Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 14:15. Haeyla harus segera pergi untuk bekerja, mungkin kali ini bisa saja Haeyla akan terlambat.
" Cila, aku udah harus pergi oke, kamu aku tinggal sendiri gapapa kan?. "
" Astaga, udah jam berapa La?, ya ampun oke oke, lo hati hati di jalan ya. "
Haeyla pergi dengan terburu buru menuju tempat kerja nya, sekitar 15 menit jarak menuju tempat kerja Haeyla. Kali ini Haeyla tidak sempat pulang untuk mengganti pakaian nya, dia mengenakan seragam sekolah menuju tempat kerja nya.
" Haeyla, kamu telat 1 menit hari ini. " ucap Ardhana
" Maafin aku ya kak, aku siap di tambah jam kerja kok. "
" Hahaha, udah sana siap siap di dapur, ada ada aja kamu ini. "
Haeyla langsung segera pergi ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan nya.
" Jangan coba coba nambahin jam kerja dia. " Bumi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Haeyla di Cafe milik nya.
" Santai, gak usah lo suruh juga gue gak pernah nambah jam kerja dia, kecuali kalau ada tamu dadakan. " Ardhana berlalu pergi meninggalkan Bumi.
Semenjak tau kalau Haeyla bekerja di Cafe milik nya, sekarang Bumi sangat rajin datang dengan alasan ingin mengontrol Cafe Fourtune milik nya.
" Mau di bantu?. " ucap Bumi mengagetkan Haeyla.
" Loh loh, kamu kenapa bisa ada disini?, kamu kerja disini juga? "
" Gak sengaja lihat kamu, aku habis dari kamar mandi tadi. " elak Bumi
" Oh, aku kira kamu kerja disini juga. "
" Cape ya kerja disini?. "
" Ya, namanya juga kerja, semua pasti cape. " jawab Haeyla sambil mengerjakan pekerjaan nya.
" Kenapa gak berhenti aja kalau cape?. "
" Aku bukan orang yang berada, kalau aku mau bertahan hidup ya aku harus kerja, kalau gak kerja aku gak akan bisa bertahan hidup sampe sekarang. " jawab Haeyla santai. Bumi hanya terus menatap Haeyla tanpa berpaling, seakan tatapan nya bisa di artikan kalau dia kagum dengan Haeyla.
" Yaudah, kalau udah selesai kamu boleh ke depan lagi, ini tempat para staf, nanti aku bisa di tegor sama bos aku. "
" Tenang aja, gak akan ada yang berani negor kamu. " Bumi pergi ke depan meninggalkan Haeyla.
Bumi duduk di kursi milik nya dan mulai bergumam. Rasanya seperti gak mungkin wanita itu harus bekerja untuk bertahan hidup, rasanya aneh melihat tangan semungil dan sehalus itu harus mengerjakan pekerjaan seperti itu, tapi benar Haeyla, kamu berbeda.
Disisi lain Arbian juga datang ke Cafe Fourtune, tentu saja untuk melihat Haeyla bekerja.
' Itu si Arbian yang cewe berisik itu bilang suka sama Haeyla di kelas tadi kan?, ngapain dia kesini?, apa mau ngeliat Haeyla kerja juga?. ' Bumi heran melihat kedatangan Arbian yang tiba tiba ke Cafe Fourtune.
Arbian sengaja datang ke tempat Haeyla kerja karena Cila menyuruh nya datang dan bicara soal perasaan nya kepada Haeyla, tapi sebelum Cilia menyuruhnya Arbian memang memiliki niat untuk berbicara dengan Haeyla.
Hampir 2 jam Haeyla berada di dapur, dan akhirnya Haeyla selesai dan bisa keluar untuk berada di meja kasir.
" Sore Haeyla. " sapa Arbian begitu Haeyla terlihat.
" Arbian, kamu buat aku kaget aja. " sahut Haeyla
" La, aku tunggu kamu pulang kerja ya, aku mau bicara. "
" Tapi aku masih sekitar 2 jam an lagi baru selesai Ar. "
" Aku tunggu. "
" Oke, kita bicara nanti. "
Bumi yang melihat dan mendengar itu langsung bisa menyimpulkan kalau Arbian memang sedang mendekati Haeyla.
Pukul 19:30. Haeyla selesai bekerja.
" Arbian, ayo, katanya kamu mau bicara sama aku. " Haeyla menghampiri Arbian yang duduk di depan Cafe.
" Ya, ayo. " Arbian membawa Haeyla menuju suatu tempat dengan menggunakan motor milik nya. Sementara Bumi hanya memandangi dari kejauhan.
" Di salip nih. " ejek Ardhana
" Siap bersaing gue, tenang. " dengan santai Bumi menjawab kemudian ikut pergi meninggalkan Cafe.
Haeyla belum tahu akan kemana Arbian membawa nya kali ini, tapi dia hanya percaya saja dengan Arbian. Selang beberapa menit mereka sampai di tempat yang di tentukan Arbian.
" Kita mau makan?. " tanya Haeyla
" Ya, kita makan dulu, karena kamu pasti belum makan malam. " Arbian menggandeng tangan Haeyla masuk ke dalam tempat makan. Tentu itu cukup membuat Haeyla bingung, tangan nya di gandeng oleh Arbian.
" Duduk La, kamu mau pesan apa? "
" Kamu punya recomendasi?. "
" Ya, Bebek ungkep cabai hijau yang paling best disini. "
" Sure, i want. " Arbian memesankan beberapa menu yang sudah mereka pilih.
" Kamu sering makan disini Ar?. "
" Beberapa kali sama mama. "
" Mama kamu apa kabar?. "
" She's good, dia tanya kapan kamu main ke rumah lagi. "
" Oh ya?, bilang sama mama kamu, eum, besok aku main kesana deh. "
" Beneran Haeyla?. "
" Ya, kenapa?, gak bisa ya? "
" Bukan, ya bisa dong. " Pesanan mereka datang di sela sela obrolan mereka.
" Selamat makan Haeyla. "
" You to. " Setelah 15 menit mereka menyelesaikan makan malam mereka, sekarang tiba waktunya Arbian membicarakan sesuatu kepada Haeyla.
" Haeyla, ada sesuatu yang mau aku bicarain sama kamu. "
" Ya, aku dengerin kok. "
" Sebelumya maaf ya La, aku punya perasaan sama kamu, dan aku baru sadar dengan semua itu. " Haeyla menatap mata Arbian canggung, seakan dia benar benar terkejut mendengar pernyataan Arbian.
" Kamu gak perlu minta maaf atas perasaan kamu buat aku. Itu semua adalah hak kamu, dan aku gak berhak ngelarang kamu untuk punya perasaan buat aku, makasih karena udah jujur Ar. " Haeyla mengelus bahu Arbian pelan, dan Arbian menatap mata Haeyla seakan menunggu jawaban dari wanita itu.
" Tapi maaf, untuk saat ini itu bukan tujuan utama aku, ada hal yang lebih penting yang harus aku prioritasin Ar, jadi aku mau kita, aku dan kamu tetep jalan bareng sebagai seorang teman. "
" Aku ngerti kok La, aku lega karena udah bisa jujur sama kamu, tapi please jangan larang aku untuk kasih perhatian lebih ke kamu Haeyla." Arbian menjawab dengan senyuman, Arbian tau kalau hal utama yang Haeyla maksud adalah keluarga nya, karena orang yang melihat Haeyla dan mama nya di taman waktu itu adalah Arbian.
Setelah percakapan yang lumayan canggung tadi, Arbian dan Haeyla berjalan di sekitar taman tempat makan tadi.
" Kalau kamu ada apa apa kamu bisa kabarin aku Haeyla. "
" Ya, makasih. "
" Gak perlu canggung La. "
" Engga, aku gak canggung Ar. "
" Aku bakal temani kamu sampe semua masalah kamu selesai La, kamu gak sendirian. " Arbian menggenggam tangan Haeyla sekali lagi. Haeyla hanya tersenyum mendengar ucapan Arbian.
Sekarang cinta bukan lah tujuan utama seorang Haeyla, tujuan utama nya adalah bersatu kembali dengan kedua orang tua nya dan kedua orang tua nya bisa kembali hidup bersama seperti dulu lagi. Haeyla bahkan tidak sempat menyisakan tempat untuk cinta sedikit saja di hati nya sekarang.
Bersambung.