Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayana Sopir Pangeran Xavier
Pagi pun tiba.
Cahaya matahari masuk melewati celah gorden yang tersingkap tipis. Mendarat tepat di kelopak mata kayana. Kayana yang mulai terusik oleh cahayanya. Dia menarik selimut tebalnya hingga menutupi kepalanya, mencoba bernegosiasi dengan waktu, untuk terlelap lima menit kembali.
Tok.. Tok.. "Kayana, sudah pagi sayang." Teriak bunda lita membangunkan kayana.
Kayana langung refleks terduduk. "Aku lupa sekarang kan aku menjadi kayana." Ucapnya dengan nada terkejut. "Aku harus masuk kerja, keluarga maheswara sangat ketat peraturan. Aku akan coba mengundurkan diri sebelum waktu kerja ku habis."
Kayana langsung bangkit dari kasurnya, dia menuju pintu.
Click..
"Sayang, sudah pagi. Tumben kamu belum mandi?" Ucap bunda lita dengan nada lembutnya. "Ayo kita sarapan." Ajaknya dengan senyuman hangatnya.
"Hehehe, aku belum mandi bunda, bunda sarapan duluan ya, aku mandi dulu. Nanti aku nyusul." Jawabnya dengan nada cengengesan.
Bunda lita sangat bersyukur kayana berubah menjadi ceria, biasanya dia akan diam saja.
Sedangkan di istana.
Mentari pagi menyentuh pembatas balkon, namun hangatnya tidak sedikit pun meredam dingin yang mengunci tatapan pangeran xavier. Diantara kabut tipis dan sisa embun, bayang-bayang wajah calon tunangannya selalu muncul, melayang diantara pembatas nyata dan khayalan. Setiap hembusan napasnya seolah membisikkan nama calon tunangannya.
Ada yang berbeda di tatapan pagi itu, ada kilatan tajam yang mengerikan, matanya menyipit. Memancar obsesi yang begitu pekat seperti tampak api hitam. Dia ingin memiliki setiap inci keberadaan calon tunangannya. Rasa ingin memiliki yang melampaui batas kewajaran, ingin mengurungnya dalam ruang yang hanya bisa dia akses, dan setiap detak jantung calon tunangannya hanya di peruntukan baginya seorang.
"Kayana, aku akan mencari mu sampai dapat. Kamu terlalu lama bersembunyi dari ku, kelihaian mu bersembunyi akan aku patahkan. Kamu tidak memiliki rasa marah aku memiliki kekasih." Desisnya dingin terdengar sangat beracun dan mengerikan. "Aku akan membuat mu jatuh cinta kepada ku, seperti dulu." Lanjutnya kembali dengan penuh penekanan.
"Pangeran xavier." Panggil hans hormat. "Sudah saatnya sarapan." Ucap hans memberi tahu. "Hari ini di perusahaan ada meeting penting." Sambungnya lagi.
"Hmm." Dia menatap langit pagi sekilas, lalu melangkah pergi.
Sedangkan kayana sedang sarapan dengan bunda lita, kayana menggunakan seragam sopir istana, kemeja hitam dipadukan celana senada.
Bunda lita menatap lekat. Dia melihat kayana yang begitu berbeda. "Sayang, kamu tidak menggunakan kaca mata?" Tanyanya dengan nada penasarannya.
"Tidak bunda, seperti ini saja." Jawabnya dengan nada santai.
"Tetapi wajah mu terlihat cantik. Seperti pria cantik." Ucapnya dengan nada hangat.
"Tetapi, hampir setahun mereka tidak mengenali ku bunda, jadi aku yakin tidak apa-apa. Lagi pula besok aku sekolah, pulang sekolah baru ke istana. Sangat jarang berinteraksi dengan pangeran xavier, jadi bunda jangan khawatir, oke." Jawabnya dengan nada menenangkan.
"Hmm, tetapi kamu harus selalu hati-hati sayang." Pesannya dengan nada khawatir.
"Siap bunda, bunda aku berangkat. Bunda, itu ada motor sport milik bunda, aku pakai ya."Ucapnya meminta izin.
Deg...
Mata bunda lita terbelalak, terkejut dengan ucapan kayana. "Sayang, tapi kamu tidak bisa membawa motor." Ucapnya dengan nada khawatir.
"Hehehe." Kayana tersenyum kecil. "Aku bisa bunda, aku sering minta di ajarkan sama pak penjaga istana sana. Jadi, aku bisa bawa motor. Kalau lagi seperti ini jalanan macet, lebih asik naik motor." Jawabnya tersenyum kecil dan berkilah.
"Baiklah sayang, pakailah motor bunda." Jawabnya tersenyum tipis.
"Bunda aku berangkat ya." Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati bunda lita, mengecup pipi kanan dan kirinya. Bunda lita tersenyum hangat. Karena kayana yang berubah. Biasanya jika berangkat kayana tidak pernah izin, dia langsung jalan tanpa pamit.
Bunda lita melihat punggung kayana yang menjauh. "Bunda tahu kamu kayana, bunda yakin jiwa yang berada di tubuhmu bukan kamu, dan bunda suka dan sayang jiwa baru kamu." Gumamnya tipis tersenyum hangat.
Kayana menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Deru mesin empat silinder yang padat terdengar membelah kesunyian pagi. Mencipta simfoni yang mekanis memacu adrenalin. Sekitar lima belas menit motor milik kayana sampai di depan gerbang.
Penjaga yang mengenal kayana langsung membuka pintu gerbangnya. Motornya masuk melewati halaman, kayana mengendarai motornya dengan persisi.
Pangeran xavier melangkah menuju mobilnya. Pandangannya jatuh pada motor sport yang sedang melaju. Deru mesin empat silinder yang padat terdengar mendekat dengan irama yang persisi, motor hitam pekat mulai mendekat dan melakukan pengereman mendalam yang sangat halus, lalu dengan sengaja melakukan sedikit freestyle ringan, sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa inci dari hadapannya.
Kayana mematikan mesin motornya, membuat keheningan di halaman mansion mencekam. Pangeran xavier menatapnya dalam, melihat kayana dengan pandangan penuh arti.
"Hans, biarkan noah yang membawa mobilnya. Aku jarang memakainya." Perintahkan dengan nada dingin yang menekan.
"Baik pangeran, aku akan bicara dengan noah." Jawab hans hormat dan sopan. pangeran xavier masuk kedalam mobilnya. hans mendekati kayana.
"Noah, hari ini kamu yang mengantarkan pangeran xavier ke perusahaannya." Ucapnya dengan nada dingin.
"Hmm, oke." Jawabnya dengan nada santai.
Kayana turun dari motornya. Dia langsung melangkah menuju mobil pangeran xavier. Dia langsung masuk ke dalam mobil milik pangeran xavier.
Deg..
"Aroma wangi tubuhnya." Batin pangeran xavier menatap lekat tubuh belakang kayana. tanpa berkedip.
"Pangeran, kita langsung menunju perusahaan?" Tanyanya dengan nada santai.
Deg..
"Suaranya." Batinnya semakin lekat menatap kayana. "Tidak, kita jemput aruna dulu dan mengantarkannya ke sekolah." Ucapnya dengan nada dingin.
"Oh, oke." Jawabnya dengan nada santai.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Hmm, pangeran bucin. Lihatlah, dia akan mengantarkan sang ratunya, yang tak lain figuran yang menjelma menjadi pemeran utamanya. " Batinnya berbisik sinis.
Pangeran xavier terus menatap punggung kayana. Kayana melihat sekilas dari kaca mobilnya. "Pangeran xavier kenapa menatap ku seperti itu?? Kilatan matanya terlihat aneh." Batinnya berbisik.
Mobil pangeran xavier sampai di sebuah mansion, membuat seorang wanita terlihat lemah lembut. Dia langsung mendekati mobil pangeran xavier dan masuk ke dalam mobilnya.
"Pangeran xavier, terimakasih banyak ya, kamu telah menjemput aku." Ucapnya dengan nada lembut.
Pangeran xavier tidak menjawab, aura dinginnya membuat suasana dalam mobil mencekam.
Pangeran xavier menatap aruna tajam, tatapannya tidak bisa diartikan. "Aruna, apa benar kamu kekasih kecilku yang aku janjikan?" Tanyanya dengan tatapan dingin mematikan
Deg...
"Benar pangeran." Ucapnya dengan nada gugup dan pangeran xavier tahu itu.
"Lalu, kenapa kayana tidak mengenal mu??" Tanyanya masih dengan tatapan dingin dan aura mematikan.
"Pangeran, pasti kayana mengucapkan sesuatu ya? Kamu jangan dengarkan dia, dia itu mencintai mu dan ingin merebut mu dariku. Dari masih kecil dia memiliki Obsesi seperti itu." Jawabnya dengan nada manja.
Tiba-tiba mobil mengeram mendadak. Aruna hampir terlempar, tetapi pangeran xavier tidak bergeming.
Aruna mengepalkan tangannya. "Noah, kamu ingin membunuh kami ya?" Tanyanya dengan nada dingin dan marah.
"Oh sorry nona, tadi ada bapak tikus lewat memapah bapak kucing yang babak belur." Ucapnya dengan nada santai.
Pangeran xavier tersenyum tipis. "Mana ada bapak tikus memapah bapak kucing noah, kamu itu cari alasan yang klise.
"Maaf nona, tadi aku melihatnya. Istri bapak kucing bawa balok. Sepertinya dia selingkuh." Jawabnya santai.
"Kamu kurang obat noah, kalau kamu seperti itu, nanti wanita tidak mau mendekati mu." Jawabnya dengan nada sinis
"Lalu, apa nama panggilan sayang mu dulu ke aku?" Tanya pangeran xavier datar dan dingin.
"Honey." Jawabnya dengan senyuman manja.
"Bodoh." Bisik kayana sangat pelan bagaikan bisikan terbawa angin.
Namun pangeran xavier yang memiliki pendengaran tajam mendengarnya. "Hmm, menarik." Desisnya pelan namun sangat berbahaya.
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪