NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemenangan yang Mencekik

Baru saja Every hendak mencapai ujung koridor, sebuah bayangan besar memotong jalannya. River berdiri di sana, menyandar pada pilar beton dengan gaya angkuh, memutar-mutar kunci motor-nya di jari telunjuk.

"Gimana rapatnya, Madam President?" ejek River, suaranya yang berat memantul di dinding koridor. "Bau mawar lo kalah telak sama bau gue, ya?"

"Minggir, River. Gue ada urusan," desis Every, matanya berkilat marah.

River tidak bergeming. Ia justru maju satu langkah, mengunci Every di antara tubuhnya dan dinding.

Ia menunduk, menghirup udara di dekat leher Every dengan sengaja. "Masih nempel. Gue rasa kulit lo emang suka sama bau gue."

"River, stop! Gue—"

"Every?!"

Suara teriakan itu memecah ketegangan. Axel berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah yang merah padam.

Ia baru saja keluar dari ruang rapat dan pemandangan di depannya—Every yang terhimpit di bawah dominasi River—membuat harga dirinya meledak.

Axel melangkah maju dengan cepat, mencoba meraih bahu Every. "Apa-apaan ini?! Lepasin Every, River!"

River tidak melepaskan Every. Ia justru melingkarkan satu tangannya di pinggang Every, menarik gadis itu lebih dekat ke dadanya seolah menegaskan kepemilikan. Mata River yang gelap menatap Axel dengan tatapan meremehkan.

"Oh, si pahlawan kesiangan datang," River menyeringai dingin. "Gimana rasanya, Xel? Kemarin lo cuma nonton calon tunangan lo kedinginan di kolam, sekarang lo mau akting jadi pelindung?"

"Gue bilang lepasin!" teriak Axel, suaranya bergetar antara amarah dan malu. "Every, sini! Kenapa kamu mau di pegang sama preman ini? Dan bau itu... jadi bener kalian semalam—"

"Bener apa, Axel?" Every memotong, suaranya bergetar namun tajam. Ia menatap Axel dengan penuh kebencian. "Semalam lo diem aja pas gue didorong Valerie. Lo cuma liat gue tenggelam! Sekarang lo mau nanya soal bau parfum?"

Every melirik River, lalu kembali menatap Axel. "Setidaknya 'preman' ini yang narik gue keluar dari air pas lo cuma sibuk benerin kerah baju lo yang berantakan habis ciuman sama Valerie."

Wajah Axel pucat seketika. "Every, aku bisa jelasin soal Valerie, itu—"

"Nggak ada yang perlu dijelasin," Every menyela cepat dan berjalan meninggalkan ketegangan diantara mereka.

River mengekori Every berjalan menyusuri koridor melewati Axel yang mematung. Axel hanya bisa menatap mereka dengan tangan mengepal, sementara bisikan anak-anak BEM yang mengintip dari balik pintu ruang rapat mulai pecah.

Langkah Every begitu cepat dan berang, suara hak sepatunya beradu dengan lantai koridor yang sunyi, menciptakan irama kemarahan yang tidak bisa disembunyikan.

Di belakangnya, River mengikuti dengan santai, langkahnya lebar dan penuh percaya diri, seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di kampus.

"Every! Tunggu!" Axel mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti saat River sengaja melambatkan jalan, menoleh sedikit ke arah Axel dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Jangan buat gue pakai cara kasar untuk bikin lo berhenti mengekor, Ammerson," desis River tanpa menghentikan langkah.

"ambil kesempatan sekarang, Armani. Besok mungkin semua udah balik seperti sebelumnya." desis Axel merubah arah langkahnya.

Begitu mencapai area parkir yang agak menjauh dari kerumunan, Every berbalik secara mendadak. Ia berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga rambut panjangnya mencambuk udara dan nyaris menabrak dada River yang sejak tadi menempel di belakangnya.

"Lo juga! Berhenti ngikutin gue!" bentak Every, napasnya memburu. Matanya menatap River dengan benci sekaligus frustrasi. "Lo puas sekarang? Lo udah bikin satu BEM curiga, lo udah bikin Axel tahu, lo udah hancurin sisa harga diri gue hari ini!"

River diam, menatap Every yang tampak gemetar di hadapannya.

Ia memasukkan kunci motornya ke saku celana, lalu melipat tangan di dada. "Harga diri mana yang hancur, Every? Harga diri lo sebagai tunangan boneka Axel, atau harga diri lo sebagai Every Riana yang pengecut karena nggak berani akuin siapa yang sebenernya lo cari pas lo butuh bantuan?"

"Gue nggak butuh bantuan lo! Gue nggak minta lo lompat ke kolam!"

"Tapi nyatanya gue yang lompat, bukan dia," potong River telak. "Dan lo nggak nolak pas gue bungkus pakai kemeja gue semalam. Lo bahkan nggak nolak pas gue anter sampai depan pintu."

Every terdiam, bibirnya bergetar. "Itu karena gue kedinginan, River. Bukan karena gue mau lo..."

"Bohong," bisik River, melangkah maju hingga Every terpojok di samping motor besar milik River. "Lo bisa bohong sama Axel, lo bisa bohong sama anak-anak BEM lo yang sok suci itu, tapi bau lo... bau lo udah kecampur sama bau gue. Dan lo tahu itu artinya apa? Secara insting, lo udah milih siapa pelindung lo."

Every mendengus mengambil satu langkah maju,, mencoba mengintimidasi pria yang jauh lebih besar darinya itu. "Dengar ya, River Armani. Lo mungkin bisa klaim noda di sprei Bangkok, atau bau parfum murahan lo yang nempel di baju gue. Tapi jangan pernah sekali-kali lo pikir lo punya hak buat nyentuh gue atau berdiri di jarak sedekat ini."

Every menunjuk dada River dengan jari yang gemetar karena amarah. "Lo itu cuma Senior Teknik yang kebetulan lewat. Lo bukan siapa-siapa buat gue. Berhenti bersikap seolah lo pemilik gue hanya karena satu malam kecelakaan yang bahkan sudah gue hapus dari sejarah hidup gue. Pergi dari hadapan gue, dan jangan pernah ada di jarak kurang dari satu meter dari gue lagi. Gue muak liat muka lo."

Suasana mendadak hening.

Seringai di wajah River perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat sulit dibaca.

Matanya yang kelam menatap Every dalam diam selama beberapa detik—sebuah keheningan yang lebih menakutkan daripada bentakan mana pun.

River tidak membalas. Ia tidak menyeringai lagi.

Pria itu hanya mengangguk pelan, seolah menerima tantangan itu dengan cara yang paling dingin. Tanpa sepatah kata pun, River melangkah mundur.

Ia berbalik dan berjalan melewati Every begitu saja, seolah Every hanyalah pilar beton yang tidak bernyawa.

Tidak ada lirikan, tidak ada godaan, bahkan aroma tembakau yang biasanya ia tebar sengaja pun seolah ditarik paksa oleh kehadirannya yang tiba-tiba menjadi sangat asing.

River tidak menoleh lagi.

Ia terus berjalan menuju bengkel mesin yang bising, meninggalkan Every yang masih berdiri dengan tangan terkepal di tengah area parkir.

Every merasa seharusnya ia menang.

Ia baru saja mengusir predator paling berbahaya di kampus dari teritorinya.

Namun, melihat punggung River yang menjauh tanpa sekali pun menoleh ke belakang justru memberikan sensasi hampa yang mencekik.

River benar-benar menarik semua energinya, menyisakan Every sendirian dengan sisa aroma musk yang masih menghina indra penciumannya.

River mengeluarkan ponselnya sambil berjalan menuju gedung Teknik.

Sebuah pesan masuk dari Recha di grup BEM terpampang di sana: 'Study tour ke Bandung fix, transportasi diurus bang River dan Tim'.

"Tiga hari di Bandung," River menyeringai tipis, "Jangan pikir lo bisa kabur di sana."

1
den
double up thor🤭
Muse_Cha: jangan lupa vote dan komen ya kak🙏❤️😍
total 1 replies
den
up lagi thorr
Muse_Cha: ditunggu ya kak. aku up sore²😍 jangan lupa like bab dan vote ya. terimakasih supportnya ❤️
total 1 replies
den
ceritanya menarik dan realistis ngk membosankan
den
kak plis up ceritanya realistis bangett😍
Muse_Cha: makasih ya kak😍 semoga suka terus🙏
total 1 replies
awesome moment
perempuan sering lbh maju perasaannya dan...tu yg bikin...terjun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!