NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Parkiran basement gedung Wirawan sepi sore itu.

Elena berjalan ke arah mobilnya. Sekretarisnya mengikuti setengah langkah di belakang. Bunyi langkah sepatu mereka memantul di dinding beton.

Lift di ujung parkiran terbuka. Langkah kaki yang tergesa-gesa. Elena tahu sebelum mendengar suaranya.

"Elena." Adrian muncul dari arah lift. "Tunggu."

Elena tidak berhenti.

"Elena!" Tangannya mencengkeram lengan Elena dari belakang, sangat keras dan tiba-tiba. Sekretaris Elena mengambil langkah mundur refleks.

Elena menatap tangan itu di lengannya. Lalu menatap Adrian.

"Lepaskan!" katanya dingin.

"Tidak sebelum kamu jelaskan." Adrian tidak melepaskan. Matanya menyimpan sesuatu yang berbeda dari yang Elena pernah lihat sebelumnya, bukan hanya marah, lebih seperti orang yang baru sadar ia sudah melepaskan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. "Kenapa tidak pernah bilang? Kalau dari awal aku tahu kamu anak Wirawan mungkin rumah tangga kita tidak akan...."

"Tidak akan apa?" Suara Elena sangat pelan. "Tidak akan pergi? Tidak akan tinggal di rumah perempuan lain? Atau tidak akan membiarkan anakmu mati karena tidak mau balas pesan saat aku meminta tolong kamu kirimkan uang untuk berobat?"

Adrian terdiam.

"Kamu baru peduli sekarang." Elena melanjutkan. "Setelah tahu nama di belakangku. Bukan karena aku istrimu. Bukan karena aku ibunya Evan dan Ara." Matanya tidak bergerak dari wajah Adrian. "Itu yang paling menyedihkan dari semua ini."

"Elena aku masih mencintaimu. Kalau kamu mau kita bisa mulai lagi dari awal."

Elena tersenyum sinis saat mendengar kalimat Adrian. "Sudah terlambat Adrian, kamu sudah kehilangan semuanya."

"Kasih aku kesempatan sekali lagi," kata Adrian, sambil menatap Elena dengan tatapan memelas. "Aku janji, akan jadi suami yang baik."

"Maaf Adrian, kesempatan sudah tidak ada lagi buatmu." Elena berusaha menepis tangan Adrian meskipun itu tidak berhasil.

"Elena, aku mohon." Suara Adrian bergetar. Tangannya tidak juga melepaskan. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menghancurkan segalanya. Tapi beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku bisa berubah, El. Aku serius."

Elena menatapnya lama.

Lelaki di depannya, dengan kemeja rapi dan jam tangan mahal dan mata yang memelas adalah lelaki yang sama yang delapan tahun lalu membuatnya yakin bahwa meninggalkan segalanya adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

"Kamu tahu apa yang lucu, Adrian?" Elena berkata pelan. "Dulu waktu aku yang butuh kamu, kamu tidak ada. Sekarang waktu kamu yang butuh aku, kamu tiba-tiba bisa berubah." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Kenapa aku harus percaya sekarang?"

"Karena aku serius."

"Kamu selalu serius." Elena memotong. "Kamu serius waktu janji akan jaga aku. Kamu serius waktu bilang akan ke kota untuk merubah nasib kita. Kamu serius waktu bilang hanya butuh waktu sedikit lagi di kota." Ia menatapnya langsung. "Tapi keseriusan kamu tidak pernah sampai ke tindakan, Adrian."

"Kali ini berbeda."

"Karena sekarang kamu tahu aku Elena Wirawan." Elena menyelesaikan kalimatnya. "Iya, kan, Adrian?

Adrian membuka mulutnya lalu menutupnya lagi.

"Lepaskan tanganku." Suara Elena keluar sangat tenang. Bukan meminta. Bukan memohon. Lebih seperti pernyataan yang tidak memberi pilihan lain. "Terakhir kali aku minta."

"El..." Adrian tetap tak mau melepaskan tangan Elena. Hingga akhirnya terjadi tarik menarik di antara mereka sampai akhirnya.

"Lepaskan lengannya."

Suara itu bukan suara Elena dan bukan suara sekretarisnya.

Keduanya menoleh.

Seorang lelaki berdiri beberapa langkah dari mereka, kemeja putih lengan panjang yang digulung ke siku, kunci mobil di tangan kirinya. Posturnya tenang. Matanya menatap tangan Adrian yang masih mencengkeram lengan Elena.

"Saya bilang lepaskan."

"Ini urusan pribadi." Adrian menatapnya, nada suaranya defensif. "Tidak perlu ikut campur."

Lelaki itu tidak menjawab. Ia melangkah maju mendekati mereka dan memegang pergelangan tangan Adrian. Tidak kasar, tapi membuat Adrian melepaskan lengan Elena sebelum sempat memutuskan apakah ia mau atau tidak. Seperti pilihan itu memang tidak pernah ada.

Lelaki itu melepaskan pergelangan Adrian. Lalu berpaling ke Elena. "Kamu baik-baik saja?"

Elena menatap lelaki di depannya sebentar. Wajah nya begitu tampan dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap.

"Baik-baik saja." Elena menjawab. "Terima kasih."

Lelaki itu mengangguk sekali. Singkat. Lalu menatap Adrian lagi, satu tatapan yang tidak perlu diterjemahkan.

Adrian memilih diam.

Elena membuka pintu mobilnya.

"Elena." Suara Adrian terdengar lagi, lebih pelan kali ini, lebih berat, suara orang yang benar-benar kehabisan cara. "Aku tidak akan tanda tangan surat cerai itu. Tidak sekarang, tidak nanti."

Elena berhenti sebentar dengan tangan di gagang pintu. Menjawab tanpa berbalik.

"Itu pilihanmu." Suaranya datar. "Tapi tidak akan mengubah apapun."

Pintu tertutup. Dan mobil mesin menyala.

Mobil itu bergerak keluar dari parkiran meninggalkan Adrian yang berdiri dengan tangan kosong di bawah lampu parkiran yang kekuningan, meninggalkan lelaki asing yang sudah berbalik berjalan ke mobilnya sendiri seolah tidak ada yang terjadi.

Clara sudah menunggu di dekat lift. Ia tidak bertanya apa yang terjadi, karena ia melihat semuanya dari tadi, berdiri cukup jauh untuk terlihat tidak terlibat tapi cukup dekat untuk tidak melewatkan satupun.

"Adrian." Suaranya lembut seperti biasa. Tangannya menyentuh lengannya pelan. "Ayo kita pulang."

Adrian tidak bergerak. Matanya masih ke arah tikungan tempat mobil Elena menghilang.

"Dia Elena Wirawan." Suaranya berat. "Semua ini, semua yang ada di gedung itu, keluarganya yang punya. Dan aku tidak tahu selama delapan tahun."

Clara tidak menjawab langsung.

"Kamu tahu kan?" Adrian menatapnya tiba-tiba. "Kamu pasti tahu siapa dia sebenarnya."

"Adrian...."

"Jawab." Suaranya naik satu nada. "Kamu selalu cek background semua orang yang masuk ke lingkaranmu. Tidak mungkin kamu tidak tahu Elena anak Wirawan."

Clara menatapnya dengan senyum yang tidak berubah. "Kalau aku tahu, untuk apa aku sembunyikan?"

"Itu yang aku mau tahu."

Mereka menatap satu sama lain dalam diam yang tidak nyaman.

Lalu Clara menyentuh pipinya pelan, sentuhan yang lembut, yang terlatih, yang selalu berhasil membuat Adrian tidak jadi marah.

"Percayalah pada aku." Suaranya turun menjadi bisikan. "Aku tidak tahu apa-apa, Adrian. Aku sama terkejutnya saat melihat dia tadi."

Adrian menatapnya lama. Lalu menghela napas dan masuk ke dalam mobil. Clara mengikutinya.

Tapi saat pintu hampir tertutup matanya sempat melirik ke arah lelaki parkiran tadi, lelaki yang masih berdiri di dekat mobilnya, yang sekarang sedang menatap ke arah mereka dengan ekspresi yang tidak bisa Clara baca.

Di dalam mobilnya Elena menatap jalan di depannya. Sekretarisnya duduk diam di samping.

Kota sudah mulai ramai, jam pulang kerja, lampu-lampu jalan mulai menyala, suara klakson yang bersahutan dari arah jalan raya.

Elena tidak memikirkan Adrian.

Ia memikirkan lelaki di parkiran tadi. Mata yang dingin tapi bukan dingin yang jahat, lebih seperti dingin yang memang sudah sifat dasarnya. Elena merasa pernah melihatnya, tapi entah dimana. Wajahnya nampak familiar bagi Elena, padahal wajah seperti lelaki itu tidak pasaran karena yang Elena lihat punya kesan mendalam saat melihatnya. Wajah yang akan sulit untuk di lupakan.

Siapa dia?

Dan kenapa ia ada di parkiran gedung ayahnya sore itu? pikirnya.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!