Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tamu Tanpa Ketukan
Hawa dingin yang tidak wajar merayap dari celah pintu apartemen saat Arlan memasukkan kunci ke lubangnya. Lorong Sektor 7 biasanya berbau debu lama dan masakan tetangga, namun malam ini, aroma ozon yang tajam—seperti bau kabel terbakar—mendominasi udara. Arlan teringat bagaimana bayangannya sendiri sempat tertinggal di genangan air gang beberapa jam yang lalu, dan rasa tidak nyaman itu kini kembali menggedor dadanya dengan lebih keras.
Saat pintu terbuka, Arlan membeku di ambang pintu. Di ruang tamunya yang remang, seorang pria duduk dengan kaku di kursi kayu tua milik ayahnya. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak kusam, tangannya terlipat di atas lutut dengan simetri yang terlalu sempurna.
"Pak Budi? Bagaimana Bapak bisa masuk? Saya yakin sudah mengunci pintu ini sebelum berangkat ke pasar tadi," Arlan bertanya, suaranya rendah namun penuh selidik. Tangannya tetap memegang gagang pintu, siap untuk berlari jika situasi memburuk.
"Pintu kayu ini sudah tua, Arlan. Selotnya sedikit longgar, aku hanya perlu mendorongnya sedikit untuk memastikan kau baik-baik saja," jawab pria itu. Ia menoleh perlahan, gerakannya patah-patah seolah sendi lehernya perlu dilumasi.
"Bapak biasanya mengetuk pintu sampai seluruh lantai ini tahu Bapak datang. Kenapa sekarang begitu sunyi?" Arlan melangkah masuk, namun ia menjaga jarak setidaknya tiga meter.
"Kota sedang sangat bising belakangan ini, Nak. Aku hanya ingin menikmati ketenangan di rumahmu. Kau punya kopi? Aku merindukan aroma kopi yang biasa kau seduh," Pak Budi tersenyum. Senyum itu tidak sampai ke matanya yang terbuka lebar tanpa berkedip.
Arlan berjalan menuju dapur kecilnya dengan perasaan waspada yang memuncak. Ia meletakkan tas kurirnya di atas meja, merasakan berat Koin Perak di dalam sakunya yang memberikan getaran dingin. Sambil menyalakan kompor, ia memperhatikan jam tangan di pergelangan tangan Pak Budi yang terlihat dari balik bayangan lampu kuning. Jarum jam itu bergerak mundur, lalu berhenti, lalu meloncat maju lima menit sekaligus.
"Saya hanya punya kopi hitam sisa kemarin, Pak. Bapak masih suka dengan tambahan dua sendok gula dan krimer yang banyak, kan?" tanya Arlan, melempar sebuah umpan memori yang sengaja ia pelintir.
"Ya, tentu saja. Kau selalu tahu cara menyajikan kopi yang pas untuk tetangga lamamu ini. Dua sendok gula dan krimer, jangan lupa," sahut Pak Budi dengan nada datar yang mencoba terdengar akrab.
Arlan terdiam di depan teko air yang mulai mendesis. Pak Budi yang asli adalah penderita diabetes yang sangat disiplin. Pria itu selalu meminum kopi terpahit yang bisa ditemukan di Lentera Hitam dan sering kali menceramahi Arlan tentang bahaya gula bagi kesehatan. Entitas yang duduk di ruang tamunya saat ini adalah seorang peniru yang gagal mengakses database memori kesehatan subjeknya.
"Segera siap, Pak. Tunggu sebentar," Arlan berujar sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir porselen.
Hampa akustik mulai menyelimuti ruangan. Suara desis kompor tiba-tiba terasa jauh, seolah-olah Arlan sedang berada di bawah air. Ia memutar tubuhnya sedikit, mencoba melihat pantulan Pak Budi melalui permukaan sendok logam yang mengkilap di atas meja dapur. Melalui teknik penglihatan pantulan tersebut, Arlan melihat sesuatu yang mengerikan: bayangan Pak Budi di dinding tidak bergerak sama sekali, meskipun tubuh aslinya sedang mencondongkan badan ke depan.
"Arlan, kenapa kau lama sekali di sana? Apa kopinya sudah siap?" Pak Budi bertanya. Suaranya kini terdengar lebih berat, kehilangan resonansi manusiawi yang biasa ada.
"Hanya memastikan airnya benar-benar mendidih, Pak. Bapak tahu sendiri, kopi tidak akan jujur jika diseduh dengan air yang setengah matang," Arlan menjawab sambil melangkah kembali ke ruang tamu, membawa nampan kecil.
"Kau benar. Kejujuran adalah hal yang langka di kota ini. Terutama di antara kita yang masih memilih untuk bernapas," Pak Budi menatap dada Arlan yang naik-turun.
Arlan menyadari maksud ucapan itu. Ia memperlambat napasnya, mencoba meniru ritme napas manual yang kaku agar tidak terlihat terlalu "bernyawa" di depan pemangsa ini. Ia meletakkan cangkir kopi di depan Pak Budi.
"Silakan diminum, Pak. Masih sangat panas," Arlan duduk di kursi seberang, matanya terpaku pada tangan Pak Budi yang mulai menjangkau cangkir.
"Terima kasih. Kau anak yang baik, Arlan. Sayang sekali jika sesuatu yang baik harus hilang karena ia tidak mau menyesuaikan diri dengan frekuensi yang baru," Pak Budi menggenggam cangkir itu.
Arlan memperhatikan dengan seksama. Saat jari-jari Pak Budi menyentuh porselen yang panas membara, suhu di sekitar meja mendadak jatuh. Uap kopi yang tadinya membubung tinggi tiba-tiba menghilang, seolah-olah panasnya diserap secara instan oleh tubuh pria itu. Fenomena endotermik ini adalah bukti fisik bahwa sel-sel peniru itu sedang bekerja keras untuk menjaga kestabilan bentuknya di tengah gangguan energi luar.
"Bapak tidak merasa kopinya terlalu panas? Saya baru saja menuangkan airnya dari kompor," Arlan bertanya, suaranya tetap tenang meski adrenalinnya mulai membanjiri sistem sarafnya.
"Panas adalah persepsi yang bisa diabaikan, Arlan. Seperti halnya duka, atau rasa kehilangan. Jika kau bisa menghapusnya dari pikiranmu, ia tidak akan menyakitimu lagi," Pak Budi mengangkat cangkir itu ke bibirnya.
"Bapak bicara seolah Bapak bukan lagi Pak Budi yang mengajariku cara menanam tomat organik di balkon dulu. Bapak yang asli selalu mengeluh tentang jari yang perih jika terkena air hangat sedikit saja," Arlan menyilangkan lengannya, jarinya menyentuh tepian meja.
"Manusia berubah, Arlan. Kadang kita harus melepaskan bagian yang lemah agar bisa bertahan hidup di dunia yang semakin keras ini. Bukankah kau juga merasa begitu? Sejak kau mulai menemukan koin-koin itu di saku orang-orang yang pergi?"
Pertanyaan itu membuat jantung Arlan seolah berhenti berdetak. Peniru ini bukan sekadar tetangga yang tersesat; ia adalah utusan yang dikirim untuk memvalidasi apakah Arlan sudah menjadi ancaman bagi proses penyalinan kota.
"Saya tidak tahu apa yang Bapak bicarakan. Saya hanya seorang kurir. Tugas saya mengantar barang, bukan menyimpan koin," Arlan mencoba memberikan protokol bicara underdog yang paranoid.
"Jangan berbohong padaku, Arlan. Aku bisa mencium bau logam dari sakumu. Koin itu bukan milikmu. Koin itu adalah data yang seharusnya dihapus bersama pemiliknya," Pak Budi meletakkan kembali cangkirnya tanpa meminum setetes pun.
"Jika data itu begitu penting bagi kalian, kenapa tidak kalian ambil saja sejak tadi?" Arlan menantang, matanya menatap tajam ke arah mata Pak Budi yang kini mulai menunjukkan retakan kecil di bagian pupilnya.
"Karena kami ingin kau menyerahkannya secara sukarela. Martabatmu sebagai manusia asli akan tetap terjaga jika kau bekerja sama. Jika tidak, proses penghapusan Sektor Tujuh akan dipercepat, dan itu termasuk ibumu yang sedang tertidur di kamar sebelah," suara Pak Budi kini sedingin es.
Arlan melirik ke arah pintu kamar ibunya yang tertutup. Ia teringat distorsi tahi lalat di pipi ibunya tempo hari—sebuah tanda bahwa infiltrasi sudah masuk ke sumsum keluarganya. Amarah mulai menggantikan rasa takutnya. Ia tidak akan membiarkan entitas tanpa saraf ini mengancam satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup.
"Bapak tahu, Pak Budi? Ada satu hal yang Bapak lupakan tentang cara meminum kopi di rumah ini," Arlan meraih teko panas yang masih ia pegang di bawah meja.
"Apa itu?" peniru itu miringkan kepalanya.
"Kopi di sini tidak pernah diminum. Kopi di sini digunakan untuk menguji siapa yang benar-benar bisa merasakan sakit."
Arlan menyentakkan tangannya. Teko perak itu terayun cepat, menyiramkan air yang masih mendidih tepat ke arah punggung tangan Pak Budi yang sedang bertumpu di atas meja. Uap panas mengepul seketika, menutupi pandangan di antara mereka selama beberapa detik. Arlan menahan napas, matanya tidak berkedip mencari reaksi refleks yang seharusnya dilakukan oleh makhluk hidup mana pun.
Namun, tidak ada jeritan. Tidak ada tarikan tangan yang mendadak atau sumpah serapah karena rasa perih. Pak Budi hanya menatap tangannya yang basah kuyup oleh air panas dengan sorot mata yang datar, seolah-olah ia sedang memperhatikan tetesan hujan yang jatuh ke permukaan semen.
"Kau sangat ceroboh, Arlan. Air ini... suhunya cukup mengganggu," ujar Pak Budi dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
Pria itu mengangkat tangannya. Kulitnya memerah hebat, namun ia tidak menunjukkan tanda-tanda trauma saraf. Arlan melihat dengan ngeri bagaimana warna merah itu memudar dalam hitungan detik, terserap oleh zat keperakan yang samar-samar berkilau di bawah pori-porinya sebelum kembali menjadi warna kulit yang pucat dan mati.
"Seharusnya kau berteriak, Pak. Air itu baru saja mendidih di atas kompor," Arlan meletakkan teko dengan tangan yang kali ini benar-benar gemetar.
"Mungkin aku sudah terlalu tua untuk merasakan panas yang sepele. Atau mungkin, tubuh ini sudah belajar untuk tidak mempedulikan sinyal yang tidak perlu," Pak Budi berdiri, gerakannya sangat presisi, tanpa ada goyangan tubuh atau inersia manusiawi.
"Bapak tidak pernah bekerja di tempat yang keras. Bapak adalah guru sejarah yang selalu mengeluh jika air mandi terlalu hangat," Arlan mendorong kursinya ke belakang, menciptakan suara gesekan nyaring yang membelah hampa akustik di ruangan itu. "Siapa kau sebenarnya? Di mana Pak Budi yang asli?"
Sosok di depannya terdiam. Senyumnya tidak luntur, namun otot-otot wajahnya mulai berkedut secara tidak sinkron. Mata kirinya berkedip cepat, sementara mata kanannya tetap menatap kosong ke arah Arlan dengan pupil yang melebar secara tidak alami.
"Ingatan adalah beban yang sering kali korup, Kurir. Kau seharusnya tidak terlalu memuja cangkang yang sudah tidak memiliki frekuensi," suara Pak Budi kini berubah, menjadi lebih berat dan kehilangan seluruh intonasi manusiawinya.
"Kau membunuhnya? Kau menghapus tetanggaku hanya untuk duduk di kursinya?" Arlan merasakan amarah yang murni membakar dadanya, sebuah martabat yang menolak untuk disamakan dengan simulasi data digital.
"Kami tidak menghapus. Kami menyelaraskan. Berikan koin yang kau temukan di saku satpam itu, Arlan. Benda itu mengandung residu emosional yang bisa mengacaukan sistem penyalinan di blok ini," peniru itu melangkah maju, menghisap seluruh panas di sekitarnya hingga bunga es mulai terbentuk di kaki meja.
"Aku tidak tahu koin apa yang kau maksud. Aku hanya membawa barang yang hilang, bukan rahasia kota," Arlan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding yang terasa sebeku es.
"Kebohonganmu memiliki frekuensi yang sangat berisik. Berikan koin itu sekarang, atau aku akan memastikan distorsi pada ibumu tidak hanya terbatas pada letak tahi lalatnya besok pagi," ancam sosok itu, matanya kini memancarkan cahaya biru redup yang mengerikan.
Arlan melirik pintu kamar ibunya yang masih tertutup rapat. Ia tahu ia tidak bisa melawan entitas ini dengan kekuatan fisik murni di dalam ruang sesempit ini. Ia harus menggunakan strategi pilihan ketiga. Ia teringat Pak Budi yang asli sangat membenci keributan dan selalu menjaga reputasinya di depan publik apartemen.
"Bapak tahu apa yang akan terjadi jika aku berteriak sekarang? Seluruh lantai ini akan keluar, dan mereka akan melihat betapa anehnya kulitmu yang mengelupas itu," bisik Arlan, tangannya merayap ke arah kunci pintu utama.
"Mereka tidak akan peduli. Mereka sedang tertidur dalam sinkronisasi yang kami buat."
"Mungkin mereka sinkron, tapi sistem alarm kebakaran gedung ini tidak," Arlan dengan cepat menyambar korek api di atas meja dan menyalakan serbet kain yang ia basahi dengan sisa minyak goreng dari dapur. "Keluar dari sini, atau aku akan membuat seluruh Sektor Tujuh melihat betapa palsunya dirimu dalam cahaya api yang nyata!"
Arlan melemparkan kain yang terbakar itu ke arah kaki peniru. Sinar api yang kuning kemerahan menciptakan bayangan yang bergerak liar, mengacaukan frekuensi optik peniru yang terbiasa dengan cahaya biru statis. Sosok itu mundur dengan gerakan patah-patah, wajahnya tampak retak seolah-olah topeng plastiknya mulai meleleh.
"Kau hanya menunda hal yang tak terelakkan, Arlan," sosok itu berkata dengan suara yang kini terdengar seperti ribuan statik radio yang bertabrakan.
Peniru itu berbalik dan berjalan keluar dari apartemen dengan langkah yang tidak meninggalkan suara sama sekali di atas lantai beton. Arlan segera membanting pintu, menguncinya dengan semua gerendel yang ada, dan merosot jatuh ke lantai dengan napas yang memburu.
Ia menatap tangannya yang memerah karena sisa uap panas, merasakan nyeri yang berdenyut—sebuah rasa sakit yang nyata, yang membuktikan bahwa ia masih menjadi bagian dari dunia yang asli. Ia merogoh Koin Perak di sakunya, memegangnya erat di depan dada seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai kepalsuan ini. Arlan menangis dalam diam, menyadari bahwa rumahnya bukan lagi sebuah tempat berlindung, melainkan sebuah medan perang yang dingin.