Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.
Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Dalam keheningan sebuah walk in closet dengan pencahayaan yang terang, Maha berdiri ditengah ruangan, matanya menjelajah deretan pakaian yang tergantung rapi. Ia tampak bingung, sebab tidak tahu pakaian mana yang pantas dikenakan untuk bertemu dengan ibunya Sadewa. Jarinya menyentuh beberapa gaun, menarik salah satu lalu meletakkannya kembali sambil bergumam pada dirinya sendiri.
“Pakaian sopan, ya?” Ucapnya pelan sambil berkacak pinggang, tatapannya masih beredar diantara warna-warna lembut dengan potongan elegan.
Tiba-tiba, suara yang tidak asing terdengar dari belakang. “Warna abu-abu itu cantik.” Cetus Sadewa, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Maha.
Maha terkejut, pun jantungnya berdebar kencang. Ia segera merenggut tubuhnya menjauh, saat menyadari bahwa ia hanya mengenakan bathrobe tanpa pakaian dalam. Wajahnya memerah, antara malu dan marah. Sehingga ia merapatkan bathrobe-nya, menutupi tubuhnya yang tersingkap.
“Mas! Kamu apa-apaan, sih?! Kenapa masuk kesini tanpa izin?!” Pekik Maha.
“Pintunya tidak terkunci,” jawab Sadewa dengan alis yang terangkat.
“Tetap aja! Ini ruang pribadi saya, Mas, saya juga butuh privasi,” balas Maha seraya memutar bola matanya, frustasi.
“Saya tadi sudah panggil-panggil kamu, bahkan mengetuk pintu kamarmu juga. Tapi tidak ada respon. Jadi, saya ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja,” jelas Sadewa, tanpa menatap Maha. Ia sibuk memeriksa deretan pakaian yang tergantung rapi di rak, seolah mencari sesuatu yang cocok.
Alasan aja, dasar buaya ganteng! Rutuk Maha dalam hati, bibirnya bergerak-gerak kecil.
Sadewa menarik salah satu pakaian di rak, sebuah dress berwarna lembut dengan potongan yang anggun. Ia menyerahkannya pada Maha. “Pakai ini Maha, cantik,” ujarnya, seolah itu keputusan yang tak perlu diperdebatkan.
Maha menatap pakaian yang di sodorkan padanya, tangannya ragu-ragu menerima. Sorot matanya penuh kebingungan dan sedikit kesal, tapi ada juga getaran hangat yang perlahan menjalar dari cara saat Sadewa menyebut ‘cantik’. Ia menghela nafas, mencoba menenangkan perasaan yang campur aduk di dadanya.
Sadewa masih berdiri di sana, matanya kini menatap Maha dengan pandangan yang sulit diartikan antara perhatian dan keinginan untuk mengontrol, bercampur menjadi satu.
Dengan wajah yang masih terlihat jengkel, Maha menyambar pakaian itu dari tangan Sadewa. “Beneran ini bagus?” Tanyanya sambil memperhatikan setiap detail pakaian itu, membolak-baliknya seolah mencari kepastian lebih.
Sadewa mengangguk pelan, hanya mengeluarkan deham singkat sebagai jawaban. Namun, di sudut bibirnya tersungging senyum kecil yang nyaris tidak terlihat, sebuah isyarat yang lebih jujur dari kata-katanya.
Pandangannya terpaku pada Maha—penampilannya yang masih mengenakan bathrobe dengan rambut basah menjuntai di pundak, pun memberikan kesan alami yang jarang ia temui. Maha tampak berbeda dengan riasan dan entah bagaimana, Sadewa merasa itu membuatnya semakin memikat.
Wajah Maha yang terlihat polos dan alami membuat hati Sadewa tidak tenang. Ada sesuatu dalam kesederhanaan itu yang memicu fantasi liar dipikirannya, membuatnya semakin sulit untuk berpikir jernih. Tatapan matanya tak henti-hentinya menelisik Maha dari ujung kaki hingga kepala, setiap detailnya seakan terpatri dibenaknya. Sadewa meremas tangannya untuk menahan gejolak yang mulai membara didalam dirinya.
Tetaplah waras, Sadewa! Dia masih berpakaian, tapi kenapa pikiranmu melayang kemana-mana?! Batinnya penuh kegelisahan, berusaha menekan dorongan yang semakin tidak terkendali.
Merasa ruangan itu semakin menyempit dan gerah, Sadewa membalikkan tubuhnya dengan tergesa. “Cepat bersiap, saya tunggu di luar.” Ucapnya. Ia segera melangkah keluar, meninggalkan Maha yang masih berdiri dengan pakaian ditangan.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Sadewa menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Berada didekat Maha, dalam keadaan seperti itu, membuatnya merasa terhimpit oleh perasaan yang sulit ia kendalikan.
Di balik sikap dinginnya, Sadewa tahu ada sesuatu yang mulai berubah—sesuatu yang mengganggu ketenangannya dan membuatnya mempertanyakan kontrol atas dirinya sendiri.
Sementara itu, Maha mengerutkan keningnya saat memperhatikan gelagat Sadewa yang tampak gelisah. “Dasar orang gila!” Gumamnya setengah tidak percaya dengan tingkah laki-laki itu.
Namun, ia tidak ingin membuang waktu. Pertemuan dengan ibu Sadewa adalah sesuatu yang penting, bahkan jika statusnya hanya sebagai kekasih pura-pura. Maha tahu ia harus memberikan kesan terbaik, ia ingin tampil sebaik mungkin. Tidak hanya menjaga martabatnya sendiri, tetapi juga demi menjaga hubungan yang sedang ia jalani dengan Sadewa, meski penuh kepura-puraan.
Dengan cepat Maha mempersiapkan diri. Ia memeriksa pakaiannya sekali lagi dengan hati-hati, hanya memastikan setiap detail terlihat sempurna. Rambutnya yang masih sedikit basah ia tata dengan rapi dan riasan sederhana mulai menghiasi wajahnya, cukup untuk memberikan kesan elegan tanpa berlebihan. Dalam hatinya, Maha bertekad untuk memberikan kesan yang baik pada Ibu Sadewa.
Malam ini harus berjalan lancar, pikir Maha seraya menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah keluar dari walk in closet dan siap menghadapi malam yang penuh tantangan.
...****************...
Rembulan bersinar lembut dilangit malam, seolah memberikan dukungan diam-diam pada Maha yang berusaha mengatasi kegugupannya. Ia duduk di bangku penumpang, dan tampak gelisah. Jarinya meremas selempang tas, mencoba menyalurkan kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.
Disebelahnya, ada Sadewa dengan tenang mengemudikan mobil, ia sesekali melirik Maha. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia merasa bangga, membayangkan saat memperkenalkan Maha kepada ibunya. Terlebih pilihan busana Knit Over Dresses yang membalut tubuh Maha malam ini terlihat sempurna. Elegansi yang terpancar dari Maha membuatnya tampak memukau, sederhana namun elegan.
Sadewa tahu bahwa pertemuan ini adalah langkah besar, bukan hanya untuk Maha, tetapi juga untuk dirinya. Ia ingin segalanya berjalan lancar. Tanpa sadar, senyumnya semakin melebar saat membayangkan bagaimana ibunya akan menyambut kehadiran Maha.
“Tidak usah gugup. Ibu saya orangnya open-minded. Meskipun sudah sepuh, beliau masih bisa menerima hal-hal baru.” Ucap Sadewa memecah keheningan, mencoba menenangkan Maha
Maha menoleh, menatap Sadewa yang tetap tenang meski matanya fokus pada jalan di depan. Ada ketenangan dalam dirinya yang membuat Maha sedikit iri.
“Tapi, saya merasa bersalah, Mas Sadewa,” suara Maha bergetar, mengekspresikan keresahan. Hatinya penuh dilema antara peran yang ia jalani dan kenyataan yang tak bisa dihindari.
Sadewa melirik Maha sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Bersalah soal apa?” Tanyanya.
“Hubungan kita ini, ‘kan, hanya pura-pura, Mas. Kalau sampai Ibu Anda tahu soal kontrak itu, bagaimana? Tamat riwayat saya,” terang Maha, suaranya melemah di akhir kalimat.
Sadewa tersenyum kecil, seolah semua ini adalah permainan yang bisa ia kendalikan dengan mudah. “Maka dari itu, bersikaplah seperti kekasih saya, Maha. Dengan begitu, semuanya akan mengalir dan tidak akan menimbulkan rasa curiga pada ibu saya, ‘kan.” katanya, seolah itu tidak lebih dari tantangan kecil.
Dibalik kontrak itu, pikiran Maha dipenuhi kekhawatiran tentang masa depannya. Bagaimana jika kontrak ini terbongkar? Bagaimana jika aku dipecat dari Angkasa Corporation? Pikiran itu terus membebani Maha, membuat ruangan mobil yang luas terasa sempit dan menyesakkan.
“Kamu ingin menyerah?” Cetus Sadewa memecah lamunan Maha, membuatnya tersentak dari pikiran-pikirannya.
“Tidak, Mas. Kalau saya menyerah, saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar penalti kontrak kita.” Jawab Maha.
Sadewa tersenyum, seakan menemukan kemenangan kecil dalam jawaban Maha. Kepuasannya tergambar jelas, meski samar. “Bagus.” Ucapnya tegas, nada suaranya dingin namun penuh kendali.
Kata-kata itu menghantam Maha, membuatnya merasa semakin terperangkap dalam situasi yang dikuasai oleh Sadewa. Ia menunduk, memandang jari-jarinya yang menggenggam erat selempang tas di pangkuannya, mencari kekuatan di tengah kepungan rasa tak berdaya. Mobil yang melaju tenang di jalanan malam seakan menjadi saksi bisu dari pergulatan batinnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil mewah Sadewa akhirnya berhenti di pelataran sebuah rumah besar nan megah. Desain joglo dengan sentuhan oriental tampak menonjol, menciptakan kesan mewah yang tidak bisa diabaikan. Maha duduk terpaku, rasa gugup mulai menjalari tubuhnya yang membuatnya diam.
“Ayo turun, kita sudah sampai.” Ujar Sadewa, mengisyaratkan bahwa tidak ada waktu untuk ragu. Ia menatap Maha dengan pandangan heran tatkala pintu mobil dibuka oleh seorang maid, namun Maha tetap duduk membeku.
Perlahan Maha menoleh, matanya menatap Sadewa penuh kebingungan. Namun, bibirnya tetap terkatup rapat.
“Ayo, Maha. Jangan mengulur waktu.” Ucap Sadewa, tegas. Seperti sebuah perintah yang tidak bisa ditawar. Akhirnya ia keluar lebih dulu dari mobil, meninggalkan Maha yang masih berjuang mengatasi rasa cemasnya.
Dengan hati yang berdegup kencang, akhirnya Maha melangkah keluar, berusaha menyembunyikan kegelisahannya dibalik senyum tipis yang ia paksakan.
“Terima kasih,” ucap Maha pada maid yang tampak anggun dengan balutan seragam rapi.
“Enggeh, Nyonya sama-sama.” jawab maid itu, senyumnya ramah, disertai anggukan sopan yang menenangkan.
Didepan sana, Sadewa berdiri menunggu. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi tatapannya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia menyadari kegugupan Maha. Meski demikian, ia memilih untuk diam. Tidak ingin membahas apa yang dirasakannya sendiri. Sadewa tidak ingin terlihat peduli, walau didalam hatinya perasaan itu nyata.
“Ayo, Ibu pasti sudah menunggu kita.” Ucap Sadewa, meraih tangan Maha dan menggenggamnya dengan hangat.
Sentuhan itu adalah bentuk dukungan tanpa kata, sebuah cara untuk menyalurkan ketenangan. Sadewa merasakan dinginnya tangan Maha, tanda jelas dari rasa gugup yang melanda gadis itu.
“Ingat, bersikaplah normal. Kalau kamu gugup, hubungan pura-pura ini akan ketahuan. Karena ibu saya punya insting yang sangat tajam.” Ujar Sadewa sembari berjalan beriringan dengan Maha.
Mereka melangkah menyusuri jalan setapak menuju pintu utama, langkah mereka terasa berat di bawah beban sandiwara yang harus mereka jalani.
Maha hanya bisa menuruti, tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Perhatiannya teralihkan sejenak oleh keindahan rumah mewah yang berdiri di hadapannya. Gaya arsitektur Jawa yang kental terasa begitu memikat. Matanya tertuju pada detail ornamen yang menghiasi seisi rumah, lukisan-lukisan yang menggambarkan kehidupan pedesaan, gerabah besar dengan ukiran unik pada setiap sisinya dan juga pendopo luas ditengah halaman yang memancarkan suasana hangat dan kekeluargaan.
“Itu pendopo yang biasa kami gunakan untuk berkumpul,” ucap Sadewa memecah keheningan, suaranya lembut penuh nostalgia. “Dulu, saat mendiang ayah saya masih hidup, hampir setiap sore kami bercengkrama di sana.”
Maha menoleh, menatap Sadewa yang kini tampak sedikit melamun. Kata-katanya membawa kehangatan, seolah mengenang masa-masa indah bersama keluarganya. Perasaan campur aduk memenuhi hati Maha—antara kagum dan keindahan rumah ini dan rasa bersalah atas peran pura-pura yang harus ia jalani.
Namun, ada sesuatu dalam suara Sadewa yang membuat Maha sedikit tenang, seolah ada sisi lain dari pria itu yang jarang ia tunjukkan. Sisi yang penuh kasih dan kerinduan pada masa lalu.
“Ng… terus sekarang masih sering berkumpul, Mas?” Maha akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.
Sadewa menggeleng pelan, “Kita semua sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Kamu tahu sendiri, ‘kan, betapa sibuknya saya di kantor? Jadi, waktu untuk berkumpul itu sudah jarang sekali. Malah, setelah hampir enam bulan, ini pertama kalinya saya kembali kerumah ibu. Dan kali ini, saya datang bersama kamu. Untuk mengenalkan mu pada ibu saya.”
Maha menoleh, tatapannya tertuju pada Sadewa yang kini terlihat sedikit melankolis. Ucapan Sadewa seakan membawa perasaan iba dihatinya. Ia bisa merasakan ada rasa rindu yang terpendam dalam diri pria itu rindu akan kebersamaan yang dulu ia rasakan dirumah ini. Tapi sisi lain, Maha merasa bahagia. Karena, dibalik semua ini, dirinya menjadi alasan Sadewa akhirnya pulang dan bertemu dengan ibunya.
Langkah Sadewa dan Maha akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang luas, penuh nuansa klasik dan elegan. Patung-patung kayu dengan pahatan sempurna berjajar rapi di setiap sudut ruangan, seolah menjadi penjaga setia yang mengawasi setiap tamu yang datang dan aroma bunga melati menguar lembut, memberikan rasa hangat dan tentram.
Di tengah ruangan, duduk seorang wanita paruh baya di atas sofa panjang nan mewah, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Kacamata dengan rantai kecil berwarna perak menggantung di telinganya yang menambah kesan anggun dan bijaksana. Ia tampak serius seakan tenggelam dalam dunia kata-kata.
“Nyonya, Tuan Sadewa, sudah datang.” Ujar seorang maid, berdiri di samping sofa sambil menundukkan kepala.
Wanita itu menurunkan bukunya, lalu menatap ke arah Sadewa dan Maha. Senyum manis terulas di wajahnya yang penuh kehangatan, membawa suasana yang lebih bersahabat. Melihat itu, Sadewa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya, sementara ia menggenggam tangan Maha dengan lembut, seolah ingin memperkenalkan gadis di sisinya sebagai miliknya, seseorang yang berarti baginya.
Dengan langkah mantap, Sadewa menghampiri ibunya, membawa serta Maha dalam kebersamaan yang terlihat begitu alami. Maha hanya bisa mengikuti dengan jantung berdegup kencang, mencoba untuk tenang di hadapan sosok yang begitu penting bagi Sadewa.
Sasmita, wanita paruh baya itu merasakan kebahagiaan yang meluap-luap saat akhirnya bisa memeluk putranya. Enam bulan berlalu tanpa pertemuan membuat rindunya semakin berat, seolah waktu bergerak terlalu lambat. Kini, dalam pelukan hangat itu, ia mendapati ketenangan yang sudah lama dinantikan.
“Putraku, Sadewa… ibu merindukanmu, Le,” bisiknya penuh kasih, suara lembutnya mengandung ribuan rasa yang tak terucapkan.
Maha yang berdiri dibelakang Sadewa, menyaksikan adegan itu dengan senyum kecil di wajahnya. Ia melihat Sadewa dengan sisi yang berbeda. Aura dingin, angkuh, dan sombong yang biasa menyelimuti pria berkulit pucat itu seolah lenyap begitu saja dalam dekapan ibunya.
Manis sekali, pikir Maha sambil menatap kehangatan yang terpancar dari interaksi ibu dan anak itu.
Dibalik senyumnya, tersimpan rasa iri yang tidak terelakkan. Maha juga ingin merasakan pelukan hangat seorang ibu, sebuah pelukan yang bisa menghapus segala kesedihan. Namun, sebagai seorang yatim piatu sejak kecil, keinginan itu hanya menjadi bayangan yang harus ia tepiskan jauh-jauh. Dengan segenap kekuatan, Maha menahan perasaan itu, memilih untuk tetap tersenyum menyaksikan kehangatan yang mungkin tak pernah ia rasakan.
Setelah puas melepas rindu, Sasmita perlahan melepaskan pelukan dan mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang. Sentuhan seakan ingin menyampaikan cinta yang tak terbatas.
“Bu, jangan seperti ini. Malu…” rengek Sadewa, rona merah merayap di pipinya, membuatnya tampak seperti anak kecil yang canggung.
Sedangkan Sasmita tertawa ringan melihat ekspresi malu putranya, tawa yang penuh kehangatan dan cinta. Kini, perhatian Sasmita beralih kepada gadis cantik yang berdiri di belakang Sadewa.
Maha yang merasakan tatapan itu, segera melangkah maju. Dengan penuh rasa hormat, ia meraih tangan Sasmita yang sudah mulai terkikis oleh waktu, mengecup punggung tangan itu dengan takzim. “Selamat malam, Bu…” sapanya.
Sasmita tersenyum bahagia, lalu menepuk punggung Maha dengan lembut. Sentuhan itu penuh penerimaan, seolah memberikan rasa nyaman yang Maha butuhkan. “Selamat malam, Cah Ayu…” balasnya dengan suara yang sarat kelembutan.
Meski begitu, senyum Maha masih terbalut kegelisahan. Detak jantungnya terasa tidak beraturan, seolah berada di tengah irama yang tidak terkendali. Senyuman hangat Sasmita justru membuatnya semakin gugup, bingung harus berbuat apa selanjutnya. Dalam hati, ia berharap bisa melalui malam ini dengan baik, tanpa ada kesalahan yang mencurigakan.