NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Suasana di ruang medis Ocean Empress terasa begitu tegang hingga suara detak jam dinding pun terdengar seperti dentuman.

Arkan berdiri kaku di samping ranjang, tangannya masih gemetar saat ia memandangi wajah Gladis yang pucat dan masih memejamkan mata.

Ia belum sempat mengganti seragamnya yang basah kuyup, seolah rasa dingin di tubuhnya tidak ada artinya dibandingkan ketakutan yang menghujam jantungnya.

Dokter Sarah bergerak dengan sangat fokus. Ia mengoleskan gel dingin ke perut Gladis yang masih datar, lalu perlahan menggerakkan stik USG di sana.

Matanya menatap tajam ke arah layar monitor hitam putih di samping ranjang.

"Tolong, Sarah. Katakan sesuatu," bisik Arkan, suaranya hampir hilang karena cemas.

Sarah terdiam sejenak, mengamati denyut kecil di layar yang berkedip-kedip cepat. Kemudian, senyum lebar perlahan muncul di wajahnya.

"Denyut jantungnya kuat, Arkan. Kondisinya stabil," ucap Sarah lega.

Arkan menghembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang seketika luruh. Namun, Sarah belum selesai.

Ia mengernyitkan dahi, menggeser stik USG itu sedikit ke sisi lain, lalu matanya membelalak tak percaya.

"Tunggu dulu Arkan, lihat ini."

Arkan mendekat ke monitor, meski ia tidak mengerti gambar-gambar abstrak itu.

"Ada dua kantung janin, Arkan. Detak jantungnya ada dua," Sarah menoleh dengan binar bahagia.

"Selamat, Kapten. Istrimu tidak hanya membawa satu nakhoda, tapi dua. Gladis hamil kembar."

Arkan mematung. Pikirannya seolah berhenti berputar. Kembar? Di tengah badai dan maut yang baru saja mereka lalui, Tuhan justru memberikan anugerah yang berlipat ganda.

Air mata Arkan kembali jatuh, kali ini benar-benar karena rasa syukur yang meluap.

Ia menoleh ke arah Gladis. Istrinya masih memejamkan mata, tampak sangat cantik meskipun dalam kondisi lemah.

Wajahnya yang damai seolah menunjukkan bahwa ia tahu anak-anaknya adalah pejuang sejati.

"Dengar itu, Sayang?" Arkan berbisik tepat di telinga Gladis, menggenggam tangan istrinya yang mulai terasa hangat.

"Ada dua nakhoda kecil di dalam sana. Kamu hebat, Gladis. Kamu menyelamatkan mereka berdua. Ayo bangun aku ingin memberitahumu kabar luar biasa ini."

Sarah memberikan kode kepada suster untuk menyelimuti Gladis dengan penghangat tambahan.

"Biarkan dia istirahat sebentar lagi. Tubuhnya butuh waktu untuk pulih dari syok dan suhu dingin yang ekstrem. Tapi percayalah, mereka semua adalah pejuang."

Arkan mengangguk, ia duduk di kursi samping ranjang, tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Gladis.

Di kepalanya, amarah terhadap Vera masih membara, namun untuk saat ini, keajaiban di perut Gladis adalah segalanya bagi Arkan.

Arkan melepas seragam kaptennya yang berat dan basah kuyup di balik tirai ruang medis.

Setiap tetesan air laut yang jatuh ke lantai mengingatkannya pada betapa dekatnya ia dengan kehilangan segalanya.

Setelah mengenakan pakaian kering yang dibawakan Gerald, ia kembali ke sisi ranjang Gladis.

Wajah Arkan kini tampak sangat lelah, namun matanya tetap tertuju pada wanita yang sangat ia cintai itu.

Ia meraih jemari Gladis, mencoba menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya.

"Gladis,.Sayang, ayo bangun," bisik Arkan parau. Suaranya pecah, dipenuhi kerinduan yang mendalam.

"Aku punya kabar luar biasa untukmu. Anak-anak kita menunggu ibunya bangun. Ayo, Gladis... buka matamu."

Namun, tidak ada jawaban. Keheningan di ruangan itu terasa mencekam, hanya dipecah oleh suara mesin medis yang terus berbunyi teratur.

Bip... Bip... Bip...

Suara monitor jantung itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan yang bisa Arkan pegang.

Garis hijau yang bergerak di layar menunjukkan detak jantung Gladis yang stabil, namun Gladis sendiri masih terjebak dalam tidur panjangnya, seolah tubuhnya sedang melakukan proteksi diri dari trauma hebat yang baru saja dialami.

Arkan mengecup kening Gladis lama sekali. "Aku tahu kamu lelah, tapi tolong jangan tidur terlalu lama. Aku takut, Gladis. Aku takut jika kamu tidak bangun lagi."

Tiba-tiba, Arkan merasakan sedikit gerakan dari jemari Gladis yang ada dalam genggamannya. Meski sangat tipis, gerakan itu seperti sengatan listrik bagi Arkan.

"Gladis? Kamu dengar aku?" Arkan berdiri, menatap intens ke arah kelopak mata istrinya yang mulai bergetar pelan.

Di layar monitor, frekuensi suara bip mulai meningkat, menandakan detak jantung Gladis yang mulai bereaksi terhadap suara suaminya. Arkan menahan napas, menunggu keajaiban itu terjadi sepenuhnya.

Kelopak mata Gladis perlahan terbuka, berkedip berkali-kali melawan silaunya lampu ruang medis.

Kesadarannya kembali secara bertahap, rasa dingin yang tadi membekukan tubuhnya kini berganti dengan rasa kering yang luar biasa di tenggorokannya.

Arkan langsung mendekatkan wajahnya, matanya berbinar penuh rasa syukur.

"Gladis? Sayang? Kamu sudah sadar?"

Gladis menelan ludah dengan susah payah, suaranya terdengar sangat parau dan tipis.

"Haus..." bisiknya lemah.

Arkan dengan sigap meraih gelas berisi air putih di meja nakas, membantu Gladis meminumnya sedikit demi sedikit menggunakan sedotan.

Setelah beberapa tegukan, Gladis mengembuskan napas panjang.

Ia menatap Arkan, lalu tiba-tiba dahinya berkerut seolah teringat sesuatu yang sangat penting.

"Es... Es ku mana?" tanya Gladis tiba-tiba dengan wajah polos, namun nada suaranya terdengar menuntut.

Arkan tertegun sejenak. "Es? Es apa, Sayang?"

"Es jeruk yang kubeli di dek atas tadi," jawab Gladis dengan bibir yang sedikit dikerucutkan. "Aku baru minum sedikit, lalu pusing... Sekarang aku mau es yang banyak."

Arkan hampir saja tertawa jika saja situasi ini tidak begitu dramatis.

Ia baru saja bertaruh nyawa menyelamatkan istrinya dari laut lepas, melakukan CPR sampai menangis histeris, dan hal pertama yang ditanyakan Gladis setelah sadar adalah jus jeruknya yang hilang.

Arkan mengecup kening Gladis dengan perasaan campur aduk antara gemas dan haru.

"Lupakan es jeruk yang di dek itu, Sayang. Akan aku buatkan satu ember es jeruk segar yang baru. Tapi ada yang lebih penting..."

Arkan meraih tangan Gladis dan menempelkannya di perut istrinya.

"Nakhoda kecil kita, ternyata mereka berdua, Gladis. Kamu hamil kembar. Mereka pejuang yang hebat, sama seperti ibunya."

Mata Gladis membelalak lebar. "K-kembar? Dua?"

Seketika Gladis lupa soal es jeruknya. Air mata haru mengalir di sudut matanya saat ia menyadari keajaiban yang ada di dalam dirinya.

Di tengah maut yang hampir menjemput, Tuhan justru menitipkan dua nyawa sekaligus.

"Pantas saja aku sangat lapar sampai ingin es terus," gumam Gladis sambil tersenyum di tengah isakannya.

Arkan hanya bisa menarik napas panjang sambil tersenyum geli.

Ketegangan hebat yang baru saja ia lalui seolah sirna begitu saja hanya karena permintaan es jeruk.

Ternyata, trauma tenggelam di laut lepas tidak bisa mengalahkan keras kepalanya keinginan mengidam Gladis.

"Baik, Sayang. Es jeruk akan segera datang," ucap Arkan pasrah sambil mengusap lembut kepala istrinya.

Dokter Sarah, yang sejak tadi berdiri di dekat monitor, tertawa kecil melihat tingkah pasiennya.

Ia memberikan kode kepada Gerald yang berdiri sigap di depan pintu ruang medis.

"Gerald, sepertinya kita butuh asupan vitamin C darurat," ujar Dokter Sarah sambil menganggukkan kepala.

"Tolong ambilkan es jeruk yang segar, buat dengan air mineral terbaik, dan pastikan es batunya bersih. Nyonya Kapten butuh hidrasi segera."

"Siap, Dok! Segera saya bawakan yang terbaik dari bar utama!" jawab Gerald dengan semangat.

Ia merasa lega luar biasa melihat Gladis sudah kembali ke mode "manja" yang normal.

Sambil menunggu es jeruk datang, Gladis masih menyentuh perutnya dengan takjub.

"Kembar ya, Arkan? Jadi di dalam sini ada dua bayi?"

"Iya, dua. Dan mereka sepertinya sangat suka es jeruk seperti ibunya," jawab Arkan lembut. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Gladis erat-erat.

"Tadi aku benar-benar takut kehilangan kalian. Tolong, jangan pernah pergi sendirian lagi ke mana pun di kapal ini."

Gladis menatap suaminya yang masih tampak sedikit pucat.

"Wanita itu, dia memasukkan sesuatu ke minumanku, Arkan. Wajahnya sangat marah."

Mata Arkan seketika berubah menjadi sedingin es begitu mendengar tentang Vera, namun ia berusaha menahan amarahnya di depan Gladis agar istrinya tidak stres.

"Jangan pikirkan itu sekarang. Urusan wanita itu biar aku yang tangani. Sekarang, fokusmu hanya satu: meminum es jerukmu dan membuat nakhoda kecil kita sehat kembali."

Tak lama kemudian, Gerald kembali dengan nampan berisi segelas besar es jeruk yang terlihat sangat segar, lengkap dengan potongan buah jeruk di pinggiran gelasnya. Mata Gladis langsung berbinar saat melihatnya.

1
Linda Liddia
Ayooo syila kamu pasti bisa 💪💪💪
Linda Liddia
Makasih udh up lg kk othor..
my name is pho: sama-sama kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Vita Vita ambisi kamu untuk menjadi istrinya Gerald sudah menyebabkan kamu jadi gila, dan sekarang terima konsekuensinya kamu berurusan dengan aparat hukum
Linda Liddia
Akhirnya kebenaran terungkap..Emang keren bgt Kapten Arkan langsung sigap..
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
my name is pho: ditunggu ya kak🥰
total 1 replies
Linda Liddia
Wiiihhh paraaahhh bgt si vita emangnya gegara cinta ditolak org bisa jadi gila bisa berbuat apa saja
Ariany Sudjana
aduh kok jadi begini ceritanya? kemarin psikopat Delon, sekarang Vita juga jadi psikopat
Linda Liddia
Sakiiiiitttt bgt tuh si vita..
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Linda Liddia
Kok kemaren & hari ini cuma up 1 bab thor..
my name is pho: sabar kak ya
kemarin hujan deras banjir kak 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
kenapa dulu Arkan tidak langsung membunuh Elisa? malah ditahan polisi
Linda Liddia
Terima kasih udh up 3 bab..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Ariany Sudjana
kalau saya sih lebih suka diselesaikan dengan cara mafia yah, dibawa ke gudang bawah tanah. sayangnya bukan cerita mafia ini
Ariany Sudjana
jadi Delon itu anaknya si pelacur pirang? orang yang sudah buat Gladys bunuh diri
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
aduh kok ceritanya jadi begini sih? ga tega bacanya
Ariany Sudjana
sudah dinasehati papa kamu dan kamu tidak percaya arsyila, kamu ini bodoh , bodoh sekali
my name is pho: sabar kak. sabar
total 1 replies
Linda Liddia
Satu kata utk arsyila TOLOL udh di ingetin sama papa tercinta tapi masih ngeyel
my name is pho: bucin kak
total 1 replies
Linda Liddia
wah siapa kah Delon ini apakah dia punya niat yg tdk baik sama arsyila..??? Pacaran kok mesti diem2 anehkan
Linda Liddia
Wah selamat ya Gladys gak nyangka si baby twins mau punya adek..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys
my name is pho: sekitar 50 an kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sehat selalu Gladys dan bayi dalam kandungan, juga si kembar dan tentu saja sang kapten
Linda Liddia
Wow selamat ya Gladys udh jadi sarjana 💃💃💃
Linda Liddia
🤣🤣🤣 cilok ya Gladys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!