"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rumah Tanpa Nyawa
Jarum speedometer mobil SUV Akbar bergetar di angka 100 km/jam saat melintasi jalan tol dalam kota yang untungnya agak lengang siang itu. Namun, bagi Akbar, mobilnya terasa merayap seperti siput.
Di kursi penumpang samping kemudi, kotak bekal tingkat dua berwarna peach itu tergeletak bisu. Isinya sudah kosong melompong. Akbar memaksakan diri menghabiskannya di mobil tadi, menelan setiap butir nasi bercampur penyesalan, berharap itu bisa menebus kesalahannya.
"Angkat, Dek. Tolong angkat," gumam Akbar frustrasi, menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan sambil memegang setir.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...
Suara operator itu terdengar seperti vonis hakim. Hannah benar-benar menutup akses.
Pikiran Akbar berkecamuk. Bayangan Hannah yang berdiri di depan pintu ruangannya, melihatnya tertawa bersama Annisa, lalu berbalik pergi dengan hati hancur, terus berputar di kepalanya seperti film rusak.
Hannah baru saja mulai membuka hatinya. Gadis itu baru saja mulai berani melangkah masuk ke dunianya, membawakan bekal sebagai simbol cinta, dan Akbar menghancurkan momen itu dengan ketidakpekaannya. Ia membiarkan Annisa dan Nasi Liwet-nya mengambil panggung yang seharusnya milik Hannah.
"Bodoh," rutuk Akbar, memukul setir.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Akbar berbelok tajam memasuki gerbang komplek perumahan. Ia tidak mempedulikan satpam yang menyapanya. Fokusnya hanya satu: rumah.
Sesampainya di depan pagar rumah minimalisnya, perasaan tidak enak langsung menyergap.
Rumah itu tampak gelap. Gorden jendela depan tertutup rapat, padahal biasanya Hannah selalu membukanya di siang hari agar cahaya masuk.
Akbar turun dari mobil dengan tergesa, nyaris lupa menarik rem tangan. Ia membuka pagar, lalu berlari kecil menuju pintu utama.
Tangannya merogoh kunci cadangan di saku, tapi ia mencoba memutar gagang pintu terlebih dahulu.
Terkunci.
Akbar membuka pintu dengan kunci cadangannya. Napasnya memburu.
"Assalamualaikum! Dek!" panggil Akbar lantang begitu pintu terbuka.
Hening.
Tidak ada jawaban "Wa’alaikumsalam" yang lembut. Tidak ada suara langkah kaki kecil yang berlari menyambutnya. Hanya suara dengung kulkas dari arah dapur dan detak jam dinding yang terdengar mengerikan.
Akbar berlari masuk. Sepatunya berdecit di lantai granit.
"Hannah! Mas pulang!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada panik.
Ia memeriksa ruang tamu. Kosong. Bantal-bantal sofa tersusun rapi, terlalu rapi, seolah tidak disentuh seharian.
Ia berlari ke dapur. Kosong. Tidak ada aroma masakan baru. Wastafel bersih.
Akbar menyeberangi lorong menuju kamar tidur utama kamar Hannah. Pintunya tertutup.
Jantung Akbar berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia memutar gagang pintu kamar itu.
"Dek..."
Pintu terbuka.
Kosong.
Kasur dusty pink itu rapi. Spreinya licin tanpa kerutan. Jendela tertutup. AC mati. Hannah tidak ada di sana.
Akbar masuk ke dalam kamar, membuka lemari pakaian Hannah dengan kasar.
Baju-baju Hannah masih ada. Gamis-gamisnya masih tergantung rapi. Koper besar di atas lemari juga masih ada di tempatnya.
Akbar menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan. Alhamdulillah. Hannah tidak pergi meninggalkannya. Hannah tidak kabur pulang ke rumah orang tuanya atau minggat membawa barang-barang.
Tapi, di mana dia?
Ini sudah pukul dua siang. Seharusnya Hannah sudah pulang dari kampus apalagi tadi dia sempat ke kantor Akbar. Jika dia tidak di kantor dan tidak di rumah, ke mana dia pergi dengan hati yang terluka?
Akbar duduk di tepi ranjang Hannah, menjambak rambutnya sendiri. Rasa khawatir akan keselamatan istrinya mulai merayapi benaknya. Hannah itu polos, jarang keluyuran sendirian di Jakarta. Bagaimana jika dia melamun di jalan lalu tertabrak? Bagaimana jika dia nyasar?
Akbar mengambil ponselnya lagi. Ia harus mencari tahu tanpa membuat keributan yang akan mempermalukan Hannah atau membuat khawatir orang tua mereka.
Ia mencari kontak di ponselnya. Rere. Teman kampus Hannah yang pernah ia temui waktu menjemput.
Tuuut... Tuuut...
"Halo? Assalamualaikum?" suara Rere terdengar di seberang, latar belakangnya terdengar bising seperti di mal.
"Wa’alaikumsalam. Re, ini Akbar. Suaminya Hannah," ucap Akbar to the point, melupakan sandiwara 'kakak' sejenak karena panik.
"Eh? Oh... Mas Akbar? Kakaknya Hannah kan maksudnya?" Rere terdengar bingung.
"Iya, itu maksud saya. Maaf ganggu, Re. Hannah sama kamu nggak?"
"Enggak, Mas. Tadi Hannah cabut duluan dari kampus jam sebelasan. Katanya mau nganter bekal buat Mas ke kantor. Emang belum nyampe?"
Akbar memejamkan mata, rasa nyeri kembali menghantam dadanya. "Sudah... sudah sampai tadi. Tapi dia langsung pergi lagi. Saya pikir dia balik ke kampus nyusul kalian."
"Enggak tuh, Mas. Kita lagi di Grand Indo nih sama anak-anak. Hannah nggak ada. Di telepon juga nggak aktif nomornya."
"Oke. Makasih ya, Re. Kalau Hannah hubungin kamu, tolong kabari saya segera."
"Siap, Mas. Ada masalah ya?"
"Nggak, cuma miskomunikasi. Makasih, Re."
Akbar memutus sambungan.
Buntu.
Akbar berdiri, mondar-mandir di dalam kamar Hannah. Ia mencoba berpikir seperti Hannah. Jika dia sedang sedih, kecewa, dan merasa tidak diinginkan, ke mana dia akan pergi?
Hannah bukan tipe yang suka ke mal sendirian. Hannah juga tidak punya banyak teman di Jakarta selain anak kampus.
Mata Akbar tertumbuk pada meja belajar Hannah. Di sana, di samping tumpukan buku diktat, ada sebuah buku catatan kecil bersampul bunga-bunga. Buku harian? Atau buku agenda?
Akbar merasa lancang, tapi ia tidak punya pilihan. Ia membuka buku itu.
Isinya kebanyakan catatan tugas kuliah, target hafalan surat pendek, dan daftar belanja bulanan. Namun, di halaman paling belakang, ada sebuah daftar yang ditulis dengan pulpen warna-warni. Judulnya: "Tempat yang Ingin Dikunjungi Bareng Mas Akbar (Suatu Hari Nanti)".
Akbar terpaku membaca daftar itu.
* Taman Mini (mau naik kereta gantung)
* Kota Tua (foto pake topi noni Belanda)
* Masjid Istiqlal (sholat jamaah di sana)
* Toko Buku besar di Matraman (berburu novel diskon)
* Danau di taman kota yang sepi (buat bengong lihat bebek)
Daftar nomor 5 dilingkari dua kali.
Danau di taman kota.
Ada sebuah taman kota yang cukup besar tak jauh dari komplek perumahan mereka, sekitar dua kilometer. Hannah pernah bilang dia suka melihat air kalau lagi pusing ngerjain tugas.
Tanpa pikir panjang, Akbar menyambar kunci mobilnya. Ia berlari keluar rumah, mengunci pintu dengan cepat, dan melompat masuk ke mobil.
Langit di luar mulai mendung lagi, seolah mendukung suasana hati yang suram.
Akbar memacu mobilnya menuju taman kota. Matanya liar menyapu trotoar, berharap melihat sosok mungil bergamis navy dan jilbab senada sedang berjalan kaki.
"Tunggu Mas, Dek. Jangan kemana-mana," doa Akbar dalam hati.
Sepanjang perjalanan, Akbar berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia menemukan Hannah, ia tidak akan lagi membiarkan keraguan menyelimuti istrinya. Ia akan menjelaskan semuanya. Ia akan menegaskan pada Hannah bahwa nasi liwet seenak apapun tidak akan bisa menggantikan posisi cumi asin yang dibuat dengan cinta.
Lima belas menit kemudian, Akbar sampai di area parkir taman kota. Taman itu cukup sepi karena mendung. Hanya ada beberapa orang yang sedang jogging sore.
Akbar turun dari mobil, berjalan cepat menyusuri jalan setapak yang mengelilingi danau buatan di tengah taman. Angin berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering.
Ia memindai setiap bangku taman. Bangku pertama kosong. Bangku kedua diduduki sepasang kekasih. Bangku ketiga...
Langkah Akbar terhenti.
Di bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke danau, di bawah pohon beringin yang rindang, duduk seorang wanita sendirian.
Wanita itu mengenakan gamis navy. Bahunya terlihat merosot, kepalanya tertunduk dalam. Ia sedang memeluk lututnya sendiri, menatap kosong ke arah air danau yang beriak tertiup angin. Di sampingnya, tergeletak tas bekal kosong yang tadi dititipkan di resepsionis.
Itu Hannah.
Kelegaan luar biasa membanjiri tubuh Akbar hingga kakinya terasa lemas. Dia menemukannya. Istrinya ada di sini, aman, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Akbar menghela napas panjang, mengatur detak jantungnya yang sedari tadi berpacu. Ia tidak langsung memanggil. Ia berjalan perlahan mendekat, takut mengejutkan Hannah yang sedang tenggelam dalam lamunan kesedihannya.
Semakin dekat, Akbar bisa melihat bahu Hannah yang bergetar halus.
Dia sedang menangis.
Pemandangan itu meremukkan hati Akbar. Istri kecilnya, yang seharusnya ia lindungi dan bahagiakan, kini menangis sendirian di pinggir danau karena ulahnya.
Akbar mempercepat langkahnya. Saat jarak mereka tinggal satu meter, Hannah sepertinya menyadari kehadiran seseorang. Gadis itu menoleh kaget, wajahnya basah oleh air mata, matanya bengkak dan merah.
Saat melihat siapa yang datang, mata Hannah membelalak tak percaya.
"Mas Akbar?" bisiknya serak.
Akbar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung berlutut di depan Hannah, mensejajarkan tingginya dengan istrinya yang duduk, lalu tanpa ragu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan erat.
"Maaf..." bisik Akbar di telinga Hannah, suaranya bergetar menahan emosi. "Maaf Mas telat sadar. Maaf Mas bikin kamu nangis."
Hannah terdiam kaku dalam pelukan itu. Aroma musk Akbar yang familier menyeruak, bercampur dengan aroma keringat karena panik mencari.
Perlahan tapi pasti, pertahanan Hannah runtuh. Tangisnya pecah semakin keras di bahu suaminya, menumpahkan segala rasa sakit, rasa malu, dan rasa cemburu yang ia pendam sejak siang tadi di balik pintu kaca kantor Hasyim Group.