Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halo, saya sahabat Raga
"Apa kau benar Sahabatnya Raga?" Ucap Amang sembari menyodorkan satu gelas teh manis dingin
Pemuda yang mengakui sahabat nya Raga ini bernama Anwar, ia sendiri sudah menghabiskan waktu di kedai bakso Amang selama satu sampai menghabiskan delapan
mangkok bakso.
"Apa mau ditambah lagi?" Tanya Amang yang melihat bahwa pemuda yang bernama Anwar ini telah menghabiskan bakso di mangkok terakhirnya.
Anwar terlebih dahulu meneguk teh manis dingin yang ada di hadapannya sebelum menjawab semua pertanyaan yang Amang layangkan untuknya.
"Bakso bapak enak, sampai saya tidak ingin berhenti untuk terus memakannya."
"Asalkan kau tahu, tadi saat kau makan ini kayak orang kerasukan setan."
Anwar tersenyum malu
"Jadi kau benar sahabatnya Raga? Setahu saya Raga tidak pernah cerita kalau dia memiliki sahabat seperti kau, rakus pula."
Lagi lagi Anwar tersenyum malu, mendengar kalimat rakus dari pria tua ini membuat dirinya ingin pulang saja.
"Tapi senyuman sedikit mirip Raga." Tambah Amang
"Banyak yang bilang seperti itu. Saat kami tersenyum ada kemiripan. Tapi berani bersumpah jika aku ini emang sahabat Raga, mungkin Raga tidak memberitahu mu karena dia lupa atau tidak penting diceritakan kepada orang dewasa seperti mu, lagi pula Raga itu selalu menyembunyikan sesuatu yang ia rasakan."
"Ya memang anak itu selalu menyembunyikan sesuatu yang ia rasakan tapi entah kenapa ketika kau mengakui sebagai sahabat Raga seperti ada keanehan dan anehnya itu saya seperti merasakan ada kehadiran Raga disini."
"Itu yang dinamakan sahabat, orang lain akan merasakan persahabatan kita. Persis seperti bapak merasakan kehadiran Raga disini padahal disini tidak ada dia hanya ada saya, Anwar."
"Lantas apa tujuan mu menemui saya? Kenapa kau tidak memberitahu saya tentang keberadaan Raga saja."
"Raga memang sempat bertemu dengan saya dan menginap dirumah saya. Tapi keesokan harinya dia menghilang lagi namun dia menaruh surat yang memerintahkan saya untuk menemui orang orang yang ia tulis sendiri untuk saya kunjungi dan memberikan uang sebagai tanda terimakasih." Terlebih dahulu ia menujukan surat kepada apa yang dan di maksudnya tadi, lalu Tangan Anwar megambil amplop coklat yang tersimpan di ransel berwarna hitam dan memberikan nya kepada Amang.
"Ini isinya uang, saya tidak tahu isinya berapa."
"Anwar katakan kepada Raga kalau saya ini tidak butuh uang. Raga kembali kesini yang saya butuhkan, uang bisa dicari tapi sosok Raga tidak bisa dicari dimana pun."
"Saya sangat mengerti apa maksud bapak, tapi sayangnya saya pun tidak akan pernah bertemu dengan Raga lagi. Kalau pun saya bertemu dengannya saya pasti akan menyeretnya kesini untuk bertemu langsung dengan bapak. Jadi terimalah amplop ini, meskipun kalian tidak sedarah tapi saya yakin ikatan kalian lebih dari pegawai dan bos, buktinya di surat yang tertulis oleh Raga tujuan pertama yang harus saya temui ialah bapak bukan orang tuanya sendiri."
Seketika hati Amang tersentuh ketika mendengar ungkapan terakhir dari Anwar. Memang benar, dirinya bersama Raga bukan hanya sekedar ikatan antara pegawai dan bos, ikatan mereka lebih dari itu. Semenjak Raga menjadi pegawai di kedai bakso nya kehidupan Amang jauh lebih berwarna. Dirinya sudah menganggap Raga seperti anaknya sendiri, setiap Raga kesulitan uang untuk membantu kehidupan sehari-hari keluarganya, Amang selalu memberikan uang itu dengan cuma cuma tanpa memotong upah Raga sebagai pegawai.
"Terserah bapak jika tidak ingin menggunakan uang ini, tapi menurut saya lebih baik bapak terima saja uangnya dengan bapak menerima uang ini saya yakin Raga pasti ikut bahagia, toh bapak bilang disini bapak bisa merasakan kehadiran Raga? Jadi terima saja."
"Baiklah saya akan terima amplop yang berisikan uang ini."
Setelah berkata seperti itu, Amang mengambil amplop itu kembali. Ia genggam amplop yang berisikan uang itu dengan penuh perasaan hati hati, seolah bahwa amplop itu adalah Raga.
"Yasudah kalau begitu tugas saya sudah beres. Kayaknya juga saya akan berkunjung kesini, mungkin tiap hari untuk memakan bakso buatan bapak."
Anwar beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri kemudian merogoh saku depannya lalu mengeluarkan apa yang ia ambil dari saku tersebut.
"Satu porsi baso harganya dua puluh ribu kan? Tadi saya makan delapan mangkok bakso berarti, dua puluh kali delapan...seratus enam puluh ribu." Anwar kemudian memberikan uang yang sudah ia ambil dari saku depan celananya tadi untuk membayar bakso yang ia makan tadi.
"Sisanya Ambil, saya pamit dulu ada urusan yang lain. Rasanya senang sekali bertemu dengan orang seperti bapak."
Amang masih terdiam tidak bereaksi apa apa setelah Anwar pergi.
***
Setelah melewati gang menuju rumah orang tua Raga, akhirnya dia sampai juga dan sekarang dihadapan Anwar sudah ada orang tuanya Raga, lebih tepatnya sekarang ia bertemu dengan Weni ibunya Raga.
"Maaf jika rumah Raga seperti ini, maklum kami orang tidak mampu jadi kami.."
"Tidak masalah ibu. Jangan dilanjutkan perkataan apa yang membuat mu derita Bu. Saya diizinkan duduk dan mengobrol dengan ibu saja sudah bahagia." Ucap Anwar langsung memotong ucapan Weni.
"Seperti yang sudah ibu dengar dari awal saya bilang, bahwa saya ini memang benar sahabat Raga." Lanjutnya
Tanpa memperjelas seperti kepada Amang, Anwar langsung menunjukkan surat yang ia dapatkan dari Raga surat yang ini khusus Weni yaitu ibunya sendiri. Kemudian Weni membaca dengan seksama
"Kapan Raga menulis surat ini?" Tanya Weni setelah membaca surat yang katanya ini dari Raga
"Saya kurang tahu pastinya kapan. Namun ketika Raga ke rumah saya untuk menginap lalu esoknya dia menghilang lagi, saya menemukan beberapa tumpukan surat seperti ini di kamar saya. Karena penasaran saya membaca surat yang diperuntukkan untuk saya sendiri. Dia menulis disurat itu kalau saya harus menemui orang yang sudah ia tentukan salah satunya ialah orang tuanya sendiri yakni ibu. Tidak hanya surat saja Raga menitipkan amplop bertulis nama nama yang sudah ia tentukan dan ini amplop untuk ibu, isinya uang. Saya tahu karena Raga menulis isi amplop tersebut di dalam surat yang diperuntukkan untuk saya."
amplop yang kali ini ukuran nya lumayan besar bisa dibilang satu ukuran dengan map khusus untuk melamar pekerjaan.
"Dari mana Raga mendapatkan uang sebanyak ini?"
"Soal itu saya tidak tahu yang saya ketahui yaitu amanat ini."
Weni berpikir sejenak sebelum ia berbicara kembali.
"Ini aneh." Ujar Weni
"Tidak aneh, semua ini atas kemauan Raga mungkin dia menggunakan pelantar kepada saya agar ia bisa fokus kerja dan mencari uang."
"Tapi kamu tahu kalau Raga ini sedang dalam tahapan penyelidikan polisi akibat kasus yang saya rasa dia sedang di fitnah. Kamu tahu juga kalau Raga juga sudah menghilang dan ia tidak pulang ke rumah ini selama satu bulan lebih. Orang orang disini terus mencari keberadaan dia termasuk saya. Bahkan.."
"Bahkan?" Heran Anwar saat Weni tiba tiba berhenti dan tidak melanjutkan perkataannya
"Sudah lupakan saja itu tidak penting. Jika kau memang sahabat Raga, apakah Raga pernah berbuat masalah dengan mu?"
"Pertanyaan menarik. Sebagai sahabat kita tidak pernah bertengkar, tidak punya masalah dan tentunya kita saling support satu sama lain."
"Raga tidak pernah bercerita kepada saya kalau dia punya sahabat seperti kamu Anwar." Ragu Weni
"Bagaimana mau cerita kalau kehadiran Ragu selalu tidak dipedulikan disini. Bahkan orang tuanya terutama bapaknya Raga hanya peduli sama uang dia saja tidak dengan orangnya."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Weni mulai sedikit marah ketika Anwar yang tidak tahu apa apa berbicara seenak jidat seperti tadi.
"Maaf kalau saya lancang."
"Bilang kepada Raga saya tidak mau menerima uang darinya. Lebih baik Raga pulang saja dan saya yang masih peduli padanya."
"Tapi sayangnya saya tidak akan pernah bertemu dengan Raga lagi kenapa? Karena Raga menulis disurat khusus saya bahwa dirinya akan pergi jauh dan meninggalkan orang orang yang ia kenali lalu membuka kehidupan dan jiwa yang baru. Kalaupun dia kembali di kehidupan ini pastinya dia sudah berubah bukan Raga seperti dulu."