NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 35

Di bawah langit malam dan bintang-bintang yang bertaburan, Aura dan Harry menemukan momen mereka sendiri: bebas, hangat, dan intim tanpa perlu banyak kata. Malam itu, dunia terasa berhenti sejenak hanya untuk mereka.

Aura menatap api unggun yang mulai meredup, sementara Harry duduk lebih dekat, tangannya tanpa sadar menyentuh bahu Aura. “Kamu dingin,” katanya ringan, tapi nada suaranya hangat. Aura menoleh, sedikit tersenyum, dan Harry langsung meraih selimut tipis yang dibawa mereka, membungkus mereka berdua dalam satu selimut.

“Aku nggak dingin kok,” jawab Aura, tapi tubuhnya menegang sedikit karena kehangatan Harry. Mereka duduk berdampingan, sesekali saling menatap, tanpa perlu kata-kata panjang. Angin malam tetap berhembus, membawa aroma kayu bakar dan udara lembap dari danau, menambah sensasi malam yang tenang dan intim.

Harry mencondongkan kepala, rambutnya sedikit menyentuh rambut Aura. “Aku nggak pernah bosen liat kamu kayak gini,” bisiknya. Aura menelan ludah, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Aku juga… nggak mau jauh dari kamu malam ini,” katanya pelan.

Mereka berdua duduk diam beberapa saat, merokok bergantian, sambil sesekali menatap bintang yang bertaburan di langit. Api unggun berkerlap-kerlip, menciptakan bayangan yang bergerak lembut di wajah mereka. Aura merasa, malam itu, hanya ada dia, Harry, dan keheningan yang terasa manis.

Harry meraih tangan Aura, menggenggamnya perlahan. “Kamu tau… aku nggak akan bilang apa-apa soal masa depan, atau apa yang harus kamu lakukan. Aku cuma mau kamu di sini, sama aku, sekarang.” Aura menatap tangannya yang digenggam Harry, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kalau gitu… aku nggak akan pergi,” jawab Aura. Mereka berdua tertawa pelan, saling menatap dengan tatapan yang dalam, seakan dunia di sekitar mereka menghilang. Malam itu, di tepi api unggun dan bawah langit penuh bintang, Aura dan Harry menemukan ketenangan, kehangatan, dan kedekatan yang membuat mereka merasa seolah tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

Matahari mulai menanjak saat Aura dan Harry masih duduk di tepi danau, api unggun telah padam, meninggalkan aroma kayu hangus yang samar. Aura menatap permukaan air, refleksi langit pagi berpendar di matanya. “Kamu pikir nanti setelah ini, semuanya bakal normal lagi?” tanyanya, suara serak karena terlalu banyak berbicara di malam sebelumnya.

Harry menghela napas, menatap jauh ke arah danau sebelum menoleh ke Aura. “Aku nggak tahu apa itu normal, tapi aku tahu aku nggak mau kehilangan momen seperti ini dengan kamu.” Aura tersenyum tipis, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata Harry sederhana, tapi terasa berat dan berarti.

Selesai sarapan bersama teman-teman, mereka mulai berkemas untuk kembali ke kampus. Sepanjang jalan, Aura merasa ada sesuatu yang berbeda. Harry lebih sering menatapnya diam-diam, tersenyum kecil, atau sekadar menyentuh tangannya secara singkat saat membantu membawa tas. Setiap kontak fisik kecil itu membuat Aura tersenyum malu, tapi hatinya juga terasa hangat.

Sesampainya di kampus, rutinitas kembali berjalan. Namun Aura merasakan sesuatu bergeser dalam dirinya. Ia sadar, perasaannya terhadap Harry semakin kuat, tapi juga semakin rumit karena hubungannya dengan Alden tetap ada. Alden tetap jarang memberi kabar, sibuk dengan pekerjaannya, sementara Harry perlahan-lahan hadir di setiap momen kecilnya, memberi perhatian yang tulus.

Di tengah kelas, Aura menatap layar ponselnya dan melihat pesan singkat dari Alden: “Besok aku coba telepon kamu, kerjaan lagi padat.” Ia menarik napas panjang, meletakkan ponsel kembali ke tas. Sementara itu, di bangku depan, Harry menoleh sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya, tapi tak berkata apa-apa. Aura menunduk, menyalakan rokok sebentar di toilet kampus, membiarkan kepulan asap menenangkan pikirannya.

Hari itu terasa panjang. Aura merokok beberapa kali di taman dekat parkiran setelah kuliah, tempat yang selalu memberinya ketenangan. Harry muncul beberapa menit kemudian, duduk di bangku seberang, ikut merokok, dan mereka hanya duduk diam, sesekali melempar senyum. Tak perlu kata-kata banyak—hanya ada kehadiran satu sama lain yang cukup untuk mengisi ruang sunyi.

Malamnya, Aura pulang ke rumah, ibunya sudah menyiapkan makan malam. Aura tersenyum lelah, tapi hatinya masih terus memikirkan Harry. Ia tahu, perasaannya semakin kompleks, tapi ia juga mulai memahami bahwa kadang cinta bukan soal menguasai, tapi soal memberi ruang dan tetap hadir. Dan di situlah ia ingin tetap berada, entah bagaimana pun caranya.

Hari-hari berikutnya di kampus mulai terasa berbeda. Aura mulai belajar menyeimbangkan perhatiannya antara Alden yang tetap setia meski jarang hadir, dan Harry yang semakin dekat, memberikan kehangatan yang sulit ia tolak. Di tengah konflik hati ini, Aura mulai menyadari satu hal: kadang, kebahagiaan datang bukan karena seseorang meninggalkan yang lain, tapi karena dia bisa menerima dua rasa yang berbeda dan tetap menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.

Beberapa hari setelah camping, suasana kampus terasa berbeda bagi Aura. Setiap langkahnya terasa berat tapi juga manis, karena Harry semakin sering hadir dalam keseharian kecilnya. Mereka tidak sekelas dengan Putri dan Ica, jadi pertemuan dengan mereka hanya sesekali, tapi kini Aura sadar tatapan beberapa teman kadang terasa berbeda—seolah mereka tahu ada sesuatu yang sedang terjadi antara dia dan Harry.

Hari itu, Aura duduk di taman dekat parkiran, merokok sambil membuka laptopnya. Harry datang dengan motornya, berhenti di dekat bangku, menyalakan rokoknya juga, dan duduk bersebelahan tanpa kata-kata. Aroma asap dan angin sore yang sejuk mengisi ruang di antara mereka. Aura menoleh, tersenyum kecil. “Kamu nggak pernah capek ya nunggu aku merokok?”

Harry menatapnya, senyum tipis tersungging. “Aku nggak nunggu, aku cuma suka ada di dekat kamu.” Aura menahan senyum yang hampir melebar, hati berdegup kencang. Mereka berbicara tentang tugas kuliah yang harus diselesaikan, tapi lebih banyak diam dan sesekali tertawa kecil, menikmati kehadiran satu sama lain.

Selesai tugas di laptop, Harry mengeluarkan rokok terakhirnya. Aura ikut menyalakan rokok baru, menghirup asap sambil menatap matahari yang mulai merendah. “Kadang aku nggak ngerti perasaanku sendiri,” bisiknya.

Harry menoleh, tangannya sedikit menyentuh lengan Aura. “Gampangnya… aku cuma pengen kamu tahu aku selalu ada, nggak peduli apa pun yang terjadi.” Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi bagi Aura, rasanya menenangkan sekaligus membuat hatinya semakin rumit. Ia tahu hubungannya dengan Alden tetap ada, tapi Harry semakin sering hadir, memberi perhatian yang sulit ia abaikan.

Beberapa hari kemudian, Alden sempat menghubungi Aura. “Aku lagi sibuk banget sama proyek ini, mungkin aku jarang telepon. Tapi aku tetap sayang kamu. Lakukan apa pun yang bikin kamu bahagia.” Aura menarik napas panjang, menyimpan pesan itu, dan tanpa sadar hatinya terasa lega sekaligus bingung. Alden membebaskannya, tapi Harry semakin nyata di hadapannya setiap hari.

Malamnya, Aura kembali duduk di taman parkiran, merokok sendirian, dan Harry muncul. Mereka duduk bersebelahan, menghirup asap, menatap langit malam yang penuh bintang. Aura menoleh ke Harry, bisikannya nyaris tak terdengar: “Aku nggak tahu harus gimana dengan semua ini.”

Harry menatapnya, ringan tapi tegas. “Gimana pun jalannya, aku nggak akan pergi. Aku cuma mau kamu tahu aku ada, di sini, sekarang.” Aura menutup matanya sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap. Dan malam itu, di tengah asap rokok dan dinginnya udara, hati Aura mulai merasakan campuran hangat dan gelisah yang sulit dijelaskan antara aman, bersalah, dan jatuh perlahan pada Harry.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!