Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Pertama
Aku terbangun dengan jantung berdebar kencang.
Jam di meja menunjukkan pukul dua pagi. Gelap. Sangat gelap. Hanya lampu tidur kecil yang menyala redup di sudut kamar.
Tapi ada sesuatu yang membangunkanku. Suara. Suara yang samar tapi cukup keras untuk menembus tidurku yang sudah susah payah kudapatkan setelah berjam-jam menatap langit-langit.
Aku duduk, menajamkan pendengaran.
Suara langkah kaki. Banyak. Dari bawah. Seperti beberapa orang sedang bergerak terburu-buru.
Lalu suara pintu tertutup keras. Dari arah... basement? Aku bahkan tidak tahu vila ini punya basement. Tapi ada tangga turun di dekat dapur yang selalu tertutup dan terkunci.
Seharusnya aku kembali tidur. Seharusnya aku pura-pura tidak dengar apa-apa. Tapi rasa penasaran dan... entahlah, mungkin insting bertahan hidup, membuatku bangkit dari tempat tidur.
Aku berjalan ke pintu kamar dengan pelan, memutar kenobnya.
Terkunci. Tentu saja.
Tapi gelang di tanganku bergetar pelan. Layarnya menyala. Ada notifikasi.
"Pintu terbuka untuk 5 menit. Gunakan dengan bijak."
Apa?
Leonardo yang membuka pintu untuk ku? Kenapa? Tengah malam begini?
Atau... ini jebakan?
Tapi rasa penasaranku sudah terlalu kuat. Aku memutar kenob lagi, dan kali ini pintu terbuka.
Koridor gelap dan sepi. Tidak ada suara dari kamar Leonardo di ujung sana. Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang, berusaha tidak membuat suara.
Turun tangga pelan-pelan. Setiap derit kayu membuatku berhenti, menahan napas. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengar.
Sampai di lantai satu, aku mendengar suara lagi. Dari arah dapur. Suara orang bicara. Tapi tidak jelas apa yang dibicarakan.
Aku berjalan mengendap-endap ke arah sana. Jantungku berdegup sangat kencang, rasanya seperti mau meledak.
Di dekat dapur, ada pintu yang biasanya tertutup rapat. Sekarang terbuka sedikit. Cahaya kuning redup keluar dari celah itu. Dan suara... suara yang membuatku merinding.
Seseorang sedang menangis. Memohon.
"Tolong... tolong Don... saya tidak akan mengulangi lagi... saya berjanji... tolong..."
Suara pria. Gemetar ketakutan.
Aku seharusnya pergi. Kembali ke kamar. Pura-pura tidak tahu apa-apa.
Tapi kakiku seperti bergerak sendiri. Aku mendekati pintu itu, mengintip dari celah kecil.
Dan apa yang kulihat membuat napas ku berhenti.
Basement luas dengan lantai beton. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit. Dan di tengah ruangan itu...
Seorang pria berlutut. Tangannya terikat di belakang punggung. Wajahnya babak belur, penuh darah. Baju putihnya robek dan berlumuran merah.
Di depannya berdiri Leonardo.
Mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Tangan kanannya memegang pistol. Wajahnya... datar. Sangat datar. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak penting.
Di belakang Leonardo ada Marco. Berdiri dengan tangan dilipat di dada, ekspresi wajahnya sinis. Seperti sedang menikmati pertunjukan.
Dan di sudut ruangan, berdiri Andrey. Tangannya juga memegang pistol, tapi mengarah ke bawah. Matanya menatap pria yang berlutut itu dengan tatapan kosong.
"Saya sudah memberikan kesempatan padamu, Riccardo," suara Leonardo sangat tenang. Terlalu tenang. "Satu kesalahan, aku maafkan. Dua kesalahan, aku beri peringatan. Tapi kau sudah tiga kali menggelapkan uangku. Kau pikir aku bodoh?"
"Tidak, Don! Saya tidak pernah pikir begitu! Saya cuma... saya cuma butuh uang untuk keluarga saya... anak saya sakit, Don... dia butuh operasi..." Pria itu, Riccardo, menangis sejadi-jadinya. Air mata bercampur darah di wajahnya.
"Aku membayarmu dengan cukup untuk biaya operasi sepuluh anak," potong Leonardo dingin. "Tapi kau memilih menggunakan uangku untuk berjudi. Jangan berbohong padaku lagi."
"Don, tolong... berikan saya satu kesempatan lagi... saya akan kembalikan semua uangnya... saya berjanji..."
Leonardo berjongkok, menyamakan tinggi matanya dengan Riccardo. Pistol di tangannya mengarah langsung ke dahi pria itu.
"Kau tahu apa yang aku benci dari pengkhianat?" tanyanya dengan suara berbisik yang entah kenapa lebih menakutkan dari teriakan. "Bukan karena mereka mencuri. Tapi karena mereka berbohong. Melihat mataku dan berani berbohong. Kau menghina kecerdasanku, Riccardo. Dan itu... itu tidak bisa kumaafkan."
"Tidak! TIDAK! DON, TOLONG!"
DOOORRR!
Tembakan pertama meledak.
Aku hampir berteriak tapi tanganku menutup mulutku sendiri dengan kuat.
Riccardo jatuh ke lantai. Tapi dia belum mati. Dia masih bergerak, mengerang kesakitan. Darah mengalir dari perutnya, membasahi lantai beton.
Leonardo berdiri, menatap pria yang tergeletak itu tanpa ekspresi. Seperti melihat sampah.
Lalu dia mengangkat tangannya. Membuat isyarat dengan jari. Isyarat yang bahkan aku tidak mengerti artinya.
Tapi Andrey mengerti.
Andrey melangkah maju. Mengarahkan pistolnya ke kepala Riccardo.
"Tolong... tolong... anak saya..." Riccardo masih sempat berbisik sebelum...
DOOORR!
Tembakan kedua.
Kali ini langsung ke kepala.
Riccardo tidak bergerak lagi.
Aku menutup mulut lebih erat, mencoba menahan mual yang tiba-tiba menyerang. Tubuhku gemetar hebat. Kaki ku hampir tidak bisa menopang berat tubuhku sendiri.
Aku baru saja menyaksikan pembunuhan.
Pembunuhan yang dilakukan dengan sangat... dingin. Tanpa emosi. Seperti membuang sampah.
Leonardo memberikan pistolnya ke Marco. Lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, membersihkan tangannya yang terkena percikan darah.
"Buang mayatnya ke tempat biasa," perintahnya dengan nada seperti orang yang memerintahkan untuk membuang sampah. "Bersihkan semua jejak. Tidak ada yang boleh tahu dia pernah ada di sini."
"Siap, Don." Marco menjawab sambil memanggil beberapa pria lain yang sepertinya sudah standby di luar.
Andrey mengetik sesuatu di tabletnya, menunjukkan ke Leonardo. Leonardo membaca, lalu mengangguk.
Aku harus pergi. Harus kembali ke kamar sekarang.
Tapi saat aku mundur satu langkah, kaki ku menyenggol vas kecil di meja samping pintu.
Vas itu bergoyang. Tidak jatuh. Tapi cukup untuk membuat suara kecil.
Dan dalam sekejap, kepala Leonardo menoleh.
Tepat ke arah ku.
Mata kami bertemu.
Mata kelabu itu menatap lurus ke mataku. Dan di wajahnya yang penuh darah orang lain, muncul senyum.
Senyum tipis yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Dia tahu.
Dia tahu aku di sini. Dia tahu aku melihat semuanya.
Mungkin... mungkin dari awal dia memang sengaja membuka pintu kamarku. Sengaja membiarkan ku turun. Sengaja ingin aku melihat ini semua.
Tapi kenapa?
Kenapa dia mau aku melihat sisi tergelap darinya?
Leonardo mengangkat tangannya, jari telunjuknya menunjuk ke arah tangga. Perintah yang sangat jelas.
Kembali ke kamar. Sekarang.
Aku tidak bisa bergerak. Kaki ku seperti menempel di lantai.
Leonardo mengerutkan kening. Lalu mulai berjalan ke arah ku.
Dan itu yang membuatku akhirnya sadar.
Aku berbalik, berlari secepat mungkin ke tangga. Naik dengan terburu-buru, hampir tersandung beberapa kali. Masuk ke kamarku, menutup pintu dengan keras.
Aku bersandar di pintu, bernapas terengah-engah. Jantung ku rasanya mau meledak. Tubuh ku gemetar tidak terkendali.
Aku baru saja melihat Leonardo membunuh seseorang.
Dengan tangan sendiri.
Tanpa ragu. Tanpa belas kasihan.
Dan yang paling menakutkan... dia tersenyum saat melihatku menyaksikan itu semua.
Aku merosot ke lantai, memeluk lutut. Mencoba bernapas tapi rasanya tidak ada cukup udara di ruangan ini.
Siapa pria yang baru saja kuburu? Siapa Leonardo sebenarnya?
Mafia. Dia pasti mafia. Bukan cuma pengusaha biasa. Dia pemimpin organisasi kriminal. Pembunuh.
Dan aku... aku menikah dengan pembunuh itu.
Suara pintu terbuka membuyarkan pikiranku.
Leonardo masuk.
Dia sudah berganti baju. Kemeja bersih berwarna abu-abu. Seperti tidak ada apa-apa. Seperti dia tidak baru saja membunuh orang beberapa menit yang lalu.
Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding. Tidak ada tempat lagi untuk lari.
Leonardo menutup pintu pelan. Lalu berjalan mendekat dengan langkah sangat tenang.
"Kau seharusnya tidur, Nadira," ucapnya pelan.
"Jangan... jangan mendekat..." suaraku gemetar hebat.
Tapi dia tetap mendekat. Sampai dia berdiri tepat di depanku.
Lalu dia berjongkok, menyamakan tinggi mata kami. Seperti yang dia lakukan pada Riccardo beberapa menit lalu.
Aku merinding mengingat itu.
"Kau takut padaku sekarang?" tanyanya dengan nada yang anehnya terdengar... terluka?
"Kau... kau membunuh orang itu..." bisikku, air mata mulai jatuh. "Kau membunuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun..."
"Dia pengkhianat. Dia mencuri dariku. Dia berbohong padaku." Leonardo mengangkat tangannya, aku refleks mengerut. Tapi dia hanya mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Kau tahu apa hukuman untuk pengkhianat di dunia ku?"
Aku menggeleng, tidak berani bicara.
"Kematian. Selalu kematian." Dia menatapku dengan tatapan yang sangat intens. "Dan aku yang mengeksekusinya sendiri. Karena aku tidak percaya pada orang lain untuk melakukan pekerjaan yang harus kulakukan."
"Kau... kau monster..." bisikku.
"Ya." Jawabnya tanpa ragu. Tanpa marah. "Aku monster. Aku sudah bilang padamu, kan? Aku tidak mencintaimu seperti pria normal."
Tangannya berpindah ke leherku, menyentuh kalung yang dipasangkan Andrey tadi pagi.
"Tapi monster ini akan melindungimu dari monster-monster lain di luar sana. Selama kau tidak mengkhianatiku, kau aman. Sangat aman. Lebih aman dari siapapun di dunia ini."
"Bagaimana kalau... bagaimana kalau saya mengkhianati?" tanyaku, entah kenapa. Mungkin aku sudah gila. Mungkin shock melihat pembunuhan tadi membuatku kehilangan akal sehat.
Leonardo diam sejenak. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang dia tunjukkan lewat celah pintu basement tadi.
"Kau tidak akan mau tahu, sayang. Percayalah."
Dia berdiri, mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Aku ragu, tapi akhirnya menerima uluran tangannya. Tangannya hangat. Kontras dengan dinginnya tindakannya tadi.
Leonardo membimbingku ke tempat tidur, membuatku duduk di sana. Lalu dia duduk di sampingku, masih memegang tanganku.
"Aku sengaja membiarkanmu melihat," ucapnya tiba-tiba. "Aku sengaja membuka pintu kamarmu. Sengaja membiarkanmu turun."
Aku menatapnya, tidak mengerti.
"Karena aku ingin kau tahu. Ingin kau melihat siapa aku sebenarnya. Bukan topeng yang kupakai di depan orang lain. Bukan kebohongan tentang pengusaha sukses atau pria baik-baik." Dia menatapku. "Aku ingin kau lihat monster yang sebenarnya. Dan aku ingin kau memutuskan... apa kau masih bisa hidup dengan monster ini, atau kau akan mencoba lari dan menghadapi konsekuensinya."
"Ini... ini tidak adil..." aku menangis lagi. "Kau sudah mengurung saya. Kau sudah mengontrol semua yang saya lakukan. Dan sekarang kau mau saya menerima kenyataan bahwa kau pembunuh? Bahwa kau... kau..."
"Mafia. Ya, aku kepala mafia internasional. Organisasi terbesar di Eropa." Potongnya. "Aku mengatur perdagangan senjata, narkoba, manusia, apapun yang menguntungkan. Aku punya darah ratusan orang di tanganku. Dan aku tidak merasa bersalah sedikitpun. Karena di dunia ku, hanya dua pilihan. Kau membunuh, atau kau yang dibunuh."
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
"Tapi untuk mu, Nadira, aku akan menjadi apa pun yang kau butuhkan. Aku akan menjadi pelindung, suami, bahkan monster yang akan membunuh siapapun yang berani menatapmu dengan salah. Yang kuminta cuma satu... tetaplah di sisiku. Jangan pernah mencoba pergi. Karena kalau kau pergi..."
Dia tidak melanjutkan. Tapi aku tahu apa maksudnya.
Kalau aku pergi, aku akan berakhir seperti Riccardo. Atau mungkin lebih buruk.
Aku menarik tanganku dari genggamannya. Memeluk tubuhku sendiri, mencoba menghangatkan diri dari dingin yang tiba-tiba menyerang.
"Saya tidak bisa... saya tidak bisa hidup seperti ini..." bisikku. "Setiap hari takut, setiap hari bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau saya melakukan kesalahan kecil..."
"Kau tidak akan melakukan kesalahan." Suara Leonardo mengeras sedikit. "Karena kau bukan pengkhianat. Kau bukan pencuri. Kau bukan musuhku. Kau istriku. Dan selama kau ingat itu, tidak ada yang akan terjadi padamu."
Dia berdiri, berjalan ke pintu. Tapi berhenti sejenak.
"Tidurlah. Besok kita akan bicara lagi. Dan Nadira..."
Dia menoleh, menatapku dengan tatapan yang sangat serius.
"Jangan pernah ceritakan apa yang kau lihat malam ini pada siapapun. Bahkan pada orangtuamu. Mengerti?"
Aku mengangguk lemah.
Leonardo keluar, menutup pintu. Bunyi klik dari kunci digital terdengar lagi.
Dan aku ditinggal sendirian dengan bayangan mayat Riccardo yang terus berputar di kepalaku.
Darahnya yang mengalir di lantai beton.
Suara tembakan yang memekakkan.
Dan wajah Leonardo yang tersenyum saat mata kami bertemu.
Aku tidak tidur lagi malam itu.
Hanya duduk memeluk lutut, menatap kosong ke jendela yang menunjukkan langit mulai terang perlahan.
Fajar datang. Hari baru dimulai.
Tapi untukku, rasanya seperti hari terakhir dari siapa aku dulu.
Nadira Azzahra yang polos, yang percaya pada kebaikan, yang berpikir dunia masih punya harapan.
Dia mati malam ini.
Digantikan oleh Nadira Valerio.
Istri seorang mafia.
Tahanan dalam sangkar emas.
Saksi pembunuhan yang tidak akan pernah bisa bicara.
Dan yang paling menyakitkan...
Aku bahkan tidak bisa membenci Leonardo sepenuhnya.
Karena bagian kecil, sangat kecil dari diriku, mengerti kenapa dia melakukan itu semua.
Di dunianya yang gelap itu, mungkin memang tidak ada pilihan lain.
Kau membunuh, atau kau yang dibunuh.
Dan Leonardo... dia memilih untuk bertahan hidup.
Dengan cara apapun.
Bahkan jika itu artinya menjadi monster yang paling ditakuti.