Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota metropolitan, adalah seorang pemuda yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan bullying. Setiap hari di kampusnya, ia menjadi sasaran ejekan teman-teman sekampusnya, terutama karena penampilannya yang sederhana dan latar belakang keluarganya yang kurang mampu. Namun, segalanya berubah ketika sebuah insiden tragis hampir merenggut nyawanya. Dikeroyok oleh seorang mahasiswa kaya yang cemburu pada kedekatannya dengan seorang gadis cantik, Calvin Alfarizi Pratama terpaksa menghadapi kegelapan yang mengancam hidupnya. Dalam keadaan putus asa, Calvin menerima tawaran misterius dari sebuah sistem Cashback yang memberinya kekuatan untuk mengubah hidupnya. Sistem ini memiliki berbagai level, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi, di mana setiap level memberikan Calvin kemampuan dan kekayaan yang semakin besar. Apakah Calvin akan membalas Dendam pada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayya story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Ditengah Keriuhan
Suasana di bar yang semula meriah kini berubah menjadi tegang. Semua mata tertuju pada Calvin dan pria besar yang mengancamnya. Aldo dan Adi berdiri di samping Calvin, siap untuk melindungi teman mereka jika situasi semakin memburuk.
Sedangkan Lara dan beberapa teman wanita kantornya menyingkir ke pojokan,dan beberapa pria yang takut bertarung hanya bisa ikut menyingkir bersama pada wanita.
Calvin tidak memperdulikan mereka yang takut,karena ini memang bukan urusan mereka.
Calvin menatap pria itu dengan tajam, merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya. "Kau datang ke sini untuk mengancamku? Apa kau tidak tahu siapa aku?"
Pria itu tertawa sinis. "Kami tidak peduli siapa kau. Yang kami tahu, bos kami ingin berbicara denganmu. Dan kami tidak akan pergi tanpa membawa kau bersamanya."
Calvin menggelengkan kepala. "Kau tidak mengerti. Aku tidak akan pergi dengan siapa pun tanpa alasan yang jelas. Jika bosmu ingin berbicara, dia bisa datang ke sini dan melakukannya dengan cara yang lebih baik."
Pria itu menggeram, wajahnya semakin mendekat. "Kau benar-benar ingin membuat ini sulit, ya?"
Calvin tidak mundur. "Aku tidak takut padamu atau bosmu. Jika kau ingin berbicara, lakukan dengan cara yang benar."
Tiba-tiba, suara pintu bar terbuka lebar, dan beberapa pria lain masuk, semuanya tampak berotot dan siap untuk bertindak. Mereka adalah pengawal dari pria besar itu, dan kehadiran mereka semakin menambah ketegangan di ruangan.
"Calvin, kita harus pergi," bisik Aldo, matanya tidak lepas dari pria-pria yang baru masuk.
"Belum saatnya," jawab Calvin, tetap tenang. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengintimidasi kita."
Pria besar itu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada pengawalnya untuk bersiap.
"Baiklah, jika kau tidak mau pergi dengan baik-baik, kami akan membawamu dengan cara yang lebih kasar."
Calvin merasakan detak jantungnya meningkat. Dia tahu bahwa ini adalah momen penting. Dengan refleks cepat yang diasah oleh skillnya, dia bersiap untuk bertindak. "Aldo, Adi, bersiaplah."
Ketika pria besar itu melangkah maju, Calvin bergerak lebih cepat. Dia menghindar dari serangan pertama, lalu dengan gerakan cepat, dia menendang lutut pria itu, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Jangan biarkan mereka mendekat!" teriak Calvin, dan Aldo serta Adi segera bergerak, bersiap untuk melindungi Calvin dari serangan yang mungkin datang.
Suasana bar yang tadinya meriah kini berubah menjadi arena pertarungan. Pelanggan lain mulai mundur, beberapa merekam dengan ponsel mereka, sementara yang lain berteriak meminta agar mereka berhenti.
Calvin tidak memberi kesempatan untuk pria besar itu bangkit. Dia melanjutkan serangannya, memanfaatkan skill bela dirinya. Dengan gerakan yang terlatih, dia menghindari serangan dari pengawal lain yang mencoba mendekat, dan membalas dengan serangan cepat yang membuat mereka terjatuh satu per satu.
Aldo dan Adi tidak tinggal diam. Mereka juga terlibat dalam pertarungan, menggunakan semua yang mereka miliki untuk melindungi Calvin. Aldo berhasil menjatuhkan salah satu pengawal dengan pukulan keras, sementara Adi menggunakan kursi untuk melindungi diri dan menyerang balik.
Ketegangan semakin meningkat, dan suara gaduh dari pertarungan mereka menarik perhatian lebih banyak orang. Beberapa pelanggan mulai berteriak, meminta agar mereka berhenti, sementara yang lain tampak menikmati pertunjukan.
Calvin, dengan insting tempurnya yang tajam, terus bergerak, menghindari serangan dan membalas dengan serangan yang tepat. Dia merasakan kekuatan dan keberaniannya meningkat seiring dengan ketegangan yang ada.
Namun, pria besar itu tidak menyerah begitu saja. Setelah berhasil bangkit, dia kembali menyerang Calvin dengan lebih agresif.
"Kau akan menyesal telah melawan kami!" teriaknya, sebelum meluncurkan serangan yang lebih kuat.
Calvin menghindar, tetapi kali ini pria itu lebih cepat. Dia berhasil menangkap lengan Calvin dan menariknya ke arah dirinya. "Sekarang, kau akan pergi dengan kami!"
Calvin tidak menyerah. Dengan kekuatan fisiknya yang terlatih, dia memutar tubuhnya dan melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Dia melangkah mundur, bersiap untuk serangan berikutnya.
"Ini bukan hanya tentang kau dan aku," kata Calvin, menatap pria itu dengan tajam.
"Ini tentang semua yang telah kami bangun. Jika kau ingin berperang, maka aku akan melawannya."
Dengan semangat yang membara, Calvin melanjutkan pertarungannya. Dia tahu bahwa ini adalah ujian bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk timnya. Mereka tidak akan mundur, tidak akan menyerah pada intimidasi.
Apalagi Calvin tahu jika jalan yang sudah dia tempuh adalah kebenaran,dia memulai bisnis dengan jujur. Namun banyak orang yang tidak suka dengan kesuksesan nya yang terlalu cepat.
Aldo dan Adi juga tak akan mau kalah dari mereka,Karena mereka adalah teman dekat Calvin dan mereka akan selalu ada untuk Calvin meskipun nyawa mereka yang saat ini akan jadi taruhannya.
Di luar bar, suara sirene mulai terdengar, menambah ketegangan di dalam. Calvin tahu bahwa waktu mereka semakin sedikit. Dia harus menyelesaikan ini sebelum pihak berwenang tiba.
"Ini adalah kesempatan terakhirmu," kata Calvin, menantang pria besar itu. "Bergabunglah dengan kami atau pergi dari sini. Pilihan ada di tanganmu."
Pria itu terdiam sejenak, tampak ragu. Namun, sebelum dia bisa menjawab, salah satu pengawalnya berteriak,
"Kita tidak bisa kalah! Serang mereka bersama-sama!"
Pertarungan pun kembali berkobar, dan Calvin bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya. Dia tahu bahwa ini adalah momen yang menentukan, dan dia tidak akan mundur.
Dengan semangat yang membara, Calvin melanjutkan pertarungannya, bertekad untuk melindungi apa yang telah dia bangun dan membuktikan bahwa dia tidak akan pernah menyerah.
Calvin mengatupkan giginya, cahaya di matanya memancarkan tekad yang kuat. Tangan kanannya yang menggenggam pedang terasa lebih mantap, dan nafasnya berat terasa di dada.
"Aku tidak akan kalah,Aku harus memberi tahu mereka bahwa aku bukan Calvin pemuda miskin yang bisa mereka injak injak lagi" gumamnya dalam hati, menyalakan semangatnya yang semakin berkobar.
Tubuhnya bergerak lincah, membelah angin dengan tiap ayunan pedangnya yang tajam. Setiap serangan yang datang, dia menghadapinya dengan kecepatan dan presisi.
Keringat bercucuran di wajahnya, namun dia tidak menghiraukannya.
Calvin melihat pengawalnya yang berteriak tadi terjatuh oleh serangan musuh. Ini membuat amarahnya memuncak, menambah kekuatan dalam setiap pukulannya.
"Ini untuk kalian semua!" teriaknya, menebas lawan dengan lebih ganas.Perjuangan Calvin tidak hanya fisik, tapi juga mental. Dia berjuang melawan keraguan yang sempat menghinggapinya, menggantinya dengan keberanian yang tak tertandingi. Dia tidak hanya melawan musuh di depannya, tapi juga melawan rasa takut akan kegagalan yang mengintai.
Momen demi momen, Calvin bertarung tanpa kenal lelah. Dengan setiap hentakan pedangnya, dia semakin dekat dengan kemenangan yang dia perjuangkan. Di tengah teriakan dan benturan senjata, Calvin terus maju, tidak akan mundur hingga dia membuktikan dirinya sebagai pemenang.