NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tusukan yang tertunda

Cahaya matahari pagi yang lembut menembus jendela dapur keluarga Hardianto, memantul di atas lantai tegel yang bersih. Laura terbangun lebih awal dari siapa pun di rumah itu. Ia telah melepas gaun hitam pestanya dan kini mengenakan daster katun sederhana serta celemek biru muda. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, tanpa riasan, menonjolkan wajahnya yang tampak polos dan tulus—topeng sempurna yang telah dilatihnya di bawah bimbingan Marco.

Dedikasi yang Memikat Hati

Saat Bu Sisil turun ke dapur dengan wajah mengantuk, ia terperanjat melihat meja makan sudah tertata rapi. Aroma nasi goreng mentega dan teh hangat memenuhi ruangan.

Bu Sisil: "Lho, Yanti? Kamu sudah bangun jam segini? Ibu baru saja mau menyiapkan sarapan buat Bapak."

Laura tersenyum malu-malu, menundukkan kepala.

"Sudah biasa di desa, Bu. Saya tadi juga sudah sempat menyapu halaman depan dan menyiram mawar Ibu. Sayang kalau bunganya layu."

Pak Hardianto yang baru saja selesai bersiap dengan seragam banknya, keluar ke ruang makan sambil membetulkan dasinya. Ia berhenti sejenak, terkesan melihat rumahnya yang tampak lebih segar dari biasanya.

"Wah, Marco tidak salah pilih. Rajin sekali kamu, Yanti. Padahal tugasmu kan hanya menjaga Gabriel."

"Tidak apa-apa, Pak. Saya senang bekerja. Hitung-hitung untuk membalas kebaikan Bapak dan Ibu yang sudah menerima saya di sini.

Sepanjang pagi itu, Laura menunjukkan performa yang luar biasa. Ia bukan hanya sekadar pengasuh; ia seolah-olah menjadi asisten rumah tangga yang serba bisa.

Merawat Gabriel saat Gabriel bangun, Laura memandikannya dengan sangat lembut. Ia bernyanyi kecil—bukan mantra kegelapan, melainkan lagu anak-anak yang ia ingat dari masa kecilnya. Bu Sisil yang mengintip dari balik pintu merasa hatinya sangat tenang.

Sambil menunggu Gabriel tidur siang, Laura menyetrika tumpukan baju kerja Pak Hardianto hingga licin sempurna. Ia bahkan membersihkan debu di bingkai-bingkai foto keluarga yang berisi ayat-ayat suci, meskipun setiap kali menyentuhnya, telapak tangannya terasa sedikit perih

Sore harinya, Bu Sisil duduk di teras bersama Laura yang sedang menggendong Gabriel yang sudah wangi.

"Tahu tidak, Yanti? Tadi Bapak menelepon Ibu dari kantor. Dia bilang, dia merasa sangat terbantu ada kamu di sini. Katanya, auramu itu menyejukkan. Kamu seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantu keluarga kami."

Laura tertegun. Kata "Malaikat" terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

Ia berusaha tetap tenang

"Ibu terlalu berlebihan. Saya hanya menjalankan tugas saya saja."

"Bapak bilang, hari Minggu nanti kamu harus ikut kami ke gereja. Kami ingin memperkenalkanmu pada teman-teman kami sebagai anggota keluarga baru. Kamu mau kan?"

Laura meremas pinggiran baju Gabriel. Di balik kacamata beningnya, matanya berkilat sesaat. Penyamarannya terlalu sukses, hingga kini ia terjebak dalam lingkaran kasih sayang yang salah.

Alam merangkak menuju pukul dua pagi. Rumah keluarga Hardianto tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Laura berdiri di samping boks bayi Gabriel, cahaya bulan yang pucat masuk melalui celah gorden, menyinari wajah bayi yang tertidur pulas itu.

Di tangan kanannya, jarum perak pemberian Elena berkilau dingin. Di tangan kirinya, botol kristal hitam sudah terbuka, siap menampung tujuh tetes kemurnian.

Laura menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali suara Marco dan mantra-mantra dari Satanic Bible untuk mengeraskan hatinya. Ia membungkuk perlahan, jemarinya yang gemetar meraih tumit kecil Gabriel yang menyembul dari balik selimut lembutnya.

"Maafkan aku, kecil..." bisiknya, nyaris tak terdengar. "Dunia ini memang kejam, dan kau hanya korban dari takdirku."

Ujung jarum itu sudah menyentuh kulit tipis di tumit Gabriel. Laura memejamkan mata, bersiap melakukan tusukan cepat. Namun, tepat pada detik itu—

Dari kamar sebelah, yang hanya dipisahkan oleh dinding kayu tipis, terdengar suara berat namun lembut. Itu suara Pak Hardianto. Beliau rupanya sedang melakukan doa malam, sebuah kebiasaan yang tidak diketahui Laura sebelumnya.

"Ya Tuhan, lindungilah rumah ini dari segala jerat si jahat... berkatilah anak kami Gabriel, dan berkatilah juga Yanti, gadis malang yang Engkau kirimkan ke rumah kami. Biarlah dia menemukan kedamaian dan keluarga di sini, jauh dari penderitaan masa lalunya..."

Tangan Laura membeku di udara. Suara doa itu seperti gelombang panas yang menghantam tubuhnya. Nama "Yanti" disebut dengan begitu tulus dalam doa itu—sebuah nama palsu yang justru didoakan keselamatannya oleh orang yang ingin ia khianati

Seketika, rasa sakit yang hebat menyerang kepala Laura. Pendar emas di nadinya bergejolak hebat, bereaksi negatif terhadap frekuensi doa yang memenuhi ruangan itu.

Keringat dingin bercucuran di dahi Laura. Ia merasa mual yang luar biasa. Jarum perak di tangannya mendadak terasa seberat bongkahan timah.

Di tengah kegoncangan itu, Gabriel bergerak kecil dalam tidurnya. Tangan mungilnya yang terbuka secara tak sengaja menyentuh punggung tangan Laura. Sentuhan itu hangat, begitu nyata, dan sangat murni.

Laura menarik tangannya dengan sentakan kasar, hampir saja menjatuhkan botol kristalnya. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur lemari pakaian

Ia menatap jarum di tangannya dengan ngeri. Bayangan wajah Oma yang tersenyum dan wajah Bu Sisil yang memeluknya pagi tadi bercampur aduk menjadi satu.

"Aku tidak bisa... belum malam ini," isaknya pelan sambil menyembunyikan kembali perlengkapan ritualnya ke dalam saku celemek.

Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Di luar, suara doa Pak Hardianto perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian malam yang kembali mencekam. Laura menyadari satu hal yang menakutkan tujuh hari itu akan menjadi neraka baginya. Bukan karena ancaman Marco, tapi karena nuraninya yang ternyata masih bernapas, meski sudah diinjak-injak oleh kegelapan.

Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela dapur, namun bagi Laura, cahaya itu terasa menyilaukan dan menghakimi. Ia sudah berdiri di depan kompor sejak pukul enam pagi, memotong sayuran dengan gerakan mekanis yang kaku. Matanya yang sembab dan kemerahan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh kacamata beningnya. Setiap kali ia memejamkan mata, gema doa Pak Hardianto semalam kembali terngiang, menusuk nuraninya lebih dalam daripada jarum perak mana pun.

Langkah kaki ringan terdengar mendekat. Bu Sisil masuk ke dapur dengan menggendong Gabriel yang sudah segar setelah mandi pagi. Ia langsung menyadari ada yang tidak beres dengan "Yanti" kesayangannya.

"Selamat pagi, Yan—lho, Yanti? Kamu kenapa, Nak?"

Laura segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan uap masakan

"Selamat pagi, Bu. Tidak apa-apa, mungkin hanya karena kurang tidur semalam. Saya masih menyesuaikan diri dengan udara di sini."

Bu Sisil meletakkan Gabriel di high chair dan mendekati Laura, memutar bahu gadis itu dengan lembut.

"Jangan bohong sama Ibu. Mata kamu bengkak begitu. Kamu habis menangis semalaman ya? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"

Laura terdiam. Ia merasakan kehangatan tangan Bu Sisil di bahunya—kehangatan yang sangat tulus, sangat berbeda dengan dinginnya tangan Marco atau Elena.

"Saya... saya cuma rindu, Bu. Tiba-tiba saja saya teringat rumah lama saya. Maafkan saya kalau jadi terlihat tidak profesional."

Bu Sisil mendesah iba, mengusap pipi Laura. "Aduh, Sayang... itu manusiawi. Ibu paham sekali rasanya kehilangan. Kamu boleh menangis kalau mau, jangan dipendam sendiri. Di rumah ini, kamu aman. Kamu punya Ibu, Bapak, dan Gabriel sekarang."

Meskipun hatinya bergejolak, Laura tetap menjalankan perannya dengan sempurna. Ia adalah predator yang kini terjepit di antara dua dunia.

Saat Pak Hardianto turun, Laura menyajikan kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. Beliau tersenyum padanya, senyum yang sama yang semalam ia berikan dalam doa-doanya. Laura segera menunduk, tak berani menatap mata pria itu.

Selesai sarapan, Laura membawa Gabriel ke teras belakang untuk berjemur. Sambil mengayunkan kereta bayi, jemarinya meraba botol kristal hitam di saku celemeknya. Ia melihat kulit bayi itu yang begitu halus di bawah sinar matahari. Tujuh tetes, batinnya. Hanya tujuh tetes, dan semua ini akan berakhir.

Di sela-sela menyapu lantai, Laura berkali-kali melirik jam dinding. Waktu satu minggu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Setiap pujian dari Bu Sisil terasa seperti beban yang ditambahkan ke pundaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!