Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Rencana Strategi
Setelah mengetahui adanya sabotase dan mata-mata di kediaman Marquis Florence
Arthur tidak segera bertindak.
Menurutnya itu yang paling berbahaya dari dirinya sekarang.
Ia duduk sendirian di ruang kecil di sebuah penginapan, jendela terbuka setengah, membiarkan suara kota masuk perlahan, roda kereta, langkah kaki, percakapan secara samar. Ia mencatat bukan dengan tinta, melainkan dengan pikirannya.
Siapa yang berbicara terlalu cepat.
Siapa yang tahu terlalu banyak.
Siapa yang diam saat seharusnya bereaksi.
Balasan pertama Arthur bukan serangan,
melainkan ketiadaan reaksi.
Hoax tentang Moren tidak ia bantah.
Air sumur tercemar tidak ia umumkan.
Upaya pembunuhan sunyi tidak ia jadikan isu.
Sebaliknya, ia membiarkan semua itu mengendap.
Karena orang yang menyebar kebohongan selalu gelisah saat kebohongannya tidak memancing respons.
Jaring Pertama: Informasi Terbatas
Arthur memanggil tiga orang saja malam itu:
Toxen,
Seren,
dan satu knight senior Fireloren bernama Raskel lelaki tua yang lebih banyak mengamati daripada berbicara.
“Aku ingin kabar, tentang kondisi keadaan sekarang secara up to date” kata Arthur singkat.
“Bukan tentang siapa yang berisik. Tapi tentang siapa yang mendengarkan.”
Raskel mengangguk.
“Jika ada hal yang sangat membuat ku curiga hmmm, ahh iya ada seorang pelayan dapur yang jarang bicara. Sejak kemarin, ia menanyakan ku soal jadwal patroli penjaga.”
Toxen menambahkan pelan:
“Dan juga ada seorang tabib tamu. Ia terlalu cepat tahu tentang kondisi dari sumur itu, tuan muda.”
Arthur mencatat dalam diam.
Ia tidak memerintahkan penangkapan.
Ia memerintahkan perubahan pola:
jadwal jaga diacak, rute logistik diputar, dan informasi palsu kecil disebar dengan versi berbeda.
Bukan untuk menjebak, melainkan untuk melihat siapa yang bereaksi secara keliru nantinya.
Audiensi Sunyi dengan Marquis Florence
Arthur meminta bertemu Marquis Florence tanpa pengawal berlebihan, tanpa aula agung, tanpa saksi mata.
Pertemuan berlangsung di ruang baca tua rahasia, dinding penuh peta usang dan buku yang bau kertasnya mengingatkan pada musim dingin.
Marquis Florence lelaki berambut perak dengan mata yang seperti telah melihat terlalu banyak perang menatap Arthur lama sebelum bicara.
“Kau tidak datang sebagai tamu, anak dari Moren” katanya akhirnya.
“Kau datang sebagai orang yang membawa kabar buruk.”
Arthur menunduk sopan.
“Saya datang sebagai orang yang tidak ingin melihat keluarga lain jatuh seperti keluarga saya lagi, tuan Florence.”
Keheningan.
Arthur tidak menyebut nama Vastorci.
Tidak menyebut enam orang itu secara langsung.
Ia hanya berkata:
“Ada sekelompok orang… yang tidak bergerak dengan pasukan. Mereka bergerak dengan ketergantungan, tuan.”
Marquis Florence menyipitkan mata.
“Jelaskan sesingkat nya.”
“Mereka melukai dengan cara membantu” lanjut Arthur.
“Makanan. Dana. Perlindungan. Jalan keluar. Lalu suatu hari, bantuan itu berubah menjadi pengait pancing mania.”
Marquis menutup buku perlahan.
“Seperti ayah mu, Moren.”
Arthur tidak mengiyakan.
Ia juga tidak menyangkal.
Itu sudah cukup bagi diri Arthur.
Arthur berdiri, melangkah mendekat ke peta Tirpen yang tergantung di dinding.
“Tuan Marquis yang terhormat” katanya pelan,
“saya tidak tahu siapa di kediaman Anda yang terlibat sekarang.”
Ia menoleh.
“Dan saya harap tidak perlu tahu juga tentang itu, tapi...”
Marquis Florence berdiri juga.
“Tapi?”
“Jika seseorang di dalam rumah anda ini mulai bertanya tentang hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting, seperti jadwal, rute, kebiasaan, jangan sesekali anda terlihat marah.”
Arthur tersenyum tipis.
“Itu bukan pengkhianatan. Itu pemetaan.”
Marquis terdiam lama.
Lalu ia berkata lirih:
“Anakku jatuh sakit karena racun.”
Arthur mengangguk.
“Itu bukan peringatan biasa” jawabnya.
“Itu ujian batas.”
Keputusan Marquis Florence
Marquis Florence menatap jendela, ke arah taman dalam.
“Jika yang kau katakan benar itu benar adanya” katanya,
“maka perang berikutnya tidak akan dimulai dengan suara terompet.”
Arthur menjawab tanpa ragu:
“Perang itu sudah dimulai dari awal. Hanya saja… belum semua orang sadar.”
Marquis menarik napas panjang.
“Apa yang kau sarankan wahai anak muda?”
Arthur berpikir sejenak.
“Jangan bersihkan rumah terlalu cepat, tuan Florence” katanya akhirnya.
“Biarkan debu menunjukkan dari mana angin akan datang.”
Saat Arthur meninggalkan ruang baca, Marquis Florence berdiri sendirian.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun,
ia merasa bukan hanya anaknya yang diserang
melainkan cara dunia bekerja.
Dan di lorong sunyi itu, Arthur menyadari sesuatu yang pahit:
Ia tidak sedang membalas Vastorci.
Ia sedang belajar bermain di papan yang sama.
Debu yang Bergerak
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada penggerebekan.
Marquis Florence hanya mengeluarkan satu perintah kecil yang tampak sepele:
pemindahan sementara gudang obat dan bahan makanan ke sayap timur kediaman.
Alasannya resmi:
renovasi pipa lama yang sudah rusak dan dikhawatirkan akan merusak bahan-bahan didalamnya.
Arthur tahu
ini adalah umpan yang bagus.
Ia memberi rencana ini sebagai ''Jaring Kedua: Informasi yang Sengaja Salah''
Arthur menyusun tiga versi informasi yang akan disampaikan kepada masing-masing tempat:
Versi dapur mengatakan gudang dipindah malam ini.
Versi penjaga gerbang mengatakan pemindahan besok pagi.
Terakhir versi para tabib mengatakan gudang tidak jadi dipindahkan.
Tidak ada yang tahu bahwa ketiga versi itu sengaja saling bertentangan.
“Yang mencari kebenaran akan bertanya” kata Arthur pelan pada Marquis Florence.
“Yang membawa pesan akan mengirim apa pun yang ia dengar dan menyampaikan kepada dia.”
Marquis mengangguk, wajahnya tegang namun fokus.
Malam Pertama
Hujan turun ringan.
Toxen dan para knight bergerak tanpa suara sedikitpun, tidak sebagai penjaga melainkan bayangan.
Satu orang telah tertangkap di lorong dapur: seorang pelayan muda bernama Lerin.
Ia tidak berlari.
Itu kesalahan pertamanya.
Malam Kedua
Seorang tabib tamu, Mael Orin, mencoba meninggalkan kediaman dengan alasan mendadak dipanggil pasien luar kota.
Di tasnya ditemukan:
catatan waktu jadwal para penjaga, sketsa kasar dari wilayah sayap timur kediaman Florence, dan satu botol kecil minyak pahit.
Tidak cukup untuk vonis bahkan hukuman m#ti.
Tapi cukup untuk diam.
Malam Ketiga
Seorang penjaga gerbang veteran, yang mengabdi selama 8 tahun kepada keluarga Florence
Hargen terlihat mengubah jadwal patroli tanpa perintah tertulis.
Ia ditangkap oleh orang-orangnya sendiri.
Itu yang paling menyakitkan bagi Marquis Florence.
Ruang Interogasi
Tidak ada alat penyiksa.
Tidak ada teriakan.
Hanya sebuah ruangan batu sederhana, tiga kursi, satu meja.
Arthur tidak duduk di tengah.
Ia berdiri di dekat dinding.
Marquis Florence duduk di hadapan mereka.
“Aku tidak ingin pengakuan, ataupuj omongan belaka” katanya tenang.
“Aku ingin alasan kalian, sekarang juga disini.”
Leris menunduk, tangannya gemetar.
“A-Aku hanya… menyampaikan kabar saja” katanya lirih.
“Mereka membayar. Dan mereka bilang tidak akan ada yang terluka pada kami dan keluarga kami.”
Arthur menoleh sedikit.
“Mereka selalu bilang begitu.”
Mael Orin lebih keras kepala.
“A-Aku hanya tabib biasa, tu-tuan” katanya.
“Aku hanya mengamati. Racun itu bukan untuk membunuh hanya untuk membuat seseorang diam.”
Arthur mengangkat pandangannya.
“Siapa yang memerintahkanmu!?”
Mael terdiam.
Bukan karena takut.
Karena takut pada nama yang tidak ia sebutkan.
Pecahan Kebenaran
Dari tiga orang itu, tidak satu pun tahu keseluruhan.
Namun pola mulai terlihat:
Pesan datang melalui perantara anonim
Pembayaran melalui utang lama yang ‘dibersihkan’
Perintah selalu bersifat sementara dan tidak lengkap
“Mereka tidak membangun jaringan, didalam kita” gumam Marquis Florence pahit.
“Mereka menanam kebutuhan.”
Arthur mengangguk.
“Dan kebutuhan membuat orang berpikir mereka masih punya pilihan.”
Ini Keputusan Sulit
Marquis Florence menutup mata sejenak.
“Jika aku menghukum mereka di depan umum, di depan semua orang”
“maka mata-mata lain akan menghilang, hmmm” potong Arthur pelan.
“Dan kita buta.”
Keheningan panjang.
Akhirnya Marquis berkata:
“Maka mereka tidak akan dihukum ataupun dilukai.”
Leris menangis lega.
Arthur tidak tersenyum.
“Mereka akan dipindahkan,” lanjut Marquis.
“Ke sebuah tempat yang keamanannya terjamin. Dan semua pesan yang keluar dari mereka… akan lewat kita dulu.”
Arthur menatap Marquis Florence.
Di situlah, tanpa kata, mereka sepakat:
mata-mata itu kini menjadi cermin.
Saat interogasi selesai, Arthur berjalan keluar ke halaman.
Langit Florence cerah, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Toxen mendekat.
“Hanya tiga orang tuan muda” katanya.
“Terlalu sedikit untuk sebuah pembuktian, namun.”
Arthur menjawab tenang:
“Ini juga cukup untuk membuktikan bahwa mereka ada.”
Ia memandang ke arah kota.
“Dan cukup untuk memberi tahu kepada Vastorcibahwa kita tidak tidur semenjak hal ini benar-benar dimulai.”
Dan kita akan membalas
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥