Tuan Adiwangsa terdengar kaget. "Adi suka sama anak gudang itu?"
"Iya, Pa. Tatapannya beda. Kalau dibiarin, besok pagi mereka jadian, dan Sifa bakal jadi Nyonya Besar. Posisi Papa dalam bahaya."
Terdengar suara gelas diletakkan kasar di meja di seberang sana. Tuan Adiwangsa sedang berpikir keras. Putrinya gagal. Jebakan gagal. Sekarang musuh sudah masuk ke lingkaran dalam kekuasaan (hati CEO). Ini bukan lagi main-main anak kecil. Ini perang korporat.
"Oke," kata Tuan Adiwangsa akhirnya. Suaranya tenang, tapi aura membunuhnya terasa sampai ke toilet ini. "Cukup. Papa tidak akan mempercayakan nasib keluarga ini ke tangan amatir kalian lagi."
"Pa-Papa mau ngapain?" tanya Rana takut-takut.
"Papa akan turun tangan sendiri. Sekarang."
"Sekarang? Di pesta?"
"Papa akan masuk ke ballroom. Papa akan bicara empat mata dengan Adi. Papa akan buka kartu As Papa," kata Tuan Adiwangsa misterius. "Papa punya 'pegangan' tentang Adi. Rahasia kecil yang bisa bikin dia nurut. Kalau Adi tau apa yang baik buat dia dan perusahaan, dia bakal tendang Sifa malam ini juga."
"Papa serius?"
"Kalian berdua, cuci muka, benerin makeup. Keluar dari toilet, dan bersikaplah biasa. Jangan bikin malu lagi. Tonton saja pertunjukannya. Malam ini Sifa tidak akan pulang sebagai Cinderella. Dia akan pulang sebagai sampah yang dibuang."
Klik. Sambungan diputus.
Rana menurunkan HP-nya perlahan. Dia menatap Rani di cermin.
"Papa turun tangan, Ran," bisik Rana, senyum jahat perlahan kembali ke bibirnya. "Papa mau pake 'Rahasia Mas Adi'. Gue nggak tau apaan, tapi kedengarannya serius."
"Berarti Sifa bakal abis?" tanya Rani penuh harap.
"Pasti. Papa kalau udah gerak, nggak ada ampun. Lawan Papa bukan level Sifa. Sifa cuma semut di depan gajah."
Rana mencuci mukanya dengan air dingin, menghapus jejak air mata. Dia memakai ulang lipstik merahnya, menebalkannya seperti darah segar. Rasa sakit di tangannya dia abaikan. Dendamnya lebih besar daripada rasa sakit.
"Ayo keluar," ajak Rana, menegakkan bahunya. "Kita liat babak terakhir drama ini. Gue mau liat muka Sifa pas dia diusir Mas Adi sendiri."
Mereka berdua keluar dari toilet dengan langkah angkuh, siap menyaksikan kehancuran Sifa.
Di ballroom, Sifa yang baru kembali dari "toilet" (padahal cuma ngumpet di balkon sebentar buat nenangin diri), merasakan firasat buruk. Bulu kuduknya meremang.
"Peringatan: Deteksi ancaman level tinggi mendekat dari pintu VIP Lounge," suara Chrono tiba-tiba berbunyi waspada, nadanya lebih serius dari biasanya. "Tuan Adiwangsa incoming. Dan dia nggak sendirian. Dia bawa aura 'Boss Battle'."
Sifa menoleh ke pintu VIP. Di sana, dia melihat Tuan Adiwangsa melangkah masuk dengan wajah dingin, matanya menatap lurus ke arah meja di mana Adi duduk menunggunya.
Tuan Adiwangsa tidak melihat ke arah Sifa. Dia menganggap Sifa tidak ada. Targetnya adalah Adi.
Sifa meremas tasnya. Firasatnya benar. Perang melawan Rana hanyalah pemanasan. Musuh sebenarnya baru saja masuk ke arena.
semangat kakak