NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: BAHASA YANG TAK TERUBAH

Musim berganti lagi, tapi kali ini tanpa Maya yang memperhatikan. Dulu, dia selalu yang pertama menyadari pepohonan di jalan mulai menggugurkan daun, atau embun pagi yang mulai terasa lebih dingin. Sekarang, dia hanya duduk di beranda, memandangi sesuatu yang tidak kami lihat, di tempat yang hanya dia sendiri yang tahu.

Aisyah sudah mulai merangkak. Gerakannya lucu, seperti kura-kura kecil yang bersemangat. Tapi Maya tidak tertawa melihatnya. Hanya diam mengamati, seperti menonton film bisu yang tidak dia pahami.

"Lihat, Sayang," bisikku suatu pagi, mengangkat Aisyah mendekati Maya. "Ini anak kita. Aisyah."

Maya memandangi Aisyah, lalu menatapku. "Dia... mirip kamu."

Itu kalimat lengkap. Jarang akhir-akhir ini. Tapi sebelum aku sempat tersenyum, dia menambahkan: "Tapi aku tidak ingat melahirkannya."

Aisyah meraih jari Maya. Refleks, tangan Maya menutup jari mungil itu. Dan untuk beberapa detik, ada sesuatu semacam pengakuan diam-diam antara ibu dan anak, melampaui ingatan, melampaui kata.

---

Bima mulai punya kebiasaan baru: menulis surat kepada ibunya yang dulu. Surat-surat yang tidak pernah dikirim, karena alamatnya adalah masa lalu yang tidak bisa dijangkau.

"Hari ini aku dapat nilai sempurna matematika. Dulu Mama selalu bilang, 'Bima pinter kayak Papa'. Tapi Papa yang mana? Papa Rangga yang jago angka, atau Papa Raka yang sabar ngajarin aku? Sekarang Mama tidak ingat keduanya. Dan aku... aku bingung mau cerita ke siapa."

"Kinan nangis semalam. Dia bilang mimpi Mama ingat lagi. Tapi bangun, Mama masih lupa. Aku peluk dia, bilang 'tenang, Kakak di sini'. Tapi siapa yang akan peluk aku ketika aku mimpi hal yang sama?"

"Aisyah mulai panggil 'Mama'. Tapi dia panggil siapa? Mama yang di depannya, yang tidak merespon? Atau Mama di foto-foto, yang tersenyum dan memeluknya? Aku takar Aisyah akan tumbuh tanpa tahu bagaimana rasanya dipeluk ibunya yang benar-benar mengenalinya."

Surat-surat itu kudapati terselip di buku pelajarannya. Aku tidak membacanya semua rasanya seperti mengintip jiwa anak yang sedang berduka. Tapi yang kubaca cukup untuk membuatku paham: Bima bukan hanya kehilangan ibunya. Dia kehilangan dirinya sebagai anak.

Dia sekarang menjadi banyak hal: kakak bagi Kinan, pengganti ibu bagi Aisyah, penopang bagiku. Tapi siapa yang menjadi Bima? Anak sembilan tahun yang butuh ibunya untuk mengingat bahwa dia takut petir, suka ayam goreng renyah, bermimpi jadi insinyur?

Suatu sore, Bima bertanya: "Om, kalau Mama tidak pernah ingat lagi... apakah berarti dia sudah bukan ibu kami?"

"Akan selalu jadi ibu kalian, Bima."

"Tapi ibu seharusnya mengenali anaknya. Ibu seharusnya ingat hari ulang tahunnya, ingat dia takut apa, ingat dia suka apa."

"Aku akan mengingatkan Mama."

"Tapi itu beda." Matanya penuh kepahitan yang tidak seharusnya ada di wajah sembilan tahun. "Itu seperti... seperti kami punya ibu pengganti. Bukan ibu yang sebenarnya."

Aku tidak punya jawaban. Karena dia benar. Apa bedanya antara ibu yang lupa dan tidak punya ibu? Antara kehadiran fisik tanpa pengakuan emosional dan ketidakhadiran?

---

Kinan, di sisi lain, menemukan bahasa baru dengan Maya: bahasa sentuhan.

Dia tidak lagi banyak bicara pada ibunya. Sebagai gantinya, dia duduk di samping Maya, memegang tangannya. Kadang menyisir rambutnya dengan pelan. Kadang hanya bersandar di bahunya, seperti bayi burung mencari kehangatan.

Dan anehnya, Maya merespon. Meski tidak ingat siapa Kinan, dia tidak menolak sentuhannya. Malah, seringkali tangannya secara otomatis membelai rambut Kinan, seperti tubuh mengingat ritual yang pikiran lupakan.

Suatu hari, Kinan sedang tidak enak badan. Demam. Biasanya, Maya yang paling panik—mengecek suhu setiap jam, membuatkan teh jahe, mengompres. Sekarang, dia hanya duduk di samping tempat tidur Kinan, memandanginya dengan ekspresi bingung.

"Adek sakit, Ma," bisik Kinan, menggigil.

Maya mengangkat tangan, menempelkannya di dahi Kinan. Lalu, tanpa kata, dia berdiri dan pergi ke dapur.

Aku mengikutinya, penasaran. Dia membuka lemari, mengambil jahe (posisinya masih sama seperti dulu), mengupas, memarut, merebus dengan air dan gula merah. Semua gerakan itu lancar, seperti dilakukan ribuan kali. Otot mengingat, meski otak lupa.

Ketika teh jahe jadi, dia membawakannya ke kamar Kinan, membantu Kinan minum dengan pelan.

"Tidak terlalu panas?" tanyanya, suara lembut.

"Pas, Ma," jawab Kinan, mata berkaca-kaca.

Maya duduk di tepi tempat tidur, terus membelai rambut Kinan sampai anak itu tertidur. Dan di wajah Maya, ada ekspresi yang hampir... hampir seperti dulu. Keibuan. Peduli.

Tapi ketika Kinan tertidur dan aku masuk, Maya menoleh padaku. "Anak itu... dia baik sekali ya. Seperti aku mengenalnya."

"Dia anakmu, Maya."

"Tapi aku tidak ingat." Dia memandangi tangannya sendiri tangan yang baru saja merawat anaknya. "Tubuhku ingat. Tapi kepalaku tidak."

Itu mungkin penjelasan terbaik untuk semuanya: ada ingatan di otot, di sumsum tulang, di detak jantung. Ingatan yang tidak bisa dihapus penyakit. Ingatan tentang bagaimana menjadi ibu, meski tidak ingat menjadi ibu siapa.

---

Kemunduran besar terjadi di pagi yang cerah. Seharusnya tidak ada pertanda.

Maya bangun lebih awal dari biasa. Dia mandi, berpakaian rapi bahkan memakai perhiasan sederhana yang sudah lama tidak disentuhnya. Lalu dia berdiri di depan pintu, memegang tas kecil.

"Kemana, Sayang?" tanyaku.

"Pulang," jawabnya pendek.

"Ini rumah kita."

"Bukan. Rumahku... rumahku lebih kecil. Ada pohon mangga di depan."

Itu deskripsi rumah masa kecilnya. Rumah yang sudah dijual sepuluh tahun lalu ketika Bibi Sartika pindah ke kompleks yang lebih baik.

"Maya, itu rumah lama. Kita sudah pindah."

"Tidak. Aku mau pulang. Ibu pasti sudah menunggu."

"Ibumu Bibi Sartika tinggal dekat sini. Aku telepon dia ya?"

Tapi Maya tidak mendengar. Dia membuka pintu, berjalan keluar. Masih memakai sandal rumah.

Aku panik. "Bima! Jaga Kinan dan Aisyah!"

Aku mengikutinya. Maya berjalan dengan tujuan jelas, meski menuju arah yang salah. Dia berbelok ke kanan, padahal rumah masa kecilnya ada di kiri. Tapi dia terus berjalan, seperti dipandu peta dalam ingatan yang sudah usang.

"Maya, tunggu!"

Dia tidak berhenti. Bahkan mulai berlari kecil. Aku mengejarnya, hati berdebar. Ini pertama kalinya dia mencoba "kabur". Pertama kalinya dia benar-benar tidak mengenali rumah ini sebagai rumahnya.

Akhirnya, di ujung jalan, dia berhenti. Memandangi rumah kosong yang sedang direnovasi. "Ini... bukan."

"Maya..."

"Rumahku hilang." Dia menangis tiba-tiba tangisan putus asa, seperti anak kecil yang tersesat. "Semuanya hilang. Ibu hilang. Rumah hilang. Aku... aku hilang."

Aku memeluknya di tengah jalan, tidak peduli tetangga yang mulai melihat. "Kamu tidak hilang. Kamu di sini. Bersama aku. Bersama anak-anak."

"Tapi aku tidak tahu siapa kamu! Tidak tahu siapa mereka! Aku hanya tahu aku harus pulang, tapi tidak tahu di mana rumah!"

Itu teriakan jiwa yang terluka. Bukan sekedar lupa nama atau wajah. Tapi kehilangan arah eksistensial. Tidak tahu di mana "rumah" baik secara fisik maupun metaforis.

Aku membawanya pulang dengan pelan. Di rumah, Bima dan Kinan berdiri di pintu, wajah pucat. Mereka mendengar teriakan ibunya.

"Mama...?" panggil Kinan takut.

Maya melihat mereka, lalu menatapku. "Mereka... mereka anak-anak itu?"

"Iya. Anak-anakmu."

"Dan aku... aku ibunya?"

"Iya."

Dia memandangi Bima dan Kinan lama, seperti mencoba memaksakan ingatan yang tidak datang. Lalu dia berkata sesuatu yang akan kuingat selamanya:

"Kalau aku ibu mereka... kenapa aku tidak merasakan apa-apa?"

---

Malam itu, setelah Maya tertidur (dengan bantuan obat penenang ringan), Bima masuk ke kamarku.

"Om, aku mau tidur satu kamar dengan Mama."

"Kenapa?"

"Biar kalo Mama bangun lagi mau 'pulang', ada yang tahu. Biar kalo Mama bingung, ada yang jelasin."

"Tapi kamu butuh istirahat, Bima."

"Lebih butuh jaga Mama."

Aku melihat matanya keras, dewasa sebelum waktunya. Jadi aku mengangguk.

Kinan, yang mendengar, juga minta ikut. "Adek juga mau jaga Mama."

Jadi malam itu, kami semua tidur di kamar yang sama. Aku dan Maya di tempat tidur, Bima dan Kinan di kasur darat di lantai, Aisyah di boks bayinya.

Dan di tengah malam, ketika Maya terbangun lagi bingung, Bima yang bangun duluan.

"Ma, ini rumah kita," bisiknya, memegang tangan ibunya. "Kita aman di sini."

"Kamu... siapa?"

"Aku Bima. Anakmu. Dan itu Kinan, adikku. Dan itu Aisyah, adik bayi kita. Dan itu Om Raka, suami Mama."

"Semuanya... milikku?"

"Semuanya milik Mama. Dan kami mencintai Mama. Meski Mama lupa."

Maya diam, lalu perlahan berbaring lagi. Tangannya masih memegang tangan Bima. "Kamu... anak yang baik."

"Karena Mama mengajariku jadi baik."

Itu dialog pendek. Tapi mungkin yang paling penting sejak penyakit ini menyerang. Karena di dalamnya, ada pengakuan: meski lupa, hubungan tetap ada. Meski ingatan hilang, peran tetap.

---

Pagi berikutnya, Kinan punya ide baru. "Kita buatkan Mama peta."

"Peta apa?"

"Peta keluarga. Biar kalo Mama bingung, liat peta."

Jadi kami buat peta besar di kertas karton. Di tengah, foto Maya. Dari sana, garis-garis menuju foto-foto kami semua, dengan label: "Suami: Raka", "Anak 1: Bima", "Anak 2: Kinan", "Anak 3: Aisyah". Lalu garis ke luar: "Ibu: Bibi Sartika", "Suami sebelumnya: Rangga", dll.

Kami tempel di dinding kamar Maya. Dan setiap pagi, kami tunjukkan padanya.

"Ini kita, Ma. Keluarga kita."

Hari pertama, Maya hanya memandanginya. Hari kedua, dia menyentuh foto-foto. Hari ketiga, dia bertanya: "Ini semua... orang yang mencintaiku?"

"Iya," jawab Bima. "Dan yang Mama cintai."

"Meski aku lupa?"

"Meski Mama lupa."

Maya tersenyum kecil. "Maka aku beruntung."

Itu kalimat lengkap. Jernih. Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak lama, ada penerimaan. Bukan penerimaan pada penyakit, tapi pada realitas bahwa dia dikelilingi cinta, meski tidak mengingat alasannya.

---

Minggu-minggu berikutnya, Maya tidak lagi mencoba "pulang". Sebagai gantinya, dia mulai mengamati kami. Seperti peneliti yang mempelajari spesies asing.

Dia perhatikan bagaimana Bima selalu membaca buku sambil mengunyah pensil. Bagaimana Kinan menggambar dengan lidah sedikit terjulur. Bagaimana aku memandikan Aisyah dengan nyanyian tanpa suara.

Dan suatu hari, tanpa diminta, dia mengambil pensil dari mulut Bima. "Jangan, nanti sakit."

Bima terkejut. "Ibu... ingat aku nggak suka itu?"

"Tidak. Tapi terlihat tidak sehat."

Itu logika. Bukan ingatan. Tapi tetap saja perhatian. Kepedulian.

Perlahan, Maya mulai membangun hubungan baru dengan kami. Bukan berdasarkan ingatan masa lalu, tapi berdasarkan observasi masa kini. Dia belajar bahwa Kinan suka pelukan sebelum tidur. Bahwa Bima butuh didengarkan cerita sekolahnya. Bahwa Aisyah tenang dengan sentuhan lembut di punggung.

Itu bukan ibu yang kami kenal. Tapi itu tetap seorang ibu. Yang belajar mencintai kami dari nol. Yang memilih untuk peduli meski tidak ingat kenapa harus peduli.

Dan mungkin, pikirku suatu malam sambil memandangi Maya yang tertidur dengan tangan masih memegang tangan Bima, mungkin itulah cinta sejati.

Bukan cinta karena ingatan.

Bukan cinta karena kewajiban.

Tapi cinta karena pilihan.

Pilihan untuk tetap ada.

Pilihan untuk tetap peduli.

Pilihan untuk tetap menjadi keluarga, meski peta yang lama sudah usang dan kita harus menggambar yang baru.

Dan peta baru ini dengan garis-garis yang goyah, dengan label-label yang harus terus diulang, dengan pusat yang kadang lupa bahwa dia adalah pusat tetap peta yang valid.

Karena menunjuk pada satu kebenaran: kami bersama.

Dalam bahasa apapun.

Dalam ingatan apapun.

Dalam keadaan apapun.

Kami bersama.

Dan untuk saat ini, itu sudah menjadi seluruh kamus yang kami butuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!