NovelToon NovelToon
Sabira

Sabira

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Putri asli/palsu / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: devi oktavia_10

Terlahir dari keluarga berada dan putri bungsu satu satunya, tidak menjamin hidup Sabira Rajendra bahagia.

Justru gadis cantik yang berusia 18 th itu sangat di benci oleh keluarganya.

Karena sebelum kelahiran Sabira, keluarga Rajendra mempunyai anak angkat perempuan, yang sangat pintar mengambil hati keluarga Rajendra.

Sabira di usir oleh keluarganya karena kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.


Penasaran dengan kisah Sabira, yukkkk..... ikuti cerita nya..... 😁😁😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah menghabiskan makan dan mengobati lukanya, Sabira yang memang sudah sangat lelah dan ngantuk, dia lansung tertidur pulas dan gelung di dalam selimut tebalnya.

Tanpa dia tau ada seseorang masuk ke dalam kamarnya.

Cup....

Satu kecupan di daratkan di pipi memerah dan sedikit bengkak itu.

"Ini, pasti sakit sekali." liriknya.

"Kamu kenapa sih dek, selalu bikin masalah, coba kamu baik baik aja pasti nggak kaya gini kan." lirih lelaki itu yang masih menyalahkan Sabira.

"Abang sayang sama kamu." lirihnya lagi dengan mata yang berkaca kaca.

Dia tidur sambil memeluk adik bungsunya itu, hal seperti itu sering dia lakukan secara diam diam, tanpa sepengetahuan orang rumah dan juga Sahira.

"Bobo yang nyenyak ya dek, abang akan temani kamu seperti biasa." bisik Devan dan merebahkan diri di samping sang adik, dan memeluk Sabira penuh kasih sayang.

Tidur Sabira semakin nyenyak di dalam pelukan abangnya itu.

Pagi hari, seperti biasa Sabira terbangun dari tidurnya dia lansung duduk di pinggir tempat tidur dan diam sejenak, sebelum pergi ke kamar mandi.

"Kenapa di sisi ini selalu angat sih, perasaan aku tidur di sisi sana." gumam Sahira meraba tempat bekas Devan tidur.

"Ahhh... Tau lah." acuh Sabira berjalan ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban yang kepada sang Pencipta.

Selesai melakukan sholat sunah dan sholat subuh, Sabira selalu menyempatkan membaca al qur'an.

Selesai tugasnya kepada sang Pencipta, Sahira seperti biasa dia akan membersihkan kamarnya telebih dahulu, baru lah sehabis itu dia mengganti bajunya dengan seragam sekolah.

Melihat masih ada beberapa waktu, dia membuka laptop menyelesaikan desainnya, lalu mengirim ke email perusahaan Kejora properti.

"Selasai...." ucap Sabira tersenyum senang, dia sudah membayangkan berapa uang yang akan masuk ke rekeningnya.

Tok...

Tok...

Tok...

"Non." panggil bi Tuti dari luar.

"Ya bi, masuk aja." sahut Sabira dari dalam kamarnya.

"Kok belum berangkat non, apa non sakit? " khawatir bi Siti memindai wajah Sabira.

Sabira tersenyum senang, di perhatikan oleh bi Tuti, hanya bibi satu satunya yang memperhatikan Sabira salama ini.

"Ini mau berangkat bi, nggak kok, aku sehat." cengir Sabira, walau ada lebam pipinya.

"Ini pasti sakit." lirih bi Tuti berkaca kaca.

"Nggak kok, aku kan sudah kebal." sela Sabira yang nggak mau bi Tuti bersedih.

"Non Bira selalu begitu, sehat terus ya non, semoga cepat selesai sekolahnya, dan pergi jauh dari sini ya." ujar bi Tuti yang tak sabar menunggu Sabira cepat lulus sekolah, sungguh dia tidak tega melihat nona kecilnya di perlakukan tidak adil di rumahnya sendiri.

Sabira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, memandang wanita paruh baya yang selalu perhatian kepadanya.

"Gimana lombanya? pasti non dapat juara lagi." tanya bi Tuti dengan wajah penasarannya.

"Menang dong bi, Bira...." kekeh Sabira membanggakan dirinya.

"Nona Bira memang hebat." bi Tuti mengacungkan ke dua ibu jarinya ke depan Sabira.

"Oh... Iya bi, hari ini bibi gajian ya? " tanya Sabira.

"Iya, non mau apa, mau pinjam uang atau mau di belikan sesuatu? " tanya bi Tuti serius.

"Ck, nggak bibi sayang. Aku cuma mau kasih ini untuk bibi, di terima ya." Sabira memberikan amplop coklat ketangan bi Tuti.

"Ihh... Apa ini non?! " kaget bi Tuti.

"Itu, bonus dari aku buat bibi." ucap Sabira tersenyum lembut.

"Non, punya duit dari mana? duit non kan selama ini di pangkas sama non Aura." ujar bi Tuti yang tau akan itu.

"Aku ada uang bi, aku kerja, dan juga punya tabungan, bibi nggak usah khawatir, udah buru simpan, nanti di lihat nenek lampir, trus dia nuduh bibi nyolong duit dia." yang tau akan sifat Aura.

"Non."

"Ambil, nggak boleh membantah." paksa Sabira.

"Makasih non." ucap bi Tuti penuh haru.

"Sama sama bi, aku berangkat dulu ya." ucap Sabira meninggalkan bi Siti di kamarnya.

"Lama banget loe turunnya, loe pikir loe tuan putri yang mau di tungguin terus." sinis kaifan.

Sabira hanya diam, dan duduk di kursi biasa dia duduk di ruang makan itu.

"Jangan gitu bang, Bira mungkin kesiangan, sebab semalam aku liat dia pulang sudah larut malam, Bira masuk ke dalam rumah ngendap ngendap lewat dapur, Ehhh..." ucap Aura pura pura kaget, dan menutup mulutnya dengan tangan, seolah olah dia keceplosan.

Tentu saja ucapan Aura itu membuat mama dan papanya menatap nyaman ke arah Sabira.

"Apa yang di bilang kakak mu, benar Ra?! " tanya pak Johan menatap garang sang anak.

"Iya" sahut Sabira tanpa takut.

"Anak ini! kenapa kelakuan mu makin liar saja ha... Mau jadi apa kamu.! Nggak ada keluarga kita yang pulang larut, abang abang kamu saja yang laki laki sore sudah di rumah, kakak kamu kalau kemana mana juga ngomong dulu sama orang tua, kamu nggak ada berkabar dengan orang tua, gimana kami mau menyanyangi kamu ha..., beda banget kamu sama Aura yang baik diam di rumah, nggak kaya kamu jadi anak berandalan." amuk bi Karin.

Sabira hanya diam, tanpa mau membela diri, secara, percuma juga klau dia mau membela diri nggak akan ada yang akan perduli, biar saja dia seperti ini, dari pada buang buang tenaga.

"Klau di tanya itu, jawab! " bu Karin menggebrak meja makan.

Membuat semua mata menatap Sabira garang.

Sabira hanya menarik dan membuang nafas pelan, dia menatap satu persatu orang yang ada di meja makan itu satu persatu.

Sabira bisa melihat wajah Daren yang sedih campur kecewa, wajah kaifan yang menatap sinis, wajah Aura yang ada senyum licik terukir di bibirnya, walau terlihat samar, Sabira tau betul anak pungut itu sedang tertawa senang, mamanya yang menahan emosi, papanya yang dia dan mengetatkan rahangnya menahan marah.

"Apa kalau aku bilang kalian akan percaya, kemana aku pergi, dan aku sedang apa, nggak kan?"

"Selama ini yang kalian perhatikan hanya kak Aura, saat aku butuh kalian, kalian nggak ada yang bisa menolongku, kalian sibuk dengan urusan kalian masing masing, dan mama sibuk mengurus kak Aura, selama aku masuk SMA, saya tanya, mama dan papa sudah berapa kali datang kesekolah ku, selama saya SMA, apa mama dan papa tau apa saja kegiatan aku di sekolah, terjadi apa saja sama aku, aku di bully, aku di kucil kan, aku sakit, apa kalian tau itu! " sarkas Sabira.

Deg...

Semua terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Sabira itu.

"Yang kalian tau aku pulang sore atau malam, kalian memaki maki aku, memarahi ku, tanpa bertanya alasan ku pulang malam, justru kalian menuduh ku yang bukan bukan." ucap Sabira berkaca kaca.

"Satu lagi, berhenti mengatakan aku sedang mencari perhatian kepada kalian, aku nggak akan mencari perhatian kepada kalian, perhatikan saja kak Aura, aku bukan dia yang haus perhatian, dan selalu menjelek jelekan aku." ucap Sabira.

Plak...

Satu tamparan kembali melayang ke pipi Sabira, Sabira hanya diam dan tersenyum kecut, lagi lagi abangnya melayangkan tangan ke pipinya, karena tidak terima adik kesayangannya di bawa bawa.

"Abang! " bentak Devan.

"Kai..." bentak sang papa.

"Makasih" ucap Sabira dan berlalu dari ruang makan itu, dia berjalan cepat keluar dari rumah, sambil memegang pipinya yang terasa perih.

"Non." tegur bi Tuti berkaca kaca, Sabira hanya tersenyum perih dan berbisik pelan.

"Aku nggak apa apa, jangan khawatir." melanjutkan langkahnya keluar rumah.

Devan menatap kesal ke arah Aura, Aura tau di tatap oleh Devan pura pura menunduk.

Yang penting dia sudah puas, melihat Sabira kena tampar oleh Kaifan.

"Kamu apa apaan sih, ringan bangat tanganya memukul adik mu." marah pak Johan.

"Terus saja sakiti Sabira." marah Devan ikut meninggalkan meja makan.

"Sarapan belum mulai, Devan." panggil sang mama.

"Aku sudah nggak selera makan." sahut Devan, tanpa mau melihat ke arah sang mama, dia tau sikapnya itu tidak sopan, cuma dia terlalu kesal, adiknya belum sarapan, malah sudah kena marah, parahnya lagi sudah kena tampar.

Bersambung....

Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘

1
Atoen Bumz Bums
eleh
Atoen Bumz Bums
beli CCTV baru Devan pasang diem-diem
Atoen Bumz Bums
nanti di akhir bab baikan sama keluarganya
macam dicerita yang lain
Atoen Bumz Bums
klo aku lgsg pigi Uda punya duet sendiri
Nina Rochaeny
nama selalu berubah-ubah ya thor
Yuni Ngsih
aduuuuuh Author maksudnya gmn nih cerittamu ko cuma sampai kawin sih ko ngga diceritain kehidupan Bagas & istrinys .....ku tunggu Thor ....🙏🙏🦶
Yuni Ngsih
Baru tau ya kelakuan Aura kaya setan bgtu baru myadar ORTU maupun si Kaifan kaka Tertuamya sebelumny kynya Thor mtnya Rabun ya ....huhuhu.....tp sekarang sudah menyadarinya klwrga Sabira ,tp klw Si Aura msh disitu tetep aza julit hrs nya anak yg ky gitu di Maskin Pesantren / buang ke Panti Asuhan biar tau rasa....hahaha .....eh ku ko ngeyel ya Thor pdhal cuma ceritra ......gara" Author menceritrakannya ....hebat ...semangat Thor ..👍👍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu hebat banget tuk kawula muda banyak contoh " fakta...apalagi yg diperankan Sabira ku sangat ska sekali meskipun Orang Tuanya sangat Bodoh ngebela anak Pungut yg sabar Sabira pasti setelah hujan akan muncul pelangi ....lanjut Thor 🙏🙏🙏👍👍👍💪💪💪
Devi Novita
sebentar deren sebentar Devan sebentar pak Johan sebentar pak Burhan mumet aku namanya kok piknik mulu🤭😴
enungdedy
papanya Bagas koq jdi typo kak...tuan Daren jdi tuan Devan...jdi bingung kan yg baca😄
Lina Suwanti
ajak tinggal bersama lg tp jgn di rumah yg lama,,beli rumah baru
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Lina Suwanti
nah gitu dong Devan tunjukkan rasa sayangnya ga usah jaim
enungdedy
ahh blum puas aq knp langsung di usur sih..hrusnya dijadikn pembantu dulu lah.....sabira aja disiksa brtahun2 lho
enungdedy
ini si aura gk satu sekolah sm bira ya thor
enungdedy
ini orang tuanya kn tau sekolah bira dmna klo memang mau ktemu kno gk nyamperin disekolahnya sih
Lina Suwanti
Devan klo benar sayang Sabira kenapa harus secara sembunyi,bela dong
enungdedy
klo sahabatnya bira udh ada yg tau sifat aura dan mnyesal knp dia gk bilang sm keluarga bira supaya keluarga bira tau siapa sbnernya aura
olra
semangat thor
Yuliati Soemarlina
sedih sih sedih..kenapa bira menceritakam aib kel di depan umum..itu tdk baik thor..ceritanya panjang hanya menceritakan penyesalan yg ber ulang"...jd bosan juga bacanya...
Yuliati Soemarlina
cerita ini mutet" disini aja..thor bira utk menghilangkan traumanya bawa aja konsultasi ke psikolog..mereka pd banyak uang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!