Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita dibalik malam
Rio mengerutkan keningnya, "Maaf ada.yang bisa saya bantu?" tanya Rio dengan wajah bingung saat melihat Sagara berdiri tepat di hadapan meja mereka.
"Halo, semua kenalin aku Sagara, aku calon suami Thea," ucap Sagara tanpa ragu memperkenalkan dirinya kepada teman-teman Thea.
Sontak Thea memutar badannya dan melotot tajam pada Sagara tanpa suara.
Sagara menoleh ke arah Thea dengan wajah terkejut, "Apa? Sorry, Gue nggak salah dengar kan? Tadi maaf, Lo bilang Lo calon suami Thea?"
Sagara menganggukkan kepalanya, "Betul, saya calon suami Thea," ucapnya sekali lagi untuk memperjelas ucapnya.
Tak ingin semua temannya berpikir yang tidak-tidak, Thea langsung menyangkal ucapan Sagara yang konyol itu.
"Bohong bohong, dia bohong! Gue nggak kenal sama ini orang, dia kayaknya orang gila deh, ngaku-ngaku jadi calon suami Gue lagi!" cetus Thea dengan wajah memerah.
Semua orang terdiam melongo mendengar ucapan Sagara yang membuat kaget semua teman Thea kecuali Dea dan Sofia.
Keadaan menjadi sangat canggung, padahal baru saja Rio ingin menyatakan cintanya pada Thea tetapi malah gagal karena ulah orang tidak dikenal ini.
"Sorry Om, mungkin kamu salah orang!" tepis Rio.
Sagara hanya terkekeh kecil, "Thea, ayo kita pulang!" ajak Sagara langsung sambil memegang lengannya.
Rio yang tak terima gebetannya ditikung orang lain segera protes dan hendak menepis lengan Sagara yang kini sudah memegang tangan Thea.
"Lepasin cewek gue!" sentaknya.
Sagara menatap wajah Rio dengan tatapan dingin hingga pemuda dihadapannya merasa sedikit risih sekaligus takut.
Sagara melirik ke arah tangan Rio yang memegang pundak calon istrinya.
"Apa kamu tidak dengar apa yang sudah aku katakan tadi? Dia adalah calon istriku! Jadi, jangan pernah menyentuhnya!" ucap Sagara sambil menepis lengan Rio dengan kuat.
Melihat tingkah Sagara yang begitu keterlaluan membuat emosi Thea tak bisa terbendung lagi.
"Stop ya Lo! Udah gue bilang berapa kali kalo Gue nggak kenal Lo!" tepis Thea sambil mendorong tubuh Sagara hingga mundur beberapa langkah kebelakang.
Wajah ramah Sagara mendadak berubah menjadi dingin, tangannya mengepal kuat. Ingin sekali Sagara berlari pergi menjauh dari tempat ramai ini, tetapi amanah Om Jordan membuatnya harus tetap disamping Thea.
"Aku akan pergi kalau kamu ikut aku pulang," tegas Sagara dengan wajah dingin.
Melihat raut Sagara yang menyeramkan, entah mengapa Thea merasa ada yang aneh dengan pria pilihan Papanya ini. Apa ada sesuatu yang di sembunyikan pria ini yang tidak diketahui oleh keluarga Jordan?
"Apa ucapan Gue tadi belum jelas? Sana Lo pergi dari sini! Lo ganggu acara kita!"
Sagara menghela nafasnya dengan kasar, "Aku di utus oleh Papa kamu untuk datang ke sini dan menemani kamu bergabung bersama teman-teman mu," ucap Sagara engan lembut.
Mendengar ucapan Sagara, hati Thea terasa panas sekaligus kesal.
"Papa? Apa sih yang Papa mau!" gumam Thea yang sedikit merasa kesal dengan sikap Papanya.
Ucapan pria dihadapannya ini sangat mengganggu pikiran dan hati Rio, apalagi Thea adalah wanita yang sudah dia incar sejak lama. Putusnya dia dengan Davin adalah peluang emas untuk Rio agar Thea bisa menjadi miliknya seutuhnya. Tetapi, sekarang apa lagi?
Rio menatap wajah Thea, "Thea, siapa dia sebenarnya? Apa benar dia calon suami kamu?" tanya Rio.
Kedua tangan Thea melambai-lambai di udara, "Bukan Rio, mana mungkin Gue suka sama cowo kolot kayak dia! Lagian Gue kan sukanya sama... "
Thea tidak meneruskan ucapannya lagi, dia malu kalo harus mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu kepada Rio. Jadi lebih baik dia diam dan biarkan Rio yang menyatakan cinta lebih dulu kepadanya.
Rio menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Thea, "Pergi Lo dari sini! Lo denger kan apa ucapan Thea barusan? Jangan-jangan Lo mau macam-macam ya sama Thea?" tuduh Rio sembarang.
Sagara hanya terkekeh mendengar Rio mengusirnya. "Thea adalah calon istriku, mana mungkin aku menyakitinya! dan ini sudah larut malam, sebaiknya kita pulang sekarang!" ucap Sagara sambil menarik lengan Thea dengan lembut.
Lagi, Thea memberontak saat Sagara mengajaknya untuk pulang. "Lepasin Gue! kenapa sih Lo nggak ngerti-ngerti juga! Gue nggak mau di jodohin sama cowo kolot kayak Lo! Lebih baik Gue jomblo seumur hidup daripada Gue harus di jodohin sama cowo kayak Lo!" umpat Thea yang kemudian pergi berlari meninggalkan teman-temannya dengan wajah malu sekaligus kesal
"Thea, Lo mau kemana?" teriak Dea.
Sagara langsung menahan teman Thea yang ingin mencoba mengejar Thea, "Tidak perlu dikejar, biar saya yang mengejarnya!" tegas Sagara.
Thea terus berlari menjauhi cafe itu, dengan harapan Sagara tidak mengejarnya lagi.
Rio ikut bangkit dari duduknya, "Apa benar Lo calon suami Thea?"
Sagara menatapnya dengan tatapan dingin. "Apa saya harus mengulangi ucapan saya lagi?"
Dengan perasaan kesal terpaksa Sagara membiarkan pria ini pergi bersama Thea yang sudah lebih dulu menjauh dari cafe itu.
"Kalau begitu Saya pamit dahulu!" ucap Sagara yang kemudian berlari mengikuti Thea.
Sagara yang kehilangan Thea segera mengedarkan pandangannya, mencari Thea ke berbagai arah hingga dia menemukan siluet dari arah sebrang. Segera Sagara mengejar siluet yang diduga adalah Thea.
Sagara menoleh ke arah dan kirinya hingga dia menemukan sosok Thea yang sedang berlari. "Thea tunggu!"
Thea menoleh ke arah belakang, "Ngapain sih tuh cowo kolot masih ngejar-ngejar gue!" gerutu Thea dengan wajah kesal.
Lari Thea semakin kencang untuk menghindari sagara. Namun, tiba-tiba kakinya tersandung batu.
Bruuuuk'
Thea jatuh ke aspal akibat tidak memperhatikan jalan yang dia lewati.
"Ah, sial! Kenapa gue harus jatuh segala sih!" rintih Thea kesakitan, karena tangan dan kakinya terluka.
Sagara langsung berlari menghampiri Thea dengan wajah cemas. "Thea, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Sagara.
Thea yang masih kesal segera menepis lengan Sagara agar tidak menyentuhnya. "Jangan sok peduli sama Gue deh Lo! Ini semua gara-gara Lo ya cowok kolot!" sentak Thea yang masih saja bersikap kasar dan ketus pada Sagara.
Sagara hanya menghela nafasnya, lalu kembali mencoba membantu Thea untuk berdiri. "Biar aku bantu," tawar Sagara dengan lembut.
"Gausah!" tepis Thea.
Melihat Thea yang keras kepala membuat Sagara sangat kesal, dia ingin mencoba bersikap lembut pada Thea tapi sikapnya selalu kekanak-kanakan. Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Sagara langsung mengangkat tubuh Thea yang ramping untuk mencari tempat duduk.
"Eh apa-apaan nih! Ngapain sih Lo! Turunin Gue, cepet turunin gue sekarang!" berontak Thea sambil mengayunkan kakinya.
Sagara semakin mengencangkan pelukannya karena Thea terlalu kuat memberontak. "Kamu bisa diem enggak sebentar aja!" ucap Sagara dengan nafas tersengal-sengal.
Thea menyipitkan matanya, "Lo bener-bener yah! Dasar Cowok kolot, cowok mesum! Lihatin aja nanti, Gue bakalan aduin ini semua sama Papa!" ancam Thea sambil meronta minta diturunkan.
Sagara tersenyum tipis, "Adukan saja! Aku tidak takut," sahut Sagara sambil mencibir Thea.
Dari kejauhan seorang wanita sedang berdiri tegap dibalik gelapnya malam sambil menatap ke arah Sagara dengan tatapan teduh.
"Sagara?"