Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas — Jalan Pintas Saluran Air
Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka..
Arsya merasa saat ini mereka sudah terjebak di segala arah. Bukan suara, bukan langkah tapi tekanan. Seolah kota menahan nafas. Padahal beberapa menit lalu halaman belakang kosong. Terlalu kosong. Dan sekarang dari ujung gang terdengar gesekan pelan bukan satu arah melainkan tiga arah.
Mereka mengepung.
Jay langsung mengangkat tangan, memberi tanda diam total. Niki menoleh cepat ke kanan gang, bayangan bergerak di ujung sana. Regan berbisik, “mereka memutar…”
Arsya menelan luda. Perasaannya benar. Mereka tidak di kejar secara frontal, mereka di giring.
“Mereka datang,” bisiknya cepat. “Kita harus segera masuk ke dalam saluran udara terlebih dahulu dan kemudian mencari saluran air yang dimaksud oleh Jay.”
Jay langsung menoleh ke atas.
Di dinding belakang gedung, tepat di atas kontainer, ada kisi ventilasi besar—karatan tapi cukup untuk dilewati satu orang jika dibuka paksa. “Regan, bantu angkat,” perintah Jay.
Lyno dan dua lainnya mendorong kontainer mendekat tanpa suara berlebih. Besi berdecit pelan–terlalu pelan untuk menarik perhatian dari jarak jauh. Jay melompat meraih kisi ventilasi dan menghantamnya dengan gagang pintu.
Sekali, dua kali. Sekrup longgar, dari ujung gang terdengar suara langkah patah semakin jelas dan cepat. Tidak lagi menyamar. Mereka sudah tahu. “Kini kiri!” bisik Niki. siluet pucat muncul di ujung gang kiri.
Jay menarik kisi itu hingga terlepas. “Masuk! Sekarang!” Lyno pertama di dorong naik, Arsya menyusul tepat di belakangnya. Satu persatu mereka masuk ke dalam saluran udara yang sempit dan berdebu. Regan hampir masuk ketika satu Kanihu berlari dari ujung kanan gang. Niki berbalik, menghantam kepala makhluk itu dengan tongkat golfnya tanpa suara teriakan— hanya dentuman tulang retak.
Jay menarik Niki keatas tepat sebelum dua kanihu lain muncul. Ia menarik kisi itu kembali ke posisi miring, cukup untuk menyamarkan lubang masuk. Di dalam saluran—gelap, sempit, berbau logam dan debu tua. Nafas mereka terdengar berat.
Mereka terus berjalan sampai lorong ventilasi itu makin sempit dan bercabang tiga. Mereka berhenti, di depan mereka ada tiga jalur: Lurus— terdengar samas suara angin luar. Itu pasti arah keluar. Tapi… terlalu mudah. Dari ujung sana tercium bau anyir. Bukan bau lama melainkan bau segar. Seperti sesuatu sedang menunggu.
Kanan—lorong nya sedikit menurun. Udara lebih lembab.
Kiri— lebih gelap, lebih sempit dan nyaris tanpa aliran angin.
Semua menahan nafas. Lyno berbisik pelan, “kalau lurus… kita langsung keluar.”
“Dan langsung disambut,” jawab Niki pelan.
Arsya merinding. Ia bisa merasakan intuisi yang sama seperti sebelumnya. Alpha bukan tipe yang mengejar dengan membabi buta. Jika ia tahu manusia cenderung memilih jalur tercepat.. Maka jalur lurus adalah jebakan paling logis.
Jay menutup mata sejenak, mendengarkan. Dari jalur lurus ada suara goresan. Pelan, seperti kuku menyentuh beton, menunggu. Jay membuka mata, “bukan lurus.” Regan menelan ludah. “Kanan atau kiri?”
Jay merangkak sedikit ke kanan, menyentuh dinding ventilasi. Dingin dan lembab. Udara di kanan lebih berat bisa jadi menuju ruang bawah tanah atau saluran air yang lebih besar. Ke kiri, udara mati, tidak ada sirkulasi berarti kemungkinan kembali ke dalam gedung.
Arsya berbisik pelan, “kalau mereka sudah membaca pola kita… mereka tahu kita menghindari jebakan paling jelas.” Jay menoleh padanya. Kalimat itu menggantung.
Alpha belajar. Kalau begitu, ia juga bisa memprediksi bahwa manusia akan menghindari jalur lurus. Berarti… yang terlihat seperti jebakan bisa saja bukan jebakan. Dan yang terlihat aman… bisa jadi lingkaran.
Dari ujung lurus, suara goresan itu berhenti. Sunyi total, benar-benar total. Jay tersenyum tipis. “Dia ingin kita ragu.” Niki berbisik, “Jadi? Ke arah mana kita?”
Jay menatap lurus ke depan. “Kalau dia benar-benar menunggu di luar… berarti dia butuh kita keluar hidup-hidup.” Arsya mengernyit, “untuk apa?” Jay menjawab pelan, “untuk menggiring.” ia menarik nafas.
“Kita ke kanan. Turun. Cari saluran air besar, kita keluar bukan dari titik yang dia siapkan.” Lyno mengangguk cepat. Satu persatu mereka berbelok ke kanan. Lorong itu semakin menurun dan lembab. Dan semakin gelap. Beberapa meter kemudian terdengar suara air mengalir. Saluran.
Namun dari belakang mereka terdengar suara bunyi, seperti suara orang kesal memukul ventilasi dengan pelan namun tetap saja bergetar.
KLANG!
Jay semakin tersenyum tipis, jika Alpha licik, maka mereka harus selangkah lebih licik di atas Alpha. Karena jika ia mempelajari strategi mereka, alpha harus bisa memprediksinya dengan benar dan tidak gagal.
Suara air semakin jelas. Bukan tetesan kecil, tapi aliran konstan. Jay mengangkat tangan, memberi tanda berhenti, ia merangkak lebih dulu, bergerak perlahan hingga menemukan kisi ventilasi yang terbuka ke ruang lebih besar.
Ia mengintip ke bawah. Gelap.
Namun cukup cahaya dari celah atas untuk memperlihatkan beton besar dan aliran air setinggi betis yang mengalir menuju satu arah.
Saluran air utama.
Jay turun lebih dulu, mendarat tanpa suara berarti di sisi kering tepian beton. Ia langsung berjongkok mengamati kiri dan kanan.
Kosong.
Tidak ada bayangan bergerak. Tidak ada kepala patah yang menoleh aneh dari sudut gelap. Ia memberi isyarat kepada semuanya. Satu persatu mereka turun. Begitu semuanya berkumpul, suara ventilasi di atas di tutup kembali seadanya.
Di dalam saluran air itu, udara lebih dingin. Bau lumpur dan karat bercampur. Namun justru itu yang mereka butuhkan. Aroma manusia akan tersamarkan. Niki menarik nafas dalam. “Kalau mereka masuk sini, kita dengar duluan.”
Jay mengangguk, “air akan memberi tahu.”
Lyno melihat ke arah aliran. “Ini menuju mana?” Jay menunjuk ke arah arus. “Keluar kota. Perbatasan hutan ada di ujung saluran besar.” Arsya akhirnya menghembuskan nafas yang sejak tadi ia tahan. Untuk pertama kalinya sejak pengepungan tadi, tidak ada tekanan aneh di dadanya.
Tidak ada rasa diawasi. Tidak ada suara goresan kuku, hanya suara air yang tenang. Namun Jay belum sepenuhnya rileks. Ia berdiri perlahan dan menatap ke arah belakang— ke lubang ventilasi tempat mereka turun.
Jika Alpha memang belajar… maka ia akan memahami satu hal sederhana tentang manusia yang terdesak akan selalu mencari jalur bawah ketika atas sudah tidak aman. Jay memalingkan wajahnya kembali.
“Kita bergerak cepat. Jangan terlalu lama di satu titik.” mereka mulai berjalan menyusuri tepian beton, menjaga langkah tetap stabil agar tidak menimbulkan percikan berlebihan. Beberapa menit berlalu, saluran mulai melebar. Dan di kejauhan— terlihat cahaya alami yang lebih terang. Bukan lampu kota melainkan itu cahaya dari luar.
Hutan.
Cahaya alami itu akhirnya menyelimuti mereka sepenuhnya. Satu per satu mereka keluar dari mulut saluran besar yang tersembunyi di balik tumbuhan merambat tebal. Dari luar, lubang beton itu nyaris tidak terlihat—tertutup akar, daun liar, dan lumur yang menggantung seperti tirai alam.
Begitu kaki mereka menginjak tanah hutan, suasana berubah total. Tidak ada gema beton, tidak ada bau karat, tidak ada lorong sempit. Hanya tanah lembab. Daun kering, dan pohon-pohon tinggi yang menjulang seperti tiang penyangga langit.
Hutan itu sunyi.
Sunyi yang berbeda dari kota.
Terima kasih sudah membaca kita lanjut jam 16.00pm.