Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mawar di Balik Karang Kelabu
Di tengah kegelapan Jurang Ketiadaan yang abadi, waktu seolah tidak memiliki arti. Namun, bagi keluarga Jian, hidup harus terus berjalan.
Setelah seminggu berada di Kota Tanpa Nama, kondisi Jian An dan Jian Han mulai stabil. Mereka sedang tertidur lelap setelah sesi pengobatan intensif dari Mei Lian.
Jian Wuyou berdiri di balkon rumah batu mereka, matanya yang perak menatap tajam ke arah cakrawala kelabu.
Pikirannya melayang jauh; ia sedang menghitung berapa banyak musuh yang mungkin mengejar mereka, memikirkan cara memperbaiki meridian anak-anaknya, dan bagaimana cara menembus Ranah Puncak Abadi secara permanen.
Tiba-tiba, sepasang tangan lembut melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Wuyou, berhentilah menjadi tugu batu." bisik Li Hua. Kepalanya bersandar di punggung suaminya yang lebar dan kokoh.
"Dunia luar sangat berbahaya, Li Hua. Aku harus bersiap—"
"Dunia luar bisa menunggu selama satu jam," potong Li Hua. Ia melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan Jian Wuyou dengan paksa. "Ikut aku. Sekarang."
Li Hua membawa Jian Wuyou berjalan menjauh dari pusat kota yang bising, menuju ke sebuah area reruntuhan kuil kuno yang tertutup kabut.
Di sana, terdapat sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik semak berduri. Di dalam gua itu, terdapat sebuah kolam air panas alami yang memancarkan cahaya biru redup—satu-satunya keindahan di tempat terkutuk ini.
"Bagaimana kau menemukan tempat ini?" tanya Jian Wuyou tertegun.
Li Hua tidak menjawab. Wajahnya yang cantik merona merah, bahkan di bawah cahaya redup gua. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Wuyou... kau selalu melindungi kami. Kau selalu memikirkan takdir, langit, dan musuh," Li Hua melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga napas mereka bersinggungan. Ia menatap langsung ke mata perak suaminya. "Tapi hari ini, aku ingin kau hanya memikirkanku."
Li Hua, yang biasanya sangat pemalu dan pendiam, tiba-tiba berjinjit. Dengan tangan gemetar, ia memegang kerah jubah Jian Wuyou dan menariknya kasar hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Aku... aku istrimu!" seru Li Hua dengan suara yang sedikit terlalu keras karena gugup. "Dan aku memerintahkanmu untuk... untuk..."
Li Hua terhenti. Keberaniannya yang tadi meluap tiba-tiba tersumbat di tenggorokan. Ia bermaksud ingin mencium suaminya dengan penuh gairah seperti di buku-buku roman yang pernah ia baca diam-diam, namun saat melihat tatapan dalam Jian Wuyou, seluruh sirkuit di otaknya seolah terbakar.
"Untuk apa, Li Hua?" goda Jian Wuyou, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Untuk... untuk tidak memikirkan apa-apa kecuali betapa cantiknya aku hari ini!" Li Hua memaksakan diri untuk membusungkan dada, namun wajahnya kini sudah semerah buah apel matang.
Ia mencoba melepaskan ikat pinggang jubah Jian Wuyou dengan tangan yang sangat gemetar hingga malah membuat simpulnya semakin rumit.
"Ya ampun... kenapa susah sekali!" gumam Li Hua kesal pada dirinya sendiri.
Jian Wuyou tidak bisa menahannya lagi. Melihat istrinya yang berusaha keras untuk bersikap agresif dan dominan namun berakhir dengan kecanggungan yang luar biasa adalah hal paling menghibur yang pernah ia alami dalam ratusan tahun.
"Pfftt... Hahaha!" Jian Wuyou tertawa lepas. Suara tawanya bergema di dalam gua, memecah kesunyian Jurang Ketiadaan. Ini adalah tawa pertamanya yang benar-benar murni sejak pertempuran di Lembah Senja.
"Jangan tertawa! Aku sedang serius!" Li Hua menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa malu setengah mati hingga ingin rasanya ia melompat ke dalam kolam air panas dan tidak muncul lagi selama setahun. "Aku hanya ingin menghiburmu karena kau terlihat sangat stres!"
Jian Wuyou merengkuh Li Hua ke dalam pelukannya, menarik tangan istrinya dari wajahnya. Ia menatap Li Hua dengan penuh kasih sayang, sisa tawa masih ada di matanya.
"Kau berhasil, Li Hua. Kau benar-benar berhasil menghiburku," bisik Wuyou lembut. Ia mencium kening istrinya, lalu beralih ke bibirnya dengan gerakan yang jauh lebih berpengalaman dan tenang. "Terima kasih telah mengingatkanku bahwa aku bukan hanya seorang pendekar, tapi juga seorang pria yang memiliki istri yang sangat menggemaskan."
Li Hua menyembunyikan wajahnya di dada Jian Wuyou, jantungnya berdegup kencang. Meskipun usahanya untuk menjadi wanita agresif gagal total, ia merasa beban di pundak suaminya sedikit terangkat.
Di luar gua, kegelapan masih menyelimuti Jurang Ketiadaan, namun di dalam sana, untuk sesaat, tidak ada dewa, tidak ada sekte, dan tidak ada takdir. Hanya ada sepasang suami istri yang saling memiliki.