NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PILIHAN DI UJUNG PELATUK

Lampu sorot dari mobil lapis baja Adrian menyilaukan mata, menciptakan fatamorgana yang menyakitkan di tengah kegelapan gudang tua itu. Arunika berdiri mematung. Di depannya, Rendra bersimpuh dengan moncong pistol Adrian menekan pelipisnya. Pemandangan itu seolah menghentikan waktu. Oksigen di sekitar Arunika terasa menipis, digantikan oleh aroma bensin dan debu yang menyesakkan.

"Jangan, Adrian... aku mohon, turunkan senjatamu," suara Arunika bergetar, nyaris hilang tertelan deru mesin mobil yang masih menyala.

Adrian tetap tenang. Wajahnya yang simetris dan sempurna tampak seperti patung porselen yang dingin di bawah cahaya lampu sorot. "Kau tahu aku benci pengulangan, Arunika. Pilih. Kembali ke sisiku sebagai istri yang patuh, atau biarkan pria ini mati sebagai pahlawan yang gagal."

Rendra menatap Arunika dengan mata yang merah. "Jangan kembali padanya, Arunika! Lari! Biarkan dia membunuhku, tapi jangan biarkan dia memilikimu lagi!"

"Diam, sampah," desis Adrian, sambil menekan pistolnya lebih keras ke kepala Rendra hingga pria itu mengerang kesakitan.

Di dalam saku gaunnya yang sudah kotor dan robek, tangan Arunika menggenggam ponsel yang baru saja bergetar. Pesan dari Sandra masih terbayang di benaknya: Tembak tangki bensin di lampu sorot ketiga.

Masalahnya, Arunika tidak pernah memegang senjata seumur hidupnya. Tangannya gemetar hebat. Namun, Maya yang bersembunyi di balik pilar kayu di sisi gelap, perlahan menggeser sebuah pistol kecil ke arah kaki Arunika. Gerakannya sangat halus, luput dari pengawasan Adrian yang terlalu fokus pada mangsanya.

Arunika melirik pistol itu, lalu melirik ke arah lampu sorot ketiga—sebuah unit lampu besar yang terpasang di atas mobil tangki bahan bakar cadangan milik tim Adrian.

"Tiga detik, Arunika," ucap Adrian dengan nada menghitung yang santai. "Satu..."

Arunika merasakan lonjakan adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi soal rasa takut; ini adalah insting bertahan hidup yang selama ini dipendam oleh aturan-aturan Adrian. Proyek Medusa, hormon ketakutan, Elena... semuanya melintas seperti kilatan petir di kepalanya.

"Dua..."

Arunika menjatuhkan dirinya ke lantai, menyambar pistol pemberian Maya, dan tanpa membidik dengan benar, ia menarik pelatuknya ke arah lampu sorot ketiga.

DOR!

Peluru itu meleset dari lampu, tapi menghantam sambungan selang tangki bensin di bawahnya. Percikan api bertemu dengan uap bahan bakar yang bocor.

BOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang gudang tersebut. Api membubung tinggi, menciptakan dinding api yang memisahkan Adrian dari Rendra. Ledakan itu begitu kuat hingga menghempaskan Adrian ke belakang. Tekanan udara membuat kaca-kaca mobil pecah berkeping-keping.

"SEKARANG!" teriak Maya.

Maya muncul dari kegelapan, menembakkan rentetan peluru ke arah ban mobil lapis baja untuk memastikan mereka tidak bisa mengejar. Rendra segera bangkit dan berlari ke arah Arunika. Ia menarik tangan wanita itu, membawa mereka masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang gelap di balik tumpukan peti kayu.

Di belakang mereka, di tengah kobaran api yang menggila, Arunika sempat menoleh. Ia melihat Adrian berdiri di tengah api. Pria itu tidak tampak kesakitan atau panik. Ia hanya berdiri di sana, menatap ke arah terowongan dengan ekspresi yang sangat tenang—ekspresi yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. Adrian hanya merapikan kerah jasnya yang terkena debu, seolah-olah ledakan itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwal hariannya.

Mereka berlari menembus kegelapan terowongan selama hampir lima belas menit hingga sampai di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi di pinggiran sungai. Sebuah kapal cepat sudah menunggu dengan mesin yang menderu pelan.

"Masuk! Cepat!" perintah Maya.

Begitu mereka berada di atas kapal, Maya segera memacu mesin dengan kecepatan penuh. Angin malam yang dingin menerpa wajah Arunika, membantu menjernihkan pikirannya dari sisa-sisa efek obat Adrian.

Rendra memeluk bahu Arunika yang masih gemetar. "Kita berhasil. Kita akan keluar dari kota ini, Arunika. Aku sudah menyiapkan paspor palsu dan tempat tinggal di luar negeri."

Arunika menatap air sungai yang hitam pekat. Ia mengeluarkan map yang diberikan Maya tadi dan memeluknya erat. "Ini belum berakhir, Rendra. Adrian tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan 'koleksinya' kembali. Dan aku... aku tidak bisa lari selamanya."

"Apa maksudmu?" tanya Rendra bingung.

Arunika menatap Maya yang sedang fokus mengemudi. "Kebenaran tentang Elena... fakta bahwa dia adalah adiknya... dan riset gila itu. Selama Adrian masih memiliki kekuasaan dan teknologi itu, tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Dia akan terus menciptakan 'Arunika-Arunika' yang lain."

Maya menoleh sekilas. "Dia benar, Rendra. Valerius Group punya jaringan di mana-mana. Satu-satunya cara untuk benar-benar bebas adalah dengan menghancurkan sumber kekuasaannya: Project Medusa dan bukti-bukti kejahatannya terhadap Elena."

"Tapi bagaimana?" tanya Rendra putus asa. "Kita hanya beberapa orang melawan satu kerajaan."

"Sandra," ucap Arunika pendek. "Dia masih di sana. Dia adalah kunci kita."

Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah aman yang tersembunyi di tengah hutan pinus. Maya segera memberikan obat penawar yang lebih kuat kepada Arunika dan memeriksa lukanya.

"Istirahatlah. Besok kita akan menyusun rencana," kata Maya sebelum meninggalkan Arunika dan Rendra di kamar kecil yang sederhana namun aman.

Arunika tidak bisa tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Ia menyentuh lehernya—tempat choker hitam pemberian Adrian biasanya melingkar. Meski kalung itu sudah dilepas, ia masih merasa sensasi tercekik itu ada di sana.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah panggilan video masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Arunika ragu, tapi ia mengangkatnya.

Layar ponsel itu menampilkan ruangan kerja Adrian yang megah di mansion. Adrian duduk di kursi kebesarannya, menyesap segelas wiski. Wajahnya memiliki luka gores kecil di pipi akibat ledakan tadi, tapi dia tampak sangat santai.

"Selamat malam, Arunika," sapa Adrian. Suaranya terdengar sangat jernih, seolah dia berada tepat di sampingnya. "Bagaimana rasanya menghirup udara luar? Dingin, bukan?"

Arunika mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih. "Jangan pernah hubungi aku lagi, Adrian. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu tentang Elena."

Adrian terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Arunika berdiri. "Ah, jadi kau sudah bertemu dengan 'hantu' masa laluku. Kau harus tahu, Arunika, Elena adalah kegagalan terbesarku karena aku terlalu mencintainya. Tapi kau... kau adalah penyempurnaan."

"Aku bukan barang, Adrian!"

"Kau adalah segalanya bagiku, Sayang. Kau pikir kau bisa lari? Lihatlah ke arah jendela di belakangmu."

Arunika membeku. Ia perlahan menoleh ke arah jendela. Di tengah kegelapan hutan pinus, ia melihat sebuah titik merah kecil yang menempel di kaca jendela. Titik merah dari laser penembak jitu.

"Aku bisa menarik pelatuknya sekarang dan mengakhiri pelarianmu yang melelahkan ini," ucap Adrian lewat ponsel. "Tapi aku ingin kau kembali atas kemauanmu sendiri. Aku memberimu waktu empat puluh delapan jam. Jika kau tidak mengetuk pintu rumahku dalam waktu itu, aku akan memastikan Rendra dan wanita bernama Maya itu lenyap dari muka bumi tanpa jejak."

Adrian mendekatkan wajahnya ke kamera. "Dan satu lagi... selamat atas kehamilanmu, Arunika. Riset itu menunjukkan bahwa subjek yang sedang mengandung menghasilkan hormon yang jauh lebih stabil. Jangan biarkan anakku kedinginan di hutan itu."

Klik. Sambungan terputus.

Arunika menjatuhkan ponselnya. Dunianya gelap seketika. Hamil? Bagaimana mungkin?

Ia meraba perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. Di tengah keputusasaan untuk bebas, Adrian baru saja menanamkan rantai yang paling kuat untuk menariknya kembali ke dalam sangkar emas yang mematikan itu.

Arunika tidak memberitahu Rendra soal telepon itu. Ia hanya diam menatap titik merah yang perlahan menghilang dari jendelanya. Ia menyadari satu hal: untuk mengalahkan iblis, ia tidak bisa tetap menjadi malaikat. Ia harus menjadi monster yang lebih besar dari Adrian Valerius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!