Jelly Putri Wijaya sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Benjamin Huang. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Jelly ke Hongkong mempertemukan gadis itu dengan Oscar Liu, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Jelly yang kikuk dan misterius, membuat Oscar tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Oscar yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Jelly bukanlah gadis sembarangan, membuat Oscar jadi mempertanyakan niatnya. Jelly pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Jelly kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?
Bagaimana kisahnya? yuk ikuti di novel baruku.. 🙏
Jika suka, like, komen positif, sub, rate 5 and share ya.. Terimaka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Setelah mencuci tangan dan mengelap wajah di kaca wastafel kamar mandi, Jelly memutar tubuh untuk masuk ke salah satu bilik. Ia hampir saja menjerit kaget mendapati dua gadis kecil berlari sambil tawa cekikikan dan menggelembungkan permen karet, dari bilik yang dipikirnya kosong.
"Sial, " gerutu Jelly pada dirinya sendiri sambil tangan kanannya menjatuhkan tas begitu masuk ke bilik. " Ah, kenapa aku kacau sekali hari ini? " Ia menutup matanya dan mengetuk- ngetukkan keningnya di balik pintu.
Jelly merosot duduk di kloset sambil kedua tangan menutupi wajahnya. "Sulit dipercaya, " bisiknya dan beberapa saat kemudian. Lalu ia menggeleng dan meringis, "Tidak.Hal seperti ini tidak boleh mengubah keputusanku. "
Jelly mengedik saat wajahnya mulai terasa panas, ia mengingat tatapan orang-orang pada dirinya tadi. Ah, sungguh ia terlalu malu untuk kembali ke ruang tadi yaitu ruang tunggu.
Kegelisahannya tentang perjalanan ini boleh saja jadi terkikis, namun belum apa-apa, situasi malah dan ia hampir membuat dirinya menelan dilema. Jelly kini meringis saat wajah petugas keamanan tadi datang dan menyelinap ke dalam pikirannya. Meski, merasa malu, tapi setidaknya pria itu benar, sebaiknya Jelly membeli baterai smartphone yang baru sekarang.
Jelly bangkit dan menarik tasnya. Namun setelah ia memutar kenop, tubuhnya langsung bergeming dan mengetahui pintu itu tidak boleh terbuka. "Kenapa lagi pintu ini? pikirnya dengan kening berkerut. Tanpa berpikiran macam- macam ia memutar- mutar kenop itu sekali lagi.
Hei, kenapa pula pintu ini tidak bisa terbuka?Jelly pun kembali mengamat - amati pintu dan kenop itu bergantian. Mungkinkah ada sesuatu yang aneh dan mengganjal tempat kuncinya? Secuil kekhawatiran mulai terbit di benaknya.
Jelly mencoba menekan- nekan pintu itu agak keras." Apa lagi sekarang?!" serunya mulai gusar.
"Kau membutuhkan bantuan? " Suara wanita di luar terdengar seperti menangkap kesulitan yang sedang di hadapi Jelly Putri Wijaya saat ini.
"Ya, ya. " Jelly menyahut sambil masih menarik- narik pintu. "Kurasa sesuatu menyumbang pintu ini, ah.. entahlah. " ia bisa melihat bayangan seseorang di balik pintunya sedang menunduk.
"Ya ampun... "
Ya ampun? Kenapa? Apa yang terjadi? Jelly semakin menghentikan usahanya. "Ada apa? " tanyanya was- was dan menanti- nanti.
"Kau benar. Ada sesuatu yang menyumbatnya." ada seorang wanita di balik pintu ini sedang berhenti dan sejenak , seperti menelusuri sesuatu yang dilihatnya. "Seperti lem, dan.... astaga, permen karet! "
"Permen karet? " tanya Jelly kaget. Kemudian ia ingat dua gadis kecil yang menggunakan bilik sebelumnya. "Benar, pasti anak- anak kecil itu, "tandasnya sambil memberengut.
"Anak-anak yang mana? "
"Lupakan saja, " ujar Jelly cepat. " Apa Anda dapat membantuku menarik pintu ini dari luar? "
"Coba kita lihat. " Wanita itu menuruti permintaannya. Namun setelah beberapa kali mencoba, yang ia bisa terdengar hanya gerutuan panjang." Tenagaku sangat kurang, Sayang. Apa kau bisa menunggu sebentar?"
"Apa? Tidak, jangan tinggalkan aku! " Jelly pun mulai panik.
"Tidak, tidak, aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya perlu memanggil petugas untuk membuka pintu ini".
Sadar tidak punya pilihan, Jelly pun semakin mundur selangkah dan meringis kembali. "Baiklah, " sahutnya sambil menahan lemas pada lututnya. "Terimakasih."
****
Wow, wow, ada apa ini? Oscar Liu baru saja keluar dari pintu kamar mandi ketika wanita tua itu tiba-tiba menghampirinya, di dekat troli berisi peralatan untuk kebersihan.
"Nak, apa kau bisa membantuku sebentar?" tanyanya panik kepada Oscar Liu."Seorang gadis terjebak di salah satu bilik toilet,kuharap kau bisa membantunya untuk keluar dari bilik itu."
Seorang gadis terjebak di salah satu bilik toilet?
Melihat kilat ketakutan pada mata wanita dihadapan nya, ia tahu wanita itu serius.
"Tolong...? " Wanita itu memohon ketika melihat raut wajah Oscar Liu yang ragu- ragu.
Merasa dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain ia bisa membantu wanita itu, Oscar Liu akhirnya ia bisa mengangguk paham sambil berkata pendek, " Hmm, baiklah. "
"Terimakasih."
Ia mengikuti wanita berbusana wol warna coklat itu dari belakang, menuju toilet wanita.
"Di sana. " Wanita itu menjulurkan telunjuknya ke arah bilik paling ujung. Dan wanita itu benar, Oscar Liu ini memang mendengar suara gadis meminta tolong dari dalamnya.
"Pintunya tertahan, " gadis itu menyahut tanpa dirinya bertanya. "Kurasa aku menemukan bekas botol lem Araldite di dalam kotak sampah. "
Sementara wanita tua tadi menjelaskan situasinya kenapa laki-laki sepertinya bisa berada di dalam toilet perempuan ke beberapa gadis lain yang berdiri di ambang pintu, Oscar Liu meraba-raba pintu bilik ke dalam gerakan memeriksa.
"Nona, apa kau bisa menjauh dari pintu?"
"Apa? Tapi untuk apa?"
Oscar Liu tidak bisa menahan diri untuk memutar- mutar matanya. "Aku perlu mendobraknya. "
"Oh, oke. "
Oscar Liu menurunkan ranselnya, tas gitarnya dan violin miliknya ke lantai. Ia melirik ke wanita tua yang berdiri gugup di sampingnya sekilas, lalu menatap ke pintu itu lagi. Setelah menghirup udara secukupnya, dalam satu tendangan mengentak, pintu itu berhasil di dobrak.
"Kau bisa keluar seka..." Oscar Liu cepat sekali untuk menghentikan kalimatnya saat mendapati gadis itu yang baru saja keluar dari bilik. Sepertinya gadis itu belum menyadari kehadirannya karena masih sibuk mengusap- usap rok. "Kau? " Alis Oscar Liu terangkat tinggi.
Gadis itu mengangkat wajah dan langsung terkesiap menemukan Oscar Liu. Tubuhnya bergerak panik dan ketika Oscar Liu maju dan menatapnya lurus- lurus.
Tidak salah lagi, ini gadis sampah yang tadi, pikir Oscar Liu mengingat- ingat.
Untuk sejenak gadis itu mematung, tetapi kemudian melirik wanita tua yang berdiri di sudut kamar mandi dan berkata, " Terimakasih. "
"Tidak apa-apa. " Wanita itu tersenyum khawatir dari raut wajahnya yang tua. "Tadi katamu kau melihat dan menemukan bekas lem Araldite, seseorang yang menyumbat pintu ini pasti menemukannya di dalam troli peralatan untuk kebersihan di depan pintu ke kamar mandi ini."
"Y.. Ya.. Ya, dua gadis kecil itu, sebenarnya. " Gadis itu meringis.
"Baiklah." Wanita itu tersenyum ke arah gadis itu dan Oscar Liu. "Kalau begitu aku harus pergi sekarang."
"Sekali lagi terimakasih!" gadis itu berseru lagi saat ia melihat wanita tadi sudah berlalu. Hening beberapa saat. Lalu gadis itu melirik Oscar Liu sekilas ia pun seperti menelan ludah.
"Bukankah kau gadis sampah yang di ruang tunggu tadi?"
****
Mata Jelly melebar kaget mendengar kalimat laki-laki di hadapannya. Gadis sampah? Siapa yang dia sebut " gadis sampah"? Ia membuka mulut hendak untuk menanyakan hal itu, tetapi mendengar nada serius laki-laki di hadapannya, Jelly segera mengurungkan niat. Dia tidak menduga laki-laki itu akan berbicara hal semacam itu. Padahal Jelly baru saja mendapat keyakinan dirinya kalau penglihatannya saat ini pasti keliru. Laki-laki yang berdiri di depannya itu tidak lain mungkin Oscar Liu.
Bersambung!!