Nella, si cewek yang barbar banget. Dari sikap absurd, tingkah yang paling tepok jidat.
Siapa yang akan peduli, kalau Nella itu punya segala alasan buat orang-orang terpingkal tertawa, bahkan jungkir balik.
Seorang pria yang rupawan cukup dibilang kayak artis china. Ternyata punya ke tarikan terhadap Nella.
Dari omongan Nella ke Edy. Semua pun terjalin begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lsaywong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternoda Bibir
Sebentar lagi, hari yang di tunggu oleh Nella akan tiba. Perasaan dua sepasang unik ini di perhatikan oleh banyak manusia-manusia tengah beraktivitas posisi masing-masing.
Pada saat mereka masuk ke pintu utama yaitu lobi tentunya, sepasang mata tertuju arah dua sejoli ini. Mereka mendapat berita gosip terhangat kalau pemilik perhotelan ini akan menikah dengan seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris yang baru di mutasikan dari supervisor piutang.
Gilanya lagi, para manusia-manusia di sini juga shock, terkejut. Bahwa Edy ini sudah kenal baik dengan Nella, mereka mengira kalau Nella itu hanya keberuntungan mendapat pria tampan, mapan dan misterius.
Bagaimana dengan Toni yang sudah pendam perasaan namun di tolak berkali-kali oleh wanita yang di kejarnya. Toni merasa terpukul, galau, beredar gosip bahwa Nella benaran akan menikah dengan pemilik perhotelan ini.
Pada waktu pertemuan di mall, ia terkejut sendiri kenapa Nella bisa berbarengan dengan Pak Bos, terus teringat kembali saat mengajak Nella untuk makan siang berduaan, di tolak, malah memilih jalan berduaan dengan Pak Bos di depan matanya. Sudah sekian berapa kali tercyduk oleh Toni, hubungan Nella dengan Pak Bos. Ternyata gosip yang sudah larut tahun lamanya Pak Bos menolak wanita berbagai alasan tidak cocok atau pun tidak tertarik. Ada hubunganya dengan Nella.
Pantasan waktu Nella melamar kerja di perhotelan ini. Tanpa interview langsung di Terima oleh pihak HRD tersebut. Toni benar tidak berpikir sampai sejauh ini. Semua teka-teki pun terungkap sudah.
•••••
"Om, nanti mau makan di mana?" tanya Nella duduk berdiri di samping Edy.
"Terserah saja! Makan kamu juga, boleh," jawabnya masih sibuk dengan pulpen di atas beberapa kertas penting.
"Mana ada makanan terserah, cepat, Om, mau pesan, apa? Biar Lala pesan pakai Go-Food." Desak Lala, menarik - turun layar ponsel terbarunya.
"Ada kok," jawabnya lagi santai banget dah Edy.
Nella terpicu salah satu eskrim yang amat di nantinya. Eskrim jumbo, beberapa rasa, terus dengan lincah ia mulai mengetik di layar ponsel dengan semangat.
Edy yang merasa terusik dengan suara tombol keyboard ponsel Nella, di dongak ke samping.
"Eh... bentar, Om, belum selesai di pesan!"
Edy tidak peduli, kepo di lihat ponselnya. Matanya terbelalak, semua pesanan berupa eskrim.
"Yang benar saja, makan semua?" tanya Edy lirik.
"Katanya terserah, kan! Ya sudah tak pesan semua. Salah, lagi?" jawabnya santai di rampas ponselnya itu.
"Tapi, enggak semuanya juga, kali, Lala sayang!"
"Biarin, salah Om sendiri jawabannya terserah!"
" Terserah itu, ada banyak macam pilihan. Nanti kamu sakit gigi sama perut, loh, kalau terlalu banyak makan eskrim terus mekar jadinya. Sayang, baju pengantinnya malah kesempitan." Ucap Edy menceloteh panjang lebar
"Ih, bawel banget sih, Om. Mulai kapan sih, Om sebawel ini?" Nella bertanya.
"Mulai calon istriku berikan eskrim jagung." jawabnya
Nella mengerut kening, "Masa? Om, doyan sama jagung? Rasanya kayak mana sih?" Oh my god Nella, pura - pura amnesia atau gimana sih?
"Seperti ini,"
Dua bola mata terbuka sempurna, Tatapan tajam tertuju jelas kepada Nella sendiri. Kehangatan tidak berubah hingga hayat mereka terpisah.
"Sudah tahu kan, rasanya," kata Edy lembut
"Kok, Om, dari kemarin - kemarin asyik cium Lala mulu! Ternoda sudah untuk di hari pernikahaan. Padahal Lala sudah capek-capek merawat bibir ini biar nanti siap untuk di malam spesial!" celetuk Nella sebal.
"Perawatan bibir tidak perlu sampai capek, kali, La. Sering cium malahan membuahkan hasil lebih dalam lagi." balas Edy senyum jahil
Otaknya mulai berjalan, bagaimana jika di malam pertama dengan istrinya itu. Perasaan berdebar-debar tidak menentu.
Nella pura tidak mendengar padahal di dalam hati tidak sabaran untuk menuntaskan.