Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
...-Masih dikehidupan masa lalu-...
Suara riuh tepuk tangan di aula Airborne Group perlahan memudar di telinga Arga, digantikan oleh bunyi dengung yang menyakitkan. Siska Roy - *atau wanita yang dulu ia kenal sebagai Siska sang penghancur mimpinya* - baru saja berlalu dari hadapannya dengan keanggunan seorang ratu yang baru naik takhta.
Arga masih berdiri mematung. Telapak tangannya yang tadi bersentuhan dengan Siska terasa panas, seolah-olah jejak sentuhan itu meninggalkan luka bakar permanen. Ia melihat Pak Roy merangkul pinggang Siska dengan posesif, membawa wanita itu berkeliling untuk menyapa relasi bisnis lainnya. Arga merasa mual. Pria yang ia hormati sebagai mentor kini telah menjadi suami dari wanita yang pernah membunuh darah dagingnya sendiri.
"Arga? Hei, kau melamun lagi?" suara Rendy, rekan kerjanya, menyentak Arga kembali ke realita. "Luar biasa, bukan? Pak Roy benar-benar pandai mencari istri. Cantik, cerdas, dan kabarnya dia yang memegang kendali penuh atas ekspansi kita ke Eropa nanti. Keberuntunganmu berlipat ganda, Ga. Punya atasan secantik itu."
Arga hanya mampu memaksakan sebuah senyum kecut. "Iya... luar biasa."
Tanpa menunggu acara ramah tamah berakhir, Arga menyelinap keluar dari aula. Ia membutuhkan udara segar. Di dalam toilet pria yang sepi, ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang biasanya penuh determinasi itu kini dipenuhi ketakutan.
"Ini tidak mungkin terjadi," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Sepuluh tahun... kenapa harus sekarang?"
~~
Perjalanan pulang ke apartemen terasa sangat lama. Arga mengemudi secara mekanis, sementara pikirannya terus memutar memori di saat pernikahannya dengan Nabila. Ia teringat janji sucinya pada Nabila untuk mengubur masa lalu. Namun sekarang, masa lalu itu bukan lagi sekadar memori, masa lalu itu adalah bosnya.
Saat ia membuka pintu apartemen, aroma gurih ayam bakar bumbu rujak menyambutnya. Nabila muncul dari dapur dengan senyum paling cerah yang pernah Arga lihat.
"Selamat datang, Wakil Direktur-ku!" seru Nabila riang. Ia langsung menghambur ke pelukan Arga.
Arga memeluk Nabila, namun pelukannya terasa kaku. Ia membenamkan wajahnya di bahu Nabila, mencoba mencari perlindungan dari rasa takut yang mengejarnya. Bau melati dari rambut Nabila biasanya menenangkannya, namun kali ini, aroma parfum musk Siska yang kuat seolah masih menempel di jasnya, meracuni segalanya.
"Mas? Kok diam saja? Bagaimana acaranya? Pak Roy mengumumkannya, kan?" Nabila melepaskan pelukan dan menatap wajah suaminya. Senyumnya sedikit memudar saat melihat mata Arga yang kuyu. "Mas... kau sakit?"
Arga menelan ludah. Ia harus berbohong. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Arga membangun tembok kebohongan. "Acaranya... berjalan baik, Sayang. Tapi ada perubahan rencana. Pak Roy belum mengumumkan promosi jabatan secara resmi karena... karena ada jajaran direksi baru yang masuk. Kita harus menunggu audit internal dulu."
Nabila terdiam sejenak, lalu mengelus pipi Arga lembut. "Oh, begitu ya? Tidak apa-apa, Mas. Mungkin memang prosedurnya begitu. Yang penting prestasimu tetap yang terbaik. Jangan terlalu dipikirkan, ya? Ayo makan, aku sudah siapkan semuanya."
Makan malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan itu terasa hambar bagi Arga. Setiap suapan terasa seperti menelan kerikil. Nabila terus bercerita tentang rencana-rencana kecil mereka, sementara Arga hanya mengangguk sesekali. Pikirannya melayang pada bisikan Siska di aula tadi. "*Kau terlihat jauh lebih layak sekarang*."
~
Malam itu, saat Nabila sudah terlelap, Arga duduk di balkon apartemen. Ia menyalakan ponselnya dan mencari nama 'Siska Roy' di mesin pencari. Munculah berbagai artikel tentang pernikahan megah mereka di Singapura setahun lalu. Foto-foto Siska yang tampil mewah di berbagai acara sosialita kelas atas memenuhi layar.
Arga mengepalkan tinjunya. Siska tidak berubah. Ambisinya tetap sama, hanya sekarang ia memiliki sumber daya yang tak terbatas untuk mewujudkannya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"*Jangan mencoba lari, Arga. Kantor adalah wilayahku sekarang. Besok pagi jam 8 tepat, temui aku di ruangan Direktur Eksekutif. Ada 'proyek masa lalu' yang harus kita selesaikan. Jangan terlambat, atau Nabila-mu yang manis akan tahu siapa kau sebenarnya sepuluh tahun lalu*."
Ponsel itu nyaris jatuh dari tangan Arga. Siska sudah memulai langkahnya. Ancaman itu sangat jelas. Siska tidak hanya ingin menguasai pekerjaannya, tapi juga menghancurkan integritasnya di depan Nabila.
Arga menoleh ke dalam kamar, melihat siluet Nabila yang tidur dengan tenang. Ia menyadari bahwa badai ini bukan hanya tentang karier, tapi tentang bertahan hidup dari wanita yang tidak mengenal kata maaf.
Arga menghapus pesan itu dengan tangan gemetar. Ia masuk ke dalam kamar, berbaring di samping Nabila, namun matanya tetap terbuka menatap kegelapan. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan menjadi neraka yang berjalan.
...----------------...
**Next Episode**....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰