NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci kamar 202

Rhaell tampak memukau dalam balutan gaun malam panjang berwarna merah marun. Beludru lembut membuai lekuk tubuhnya yang indah, dihiasi potongan leher cowl neck yang elegan dan sedikit menggoda.

Tali tipis menopang gaun tanpa lengan dan sentuhan akhir yang tak kalah sempurna adalah kalung mutiara putih sederhana, namun memesona. Memancarkan aura feminin, klasik yang memikat.

“Royal Suite, 202. Lantai dua puluh.” Rhaell mengulang ucapan lawan bicaranya, “Oke, Terima kasih.”

Langkah anggunnya meninggalkan meja resepsionis Hotel The Gradiose. Gaun mengalun lembut mengikuti setiap gerakannya.

Rambut hitam legam berkilau dan aroma parfum dari Lancôme La Vie est Belle, masih tertinggal di udara, sebuah jejak wangi yang terkesan sensual. Membuat terkesima resepsionis yang menyaksikannya pergi.

Di tangannya, Rhaell memegang kartu akses kamar Dayana, sebuah benda kecil yang kini menjadi kunci untuk menjemput tiga ribu dolarnya.

Lampu kristal yang berkilauan menerangi dinding marmer hotel yang sangat mewah, sangat kontras dengan rencana jahat yang ia rencanakan bersama Dayana.

Dekat lift, ia melihat papan pengumuman besar yang berkilau: "Pertunangan Dayana & Adrian." Waktu dan tempat acara tertera jelas di bawahnya, beberapa jam lagi.

Dengan tenang Rhaell menuju lift yang terbuka, kartu akses kamar Dayana terasa dingin di genggamannya. Si rubah telah bersiap untuk melancarkan aksi.

Ketika lift mengantarkannya sampai ke puncak, mempersilakan Rhaell memasuki dunia kemewahan, Royal Suite 202.

Ruangan luas yang dipenuhi perabotan antik dan elegan. Jendela-jendela besar menampilkan panorama gemerlap kota di malam hari; city lights yang memesona seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam.

Rhaell tersenyum puas, melepas sedikit beban dari pundaknya. Ketegangan rencana liciknya dengan Dayana sirna sejenak, digantikan oleh kegembiraan sesaat.

Matanya berbinar ketika ia melihat meja di sudut ruangan, penuh dengan aneka kue. Macarons warna-warni, cokelat mewah, dan tart buah yang menggoda tertata rapi.

Di samping makanan yang menggiurkan, sebuah wine Château Margaux tahun 2015, menindih kertas catatan.

Rhaell mengangkat botol wine itu dan membaca suratnya. "Nikmati hidangannya, kita butuh energi untuk pertunjukan malam ini."

Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Rhaell. Tiga ribu dolar dan pemandangan kota yang indah, sebuah imbalan yang manis untuk malam yang intrik.

Suara "pop" yang keluar saat tutup botol wine terangkat, terasa seperti awal dari sebuah pementasan.

Cairan merah yang mengalir lembut ke dalam gelas, memanjakan indera penciumnya.

Dengan perlahan, Rhaell mengambil tempat di sofa besar yang menghadap jendela kaca. Menyandarkan punggungnya, sementara gelas wine di tangannya berkilau lembut dalam cahaya.

Dalam sekejap saja, ilusi keluarga Dayana muncul dalam khayalan. Jika putrinya memiliki pacar seorang wanita, bagaimana reaksi mereka?

Apakah mereka akan menerima hubungan ini dengan terbuka, atau justru menolak dengan semena-mena?

Rhaell mencari ponselnya yang bergetar, di dalam tas. Setelah beberapa saat, ia menemukannya terjepit di antara dompet dan lipstiknya.

Dengan senyum lebar yang merekah, ia menjawab panggilan video dari Edgar. “Halloo boy!!” Sapa Rhaell bersemangat.

Wanita yang fleksibel dan berjiwa bebas itu mengangkat ponselnya, memamerkan pemandangan Royal Suite 202 secara keseluruhan.

Ia mendekat ke bagian “dessert corner” tadi dan mengambil satu macaron pink.

"Wededeh.. keren amat, Cia!" serunya dengan mata membulat takjub. "Hotel apa namanya? The Gradiose? Gila, Cia keren! Best!”

Rhaell tertawa kecil, puas dengan reaksi adiknya. "Iya, The Gradiose. Cia di Royal Suitenya.” Jelasnya sambil menyemil macaron pink. “Ntar Cia nabung yang banyak, kalo tahun depan kamu berhasil masuk kedokteran, kita rayain di sini. Deal?”

“Deal! Seribu kali deal!! Kedokteran doang mah gampil.” Seru Edgar, semangatnya kembali membara.

Siapa lagi yang harus Rhaell bahagiakan jika bukan Edgar, adik semata wayangnya yang bercita-cita menjadi manusia dengan pekerjaan mulia.

“Gar, drama keluarganya mulai sejam lagi. Tapi Kak Dayana belom sampe… menurut kamu, kalo Cia merem bentar gak papa kan ya? Ngantuk banget ini gara-gara wine-nya enak.” Rhaell menguap lagi ketika mantra dari kata ngantuk diperkuat.

“Menurutku sih, nanti Kak Dayana bakal bangunin Cia. Jadi gak papa tidur aja.”

Rhaell melirik kasur king size yang empuk dan nyaman. Sprei sutra berwarna putih bersih tampak begitu menggoda.

Wanita itu melepas heelsnya sembari pamitan kepada Edgar sebelum menutup panggilan. Rhaell sudah tidak tahan, matanya mulai berat.

Dengan langkah ringan, Rhaell berjalan menuju bongkahan yang terlihat seperti awan lembut itu dan sepatu hak tingginya diletakkan di samping meja.

Kenyamanan langsung merengkuh saat Rhaell merebahkan diri di kasur. Bayangan-bayangan samar muncul dan menghilang dalam pikirannya; wajah Edgar yang penuh semangat, pesona kota malam dari jendela Royal Suite, semuanya semakin memudar.

Napasnya menjadi teratur dan tenang. Ia terlelap.

...****************...

Tak disangka. Rhaell terbangun dengan rasa bingung, matanya masih setengah terpejam. Ia merasa seolah baru saja terbenam dalam mimpi yang indah. Namun, sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk segera bangkit.

Ia menggeliat, merasakan kenyamanan kasur yang mulai terasa kurang mengundang dan meraih ponselnya yang tergeletak di samping.

Setelah melihat layar ponsel, Rhaell menyadari bahwa ia telah tertidur lebih dari satu jam.

Waktu berlalu begitu cepat. Keramaian pertunangan Dayana pasti sudah dimulai. Dengan terburu ia mencoba menghubungi Dayana, namun nada dering yang kosong menjawabnya. "Nomor tidak aktif," tulis pesan di layar ponselnya.

Keraguan mulai mengisi pikiran Rhaell. Apakah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi? Rhaell merasa gelisah dan berusaha menenangkan diri. Namun suara berat seorang lelaki tiba-tiba menyentak pendengarannya.

“Sudah bangun?”

Rhaell terperanjat, mencari sumber suara yang mengejutkannya. Seorang pria duduk santai di sofa yang tadi ia duduki, memegang gelas wine bekasnya yang kini setengah kosong.

Mata Rhaell menyipit, berusaha mengenali sosok itu. Dan saat pandangannya mulai jelas, jantungnya berdegup kencang.

Pria itu adalah orang yang diludahinya kemarin, yang memiliki koneksi kuat dengan pelanggannya, Marco.

“Sekertarisku sudah menemuimu pagi tadi. Katanya kamu tidak ingin terlibat?”

Rhaell merasa panik, otaknya berputar cepat mencoba menyusun kembali puzzle yang berantakan. Kenapa pria itu ada di sini? Apa yang terjadi dengan tiga ribu dolarnya?

“Dimana Dayana?” Suara Rhaell berusaha mempertahankan ketenangan dan perlahan merubah posisinya, duduk ditepian ranjang.

Pria itu tersenyum sinis, mengangkat gelas wine-nya. “Tenang saja, Rhaell. Aku hanya ingin kita bicara. Mengenai kerjasama yang lebih... menguntungkan.”

Rhaell merasakan ketidaknyamanan menyelusup ke dalam dirinya. “Aku tidak tertarik dengan kerjasama apa pun. Aku tanya, dimana Dayana.” Ia berusaha berdiri, namun pria itu datang menghampirinya.

“Duduk.” Perintah pria yang tampak tak terbantahkan.

Ia berdiri di hadapan Rhaell dan tidak sedetikpun matanya lepas dari wanita itu, mengamati dari dekat, tatapannya tak meninggalkan satu inci pun dari tubuh Rhaell. Gaun merah marun, yang sebelumnya hanya dilihatnya dari kejauhan, kini tampak lebih memikat.

Namun, di balik kecantikan Rhaell, pria itu melihat sesuatu yang lain. Sebuah ketakutan tersembunyi dibalik penampilannya yang molek.

Ia melihat bagaimana tangan Rhaell yang lentik menggenggam seperai kasur, seolah menahan diri agar tidak gemetar.

“Beberapa kesepakatan perlu kita perjelas. Aku membutuhkan sumpahmu yang tertulis, untuk tidak terlibat dalam pencalonanku sebagai wali kota.”

Kata-kata itu, meskipun bagi Rhaell terdengar seperti permintaan, namun nadanya terdapat ancaman.

Ia tidak peduli dengan pencalonan iblis atau semacamnya itu. Mengingat dengan jelas kejadian malam kemarin, bagaimana harga dirinya tergores dalam-dalam, betapa hina rasanya harus memungut sesuatu yang memang menjadi haknya.

Ingatan itu, bukan sekadar kenangan, melainkan luka yang masih terasa perih.

Lalu, pantaskah pria itu diberi kesempatan?

Tidak, Rhaell bergumam dalam hati. Ia tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun memperlakukannya dengan cara yang sama lagi.

Meskipun ia berada dalam situasi yang sulit dan membutuhkan bantuan, ia tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada pria itu untuk kembali menghinanya.

Pria itu menunggu reaksi Rhaell, berharap sebuah tanda kepatuhan atau setidaknya pertimbangan. Namun, Rhaell mengejutkannya.

Dengan gerakan yang tenang namun penuh tekad, Rhaell meraih ponselnya yang tergeletak di samping kasur. Jari-jarinya bergerak lihai, mencari kontak adiknya, Edgar.

Ia tidak memberikan kata-kata, tidak memberikan penjelasan. Tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Ini adalah penolakan yang halus namun tegas.

Pria itu, tanpa peringatan, merampas ponsel dari tangan Rhaell. Gerakannya cepat dan kasar, melempar ke arah dinding dan menghasilkan suara benturan yang nyaring.

Rhaell menatap ponselnya hancur dengan mata terbelalak, suara dentingan pecahan kaca menggema di telinganya. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.

"Wah, kamu gila ya?" Suara Rhaell hampir tak terdengar karena terperanjat. Ia berdiri, bersiap menghadapi calon iblis di hadapannya.

Pria itu tersenyum sinis, "Iya, saya gila," katanya, suaranya berat dan penuh dengan penghinaan. "Tertular gila, karena menghadapi pelacur gila sepertimu!"

Kata-kata itu menjadi percikan api yang membakar Rhaell. Tapi dirinya tersadar, bahwa kekuatan fisik seorang pria bukan lawan yang seimbang.

Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Oh terima kasih pujiannya.” Ucapnya tersenyum penuh arti.

Pria itu tertegun ketika dalam hitungan detik Rhaell bisa mengontrol emosinya.

“Aku tidak sedang memujimu.”

“Tapi aku merasa terpuji. Aku memang pelacur gila.”

Rhaell mulai menurunkan resleting di punggung gaun merah marunnya, dengan lambat dan penuh erotisme.

Tatapannya yang penuh dengan hasrat, memberikan efek besar pada pria itu. Rhaell seperti makhluk yang berada di luar kendali, penuh dengan energi liar yang menarik perhatiannya. Ia merasa terpesona oleh kecantikan dan aura misterius Rhaell, sebuah rasa ingin tahu yang menggerogoti pikirannya.

Bagian-bagian dalam tubuh Rhaell yang tadinya bersembunyi di balik beludru lembut, mulai terlihat sedikit demi sedikit. Putih bersih, sebuah pemandangan yang menggoda.

“Apakah malam ini kita akan gila bersama?” Rhaell menggigit kecil bibir bagian bawahnya, seakan bertekad untuk membuat iblis manapun sepadan dengan dirinya.

Bersambung…

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!