My Cinderella

My Cinderella

Bab 1.

Pegangannya di gelas mengencang saat ia melihat gadis di depannya tersenyum dingin.

Masih. Gadis itu masih berbicara.

Ia tahu dirinya belum bisa menyela gadis itu, tahu kalau ia terlalu terkejut untuk melakukannya.

Keriuhan pesta pertunangan di sekitarnya mendadak senyap.Sungguh aneh.Ia masih bisa melihat melihat beberapa orang bercakap, meneguk minuman dan tertawa di sudut- sudut ruangan. Tapi kenapa yang di dengarnya hanya helaan napas putus asa dari gadis dihadapannya?

Sesak dalam dadanya semakin menjadi ketika gadis itu menurunkan pandangan dan menggeleng, setelah mengatakan hal yang paling ditakutkan olehnya.

Seperti dugaannya, gadis itu mulai tahu.

Perlahan ia menghembuskan napas yang sejak tadi di tahannya, berharap gadis itu tidak membaca apa yang menjadi kegugupan dan kengerian yang telah terpancar di matanya.Tapi di matanya saat ini hanya ada kegelapan. Gadis itu pasti memperhatikan.

Dan ada yang berbeda dari cara gadis itu menatap dirinya. Bola mata cokelat terang itu Seakan-akan menusuk sesuatu di dalam dirinya, membuat nyeri di sekujur tubuhnya sekarang.

"Kau salah paham. " Tenggorokannya tercekat, dan suaranya terbata- bata saat mengucapkan kalimat itu. Ia berharap gadis itu percaya, meski mustahil gadis itu mau menelan mentah- mentah penjelasan singkat semacam itu."Dan kau keliru."

Tatapan gadis itu tampak terluka, ia semakin kalut dan lumpuh. Entah ekspresi apa yang terpantul di wajahnya sendiri saat ini, ia masa bodoh.

Satu hal disadarinya, saat ini, ia enggan menunggu lebih lama lagi. Cepat atau lambat, sebelum gadis itu semakin membencinya...

Ia harus pergi.

Bagaimanapun caranya.

Canberra, Australia.

Ruang tunggu bandara Canberra dipenuhi beberapa calon penumpang. Selain obrolan dalam berbagai bahasa asing yang menyeruak di udara terdengar deru pesawat lepas landas dan mendarat pun telah membuat situasi semakin bising.

Hari itu, di awal bulan Oktober, cuaca dilaporkan oleh pemberitaan media mengenai cuaca hari ini adalah cukup berangin. Hal ini dilihat dari pemandangan yang menaungi apron di luar sana. Hujan yang reda beberapa menit lalu meninggalkan jejak berupa langit biru yang jernih. Kini segalanya tampak jelas di sekitar dan terasa lebih menyenangkan.

Seperti perasaan Oscar Liu siang ini.

Diantara ratusan penumpang yang sibuk berceloteh, Oscar Liu duduk di salah satu bangku menghadap ke jendela kaca besar. Tas gitar abu- abu dan sebuah kotak violin bersandar di sebelahnya. Wajah Oscar Liu yang putih tampak berseri. Pancaran di matanya pun berkilat- kilat senang di balik kacamata hitam, ia merasa dirinya seolah-olah hidupnya sekarang ini tak memiliki beban apapun.

Dan detik ini, pendapat itu bisa dibilang benar.

Oscar Liu menyalakan IPod dan mulai mendengarkan lagu dari earphones.Sambil tersenyum lebar, ia mulai mengetukkan ujung telunjuknya pada layar IPod yang menampilkan foto lelaki berambut gondrong sedang memainkan violin. "Tunggu aku, Daniel, " katanya.

Oscar memang ingin secepatnya menyaksikan satu konser perdana musisi Inggris yang mempengaruhi musiknya di Hongkong,bulan depan. Hal ini membuat dirinya bersemangat sekali untuk hadir.

Saking senangnya, ia merasa perlu membagi sedikit keceriaannya kepada siapapun yang dilihatnya. Ia pun menyesap kopi di gelas kartonnya.Dan, seulas senyuman itu bertahan lama.

Ini mungkin bukan hanya tentang konser perdananya ataupun cuaca yang cerah. Tapi juga karena sudah lama sekali Oscar Liu menanti kesempatan ini untuk bepergian seperti saat ini. Bebas dari studio, bebas dari jadwal pembuatan video klip, dan bebas dari manajernya yang berisik. Sulit dipercaya, ternyata ini hidup bisa terasa seriang ini, pikirnya lega.

Oscar melepas earphones dan menaruh gelas karton di sisi violin. Lalu ia mengaduk ransel miliknya untuk mengeluarkan buku yang belum sempat dituntaskan olehnya sejak.. sejak.. entahlah, ia sendiri lupa.Oscar Liu hampir tidak bisa mengingat kegiatan normal itu yang biasa dilakukannya selain bermusik. Ia yakin ini hadiah dari awal latihan padat untuk tur dari album terbarunya di Hongkong tiga minggu lagi, sejak awal tahun ini atau beberapa bulan lalu. Karena itu pula, manajernya. Meski terpaksa, akhirnya memberikan Oscar Liu kelonggaran untuk cuti sejenak.

Beberapa detik kemudian hpnya Oscar Liu berbunyi. Ia meraba-raba saku mantel, mengeluarkan hpnya, kemudian tersenyum sekilas melihat nama Berliana, si manajernya, di layar. "Ada apa? "

"Kau sudah di bandara? "

"Ya."

"Kau hanya punya waktu dua minggu sebelum kamu ada rehearsal ".

" Aku tahu ", sahut Oscar ringkas melebarkan seulas senyumnya. " Jangan bilang kau sudah sangattttttt luar biasa merindukan aku, yang benar saja, Berli."

Terdengar umpatan di seberang sana, membuatnya menahan tawa sambil menyisir rambut lurusnya di belakang punggungnya.

"Lalu dimana kau akan menginap? " tanya Berliana di dengarnya mulai serius.

"Aku belum memikirkannya. Hotel, mungkin? "

"Sekadar informasi, kepergian kamu ke Hongkong di mulai mengundang rumor. "

"Rumor apa? "

Berliana berdecak. "Orang-orang berpikir bahwa kau akan menemui Selina di sana."

"Omong kosong. "

"Kau... Benar-benar tidak akan menghubungi Selina di sana. "

"Kenapa aku harus melakukannya? " Oscar Liu sedikit menurunkan pandangan saat menangkap keraguan pada suara Berliana. Tangannya masih menempel di atas kepala. "Dia sudah bahagia bersama pasangan pilihannya sendiri, " timpalnya pelan.

"Baiklah, kau keliru. Dia dan Ryan berhubungan jarak jauh saat ini. "

"Itu bukan urusanku. " suara Oscar Liu berubah datar. "Hei, Berli, bisakah kau membersihkan apartemenmu selama aku tidak ada?"

"Kau mengalihkan pembicaraan. " Berliana terdengar mendengus, lalu menambahkan. "Dan ingat, aku ini menjadi asisten rumah tangga tidak ada di dalam kausal kontrak kita. "

"Aku akan membuat adendum untuk itu. "

"Kau memang menjengkelkan, " gerutu Berliana. "Lalu kapan kau kembali? jangan bilang kau akan sangat menghabiskan waktu cutimu di Hongkong."

"Aku belum tahu. "

"Baiklah, terserah kau saja. " Berliana sangat enggan meneruskan obrolan. "Cukup kabari aku setibanya kau di Hongkong."

"Nah, kau terdengar seperti pacar yang posesif untuk ku sekarang ini. "

"Bedebah kau, Liu, " rutuk Berliana.

Oscar Liu tersenyum. "Sampai jumpa lagi, Berliana. " Lalu ia memutuskan percakapan sambil mengedik. Ia merasakan kelegaan karena Berliana tak lagi bicara tentang Selina lagi.

Menghubungi Selina? Gila. Mustahil dia mau untuk melakukannya. Dan sejak mendengar nama gadis itu lagi, perasaan Oscar Liu pun seketika berubah agak mendung. Mendung dan gelap.

Sialan, umpat Oscar Liu lalu memasukkan hpnya ke dalam sakunya. Kenapa Berliana manajernya yang sok tau itu harus membicarakan tentang Selina Tan di depannya?

"Bodoh! "

*****

Jelly Putri Wijaya mengintip orang-orang yang terlihat berseliweran di hadapannya sambil merapikan rok sifon gaun maxi berwarna silver. Kerumunan orang- orang yang menggiring koper membuatnya gugup di tempatnya dan ia pun mundur selangkah. Rasa takut membuatnya tidak bisa berpikir. Merasa kian gelisah, ia mencari cara untuk menenangkan diri.Namun, ia merasakan perasaannya kembali dihantui keraguan di setiap kali dirinya melirik ke ruang tunggu. Apa yang kulakukan di tempat ini sebenarnya? batinnya.

Bersambung!!

Terpopuler

Comments

Protocetus

Protocetus

jika berkenan mampir ya ke novelku VR: Gamers Handal

2025-03-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!