NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:551
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 | BARNARD 68

“Hai—oh ….” Suara Alkaios menggantung bersama udara malam yang dipekatkan oleh harum gardenia dari taman kediaman Almaja, mulutnya masih sedikit terbuka seiring iris birunya yang tertuju lekat pada Summer yang berdiri di ambang pintu.

Kali ini Summer memakai gaun hitam panjang yang jatuh mendekati mata kaki, berpundak terbuka dengan renda tipis pada area atas dada, membingkai garis lehernya tanpa terkesan berlebihan. Rambutnya digelung rendah dengan gaya yang tidak terlalu rapi, beberapa helai halus lolos dan jatuh lembut di sisi leher. Anting peraknya kecil dan menjuntai pendek, bergerak halus ketika Summer mengalihkan pandangan dari Alkaios yang masih bergeming.

Barnard 68.

Penampilan Summer malam ini menjamu ingatan Alkaios akan salah satu nebula yang masih menjadi teka-teki besar di kalangan ilmuwan: Barnard 68. Tidak secantik dan semeriah Nebula Tarantula dan Carina yang masyhur. Terlalu pekat, terlalu gelap, dan terlalu tampak kosong untuk memenuhi standar kecantikan umum nebula. Wujudnya dalam sudut pandang Bumi lebih menyerupai sebuah void alih-alih nebula.

Alkaios tertawa kecil, membawa Summer menoleh sewot ke arahnya.

“Apa yang lucu?”

“Tidak ada. Mau pergi sekarang?”

Summer mendengus, melewati Alkaios begitu saja.

Berjalan agak di belakang Summer, Alkaios mengamati punggungnya yang bergerak lembut teratur, rambut sewarna malamnya yang saling berpilin rumit, dan sepatu hak tinggi hitamnya yang berirama konstan. Senyum menyelinap di ujung bibir Alkaios, nyaris tak kasatmata.

Sejak awal, Alkaios mendapati Barnard 68 indah, selalu indah. Kekosongan dan kehampaan yang tampak di permukaan justru membuatnya semakin menarik. Karena Alkaios tahu, di balik selubung gelap itu, ada ratusan bintang yang berpendar indah, ada banyak relap yang saling bersilangan. Darah Alkaios berdesir oleh keinginan untuk dapat mengetahui setiap jengkal tempat itu, setiap gemerlap bintang, setiap titik cahaya redup, bahkan setiap fluktuasi di sudut-sudut hampa.

“Kalau aku memberimu bunga, akan kau injak-injak atau langsung dibuang setelah menghantamkannya ke wajahku?”

Summer berhenti demi mendapat pertanyaan itu. Ia menoleh dan menghunjamkan tatapan tajam. “Apa wajahku kelihatan seperti sedang ingin bercanda?”

“Hanya mencoba peruntunganku.” Alkaios mempercepat langkahnya hingga bersisihan dengan Summer. “Jadi kau hanya menerima bunga pemberian Archilles?”

“Dia tidak pernah memberiku bunga.”

Alkaios dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Summer, lantas menyusul masuk dengan berlari-lari kecil. “Yah, kuberi tahu sekarang agar kau tidak terlalu kecewa nantinya,” kata Alkaios sembari memakai sabuk pengaman. “Jangan mengharapkan sesuatu yang romantis dari Kak Archi. Dia kurang pandai berinisiatif jika tidak menyangkut kepentingan pekerjaannya. Hidupnya nyaris bisa dikatakan monoton. Bekerja, pulang, melanjutkan pekerjaan di rumah, membaca, tidur. Ulangi dari awal lagi. Hidupnya tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal berbau romansa. Dia jadi buta sekali soal itu—setidaknya dalam sudut pandangku yang sempit.”

“Dia tidak banyak menghabiskan waktu dengan istrinya?”

Mobil Alkaios mulai memasuki jalan kompleks perumahan yang sepi, pendar keemasan lampu jalan dan derik samar serangga menjadi pengantar perjalanan mereka.

“Mereka terlalu terlihat seperti orang asing bagi satu sama lain untuk menghabiskan waktu seperti pasangan normal.” Jalanan yang lengang membuat Alkaios berani untuk mengamati setelan jasnya sekejap, memastikan tidak ada jejak benang putus atau noda kasatmata.

Setelan jas hitam. Serasi dengan gaun Summer. Alkaios berdeham untuk menekan perasaan ingin tersenyum.

“Kau sendiri, memangnya apa yang kau suka dari Kak Archi? Wajahnya? Wibawanya?” sambung Alkaios, melirik Summer.

Summer mengalihkan pandangan ke deretan rumah-rumah mewah dengan gerbang menjulang, Alkaios menemukan keraguan perempuan itu lewat pantulan wajahnya di kaca mobil.

“Aku suka pria tampan,” jawab Summer dengan nada tak acuh.

Mobil Alkaios mulai bergabung di jalan raya besar yang cukup riuh. Akhir pekan, banyak yang menghabiskan waktu di luar.

“Kau bisa menganggapnya trivia. Aku mendapat lebih banyak tawaran menjadi model dari Kak Archi sejak kecil, bahkan Tante Diana sendiri mengakuiku lebih tampan dari dia.” Alkaios merasakan hidungnya mengembang seiring perasaan congkak yang menghinggapinya. “Soal kecerdasan juga tidak berbeda jauh. Kau mau kujelaskan tentang String Theory sekarang? Atau AdS/CFT? Delayed Choice Quantum Eraser?”

Alkaios menoleh pada Summer hanya untuk menemukan gadis itu yang merapatkan tubuh ke kaca dan menatapnya dengan ekspresi seolah sedang menyaksikan sebuah kotoran yang bisa mekar dengan menjijikkan.

“Kudengar kau pernah ditendang dari kelas Fisika karena mendapat nilai negatif,” kata Summer, masih dengan raut wajah waswas.

Kepanikan merayapi Alkaios seketika. “A-aku—bisa kujelaskan!” Ia mulai gelagapan. “Sistem penilaiannya yang tidak masuk akal. Ditambah Elio dan Luigi menyembunyikan—” Kesadaran mengentak Alkaios dengan keras, ia menoleh dengan canggung, merasa seperti baru saja menelan garam dengan keadaan tenggorokan kering. “Sebaiknya aku tidak mengungkitnya.”

Summer tertawa kering kecil, namun Alkaios bisa menangkap sekelumit nada sengit. “Kenapa? Kau takut aku akan sedih hanya dengan mendengar nama kedua sahabat terkasihmu itu?” Summer membenahi posisi duduknya hingga menghadap lurus ke depan.

“Bukan kau. Aku.”

Detik terasa mengental sementara ketertegunan laten menyerobot pikiran Summer yang hendak mengumpulkan fragmen-fragmen mimpi buruk semasa sekolah menengah. Ia melirik Alkaios, menemukan profil samping wajah pria itu yang nyaris menyerupai siluet oleh pendar redup lampu kota. Matanya yang jernih tertuju ke depan dengan ketenangan yang matang, mengacaukan memori Summer akan bayangan seorang pemuda kekanakan berambut pirang indah yang menatapnya penuh penderitaan pada hari kelulusan.

“Bukannya kau yang punya inisiatif menyuruh mereka untuk menggangguku? Kalau kau saja bisa muncul seenaknya di hadapanku, kenapa nama mereka terlarang?” Sebelah alis Summer terangkat.

“Ya, aku memang tidak tahu diri.” Alkaios melipat bibirnya dengan ekspresi memberengut. “Seharusnya kau yang trauma, tapi karena aku kekanakan dan payah, aku dengan sukarela bergabung denganmu, menyalin seluruh traumamu dan membuatnya seolah-olah milikku. Aku yang tolol, oke? Aku sudah hidup seperti ini selama lebih dari enam tahun seperti pria menyedihkan.”

Mata Summer memicing sangsi. “Jadi apa? Kau memutuskan pertemananmu dengan mereka?”

“Tidak, kami masih berteman.”

Summer terang-terangan mendenguskan tawa. “Tentu saja.”

“Yah, aku tidak bisa diam-diam membuang barbel dan suplemen bodoh Luigi atau mengempeskan ban mobil kesayangan Elio saat dia mau pergi berkencan kalau tidak berteman dengan mereka.”

“Lalu hukuman untukmu sendiri?”

Lengang berdenyut terlalu lama hingga pertanyaan Summer yang mengambang jadi terasa konyol. Summer menahan diri untuk tidak menoleh, membiarkan deru halus mesin menjadi penghibur tidak berguna atmosfer di dalam mobil yang berubah canggung.

“Kurasa aku terlalu lunak pada diri sendiri,” Alkaios berkata pelan, tersenyum getir. “Hukumanku masih jauh dari pantas.”

Hawa merambatkan senyar, interior mobil seakan sengaja menyerap segala bising untuk menciptakan keheningan yang menggantung berat dan tidak nyaman. Tidak ada yang bersuara lagi di antara mereka hingga mobil Alkaios merapat di tempat parkir luas di mana pria-pria berbadan tinggi dan memakai setelan jas memberi arahan dengan gestur hormat.

Summer tidak menunggu Alkaios membukakan pintu untuknya. Ia segera keluar, berhadapan dengan hiruk-pikuk musik mendayu dan orang-orang berpakaian necis.

Ia sudah memutuskan: Malam ini, tidak ada waktu untuk ruminasi. Panggung pertunjukan sudah di depan mata, Summer harus melakonkan sandiwara dengan baik.

...****...

Daftar Istilah

Nebula: Kumpulan awan gas atau debu di ruang antarbintang (KBBI).

Void (Ruang Hampa): Merujuk pada wilayah alam semesta dengan kepadatan materi yang sangat rendah, hampir tanpa galaksi. Bukan berarti tidak ada apa-apa di sana. Ada, namun sangat sedikit. Contoh void yang paling terkenal adalah The Great Nothing (Boötes Void) yang memiliki diameter sekitar 330 juta tahun cahaya.

Fluktuasi Kuantum: Perubahan sementara dan acak dalam jumlah energi pada satu titik di ruang hampa, yang diizinkan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg. Fenomena ini menyebabkan pasangan partikel dan antipartikel muncul secara spontan dari “ketiadaan” dan segera saling meniadakan (anihilasi), menjadikannya dasar bagi energi vakum. Contoh yang paling umum: Casimir Effect.

Barnard 68: Awan gas molekuler di ruang antarbintang yang sangat padat debu sehingga menutupi cahaya bintang di belakangnya. Tampak seperti void atau black hole (lubang hitam) di langit, padahal di dalamnya tersimpan materi pembentuk bintang.

String Theory (Teori Dawai): Teori fisika teoretis yang menyatakan bahwa partikel dasar bukan titik, melainkan “senar” satu dimensi yang bergetar. Setiap pola getaran menghasilkan partikel dengan sifat berbeda.

AdS/CFT: Korespondensi teoretis yang menyatakan bahwa teori gravitasi dalam ruang berdimensi lebih tinggi (AdS) setara dengan teori medan kuantum tanpa gravitasi di batasnya (CFT).

Delayed Choice Quantum Eraser (Penghapus Kuantum Pilihan Tertunda): Eksperimen kuantum yang menunjukkan bahwa keputusan pengukuran di masa depan dapat memengaruhi bagaimana perilaku partikel dipahami di masa lalu, tanpa melanggar kausalitas. Intinya teori ini menantang intuisi klasik tentang waktu dan sebab-akibat.

Ruminasi: Pikiran berulang mengenai kenangan atau pengalaman masa lalu, termasuk pikiran negatif secara terus-menerus tanpa ada penyelesaian.

1
Amaya Fania
ini sih top banget, ga berhenti bilang gila sepanjang baca. bahasanya cantik parah dan nggak kerasa AI sama sekali. humornya dapet, alurnya berat tapi seru, karakter2 nya gampang disukai. terus perselingkuhan tapi tanpa cinta dan masing2 karakter punya agenda yang masih belum ketebak, bikin mikir 👍

ayo lanjut kak
Amaya Fania
humornya kian sama alkaios 🤣
sama2 orang aneh jadi nyambung obrolannya
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!