NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Pecahnya Topeng Sang Ketua

Gemuruh bisikan di kantin SMA Garuda belum juga reda setelah aksi nekat Wawan, namun di sudut ruangan yang biasanya menjadi singgasana kekuasaan, atmosfernya sudah terasa seperti medan perang yang siap meledak. Rizki berdiri dengan napas yang memburu, naik-turun dengan irama yang tidak beraturan. Tangannya yang mengepal erat di sisi tubuh gemetar hebat—bukan karena rasa takut, melainkan karena ia sedang mengerahkan seluruh energinya untuk menahan keinginan menghantam wajah Wawan saat itu juga.

Di sampingnya, Lia ternganga. Gadis itu merasa seolah ditampar di depan umum. Selama ini ia merasa menjadi satu-satunya alasan Rizki berdiri tegak, namun melihat reaksi Rizki terhadap aksi Wawan dan Ella, Lia sadar bahwa ia hanyalah pajangan yang tak berarti.

"Rizki, kamu mau ke mana? Jangan emosi, semua orang sedang melihat!" Lia mencoba menahan lengan Rizki, suaranya sedikit memohon. Namun, kali ini Rizki tidak lagi memiliki kesabaran untuk bersandiwara. Dengan satu gerakan sentakan yang kasar, ia melepaskan tangan Lia.

"Lepas!" bentak Rizki tanpa sedikit pun menoleh. Suaranya dingin, seolah-olah Lia hanyalah orang asing yang menghalangi jalannya.

Rizki melangkah lebar-lebar menuju meja tempat Ella dan Wawan duduk. Setiap hentakan sepatunya di lantai kantin seolah mengirimkan gelombang ancaman. Para siswa yang tadinya berkerumun mendadak menepi, memberi jalan dengan raut wajah ngeri, seolah-olah seekor singa yang sedang terluka tengah berjalan mengincar mangsanya. Wawan, yang menyadari kehadiran sang predator, tetap duduk tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk memprovokasi, Wawan menyeruput es teh manis milik Ella hingga habis setengahnya.

"Wawan. Ikut gue ke belakang sekolah. Sekarang," suara Rizki terdengar rendah, berat, dan penuh dengan racun ancaman.

Wawan mengangkat alisnya, lalu meletakkan gelas es teh itu ke meja dengan bunyi denting yang pelan. "Wah, Pak Ketua ngajak main? Sayangnya, gue lagi sibuk menemani Ella makan. Lo tahu sendiri, kan? Dia nggak bisa makan kalau nggak ada yang jaga."

"Gue nggak lagi bercanda, brengsek!" Rizki menendang kursi kosong di sebelah Wawan hingga terjungkal dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. "Berdiri sekarang, atau gue seret lo dari sini dengan cara yang nggak terhormat!"

"Rizki, stop! Apa-apaan sih?!" Ella akhirnya berdiri, mencoba melerai. Jantungnya berdegup kencang melihat dua orang pria ini saling melemparkan tatapan membunuh. "Ini tempat umum! Kalian berdua sudah besar, jangan bertingkah seperti anak kecil yang berebut mainan!"

Rizki menatap Ella. Tatapannya kini bukan lagi tatapan memuja dan posesif yang ia tunjukkan di gudang olahraga kemarin. Kali ini, matanya memancarkan rasa terluka yang amat dalam, sebuah luka dari seorang pria yang merasa dikhianati oleh harga dirinya sendiri.

"Kamu diam saja, Ella. Jangan ikut campur," suara Rizki bergetar. "Ini urusan aku dengan pengecut ini. Pengecut yang beraninya cuma cari perhatian murahan di atas meja kantin."

Wawan berdiri perlahan, membiarkan tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari Rizki memberikan tekanan intimidasi balik. Keduanya kini berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, menciptakan aura ketegangan yang begitu pekat hingga seisi kantin menahan napas.

"Oke. Kalau itu mau lo, Pak Ketua," Wawan mengulas senyum miring yang menantang. Ia menoleh sebentar ke arah Ella. "Ella, tunggu di sini ya. Habiskan nasi gorengmu. Aku cuma mau memberikan pelajaran singkat pada Pak Ketua tentang bagaimana cara jadi laki-laki yang nggak cuma berani berbisik di dalam gudang."

Tanpa kata lagi, Rizki berbalik dan berjalan menuju arah belakang sekolah. Wawan mengikutinya dengan langkah santai namun waspada. Ella terdiam mematung, namun hanya butuh lima detik bagi logikanya untuk tersadar bahwa bencana besar akan terjadi. Ia segera berlari menyusul mereka, mengabaikan teriakan Lia yang memanggil-manggil namanya.

Di area belakang sekolah, tepat di bawah pohon mahoni yang kemarin menjadi saksi bisu patah hati Wawan, kedua cowok itu kini berdiri saling berhadapan. Tidak ada lagi basa-basi diplomatik atau protokol ketua kelas yang santun. Begitu mereka sampai di area yang cukup sepi, Rizki langsung berbalik dan menyambar kerah seragam Wawan dengan cengkeraman yang sangat kuat.

"Lo pikir lo siapa, hah?!" bentak Rizki tepat di depan wajah Wawan. Napasnya memburu, bau amarah tercium jelas dari setiap kata yang ia ucapkan. "Lo pikir dengan akting pahlawan lo di kantin tadi, lo bisa mendapatkan Ella? Lo salah besar! Dia itu cerdas, dia butuh masa depan, bukan pelindung murahan yang masa depannya nggak jelas kayak lo!"

Wawan tertawa remeh, sebuah tawa yang merendahkan harga diri Rizki. Tangannya yang kuat mencengkeram pergelangan tangan Rizki, perlahan melepaskan cengkeraman itu dengan tenaga yang luar biasa.

"Seenggaknya gue punya nyali untuk memberi tahu seluruh dunia kalau gue sayang sama dia, Rizki. Gue nggak peduli dicap berandalan atau sampah sekolah," balas Wawan dengan nada dingin yang menusuk. "Nggak kayak lo... yang cuma berani menarik dia ke gudang pengap pas nggak ada orang yang lihat. Lo itu cuma mau memilikinya sebagai koleksi, tapi lo malu sama status lo sendiri kalau harus menggandeng tangannya di depan geng populer lo itu. Di mata gue, lo jauh lebih sampah daripada gue, Ki."

BUGH!

Satu pukulan mentah dan keras dari kepalan tangan Rizki mendarat tepat di rahang kiri Wawan. Suara hantamannya terdengar mengerikan di kesunyian tempat itu. Wawan tersungkur ke tanah, kepalanya membentur akar pohon yang keras. Sudut bibirnya pecah seketika, mengalirkan darah segar yang membasahi dagunya.

Namun, bukannya mengerang kesakitan atau meminta ampun, Wawan justru menyeringai. Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu meludah ke samping. "Cuma segitu tenaga Ketua Kelas idaman sekolah?" ejeknya.

Wawan bangkit dengan gerakan kilat. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Rizki untuk menyerang lagi. Dengan satu terjangan, ia membalas dengan hantaman telak ke perut Rizki. Rizki terbungkuk, namun ia segera membalas dengan siku tangannya.

Mereka berdua akhirnya bergulat di tanah, saling pukul dan saling tendang. Tidak ada lagi teknik bertarung yang rapi; ini adalah perkelahian jalanan yang didorong oleh rasa frustrasi, cemburu, dan ego yang selama ini terpendam di balik seragam rapi mereka. Pakaian seragam putih yang tadinya licin disetrika kini kotor oleh tanah cokelat dan bercak darah yang berasal dari luka-luka di wajah mereka.

"Gue... benci... lihat... lo... ada di dekatnya!" ucap Rizki terengah-engah, suaranya parau saat ia terus melayangkan tinju yang mengenai bahu Wawan.

"Karena lo tahu... dia jauh lebih bahagia... dan jadi dirinya sendiri saat sama gue... daripada saat dia harus menunduk menuruti egomu!" balas Wawan dengan napas yang hampir habis.

Tiba-tiba, sebuah teriakan melengking yang penuh dengan isak tangis menghentikan gerakan mereka.

"BERHENTI! KALIAN GILA?! BERHENTI SEKARANG JUGA!"

Ella berdiri di sana, hanya beberapa meter dari mereka. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri melihat pemandangan di depannya. Ia melihat dua cowok yang paling berpengaruh dalam hidupnya—yang satu adalah sosok sempurna yang selama ini ia kagumi, dan yang lainnya adalah berandalan yang selalu ada melindunginya—kini bersimbah darah hanya karena memperebutkan dirinya.

Suasana mendadak hening, hanya ada suara napas yang memburu dari Rizki dan Wawan. Namun, yang membuat jantung Ella seolah berhenti berdetak adalah saat ia melihat Rizki bangkit dengan susah payah. Rizki tidak lagi memedulikan seragamnya yang robek atau wajahnya yang lebam. Ia menatap Ella dengan mata yang memerah karena amarah dan air mata yang menggenang.

Dalam ledakan emosi yang tak lagi bisa dibendung, Rizki berteriak sekeras-kerasnya ke arah gedung sekolah yang mulai ramai oleh siswa yang penasaran.

"IYA! AKU GILA, ELLA! AKU MEMANG GILA KARENA AKU LEBIH MEMILIH KEHILANGAN JABATAN KETUA KELAS INI DARIPADA HARUS LIHAT KAMU JADI MILIK DIA!"

Rizki kemudian menoleh ke arah kerumunan siswa yang mulai berkumpul di kejauhan dengan tatapan menantang yang mengerikan.

 "KALIAN SEMUA DENGAR?! MULAI HARI INI, ELLA ADALAH MILIK GUE! SIAPA PUN... SIAPA PUN YANG BERANI MENDEKATINYA ATAU MENYAKITINYA, AKAN GUE HABISIN DENGAN TANGAN GUE SENDIRI!"

Rizki baru saja melakukan hal yang paling ia takuti sepanjang hidupnya: menghancurkan reputasi kesempurnaannya, membuang gengsinya ke tempat sampah, dan mempertaruhkan status sosialnya demi sebuah pengakuan publik yang sangat posesif. Ia berdiri di sana, napasnya tersengal, menatap Ella seolah-olah dunia ini hanya berisi mereka berdua.

Wawan terdiam di tanah, menatap Rizki dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menang dalam hal memancing keberanian Rizki, namun ia sadar bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di sisi lain, Ella merasa dunianya runtuh. Pengakuan Rizki memang yang ia harapkan selama ini, tapi melihat cara Rizki melakukannya—dengan darah dan kemarahan—membuatnya bertanya-tanya:

Apakah ini benar-benar cinta, atau hanya sebuah obsesi yang mengerikan?

Deklarasi itu telah diucapkan. Topeng sang ketua kelas telah pecah berkeping-keping di tanah yang berdebu. Namun, bagi Ella, pertanyaan terbesarnya adalah:

Apakah sudah terlambat untuk memperbaiki hati yang sudah terlanjur terluka?

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!